Sabtu, 24 Juli 2010

Berdakwah Dari Hati...



[1] Muttafaqun alaih (Bukhari hadits no 12, Muslim hadits no 64)


الحمد لله وكفى،  والصلاة والسلام على عبد الله ورسوله المصطفى،  وعلى آله وصحبه ومن اكتفى،  أما بعد
Setiap muslim yang sejati dan peduli dengan din-nya tentu akan mendambakan tersebarnya tuntunan-tuntunan agama yang dianutnya pada masyarakat sekitarnya, ia menginginkan orang lain juga mengetahui apa yang dipelajarinya, karena ia tahu bahwa “belum sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai (kebaikan) untuk dirinya sendiri” [1]
Tapi dengan jalan apa ia bisa mewujudkan keinginan itu?
Mungkin ada yang menjawab: Ya… gampang saja! dengan ceramah keliling, atau khutbah di masjid-masjid, atau jadi da’i terbang, atau jadi dosen di kampus-kampus terkemuka, kita bisa menyampaikan semuanya kepada masyarakat!
Memang kelihatannya sederhana, tapi masalahnya apakah masyarakat akan dengan mudah tertarik dengan apa yang kita dakwahkan? Apakah mereka sudi menghadiri dan mendengarkan ceramah kita? Bisa jadi sudah kering tenggorokan kita, tapi belum juga kita menuai hasil yang diinginkan!
Sesungguhnya yang lebih penting adalah bagaimana kita mengambil hati mereka? sehingga nantinya mereka akan dengan senang hati dan lapang dada menerima dakwah kita.
Untuk tujuan inilah kita harus mengerti cara bermualah yang baik, kita butuh memperkuat tali persaudaraan islam dan menghidupkan kembali ruh iman di setiap sanubari, kita membutuhkan budaya tukar pendapat yang tenang dan damai, hubungan yang serasi, dan saling menghormati satu sama lain, sehingga akan terpancar jelas keindahan dan keanggunan Islam dalam masyarakat kita, dan mereka akan menjadi teladan bagi masyarakat lain yang seakidah, bahkan akan menjadi pembuka kebaikan bagi mereka yang berada di luar Islam untuk masuk gerbang agama tauhid ini.
Kita ingin mengambil hati orang di sekitar kita, tapi bukan dengan mujamalahataupun dengan mudahanah, bukan pula dengan reformasi agama atau malah meruntuhkannya, tapi kita ingin mengambil hati mereka dengan akhlak yang tinggi dan adab yang mulia, sebagaimana sabda Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”[2]
Kenapa kita harus mengambil hati? Tentunya bukan karena tujuan harta dan gemerlapnya dunia, bukan pula untuk kepentingan pribadi ataupun memamerkan kelebihan yang ada pada kita, kita melakukannya karena niat ibadah mendekatkan diri kita kepada Allah, dzat yang senang dengan akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang tercela.
Kita melakukannya karena dorongan ingin mengikuti jejak Rosululloh  sebagai orang yang paling mulia akhlaknya.
Kita melakukannya karena kita ingin meraih kecintaan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, tidak hanya itu, bahkan kita akan berada dekat dengan beliau kelak di akhirat, sebagaimana sabdanya: “sesungguhnya diantara orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah mereka yang paling bagus akhlaknya”[3]
Kita melakukannya karena ingin mengaplikasikan tuntunan syari’at dan budi pekerti agama ini dalam kehidupan kita, baik dalam tindakan maupun ucapan, baik ketika sendiri maupun di hadapan orang, sebagaimana sabdanya:“Pergaulilah orang lain dengan akhlak yang terpuji!”.[4]
Kita melakukannya karena kerinduan kita kepada surga, tentunya kita tidak akan lupa dengan sabdanya: “Sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke surga adalah taqwa dan akhlak yang mulia”.[5]
Kita melakukannya karena ingin menambah berat timbangan amal kita, karena:“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat timbangannya dari pada akhlak yang mulia” [6]
Kita melakukannya agar orang lain bersahabat dengan kita, tidak lari meninggalkan kita: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”.[7]
Inilah beberapa keutamaan dan buah akhlak yang mulia, yang insyaAllah dapat menjadi pendorong dan motivator kita untuk menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, ia merupakan sebuah ibadah yang agung dan sarana mendekatkan diri kepada Allah ـ: “Sungguh berbekal akhlak yang mulia, seorang mukmin akan mencapai derajat orang yang selalu berpuasa (pada siangnya) dan selalu  menghidupkan malamnya”.[8]
Memang sangat agung kedudukan akhlak dalam Islam, oleh karenanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Akhlak yang mulia adalah kebaikan yang paling agung”.[9] Tapi bagaimana kita dapat meraih akhlak yang mulia itu? Tentunya kita harus tahu dulu mana yang baik dan mana yang buruk, diantara caranya adalah: dengan banyak bergaul dengan orang-orang sholih, memperhatikan gerak langkah dan akhlak mereka. dan dengan banyak membaca buku-buku tentang adab dan mengkajinya[10].
Setelah kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk, maka kita harus memperaktekkannya, dan setelah itu mengajak orang lain untuk ikut serta melakukan dan memperaktekkannya.
Apakah cukup dengan itu semua? Tentunya tidak, karena ada satu hal lagi yang tak kalah penting, yaitu dengan banyak do’a dan bersimpuh di hadapan Sang Pencipta sebagaimana dituntunkan oleh teladan kita Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, dengan doanya:
اللهم كما أحسنت خلقي فأحسن خلقي[11]ـ
اللهم إني أعوذ بك من منكرات الأخلاق والأعمال والأهواء[12]ـ
اللهم اهدني لأحسن الأخلاق لا يهدي لأحسنها إلا أنت, واصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها إلا أنت.[13]ـ
Subhanallah, kalau orang seperti Rosul -shollallohu alaihi wasallam- saja selalu berdoa agar dibaguskan akhlaknya padahal Allah swt telah jelas-jelas memujinya dalam firmaNya “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”[14], bagaimana halnya dengan kita? Sungguh sudah seharusnya kita lebih rajin dan giat melantunkan doa-doa tersebut.
Akidah & Akhlak
Tidak bisa dipungkiri, bahwa akhlak punya hubungan yang kuat dengan keimanan dan akidah seseorang, ibnul qoyyim rohimahullah berkata: “Seluruh agama ini adalah akhlak, maka siapa yang lebih tinggi akhlaknya berarti ia lebih tinggi agamanya”[15].
Orang yang memperhatikan dengan seksama keadaan masyarakat muslim, ia akan dapati banyak dari mereka yang lalai terhadap pentingnya masalah akhlak dan memanfaatkan sisi ini sebagai sarana ibadah, mereka tidak menyadari bahwa akhlak sangat erat hubungannya dengan keimanan. Maka jangan heran kita akan dapati orang yang mengira dirinya telah mempraktekkan tauhid dan memurnikan keimanannya, tapi tetap saja melakukan tindakan-tindakan tercela yang dapat mengganggu nilai keimanannya, seperti: takabur, hasad, suudhdhon, dusta, berbuat keji, egois dsb.
Bahkan bisa jadi dia tidak tahu bahwa perbuatan tersebut sangat berpengaruh buruk terhadap akidah dan keimanannya, atau lalai bahwa agama ini mencakup seluruh sendi-sendi kehidupan, sebagaimana firmanNya: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”[16].
Sesungguhnya usaha merealisasikan tauhid dan menyempurnakan keimanan tidak hanya sebatas dengan menjauhi syirik akbar, tapi juga dengan menjauhi segala yang mencemari tauhid dan keimanan, dengan menjauhi segala amalan tercela dan memperaktekkan akhlak yang mulia. Jadi akidah bukanlah sekedar manuskrip yang hanya dibaca dan dihapal, tapi ia harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, dalam pergaulan dengan masyarakat di sekeliling kita.
Da’i-da’i tanpa kata
Sejarah mengisahkan, Islam masuk hindia selatan, silan, kepulauan maldif, pesisir cina, filipin, indonesia dan afrika melalui pedagang muslim yang militan, mereka mempengaruhi warga pribumi bukan dengan kilauan dinar dan dirham, tapi karena islam yang telah menjelma dalam gerak langkah mereka, disamping juga sifat amanah dan sifat jujur mereka yang mengagumkan. Mereka warga pribumi takjub dengan akhlak ini, dan terdorong untuk mencari tahu asal muasalnya. Ketika mereka tahu bahwa itu semua bersumber dari tuntunan Islam, akhirnya mereka bersedia memeluk agama Islam dengan sukarela dan hati yang lapang.
Memang, metode paling handal dalam mengambil hati orang adalah dengan akhlak yang mulia, bahkan tidak dipungkiri lagi inilah sarana yang memegang peranan paling penting tersebarnya agama Islam di seluruh penjuru dunia.
Orang yang memperhatikan dengan seksama kisah perjalanan Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- akan mendapati bahwa beliau adalah sosok yang tidak pernah lepas dari akhlak yang mulia dalam semua gerak langkahnya, khususnya dalam hal berdakwah, sehingga dengan mudah orang berbondong-bondong menerima dakwahnya.
Berapa banyak orang masuk islam karena kemuliaan akhlaknya, ada yang masuk islam seraya mengatakan: “Demi Allah! mulanya tidak ada di muka bumi ini wajah yang lebih kubenci dari engkau, tapi sekarang engkau menjadi orang yang paling aku cintai melebihi siapapun!”[17]
Ada juga yang mengatakan: “Ya Allah! Curahkanlah rahmatMu kepadaku dan Muhammad, dan jangan kau sertakan dengan kami siapapun juga!”[18] karena sangat terpesonanya dengan akhlak pemaaf Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.
Ada lagi yang berkomentar: “Sungguh aku rela mengorbankan ibu bapakku demi dia, belum pernah ku jumpai guru yang lebih baik dari dia, baik sebelum maupun sepeninggalnya!”[19].
Ada juga yang menyerukan: “wahai kaumku, masuklah ke dalam agama Islam, karena sesungguhnya Muhammad itu memberi seakan ia tak khawatir akan menjadi fakir (karena kehabisan harta)!”[20] dan sangat banyak contoh-contoh yang serupa dalam siroh beliau -shollallohu alaihi wasallam-.
Semoga Allah merahmati Ibnu Ashma’, ketika ajal akan menjemputnya ia mengumpulkan anak-anaknya dan berwasiat: “wahai anak-anakku! Pergaulilah masyarakat dengan pergaulan yang apabila kalian hidup, mereka akan simpati kepadamu, dan apabila kalian mati, mereka akan menangisi kepergianmu!”[21]
Dan sungguh indah perkataan Abdulloh bin Mubarok: “Kalian lebih membutuhkan akhlak walaupun hanya sedikit, dari pada ilmu yang banyak (tapi tidak diamalkan, pen)”[22]
Merubah akhlak kita
Mungkin sebagian dari kita mengatakan: “aku sudah terlanjur dengan akhlak yang jelek sejak kecil, mana mungkin aku bisa merubahnya?!” atau mengatakan bahwa akhlak adalah tabi’at tetap manusia yang tidak mungkin dapat dirubah! atau berpendapat bahwa akhlak akan dengan mudah dibentuk dan dirubah, tergantung keinginan individu masing-masing.
Ketahuilah! bahwa akhlak (tingkah laku) terbagi menjadi dua: ada yang alami (bawaan  lahir), dan ada juga yang iktisabi (yang dibentuk oleh manusia melalui belajar, latihan dan usaha).
Seandainya akhlak tidak dapat dirubah sama sekali, maka apalah gunanya pesan dan nasehat diberikan? apalah tujuan firman Allah: “Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri”[23] juga firmanNya “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”[24]? dan  apalah makna dari sabda Rasul -shollallohu alaihi wasallam-: “sesungguhnya ilmu (didapat) dengan belajar, sedang sifat murah hati (didapat) dengan melatih diri. Barangsiapa berusaha mencari kebaikan, ia akan mendapatkannya, dan barangsiapa berusaha menghindar dari kejelekan, ia akan selamat darinya”[25]?!
Orang yang memperhatikan kebiasaan binatang sirkus, sebelum dan sesudah dilatih akan menemukan hakekat bahwa akhlak (tingkah laku) pada manusia merupakan hal yang dapat menerima perubahan, tentunya perubahan  tersebut juga berbanding lurus dengan usaha dan kesungguhannya melatih diri untuk berakhlak mulia.
Panah-panah sakti penakluk hati
Kiranya akan semakin lengkap jika kita sebutkan beberapa akhlak terpuji yang punya pengaruh kuat untuk mengambil hati orang-orang yang ada di sekitar kita:
1. Senyuman ramah.
Ia bagai garam pada masakan, ia juga merupakan busur yang paling cepat menaklukkan hati seseorang, ditambah lagi ia merupakan ibadah dan amal sedekah, sebagaimana sabdanya “Senyuman yang kau lemparkan ke wajah saudaramu adalah amal sedekah”[26].
Sahabat abdullah bin harits berkata: “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak tersenyum melebihi Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam-“[27]
2. Memulai salam.
Ia adalah panah tajam yang akan menancap di hati orang yang kau salami, tapi jangan lupa barengi juga dengan wajah damai, jabat tangan serta sambutan yang hangat dan akrab.
Dengannya kita juga mendapatkan pahala sekaligus ghonimah karena: “Yang paling baik dari keduanya adalah orang yang memulai dengan salam”[28]. Berkata Abu Amr an nadby: “Aku pernah berjalan bersama Abdullah bin Umar, maka setiap berjumpa dengan orang ia langsung memberi salam, tak peduli orang tersebut masih kecil ataupun sudah berumur”.[29]
3. Hadiah.
Ia memiliki pengaruh yang mengagumkan, karena bersentuhan langsung dengan pendengaran, penglihatan dan perasaan hati. Karenanya Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- memberi perhatian khusus dalam masalah ini dalam sabdanya:“Hendaklah kalian saling bertukar hadiah! niscaya kalian akan saling mencintai[30]“
4. Jadilah pendengar yang baik!
Dengan tidak memotong pembicaraan yang belum tuntas, inilah akhlak Rosul ع, beliau tidak memotong pembicaraan sehingga lawan bicaranya mengakhiri kalamnya. Sungguh barangsiapa yang memperaktekkan ini, ia akan dikagumi oleh banyak orang, lain halnya dengan orang yang banyak ngoceh dan sering memotong pembicaraan orang lain.
Atho’ menceritakan dirinya berkaitan dengan sifat ini: “Adakalanya seorang bercerita kepadaku dan aku diam mendengarkannya, seakan aku tidak pernah mendengarnya, padahal sebenarnya aku telah mendengar cerita itu jauh hari sebelum ia dilahirkan.”[31]
5. Ulurkan bantuan dan jasa baikmu!
Pepatah mengatakan: “Berbuat baiklah kepada orang lain! maka kamu akan mendapatkan hatinya sebagai tawananmu”.
Membantu orang lain juga merupakan sarana menggapai mahabbatullah,sebagaimana firmanNya: “berbuat baiklah (kepada orang lain), Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” [32]. Begitu pula sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia”[33].
Ahibbati fillah! Sungguh mengherankan orang yang rela membeli hamba sahaya dengan uang, apa yang menghalangi mereka untuk membeli orang merdeka dengan jasa baiknya?! Dan ingatlah orang yang banyak jasanya, akan banyak pula sahabatnya!
6. Penampilan yang baik.
Ini meliputi badan, pakaian dan bau yang harum, Rosulullah ع bersabda:“Sesungguhnya Allah itu baik, menyukai sesuatu yang baik”[34].
Simak juga ketika Abdul Malik bin Abdul Hamid almaimuni mensifati Imam Ahmad: “Sungguh aku tidak melihat ada orang yang lebih perhatian dengan kumisnya, rambut kepala dan tubuhnya serta tidak kulihat orang yang pakaiannya lebih bersih dan putih melebihi Ahmad bin Hambal.”[35]
7. Husnudhdhon dan memberikan udzur.
Hendaklah kita saling berbaik sangka dengan saudara-saudara seiman kita, selagi masih ada celah untuk itu, dan kalaupun ia memang telah melakukan kesalahan hendaklah kita menasehatinya dengan cara yang halus dan selanjutnya memberikan udzur yang pantas baginya, insyaAllah dengan begitu akan semakin kuat barisan umat ini.
8. Ungkapkan kecintaanmu kepada saudaramu!
Ketika anda menaruh rasa simpati kepada orang lain atau mungkin ia mendapat tempat tersendiri di hati anda, maka ungkapkanlah perasaan itu kepadanya, karena itu akan meluluhkan hatinya, oleh karenanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Apabila ada yang menyukai sahabatnya, maka hendaklah ia datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa dirinya menyukainya karena Allahswt![36] Dalam riwayat yang lain “Karena itu akan lebih mempererat tali persahabatan dan lebih menguatkan rasa kasih sayang antar keduanya”.[37]
Tapi tentunya dengan syarat, rasa kasih sayang tersebut karena Allah semata, bukan karena dunia, jabatan, harta, ketenaran, kecantikan atau ketampanan, karena setiap kecintaan yang dasarnya bukan lillahi ta’ala itu bagaikan debu, ia akan lenyap atau malah berbalik menjadi permusuhan kelak pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”.[38]
Hendaknya pula kita selalu menghadirkan dalam sanubari kita sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Setiap orang akan bersama orang yang dicintainya (pada hari kiamat)”.[39]
Intinya mengungkapkan rasa cinta & kasih sayang adalah merupakan cara yang sangat manjur untuk mempengaruhi hati seseorang dan menjadikan timbulnya rasa saling mencintai satu sama lain. Dengan ini akan terbentuklah sebuah masyarakat yang dipenuhi rasa cinta, damai, masyarakat yang bersatu, kompak dan saling membantu.
Ahibbati fillah… dalam soal perasaan, emosi dan ‘atifah, kebanyakan orang berada pada dua kutub yang berlawanan, sungguh amat disayangkan! Ada yang mendewakan akalnya, sehingga hubungan itu menjadi kaku, kering dan tidak bersahabat. Disisi lain ada yang mendewakan perasaan dan emosinya, sehingga seringkali mengorbankan rasionalitas, bahkan tidak jarang sampai pada tingkatan ketergantungan dengan orang lain.
Memang memadukan dan mengkompromikan antara akal dan perasaan adalah pekerjaan yang susah, tidak semua orang bisa menuntaskannya, tapi itu merupakan fadhal (keistimewaan) yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendakinya.
9. Al-mudaarooh
Haruskah kita menggunakan metode ini untuk menundukkan hati? Apakah ia sama dengan mudahanah? Apa definisi yang benar dari keduanya?
Dalam menghadapi banyak orang, kita akan menemukan berbagai macam karakter individu yang berbeda, dan tentunya kita harus dapat mensiasati kenyataan ini, kita harus segera mencari cara untuk mengkompromikan karakter-karakter yang berseberangan ini, agar terjalin hubungan yang harmonis antara individu satu dengan yang lainnya.
Keadaan ini menuntut kita untuk memiliki cara bagaimana menghadapi setiap karakter individu yang berbeda, diantaranya adalah dengan mudaarooh, yaitu mengorbankan dunia untuk mendapatkan keuntungan duniawi ataupun ukhrowi ataupun keduanya, seperti berlaku lemah lembut, bertutur secara halus dan menampakkan wajah yang bersahabat kepada para fussaq beserta cs-nya, dengan tujuan, pertama: agar kita terhindar dari gangguan mereka, dan kedua: mungkin dengan mudaarooh seperti ini hati mereka akan terbuka, dan menjadi sebab kembalinya mereka ke jalan yang lurus (tentunya dengan syaratmudaarooh ini bersih dari basa-basi dalam masalah agama).
Sedangkan mudaahanah adalah mengorbankan agama demi mendapatkan keuntungan duniawi[40], misalnya dengan mengobral fatwa-fatwa “murahan” untuk mendapatkan jabatan, agar dekat dengan orang penting, agar mendapatkan harta yang fana, ataupun tujuan yang sejenisnya! nas’alullohas salaamata wal ‘aafiah.
Yang penting untuk diingat di sini adalah bahwa hukum asal dari mudaaroohadalah mubah, ia bisa menjadi mustahab bahkan wajib, namun bisa juga menjadi makruh bahkan menjadi haram! Tergantung timbangan maslahat dan mafsadatnya, baik untuk diri si pelaku ataupun untuk masyarakat yang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik seorang dai, jadi sangat diperlukan pertimbangan maslahat dan mafsadah yang matang sebelum kita memperaktekkan langkah ini, wallahu a’lam.
Inilah beberapa contoh akhlak mulia, yang insyaallah akan membantu kesuksesan seorang da’i dalam mengemban misinya membumikan ajaran Ilahi yang mulia ini, semoga kita selalu dalam naungan nikmat, rahmat dan taufiqNya, sehingga kita dapat meraih kesuksesan dunia dan akhirat dalam mengemban amanat besar ini.
وصلى الله وسلم وبارك على عبد الله ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين,
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Disarikan dari tulisan syeikh Ad Duwaisy yang berjudul “Thorīqunā ilal qulūb”

[2] Mustadrokul Hakim hadits no 4221, dishohihkan oleh Imam Alhakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, begitu juga syeikh albani (silsilah shohihah hadits no 45)
[3] HR. Attirmidzi hadits no 1941, ia mengatakan hadits ini hasan ghorib, dan dihasankan pula oleh syeikh albani (silsilah shohihah hadits no 791)
[4] HR. Attirmidzi hadits no, ia berkomentar hadits ini hasan shohih, begitu juga syeikh albani meng-hasan-kannya (shohih targhib wat tarhib hadits no 3160)
[5] HR. Attirmidzi hadits no 1927, ia berkomentar hadits ini shohih ghorib, dan di-hasan-kan pula oleh syeikh Albani (silsilah shohihah hadits no 977)
[6] HR. Abu dawud hadits no 4166 dan Attirmidzi hadits no 1925, ia berkomentar hadits ini hasan shohih, di-shohih-kan juga oleh syeikh Albani (shohih targhib wat tarhib hadits no 2641)
[7] Ali Imron ayat 159
[8] HR. Abu Dawud hadits no 4265, di-hasan-kan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah hadits no 794)
[9] HR. Muslim hadits no 4632
[10] Seperti misalnya: kitab adabul mufrod karya Imam Bukhori,  Makarimul Akhlaq karya Ibnu Abid Dunya, kitab-kitab syama’il yang menceritakan sifat-sifat dan akhlak nabi ع, dll.
[11] HR. Ahmad, hadits no 3632, di-shohih-kan oleh syeikh albani (shohih targhib wat tarhib, hadits no 2657)
[12] HR. Tirmidzi, hadits no 3515, dishohihkan oleh syeikh Albani (misykatul mashobih, hadits no 2471)
[13] HR. Muslim, hadits no 1290
[14] Surat Al-qolam ayat 4
[15] Madarijus Salikin 2/307
[16] Surat Al-An’am ayat 162-163
[17] Muttafaqun alaih, Bukhori hadits no 4024, Muslim hadits no 3310
[18] HR. Bukhori, hadits no 5551
[19] HR. Muslim, hadits no 836
[20] HR. Ahmad, hadits no 12328, dishohihkan oleh Syu’aib al-arna’uth
[21] Nurul Qobas karya abul mahasin al yaghmury, hal 46
[22] Mukhtashor tarikh dimasyq karya Ibnu Mandhur, hal 1884
[23] Surat Al-A’la ayat 14
[24] Surat Asy-Syams ayat 9
[25] HR. Thobaroni fil mu’jamil kabir, hadits no 1763, dihasankan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah no 342)
[26] HR. Tirmidzi, hadits no 1879, dihasankan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah hadits no 572)
[27] HR. Tirmidzi, hadits no 3574, dishohihkan oleh syeikh Albani (mukhtashorusy syama’il, hadits no 194)
[28] Muttafaqun Alaih (Bukhori hadits no 5613, Muslim hadits no 4643)
[29] Mushonnaf Abdur Rozzaq, atsar no 19442
[30] HR. Bukhori fil adabil mufrod, dihasankan oleh syeikh Albani (Irwa’ul Gholil, hadits no 1601)
[31] Aljami’ li akhlaqir rowi wa adabis sami’, karangan Alkhotib albaghdadi, atsar no 352)
[32] Surat Albaqoroh, ayat 195.
[33] HR. Thobaroni, hadits no 13646, dihasankan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah, hadits no 906)
[34] HR. Muslim, hadits no 131.
[35] Shifatush Shofwah 2/340
[36] HR. Ahmad, hadits no 20332 (lihat silsilah shohihah, hadits no 417)
[37] Tambahan hadits ini dihasankan oleh syeikh Albani (shohihul jami’, hadits no 280)
[38] Surat Azzukhruf, ayat 67.
[39] Muttafaqun Alaihi (shohih bukhori, hadits no 5702, shohih muslim, hadits no 4779)
[40] Almufhim karya Alqurthuby 9/338, fathul Bari karya Ibnu Hajar hal: 13/58

JIKALAH PADA AKHIRNYA........

Kawan pernahkah kamu merasakan sebuah penderitaan yang sangat?
Barangkali rasanya ingin mati saja, ya !

Kawan bagaimana rasanya diliputi benci dan kemarahan , sepertinya mau meledak dada dan kepala. Ingin memuntahkan segala kekesalan sepuas-puasnya.

Kawan, pasti kita pernah gagal, saat itu rasanya dunia sudah tertutup bagi kita. Tak ada lagi semangat apalagi tekad. Kitapun mandeg, malas untuk bergerak lagi.

Kawan. kita semua pernah berbuat dosa. Sering kita sadar dan menyesal, tapi kita tak sanggup keluar dari padanya.

Kawan…. percayalah ketika waktu terus berjalan dan semua itu berlalu, engkau akan melihat dengan pandangan berbeda.

Bisa jadi engkau merasakan penderitaanmu dulu tidak sehebat yang kau kira. Masih banyak orang lain yang lebih menderita.

Mungkin saja engkau akan melihat kemarahan dan kebencianmu tidaklah beralasan, sangat boleh kegagalanmu belum ada apa-apanya. Barangsiapa kesalahan dan dosa itu akan membuat kita bisa melihat dan menghayati kebenaran.

Kawan, seiring waktu yang berjalan , pikiran kita tumbuh, persaaan kita berubah, jika demikian halnya, maka mengapa kita biarkan diri tenggelam, sedangkan ia akan menjadi masalalu pada akhirnya?, jadi….

Jikalah derita akan menjadi masalalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa tidak dinikmati saja
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa

Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa
Sedangkan ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama

Jika benci dan marah akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti diumbar sepuas rasa
Sedang menahan diri adalah lebih utama

Jika kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti tenggalam di dalamnya
Sedang taubat itu lebih utama

Jika harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti dikukuhi sendiri
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya

Jika kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti membusung dada
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama
Sedang memberi akan lebih banyak memberi arti

Jika bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka
Sedang begitu banyak kebaikan bisa tercipta

Suatu hari nanti, saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin ada diantara mereka yang bertelekan diatas permadani sambil bercengkrama dengan tetangganya, saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya dimasa lalu hingga mereka mendapat anugrah itu.

Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku dibanding segala nikmat yang kuterima disini.

Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun ku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri dan ternyata ampunanNya seluas alam raya hingga sekarang aku bahagia.

Suatu hari nanti ketika semua telah menjadi masa lalu, aku tak ingin ada diantara mereka yang berpeluh darah dan berkeluh kesah, andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

Duhai harta yang dulu kukumpulkan sepeluh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak buat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkan kini.

Duhai derita, kecewa dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini.
Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar mesti hanya sedikit juga??

Wahai Anakku....



Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Alloh ta’ala


Segala puji ku panjatkan ke hadirat Alloh ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya.
Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.
Wahai anakku…
surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.
Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.
Wahai anakku…
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.
Wahai anakku…
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.
Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.
Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.
Anakku…
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.
Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.
Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.
Wahai anakku…
Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.
Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…
Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.
Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.
Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.
Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.
Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku…
Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.
Yang ibu pinta kepadamu:
Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.
Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.
Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.
Yang ibu tagih kepadamu:
Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.
Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku…
Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…
Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:
هل جزاء الإحسان إلا الإحسان
Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!
Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.
Wahai anakku…
Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…
Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!
Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!
Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!
Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!
Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!
Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!
إن الله يحب المحسنين
Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Wahai anakku…
Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku…
Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.
Wahai anakku…
Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!
Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.
Wahai anakku…
Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:
الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه
Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)
Anakku…
Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…
Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:
سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)
Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.
Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…
Wahai anakku…
Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…
Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…
Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.
Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.
Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.
Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…
Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…
Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!
Anakku…
Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:
رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)
Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)
Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.
Anakku…
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…
Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…
Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.
الجزاء من جنس العمل
Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.
الجزاء من جنس العمل
Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.
Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.
Wahai anakmu…
bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…
Anakku…
setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.
Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Dari Ibumu yang merana.
(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- dan akan disambung dengan jawaban si anak kepada sang ibu)
thank you