Sabtu, 24 Juli 2010

Yuk....! Tamasya ke MADINAH



2399580550035486082qycBxD_fsdبسم الله الرحمن الرحيم
KEUTAMAAN KOTA MADINAH
Madinah adalah Kota Nabi, kota tempat beliau -shollallohu alaihi wasallam-  berhijrah. Kota ini mempunyai banyak julukan diantaranya: thoobah dan thoybah.
Madinah mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:
Pertama :Bermukim di kota Madinah lebih baik dari pada bermukim di tempat lain.
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Kota Madinah adalah (tempat tinggal yang) lebih baik bagi mereka, andai mereka mengetahuinya” (HR. Bukhori Muslim)
Kedua: Kota Madinah dibersihkan dari orang yang hina dan rusak.
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda mengenai hal ini: “Kota Madinah membersihkan manusia, sebagaimana ubupan (alatnya pandai besi) membersihkan besi dari karatnya” (HR. Bukhori Muslim)
Ketiga: Iman akan kembali pulang ke kota Madinah.
Iman akan bersatu dan berkumpul lagi di Madinah, sebagaimana sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah, sebagiamana ular akan kembali ke lubangnya” (HR. Bukhori dan Muslim). Oleh karena itu, setiap insan muslim merasakan adanya rasa rindu dalam dirinya untuk pergi ke Madinah demi mendapatkan keutamaannya.
Keempat: Madinah terlindung dari wabah penyakit (tho’un) dan Dajjal.
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Di setiap lorong kota Madinah ada banyak malaikat, sehingga tidak dimasuki oleh wabah penyakit (tho’un) dan Dajjal.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Kelima: Berkahnya kota Madinah.
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ya Alloh, jadikanlah keberkahan yang ada di  Madinah ini dua kalinya keberkahan yang ada di Makkah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Keenam: Keutamaan orang yang bersabar dengan kerasnya kota Madinah.
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tiada orang yang bersabar dengan kesulitan dan kekerasan kota Madinah, melainkan aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaatnya pada hari kiamat nanti. (HR. Muslim)
Ketujuh: Madinah adalah kota suci.
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Madinah adalah kota suci, letaknya di antara Bukit Ier dan Bukit Tsaur. Barangsiapa melakukan bid’ah atau membantu orang lain dalam bid’ahnya di dalamnya, maka ditimpakan atasnya laknat Alloh, laknat Malaikat, dan laknat seluruh manusia” (HR. Muslim)
Hadits yang menerangkan kesucian kota Madinah mencakup hal-hal berikut ini: Larangan berburu di dalamnya, larangan memotong pohonnya, larangan membawa senjata untuk perang,  larangan melakukan bid’ah dan membantunya, yakni larangan melakukan hal-hal yang munkar dan merusak, serta perintah melindungi penduduknya.
Kedelapan: Ancaman bagi mereka yang ingin mencelakai penduduk Madinah.
Rosul  -shollallohu alaihi wasallam-   bersabda: “Tiada seorangpun yang bermaksud mencelakai penduduk Madinah, kecuali Allah akan leburkan dia di neraka, sebagaimana meleburnya besi atau garam. (HR. Muslim)
Kesembilan: Keutamaan sholat di Masjid Nabawi.
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Sholat sekali di masjidku ini, lebih utama dari sholat seribu kali di masjid lain, kecuali sholat di Masjidil Harom” (HR. Bukhori dan Muslim)
Kesepuluh: Keutamaan Roudhoh
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tempat yang berada di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga” (HR. Bukhori dan Muslim)
TEMPAT-TEMPAT YANG DISYARI’ATKAN UNTUK DIZIARAHI DI MADINAH
Ada beberapa tempat di kota Madinah yang disyariatkan untuk diziarahi dan dikunjungi:
Pertama: Masjid Nabawi:
Tempat ini merupakan tujuan utama dalam kunjungan ke kota Madinah, Rosul -shollallohu alaihi wasallam-   bersabda: “Safar tidak diperkenankan, kecuali ke tiga masjid: Masjidil harom, masjidku ini dan masjid aqsho.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Adab berkunjung ke masjid nabawi:
Ketika seseorang sampai ke masjid nabawi dan ingin memasukinya, hendaklah mendahulukan kaki kanannya dengan membaca sholawat kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan berdoa: “اللهم افتح لي أبواب رحمتك“ (Ya Alloh, bukalah  pintu-pintu rahmatmu untukku), kemudian sholat tahiyyatul masjid dua rokaat, setelah itu pergi untuk salam kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dengan posisi badan menghadap ke makam dan membelakangi arah kiblat, seraya mengucapkan:
السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، أشهد أنك بلغت الرسالة، ونصحت الأمة، وجاهدت في الله حق جهاده
(Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkatan Alloh tercurahkan kepada engkau wahai Nabi! Aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau telah menyampaikan risalahmu, engkau telah menasehati umatmu, dan engkau telah berjihad di jalan Alloh dengan sebaik-baik jihad)
Kemudian geser selangkah ke sebelah kanannya, dan mengucapkan:
السلام عليك يا خليفة رسول الله، رضي الله عنك، وجزاك عن أمة محمد خيرا
(Semoga keselamatan tercurahkan kepada engkau wahai Kholifah Rosululloh, semoga Alloh meridhoimu, dan membalasmu dengan kebaikan).
Kemudian bergeser ke sebelah kanan lagi, dan mengucapkan:
السلام عليك يا عمر، رضي الله عنك، وجزاك عن أمة محمد خيرا
(Semoga keselamatan tercurahkan kepada engkau wahai sahabat Umar, semoga Alloh meridhoimu, dan membalasmu dengan kebaikan).
Hendaklah ia memperhatikan adab ketika mengucapkan salam, dengan tidak mengangkat suara dan tidak berhenti lama.
Sebaiknya peziarah memanfaatkan waktunya dengan memperbanyak tinggal di Masjid Nabawi, memperbanyak doa, istighfar, dzikir, baca Qur’an, menghadiri majlis ilmu, dan amal-amal sholeh lainnya.
Kedua: Masjid Quba.
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dahulu pergi ke masjid Quba setiap pekan, kadang jalan kaki, kadang naik tunggangan. Beliau bersabda:“Barangsiapa keluar menuju masjid ini (yakni masjid Quba) kemudian sholat di dalamnya, maka baginya pahala yang sebanding dengan pahala umroh.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shohih)
Ketiga: Pemakaman Baqi’ dan Syuhada Uhud.
Rosululloh  -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mendatangi Makam Baqi’ dan mengucapkan salam kepada para sahabat yang dimakamkan di dalamnya, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
Itulah beberapa tempat yang disyariatkan untuk diziarahi di kota madinah ini. Adapun selain tempat-tempat tersebut, tidak ada dalil khusus yang menerangkan anjuran untuk menziarahinya, akan tetapi itu merupakan amalan baru yang dibuat-buat oleh orang, padahal Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan dalam agama ini, hal baru yang (sebenarnya) bukan dari agama ini, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim), maka hendaklah peziarah menjaga waktu dan mengisinya dengan amalan yang dianjurkan oleh syariat, serta tidak menyia-nyiakannya dg jalan-jalan menuju tempat-tempat yang tidak ada anjuran dari Rosul -shollallohu alaihi wasallam- untuk mengunjunginya, begitu pula tidak dikunjungi oleh para sahabat beliau.
Beberapa Catatan Penting bagi Para Peziarah
1. Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk bersholawat dan salam kepadanya, di mana pun mereka berada. Beliau juga memberitahukan bahwa sholawat dan salam tersebut akan sampai kepadanya, dan hal tersebut tidak khusus bagi mereka yang datang ke makamnya, sebagaimana sabdanya  -shollallohu alaihi wasallam- : “Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ied (ritual rutinan)! Jangan pula kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan! dan bersholawatlah kepadaku dimanapun kalian berada! Karena sholawat itu akan sampai kepadaku.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shohih).
    Oleh karena itu, sholawat dan salam kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak perlu harus pergi ke makam beliau. Begitu pula tidak disyariatkan titip salam kepada orang yang akan menziarahi beliau, karena para malaikat akan menyampaikan salam kita dimanapun kita berada. Adapun hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan pergi meziarahi makam beliau, semua hadisnya tidak ada yg shohih.
    Tidak pula disyariatkan untuk menziarahi makam Rosul -shollallohu alaihi wasallam- setiap kali masuk masjid, karena para sahabat (semoga Alloh meridhoi mereka) tidak melakukan hal itu, juga karena salam yang diucapkannya ketika masuk masjid akan sampai kepada beliau, tanpa harus pergi ke makamnya.
    2. Hendaklah peziarah menjauhi amalan-amalan yang dilakukan oleh orang yang tidak tahu agama dan ahli bid’ah ketika berada di masjid nabawi, seperti: mengusap-usap mihrob, minbar, tiang, pintu, pagar dan jendela masjid. Atau bahkan  menciumnya, atau berusaha thowaf mengelilingi kamar tempat pemakaman Nabi  -shollallohu alaihi wasallam-, atau berdoa di tempat tersebut.
      Yang lebih buruk lagi, apabila ia berdoa di sana dengan doa-doa bid’ah, sepertitawassul dengan kedudukan atau kehormatan Nabi  -shollallohu alaihi wasallam-,atau sejenisnya, yang hal tersebut tidak pernah dituntunkan oleh Syariat Islam yang suci ini.
      Lebih buruk dari itu semua, apabila ia berdoa meminta syafaat kepada Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, atau meminta kepadanya sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Alloh semata, seperti: memohon ampunan dosa, dijauhkan dari bencana, masuk surga, terbebas dari neraka, memohon kesembuhan, kemenangan atas musuh, meminta rejeki, meminta anak, dan yang semisalnya, yang itu semua adalah syirik akbar yang tidak akan diampuni oleh Alloh ta’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik ” (Annisa: 48), Ia juga berfirman (yang artinya): “Jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya akan terhapus (pahala) amalanmu” (Az-zumar: 65).
      Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga telah memperingatkan hal tersebut dan melaknat pelakunya, beliau bersabda: “Semoga laknat Alloh atas kaum yahudi dan nasrani, disebabkan perbuatan mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid” (HR. Bukhori dan Muslim)
      Kewajiban kita adalah memurnikan doa hanya kepada Alloh semata, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Mohonlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatanmu (hanya) kepada-Nya” [Al-a'rof: 29], Ia juga berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapapun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. [Aljin:18]
      3. Dianjurkan bagi para peziarah makam para sahabat -rodliallohu anhum- yang berada di baqi’ dan uhud, untuk merenungi hikmah disyariatkannya ziarah kubur, yaitu untuk mengingat hari akhir, dan mendoakan mereka.
      Hendaknya pula tidak menampakkan kesedihan dan ratapan, juga amalan-amalan yang bisa jadi termasuk perbuatan syirik atau jembatan menuju kesyirikan, seperti sholat di kuburan, atau mengutamakan berdoa dan membaca Alquran di tempat tersebut.
      Diharamkan pula untuk memasang penerangan di pemakaman, menaruh surat-surat yang berisikan wasiat, tawasul, permohonan dsb, karena Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Ingatlah, sungguh orang-orang sebelum kamu telah menjadikan makam-makam Nabi mereka sebagai masjid. Oleh karena itu, janganlah sekali-sekali kalian menjadikan makam sebagai masjid! Karena aku telah melarang kalian melakukannya! (HR. Muslim)
      HAKEKAT CINTA ROSUL -shollallohu alaihi wasallam-
      Rosululloh, Muhammad ibnu Abdillah  -shollallohu alaihi wasallam-, itu diutus Alloh ta’ala kepada seluruh umat manusia, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Katakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya Aku ini utusan Allah bagi kalian semua.” [al-a'roof: 158].
      Beliau dijadikan sebagai penutup kenabian dan kerosulan, sebagaimana firman-Nya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Alloh dan penutup para nabi. [al-ahzaab: 40]
      Alloh mengutusnya sebagai pembawa rahmat untuk semesta alam, sebagaimana firman-Nya: “Tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [al-anbiya': 107]
      Alloh mengutusnya sebagai penunjuk jalan, pemberi kabar gembira, dan pemberi peringatan, sebagaimana firman-Nya: “Wahai nabi! Sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya, dan sebagai cahaya yang menerangi. [al-ahzaab: 45-46]. Maka beliau menyampaikan risalah tersebut dengan sebaik-baiknya, menasehati umatnya dan menegakkan hujjahnya.
      Cinta Rosul -shollallohu alaihi wasallam- merupakan kewajiban yang paling agung dari keimanan kita, ia merupakan pondasi pada setiap amalan yang berlandaskan keimanan dan agama, oleh karena itu kita berkewajiban untuk mencintai beliau melebihi kecintaan kita kepada makhluk, siapapun orangnya, sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: “Jika bapak, anak, saudara, isteri, sanak kerabat, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, itu lebih kalian cintai melebihi Allah dan RasulNya dan lebih kalian cintai melebihi jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. [at-taubah: 24]
      Rosululloh  -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tidak (sempurna) iman seseorang, sehingga cintanya kepadaku melebihi cintanya kepada orangtuanya, anaknya, dan siapapun juga. (HR. Bukhori Muslim)
      Diantara indikasi dan pengaruh dari cinta rosul -shollallohu alaihi wasallam- yang hakiki, adalah:
      1. Menghormati dan mengagungkannya.
      2. Mentaati dan menerapkan petunjuknya serta berpegang teguh kepadanya.
      3. Membenarkan seluruh ucapannya.
      4. Menolongnya dan mendakwai orang lain untuk berpegang teguh kepada sunnahnya, mengagungkannya, dan membelanya.
      5. Tidak melakukan perbuatan bid’ah dalam agama.
      6. Memperbanyak bacaan sholawat kepadanya.
      7. Tidak bersikap berlebih-lebihan kepadanya.
      KEUTAMAAN PARA SAHABAT DAN HAK-HAK MEREKA
      Para sahabat -rodliallohu anhum- adalah umat yang paling utama. merekalah insan terbaik yang dipilih Alloh untuk mendampingi Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Mereka beriman kepadanya dan membelanya. Mereka sabar dengan apapun yang menimpa mereka dalam perjuangan mereka di jalan Alloh, dari mulai perlawanan, penolakan, kesulitan, dan disakiti oleh lawan.
      Bahkan Alloh telah meridhoi mereka dan menjanjikan surga bagi mereka, sebagaimana fiman-Nya: “Orang-orang yang terdahulu, lagi yang pertama-tama (masuk Islam), dari golongan muhajirin, anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan mereka akan kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.[Attaubah: 100].
      Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasi yang hidup di masaku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya” [HR. Bukhori Muslim].
      Para sahabat -rodliallohu anhum- mempunyai hak-hak yang wajib dipenuhi oleh seorang muslim, diantaranya:
      1. Mencintai mereka dan mendoakan keridhoan untuk mereka.

      2. Meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik dan mempunyai keutamaan.

      3. Meyakini keadilan mereka.

      4. Membersihkan hati kita dari kebencian terhadap mereka, serta menahan diri dan tidak mempermasalahkan apa yang pernah terjadi diantara mereka.

      5. Tidak mencela, tidak merendahkan, dan tidak menjatuhkan kedudukan mereka.
      Karena para sahabat adalah insan-insan terbaik dan para pembawa Ajaran Islam. Mencela mereka sama dengan mendustakan dan menyalahi pujian dan keridhoan yang diberikan Alloh ta’ala kepada mereka.
      Mencela mereka adalah sama dengan menyakiti Rosululloh  -shollallohu alaihi wasallam-, menyalahi wasiat beliau untuk mereka, dan meragukan kemurnian seluruh ajaran agama ini, karena agama ini tidak sampai kepada kita kecuali lewat jalan mereka.
      Rosul  -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Janganlah kalian mencela para sahabatku, karena andai saja salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, itu tidak akan menyamai pahala infaq mereka sebanyak satu mud, atau bahkan setengahnya. (HR. Bukhori dan Muslim).
      6. Tidak berlebih-lebihan terhadap mereka.
      karena jalan yang lurus adalah yang bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Artinya: kita tidak mendudukkan mereka diatas martabat mereka, misalnya dengan memberikan sifat ketuhanan atau kenabian kepada mereka, begitu juga sebaliknya jangan sampai kita tidak sopan kepada mereka, misalnya dengan merendahkan atau mencela mereka.
      7. Menjaga hak-hak keluarga Nabi  -shollallohu alaihi wasallam- yaitu: keturunan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththolib.
      Termasuk dari keluarga Nabi adalah isteri-isteri beliau, ibunda kaum mukminin, sebagaimana sabda Rosul  -shollallohu alaihi wasallam-: “Aku ingatkan kepada kalian, agar menjaga keluargaku.” [HR. Muslim]
      Keluarga Nabi  -shollallohu alaihi wasallam- dari kalangan sahabat mempunyai tiga hak: (1) Hak sebagai seorang yang mukmin, (2) Hak sebagai seorang sahabat, dan (3) Hak sebagai seorang kerabat Nabi  -shollallohu alaihi wasallam-.
      Sedangkan keluarga Nabi  -shollallohu alaihi wasallam- yang bukan dari kalangan sahabat, mereka mempunyai dua hak: (1) Hak sebagai seorang yang mukmin dan (2) Hak sebagai seorang kerabat Nabi  -shollallohu alaihi wasallam-.
      Oleh: Prof. Dr. Sulaiman bin sholih bin abdul aziz al ghushn
      Alih bahasa oleh: Abu Abdillah Musyaffa’ Addariny.
      Madinah, 3 desember 2008.

      Secercah harapan… dalam MENUNTUT ILMU

      Bismillah…. Sebagaimana kita ketahui bahwa menuntut ilmu adalah termasuk diantara amalan yang paling utama, sebagaimana ucapan Imam Ahmad: (العلم لا يعدله شيء لمن صحّت نيته) Tidak ada yang menandingi keutamaan (menuntut) ilmu, bagi siapa yang benar niatnya.

      Oleh karenanya, ada baiknya kita merenungi anjuran dan nasehat berikut ini, semoga banyak manfaatnya, terutama bagi penulis, umumnya bagi para pembaca yang budiman, amin. Di sini penulis akan menyampaikan beberapa poin:
      Pertama: Hendaklah dalam menuntut ilmu, kita niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita dan orang lain. sebagaimana ucapan Imam Ahmad:  ”Niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah dengan meniatkannya untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.”
      Kedua: Hendaklah kita niatkan untuk  menta’ati   perintah Alloh dan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-. Yaitu perintah Alloh dalam firman-Nya: (فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ) ketahuilah bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh. Bahkan Alloh juga memotivasi kita untuk menuntut ilmu, yaitu dalam firman-Nya (يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ) Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu dengan beberapa derajat. Dalam Ayat lain Alloh berfirman:  (هل يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ) apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?!
      Tidak hanya itu, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga memotivasi kita dalam menuntut ilmu dalam beberapa haditsnya, diantaranya:
      عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- قال، قال رسول الله  ج: طلب العلم فريضة على كل مسلم (رواه ابن ماجه وصححه الألباني)ـ
      Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim (mukallaf)
      عن أبي الدرداء: سمعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم يقول: من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة، وإن الملائكة لتضع أجنحتها رضا لطالب العلم، وإن طالب العلم يستغفر له من في السماء والأرض حتى الحيتان في الماء، وإن فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب، إن العلماء هم ورثة الأنبياء، إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما، إنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر (رواه الترمذي وأبو داود وابن ماجه، وصححه الألباني)ـ
      Subhanalloh..!! dalam hadits ini, tidak tanggung-tanggung  Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menyebutkan lima keutamaan sekaligus bagi para penuntut ilmu:
      (1) Barangsiapa menyusuri jalan untuk menuntut ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju jannah. (2) Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya, karena senang dengan penuntut ilmu. (3)Sesungguhnya seluruh makhluk, baik yang di bumi maupun yang di langit, sampai ikan yang hidup di air, memintakan maghfiroh untuk penuntut ilmu. (4)Sesungguhnya seorang yang berilmu lebih utama dibanding orang yang ahli ibadah, sebagaimana keutamaan bulan atas bintang-bintang. (5) Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan mereka tidak mewariskan harta dunia, melainkan mewariskan ilmu, maka barangsiapa mendapatkannya niscaya ia mendapatkan bagian yang agung.
      Maka beruntunglah orang yang meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu, dan hendaklah kita mengingat terus keutamaan dan busyro (kabar gembira) dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-ini, agar selalu ada semangat dalam menuntut ilmu-ilmu syariat.
      Ketiga: Hendaklah tujuan kita dalam belajar adalah untuk menjaga syariat ini, kita tentunya ingat firman Alloh:
      (إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون)
      sesungguhnya aku telah menurunkan Alqur’an dan sungguh aku pula yang akan menjaganya.
      Karena Alloh akan terus menjaga Alqur’an, berarti Alloh juga akan menjaga sarana pendukungnya, yaitu ilmu syari’at, dan dengan ilmu syariat inilah Islam akan terjaga kemurniannya. Untuk menjaga agama ini, Alloh akan pilih hamba-hambanya yang pantas untuk mengemban tugas mulia ini…
      Oleh karena itu hendaklah kita berusaha semaksimal mungkin agar termasuk dalam golongan penjaga agama ini, diantara usaha kita adalah dengan menuntut ilmu.
      Keempat: Hendaklah kita ingat terus, bahwa kita belajar ilmu adalah untuk kita amalkan. Jadikanlah itu sebagai pedoman tetap dalam menuntut ilmu. Dan perhatikanlah… apabila ilmu itu membuahkan banyak amalan maka tekunilah… sebaliknya apabila ilmu itu hanya sebatas teori saja, maka tinggalkanlah…
      Itulah yang diisyaratkan Alloh ـ dalam firmanya:
      إنما يخشى الله من عباده العلماء
      Sesungguhnya ulama yang sejati adalah mereka yang takut kepada Alloh.
      Kelima: Ingat pula bahwa ilmu adalah cahaya Alloh, dan cahaya tersebut tak akan diberikan kepada orang yang banyak dosa dan maksiat. Sebagaimana perkataan imam malik yang sangat masyhur kepada Imam syafi’i:
      (إن العلم نور ونور الله لا يعطى لعاصي)
      Ilmu itu cahaya, dan cahaya Alloh tak akan diberikan kepada pelaku kemaksiatan
      Juga perkataan imam adz-dzahaby:
      (العلم ليس هو بكثرة الرواية، ولكنه نور يقذفه الله في القلب، وشرطه الاتباع، والفرار من الهوى والابتداع)
      ilmu itu bukanlah dengan banyaknya (mengumpulkan) riwayat, akan tetapi ia adalah cahaya yang Alloh lemparkan ke dalam hati, yang syaratnya adalah dengan mengikuti sunnah serta menjauhi hawa nafsu dan bid’ah.
      Keenam: Ingatlah selalu bahwa menuntut ilmu itu harus sedikit demi sedikit. Sebagaimana diisyaratkan oleh firman Alloh ـ:
      (وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ)
      Kaum kuffar mengatakan: “Mengapa Alqur’an itu tidak diturunkan kepada Muhammad dengan sekaligus?!” Demikianlah (kami turunkan berangsur-angsur) agar kami meneguhkan hatimu (Muhammad) dengannya.
      Sebagaimana disebutkan pula oleh para ulama, bahwa (من رام العلم جملة ذهب عنه جملة) Barangsiapa mengambil ilmu dengan sekaligus, maka ia akan hilang dengan sekaligus pula.
      Ketujuh: Ingatlah menuntut ilmu itu butuh perjuangan. (من أعطى العلم كله أعطاه بعضه) Barangsiapa memberikan semuanya kepada ilmu, maka ilmu itu hanya akan memberikan sebagiannya saja.
      Diantara contoh keteladanan salaf dalam perjuangan mereka ketika menuntut ilmu adalah:
      • Imam Bukhori,  dalam salah satu safarnya terpaksa makan rumput, karena perbekalannya habis. (disebutkan oleh Ibnu hajar dalam muqoddimah fathul bari dan tajuddin assubky dalam thobaqot syafi’iyyah)
      • Kisah Baqiy ibnu Makhlad al-Andalusy dengan Imam Ahmad, ketika dia safar dari andalus sampai ke bagdad dengan jalan kaki, dengan tujuan utama mengambil ilmu dari Imam ahmad.
      Kedelapan: Hendaklah sebagai penuntut ilmu, kita berakhlak dengan ilmu, baik dalam hal ibadah (hubungan kita kepada Alloh), maupun dalam hal muamalah (hubungan kita kepada sesama), tentunya tidak asing bagi kita sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam- (أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا) orang mukmin yang paling sempurna adalah mereka yang paling baik akhlaknya.
      Tidak sepantasnya penuntut ilmu sombong dengan ilmunya, misalnya dengan mengatakan: aku lebih mulia darinya, aku berada beberapa derajat di atasnya, aku lebih berhak untuk di muliakan…. dst. Karena itu merupakan tanda-tanda bahwa sifat ujub telah merasukinya… ingatlah bahwa orang akan lebih respek dengan orang yang akhlaknya bagus meskipun ilmunya sedikit, dari pada orang yang banyak ilmu tapi miskin akhlak… oleh karena itu sering kita dapati kebatilan lebih mudah diterima masyarakat karena dihias dengan akhlak, sebaliknya al-haq (suatu kebenaran) dicibir, diusir dan dibuang karena buruknya akhlak. Maka sebagai pembawa kebenaran hendaklah kita berakhlak mulia, agar dakwah kita mudah diterima oleh masyarakat.
      (لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة)  (وإنك لعلى خلق عظيم)  (وقال عائشة: كان خلقه القرآن)
      Salah seorang masyayikh mengatakan… janganlah kita menambah berat sesuatu yang sudah berat, al-haq adalah sesuatu yang berat, maka janganlah kita menambahnya berat dengan metode dakwah yang bertentangan dengan nilai-nilai akhlak yang mulia.
      Yang terakhir: jauhkanlah diri kita dari rasa dengki dan hasad, karena itu adalah perbuatan yang sia-sia. Hasad tidak akan menghalangi sampainya nikmat yang Alloh berikan kepada orang yang kita hasati, (اللهم لا مانع لما أعطيت) ,ya Alloh tiada yang bisa menghalangi pemberianmu. Hasad juga tidak akan menjadikan nikmat tersebut berpindah kepadanya, (ولا معطي لما منعت) , tidak ada yang dapat memberi apa yang engkau halangi. Bahkan hasad hanya akan mendatangkan musibah bagi dirinya, menjadikannya tersiksa lahir dan batin, ia tidak akan bisa bahagia dan bersyukur, karena ia akan selalu memandang kenikmatan yang didapatkan orang lain, jauh lain lebih banyak dibanding dengan kenikmatan yang ia dapatkan…
      Mungkin ada yang bertanya, lalu kenapa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- membolehkan kita hasad?! Yaitu dalam sabdanya:
      عن ابن عمر رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا حسد إلا في اثنتين، رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار، ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار (متفق عليه)ـ
      Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang, (1) orang yang dikaruniai hafalan Alqur’an dan ia bisa memanfaatkannya di sepanjang siang dan malamnya, (2)orang yang dikaruniai harta, dan ia bisa menafkahkannya di sepanjang siang dan malamnya.
      Jawabannya: sebagaimana perkataan para ulama, bahwa yang dimaksud dengan hasad di dalam hadits ini adalah: apa yang kita kenal dengan ghibtoh, yaitu: keinginan untuk mendapatkan apa yang orang lain dapatkan, tanpa ingin menghilangkan kenikmatan tersebut darinya.
      Itulah beberapa catatan penting, yang hendaknya kita selalu hadirkan ketika kita belajar dan menghadiri kajian ilmu syar’i. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, dan bisa menjadi pemompa semangat dalam menuntut ilmu syar’i, amin.
      اللهم ارزقنا علما نافعا، وعملا صالحا، اللهم اهدنن لأحسن الأخلاق، لا يهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عنا سيئها، لا يصرف عنا سيئها إلا أنت
      thank you