Tampilkan postingan dengan label HIkmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIkmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 September 2010

Pesan berharga dari Syeikh Albani -rohimahulloh-

Bismillah, was sholatu was salamu ala rosulillah, wa ala alihi wa shohbihi waman waalaah…
Kadang “mampir” di benak kita rasa lelah, lemah, dan ”setitik” putus asa ketika melihat keadaan umat ini… Belum lagi biasanya hal itu dibumbuhi dg sabda “Tiada hari kecuali yg setelahnya akan lebih buruk”… Nah, saat keadaan hati seperti ini -semoga tidak demikian-, maka ada baiknya kita menyimak petuah dari Sang Ahli Hadits di abad ini, Syeikh Nashiruddin al-Albani berikut ini:
“Wahai saudaraku seiman… Sungguh diharuskan atasmu untuk:
-          Bertakwa (takut) kepada Alloh dimanapun kamu berada.
-          Waspada terhadap sebab-sebab kebinasaan.
-          Memperingatkan kedua hal itu kepada orang yg hidup di sekitarmu; baik istri, anak, tetangga, ataupun selain mereka.
-          Membantu kebenaran dimanapun kamu berada.
-          Membantu meninggalkan kebatilan dimanapun kamu berada.
-          Tulus dalam menjalankan semua hal di atas, dan ketika di jalan Alloh, janganlah kamu gentar terhadap celaan orang lain.
-          Bawalah terus senjatamu, dan berjihadlah… Yakni mengingkari kemungkaran, dan mengajak kepada kebenaran.
-          Teruslah dalam keadaan berjihad, bersabar, dan menguatkan kesabaran untuk meneguhkan sesuatu yg haq dan mendakwahkannya, dg perkataan anda yg baik dan cara penyampaian yg bagus… bukan dg cara yg keras dan kasar.
-          Jadilah mujahid dalam ucapan, (amalan) jihad, dan (amalan) dakwah kepada Alloh, dg amar ma’ruf nahi mungkar… Karena dakwah kepada Alloh adalah jihad, amar ma’ruf nahi mungkar adalah jihad, dan ini merupakan senjata seorang mukmin yg bermanfaat bagi para hamba-Nya… Senjata bukanlah pedang atau senapan saja, tapi dakwah juga merupakan “senjata” yg bermanfaat bagi para hamba-Nya… (Berdakwah) dg hikmah, perkataan yg baik, cara yg bagus, dan dg menyertakan dalil, sebagaimana firman Alloh -jalla wa’ala-:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dg hikmah dan pengajaran yg baik, serta debatlah mereka dg cara yg lebih baik.
Dia juga berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yg lebih baik ucapannya melebihi orang yg menyeru kepada jalan Alloh dan mengerjakan kebajikan, serta mengatakan: ‘sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yg berserah diri)’.
Maka janganlah anda putus asa, sungguh tidaklah pantas berputus asa… Seorang mukmin hendaknya selalu berusaha dalam kebenaran, mencarinya, mendakwahkannya, menyenanginya, dan takjub dengannya… Tidak malah mengatakan; orang ini telah teledor, semuanya telah usai (dalam takdir-Nya), dan semua orang telah rusak…  Tidak, (jangan mengatakan demikian), karena di dalam masyarakat masih ada benih-benih kebaikan, masih ada orang-orang yg mencintai kebaikan, dan masih ada orang-orang yg menginginkan sesuatu yghaq… Maka seharusnya anda berpartisipasi dalam kebaikan, waspada dari yg batil, dan memperingatkan orang lain dari kebatilan… Janganlah anda putus harapan dalam usaha menegakkan kebenaran dan meruntuhkan kebatilan… (Mulailah) dari dirimu, saudara-saudaramu, negaramu, dan saudara-saudaramu seiman yg lainnya, dg cara saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan juga saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.
Karena jika orang-orang (yg baik) itu putus harapan, sehingga tidak ada usaha, maka kemungkaran akan merajalela dan menyebar, sebaliknya kebaikan akan menjadi sedikit, wala haula wala quwwata illa billah… Akan tetapi selama mereka (yg baik) menyadari kewajibannya, selama mereka berusaha melawannya, tentu keburukan akan terus berkurang…
Dan tidak samar lagi apa yg ada sekarang -walhamdulillah-, banyak pergerakan Islam yg bermunculan, baik dari generasi muda maupun dari yg lainnya, dan ini merupakan kabar yg sangat baik… Tp disana juga ada gerakan-gerakan setan, yg menyeru kepada kebejatan, maka seharusnya hal itu dilawan… Seharusnya kita mendukung yg haq dan mereka yg menegakkannya, serta berusaha untuk menghalau dan mematikan kebatilan dan mereka yg mengadakannya, (tentunya) sesuai kemampuan dan fasilitas (yg ada), dan dg jalan saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, dg jalan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Begitu pula dalam masalah menasehati para penguasa, menasehati orang-orang penting negara, dan siapapun orang yg mampu untuk kamu nasehati, karena agama adalah nasehat, janganlah putus asa, dan janganlah kau katakan: perkara ini telah usai (dalam takdir-Nya)… Akan tetapi, seharusnya kamu menasehati dan mengarahkannya kepada yg baik, ingatlah firman Alloh -jalla wa’ala-:
وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Alloh
Maka, kita wajib menasehati karena Alloh dan untuk para hamba Alloh… Alloh -subhanahu wata’ala- menerangkan sifat-sifat orang yg beruntung dan selamat dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa… sesungguhnya seluruh manusia itu benar-benar dalam kerugian… kecuali orang-orang yg beriman, beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.
Inilah sifat-sifat orang yg beruntung… keempat hal ini merupakan pokok-pokok keselamatan… semua ini merupakan sebab-sebab kebahagiaan… dan semua ini merupakan pokok-pokok baiknya suatu masyarakat…
Masyarakat yg bisa menjalankan keempat pokok ini; beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, beramal sholih, saling menasehati dalam kebaikan, dan saling menasehati dalam kesabaran, maka itulah masyarakat yg baik, bahagia, dan beruntung… Jika suatu masyarakat meninggalkan keempat pokok ini atau sebagiannya, maka akan datang padanya kerugian dari segala arah -wala haula wala quwwata illa billah-.
Kita memohon hidayah dan taufiq kepada Alloh untuk kaum muslimin seluruhnya… Semoga Alloh membalas kebaikan kepada orang-orang yg berjasa kepada kita… Semoga Dia memberikan manfaat kepada kita semua dari apa yg kita ketahui dan kita pelajari… Semoga Dia menganugerahi kita hati dan amal yg baik, serta petunjuk kepada jalan yg terbaik…
Aku juga memohon kepada-Nya agar menuntun para pemimpin kita menuju ridlo-Nya, menolong mereka dalam mematikan kebatilan, menampakkan yg haq, serta memperbaiki keadaan… semoga Dia memperbaiki orang-orang dalam mereka, menuntun mereka kepada seluruh kebaikan dan menolong mereka di dalamnya, serta melindungi mereka dari segala keburukan… Sungguh Dia itu maha mendengar lagi dekat… Semoga sholawat dan salam terhaturkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga, dan para sahabatnya”.
[Bagi yg ingin membaca teks aslinya, silahkan merujuk ke Maktabah Syamilah, Durus Syeikh Albani, jilid 19, hal 4]


http://addariny.wordpress.com/2010/08/27/pesan-berharga-dari-syeikh-albani-rohimahulloh/#more-1746

Selasa, 27 Juli 2010

Jangan Menyerah Saudaraku....!!!



Penulis: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.

Pusing! itulah yang ada di kepala Ida (bukan nama sebenarnya). Sepertinya ‘tuntutan hidup’ mengharuskan dia bekerja, yang itu berarti dia harus bercampur baur dengan para pria. Ya Allah, kuatkanlah imannya dan berikan sifat istiqomah dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu. Aamiin.

Sebuah tuntutan dari orang yang telah membiayai pendidikan (kuliah), baik itu orang tua, kakak, paman, bibi, atau yang lainnya adalah sebuah kewajaran ketika mereka merasa bahwa ‘tugas’ mereka menyekolahkan seorang anak telah selesai. Lalu, apakah setiap tuntutan itu harus dipenuhi? Lalu kemudian teringat sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maknanya adalah sebuah kebaikan dibalas dengan kebaikan yang serupa, dan bila tidak mampu maka dengan mendoakannya (HR. Baihaqi). Berbagai pikiran mungkin berkecamuk di benak, “Entah telah berapa puluh juta yang mereka telah keluarkan untuk membiayai kuliahku, tapi entah berapa yang bisa kubalas, atau entah apakah sebanding yang kudapat sekarang dengan yang mereka korbankan.” Di samping tuntutan dari orang-orang di belakang layar selama proses menempuh perkuliahan, masih pula dikejar-kejar oleh kebutuhan hidup yang perlu dipenuhi. Dan biaya-biaya tak terduga yang pada intinya akan mengurangi ‘bekal’ yang masih tersisa. Seakan-akan semua keadaan itu berteriak bersama-sama, “Kerja! kerja! kerja!”, “Cari yang bergaji wah!”, “Pendekkan saja jilbabmu, tidak apa-apa, biar cepat mendapatkan kerja!”, “Lepas cadarmu, tidak ada yang mau menerima wanita seperti dirimu”, “Jangan cuma kerja yang begitu!” Dan bisikan-bisikan hawa nafsu yang setiap orang pasti memilikinya, dan tidaklah hawa nafsu itu melainkan mengajak pada keburukan.

Saudariku, kuatkan imanmu!

Dimana pelajaran tauhid yang selama ini telah engkau pelajari? Dan kemanakah perginya konsekuensi dari pengenalan nama dan sifat Allah Ta’ala yang telah engkau ketahui? Engkau mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya. Engkau telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah mengatur seluruhnya dan tertulis dalam kitab Lauh Mahfuz. Jauh, jauh sebelum engkau diciptakan. Segala ketentuannya tak dapat dirubah. Namun, engkau adalah manusia yang menjalankan dengan berbagai pilihan. Dan engkau akan dimudahkan pada setiap takdir yang telah ditentukan. Dari pengenalanmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, engkau mengetahui, bahwa rezeki, kehidupan yang baik dan buruk, seluruhnya telah ditentukan. Maka, berdoalah! Dan bersabarlah! Serta bersyukurlah dengan keadaanmu sekarang.

…Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Al Imraan [3]: 145)

Engkau tidak dapat mengejar tujuan hidup berupa kekayaan. Dan engkau -seharusnya- tidak menanggalkan pakaian ketakwaan. Kekayaan telah ditentukan. Nikmat Islam telah diberikan. Keadaan yang diberikan kepadamu sekarang, insya Allah adalah lebih baik dari yang lain atau yang sebelumnya. Jika engkau masih memikirkan, antara keinginan yang kuat untuk tetap bertahan dalam ketaatan menjalankan syari’at, maka bersyukurlah! Karena itu adalah keadaan yang lebih baik untuk dirimu. Bandingkanlah dengan keadaan mereka yang tidak perlu bersusah payah mempertimbangkan itu semua. Dan dengan mudahnya mereka jatuh dalam gelimang dosa. Dan salah satu cara untuk mewujudkan rasa syukurmu adalah dengan lebih menjalankan ketaatan kepada-Nya. Perhatikanlah firman Allah ta’ala kepada orang-orang yang telah diberikan nikmat.

…Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al A’raaf [7]: 69)

Nikmat yang engkau rasakan dalam menjalankan ketaatan dalam agama Islam adalah jauh lebih baik dari dunia dan segala isinya. Tidak semua orang Islam dapat merasakan ini. Karena terdapat dua nikmat dalam Islam. Nikmat karena telah beragama Islam (ni’mat lil islam) dan nikmat dalam Islam itu sendiri (ni’mat fil islam). Tidak semua orang Islam mendapatkan nikmat untuk menjalankan ketundukan pada syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dijelaskan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya! Baiklah! Masih berkutat di pikiranmu. Bagaimana dengan kebutuhan hidupku?! Bagaimana dengan balas jasaku? Allahumma… semoga Allah memudahkan jalanmu saudariku. Tidakkah engkau ingat bahwa masing-masing telah ditentukan rezekinya. Bahkan sampai binatang yang cacat sekalipun, yang ia tidak dapat mencari makanan sendiri atau mangsa sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji pada hamba-hamba-Nya lewat firman-Nya (dan sungguh janji Allah Ta’ala adalah benar adanya)

…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At Thalaq [65]: 2)

Dan ayat ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memberikan jalan bagi seorang muslim dalam menghadapi kehidupan di dunia dimana seorang makhluk memiliki berbagai kebutuhan,

Sekiranya kalian bertawwakal kepada Allah secara benar maka Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung. Mereka berangkat pada waktu pagi dalam keadaan sangat lapar dan pulang dalam keadaan sangat kenyang. (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, Ibn Hibban, dan Hakim. Tirmidzi berkata, hadist ini hasan shohih)

Saudariku… burung tersebut tentu tidak memastikan bahwa setiap bulannya harus mendapatkan makanan sekian dan sekian. Namun ia berusaha untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan dan mendapatkan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bersyukur adalah yang lebih layak engkau lakukan dan dengan demikian maka akan terwujud sikap qona’ah dalam hatimu.

Syaitan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengatahui. (Al-Baqoroh [2]: 268)

Lalu, bagaimana dengan balas jasaku? Maka dengan menjalankan keta’atan kepada Allah, engkau memberikan balasan yang insya Allah jauh lebih besar manfaatnya untuk mereka di akherat nanti. Mengapa? Perhatikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini (yang secara makna artinya) “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam hal kemaksiatan pada Allah.”

Dan dari Abu Hurairah rodhiallahu’anhu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia menanggung dosanya dan juga menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka. (HR. Muslim)

Maka jika engkau mengikuti mereka dalam sebuah hal yang dapat menjerumuskanmu dalam kemaksiatan, maka ketahuilah saudariku, engkau juga telah memberikan dosa-dosa yang semisal kepada mereka. Wal’iyyadzubillah. Dan berpuluh-puluh juta yang telah mereka korbankan untukmu agar engkau pada akhirnya menjalankan sebuah kemaksiatan tidak akan memberi manfaat sedikitpun di akherat nanti dan justru yang terjadi adalah sebaliknya, mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya. Maka, janganlah ukur segala sesuatu dengan materi keduniaan. Karena ada kehidupan yang jauh lebih patut untuk dipikirkan dan dipersiapkan.

Pesan terakhir yang paling baik adalah kalimat dari manusia terbaik yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Sa’id Al-Khudry rodhiallahu’anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas di tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata. ‘Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata: ‘Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ? Beliau menjawab: ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: ‘Kemudian orang-orang shalih. Sungguh salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, sungguh salah seorang diantara mereka merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan.’ (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim, di shahihkan Adz-Dzahaby)

Jangan menyerah saudariku!
Rezeki yang kau butuhkan,
tidak hanya bertumpuk pada hiruk pikuk perkantoran.


Tidak hanya terkumpul pada tempat yang memudahkanmu menjalankan kemaksiatan.

Balas jasamu tidak sekedar materi keduniaan.
Sebuah do’a dan amal sholeh lebih dapat menghindarkan mereka dari kehinaan.

Insya Allah.
Semoga Allah memudahkanmu dalam ketaatan.
Dan memberikan yang lebih baik, yaitu manisnya iman.

Sebuah nasihat bagi diriku dan ukhtifillah…

***

Artikel www.muslimah.or.id

Kesaksian Seorang Dokter

Dokter Jasim al-Haditsy seorang penasihat kesehatan jantung anak di ‘Amir Sulthan Center untuk Penyakit Jantung’ Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Riyadh, mengisahkan kepadaku, “Salah seorang rekanku yang bisa dipercaya bercerita kepadaku, bahwa suatu malam saat ia sedang bertugas di rumah sakit, ada seorang pasien yang meninggal dunia, maka ia segera memastikan akan kematian pasien tersebut, ia meletakkan stetoskop di atas dadanya hingga ia mendengarkan suara, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah’…

Ia berkata, “saya rasa adzan subuh. Kemudian saya bertanya kepada perawatnya, ‘Jam berapa sekarang?’ Ia menjawab, “Jam satu malam.”

Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakkan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya.

Saya bertanya kepada keluarga orang ini, tentang keadaannya semasa hidup, mereka menjelaskan, ‘Ia bekerja sebagai muadzin pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau kadang lebih awal lagi, ia selalu menghatamkan al-Qur’an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan.”

***

Tanggal lima belas bulan Ramadhan 1421 H., seorang jamaah shalat, pingsan di masjid saat ia mengumandangkan iqamah shalat Subuh, dengan segera tiga orang dari jamaah shalat membawanya ke Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh.

Orang itu sadar saat mereka masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, sekonyong-konyong ia berdzikir seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.

Sesampainya di instalasi gawat darurat, ia disambut oleh seorang pemeriksa jantung yang menceritakan kisah ini kepadaku, “Kami menemukan adanya peradangan mematikan yang parah sekali pada sebagian besar jantungnya, kondisi itu membuat kami tercengang.

Saat saya berusaha membawanya ke ruang ICU, tiba-tiba saya mendengar suara tasbih dan tahlil, dan ia membisikkan ke telinga salah seorang rekanku lalu tersenyum sambil membaca, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah’ lalu jiwanya terbang menuju keharibaan Tuhan-nya.

Rekanku yang mendengar bisikan orang tersebut tiba-tiba menangis tersedu-sedu, aku kaget atas kejadian ini dan segera menanyakan keadaannya, ia berkata, “Orang ini telah membisikkan kepadaku, “Dokter! Usahlah anda menyibukkan diri, sungguh aku akan mati, aku telah melihat surga, insya Allah aku akan segera ke sana, aku melihatnya sekarang, sungguh aku melihatnya.”

Saat orang ini ditanya tentang riwayat hidup (sisi kehidupan) orang yang telah meninggal ini, ia berkata, “Ia sangat menjaga dua perkara:

Pertama, ia dan muadzin selalu saling dahulu-mendahului untuk datang ke masjid, kadang muadzin mendahuluinya dan lebih sering ia yang datang terlebih dahulu.

Kedua, ia tidak dikenal kecuali sebagai pribadi yang baik, Allah Ta’ala telah menjaganya dari perbuatan keji dan mungkar, ia tidak pernah berbohong atau menggunjing orang lain.

***

Allah telah mencukupinya dan Allah telah menjaminnya. Dan sungguh kita tidak bisa memberikan rekomendasi apapun untuk siapapun di hadapan Allah.

***

Saya telah melakukan operasi penambalan pembuluh darah terhadap seorang pasien yang berada di ruang Bagian Jantung.

Sehari sebelum ia diperbolehkan untuk pulang –karena menurut perhitungan kami saat itu ia telah sembuh- ia memanggil anak-anak dan istrinya, ia mengharapkan mereka segera hadir, sesaat setelah mereka semua hadir ia berkata, “Aku akan meninggal sebentar lagi, maka maafkanlah aku.”

Kemudian ia memanggil dokter dan para perawat yang merawatnya untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka, lalu ia berbaring di atas sisi kanannay seraya mengucapkan, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah’, ia telah menghadap Tuhan-nya.

Saya bertanya kepada anak-anaknya tentang riwayat hidup ayah mereka, mereka menjelaskan, “Ayah kami orang yang baik, kami tidak pernah melihatnya menggunjing, berbohong, berbuat keji, atau kemungkaran.”

***

Ketika masih duduk di bangku kuliah di Kairo Mesir, saya mengenal seseorang yang taat kepada Allah. Ia mengajarkan al-Qur’an, dan membimbing penghafal al-Qur’an di komplek tempat tinggalku. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah terlambat datang mengajar pada waktunya yaitu setelah shalat Subuh hingga terbit matahari.

Suatu hari ia mengucapkan selamat tinggal kepada semua yang hadir setelah menutup pelajarannya, seakan-akan ia tidak akan mengajar kembali setelah hari itu. Hari itu juga, sebelum tiba saat Zhuhur kami mendapatkan berita tentang kematiannya pada jam sepuluh pagi.

Keesokan harinya kami mendapatkan kisah kematiannya berdasarkan cerita istrinya, “Sebagaimana biasa ia pulang ke rumah jam tujuh lebih tiga puluh menit, ia mengucapkan salam kepadaku, kemudian berkata, “Sesungguhnya saya akan mati pada jam sepuluh.” Sayapun mengiranya bercanda, lalu ia berkata, “Siapkanlah sarapan untukku.” Saya menyiapkan sarapan, lalu kami menyantapnya berdua.

Pada jam delapan tiga puluh menit ia masuk ke kamar mandi, ia mandi agak lama, kemudian ia keluar dan memakai wewangian sebagaimana yang ia lakukan ketika hendak berangkat untuk shalat Jum’at, lalu ia memakai pakaian yang paling bagus dan mulai membaca al-Qur’an.

Beberapa menit sebelum jam sepuluh ia berkata, “Saya akan mati pada jam sepuluh, maka maafkanlah aku, lupakanlah semua kesalahan dan kekhilafanku kepadamu.”

Saya sangat terkejut dan tidak bisa mengucapkan apapun, beberapa detik sebelum jam sepuluh, ia bersiap-siap untuk tidur lalu membaca, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah’, lalu ia menghadap Tuhan-nya.

***

Sekarang perkenankanlah saya menceritakan kepada anda tentang riwayat hidup orang ini, sungguh saya belum pernah melihatnya menggunjing orang lain, berbohong, menipu , berbicara kotor atau mungkar, sejak saya mengenalnya di komplek itu.

Ada sebuah pertanyaan yang perlu untuk dijawab, berapa banyakkah orang-orang yang shalatnya mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan dirikanlah shalat. Sesungghnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Sayangnya, kadang kita masih temui orang-orang yang menggunjing orang lain padahal ia belum keluar dari masjid. Atau kadang ia menggunjing maupun berbohong padahal ia masih berada di pintu masjid setelah menunaikan shalat.

Atau pedagang yang menipu pembelinya padahal baru saja ia menunaikan shalatnya di masjid. Atau orang yang menzhalimi orang lain atau bermuamalah dengan riba padahal ia termasuk orang-orang yang biasa membaca takbiratul ihram –menunaikan shalat-.

Saudara-saudaraku! Sesungguhnya orang yang shalatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji, mungkar dan keburukan-keburukan lainnya berupa kemaksiatan dan dosa, maka hendaklah ia mengintrospeksi dirinya. Karena di situlah kekurangannya, mungkin ia belum bisa melaksanakan shalat sebagaimana mestinya, atau ia tidak menunaikannya dengan khusyu’. Seandainya ia mampu mersakan keagungan shalat lalu mendirikannya sebagaimana mestinya, tentulah dengan izin Allah shalat itu akan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Saudaraku yang mulia, sebelum coba-coba menggunjing, berbohong, menipu dan mengambil riba, ingatlah bahwa baru saja anda menunaikan shalat di masjid, semoga saja cara itu akan membatu anda untuk menahan diri, agar di hari kiamat nanti anda tidak termasuk orang-orang yang pailit.

Sungguh, semua ini terjadi atas kehendak Allah, Dia-lah yang menunjukkan kepada jalan kebenaran..

Sumber:

Buku “Kesaksian Seorang Dokter “ via http://alqiyamah.net/ via http://ibnujafar86.wordpress.com/
thank you