Senin, 26 Juli 2010

SEBUAH NASIHAT UNTUK ISTRIKU

Bersabarlah wahai istriku…

Ketika keadaan mendadak berubah tak seperti biasa. Karena engkau tahu jalan hidup tak selamanya sesuai dengan harapan kita. Karena bahagia tak bisa selamanya kita rasa. Karena Allah telah menuliskan semuanya. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

”Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. al-Hadiid: 22-23)

Dan ketika engkau merasa lelah dan bimbang, datang dan bersandarlah di pundakku. Supaya dapat kukisahkan lagi sirah Nabi yang dapat menyemangatimu. Dan bisa kulihat lagi senyum manis di wajahmu. Karena senyuman adalah lengkungan yang dapat meluruskan segalanya.

Oleh karena itu, bersabarlah istriku...

Karena ujian akan selalu ada dalam tiap cerita manusia. Dan janganlah engkau banyak mengeluh. Tapi berbaik sangkalah pada Rabb-mu yang telah memilih kita menjadi hamba-hamba yang dicintai-Nya. Ingatkah engkau pada salah satu firman-Nya:

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 2-3)

Bukankah engkau selalu memohon kepada ar-Rahmaan agar kita digolongkan kepada orang-orang beriman? Maka ketahuilah istriku, inilah sabilul mukminin (jalan orang-orang beriman). Jalan mereka tidak senantiasa mudah. Dan jalan mereka tidak senantiasa lapang.

Maka sabarkanlah dirimu wahai istriku...

Sebagaimana para Shahabat dan Salafush Shalih telah bersabar atas apa yang Allah tetapkan atas mereka. Sesungguhnya kita tidak pernah mengetahui apa yang baik untuk kita, melainkan telah Allah tetapkan dengan ilmu-Nya yang tak berbatas. Ingatkah engkau pada firman-firman-Nya:

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. al-Qamar: 49)

”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. al-An’aam: 59)

Maka janganlah engkau ingkar terhadap apa yang engkau sendiri telah meyakininya.

Itulah kenapa aku selalu memintamu untuk bersabar wahai istriku...

Karena sabar itu adalah perisai seorang mukmin. Dan tidaklah seorang mukmin itu mendapatkan jannah melainkan dia bersabar atas ketetapan Rabb-nya. Dan sabarmu itu laksana pedang tajam yang tidak akan salah sasaran, pasukan yang tak terkalahkan, dan benteng kokoh yang tak dapat diruntuhkan.

Ketahuilah istriku...

Sabar itu bersaudara dengan kemenangan. Dan dari setiap masalah akan ada jalan keluar yang datang bersama kesabaran. Bukankah Allah Ta’ala telah mengisyaratkan dalam firman-Nya:

”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 5-6)

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 155-157)

Wahai istriku...

Sabar itu adalah tali seorang mukmin yang dia berpegang kepadanya karena keimanannya. Tidaklah seorang mukmin itu memiliki keimanan melainkan telah ada kesabaran dalam dirinya. Dan iman itu terdiri dari sabar dan syukur, maka jagalah dua hal ini olehmu.

”Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang-orang yang sabar dan bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5; Luqman: 31; Saba’: 19; dan asy-Syura’: 33)

Ingatlah wahai istriku...

Allah ar-Rahmaan telah menjamin balasan dan kebaikan bagi orang-orang yang sabar dalam firman-firman-Nya:

”Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka,” (QS. Al-Qashash: 54)

”Katakanlah: ”Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar: 10)

”kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Huud: 11)

”Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (al-Fushshilat: 35)

”Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. an-Nahl: 126)

Maka tetapkanlah dirimu untuk senantiasa bersabar wahai istriku...

http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2009/02/sebuah-nasihat-untuk-istriku.html

Catatan Terkait:

HAKIKAT SABAR
http://www.facebook.com/note.php?note_id=215132765174

Abu Muhammad Herman

Menyucikan Jiwa ,Membersihkan Hati (2)

Cara-cara membersihkan jiwa dan qalbu
Dalam hal ini tidak ada cara-cara tertentu yang diperbolehkan selain cara-cara syari’at. Bahkan seluruh syari’at Islam, baik yang menyangkut masalah aqidah maupun masalah hukum, dari masalah yang paling besar hingga masalah paling kecil, semuanya berujung pada, ketakwaan, pembersihan jiwa dan peribadatan hanya kepada Allah semata.[1]
Penjelasannya adalah melalui contoh-contoh berikut:
1- Tauhid merupakan pembersihan jiwa.
Tauhid ialah meng-Esakan Allah dengan melakakukan peribadatan dan penyembahan hanya kepadaNya saja.[2] Segala peribadatan yang berbentuk permohonan, cinta, takut, tawakal, taat, malu dan lain-lain dari gerakan-gerakan hati, lidah maupun anggauta badan, hanya dipersembahkan kepada Allah saja, dengan mengikuti ketentuan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja.
Tauhid yang intinya adalah penyembahan hanya kepada Allah saja ini merupakan penyucian jiwa yang paling besar dan paling penting. Sebab, itulah  tujuan pokok diciptakannya manusia dan jin. Orang yang bersih tauhidnya adalah orang yang bersih jiwa dan hatinya.
Lawan dari tauhid adalah syirik. Jika tauhid merupakan kebersihan jiwa yang paling besar, maka kemusyrikan merupakan kotoran jiwa yang paling besar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسُُ التوبة: ٢٨
Sesungguhnya orang-orang musyrik adalah orang-orang yang najis. (QS. At-Taubah/9 : 28)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dan Imam asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud najis dalam ayat itu bukanlah najis dalam arti fisik. Tetapi najis jiwa dan agamanya.[3]
Dengan demikian, jika orang ingin melakukan proses pembersihan jiwa, maka hal pertama dan paling utama untuk dilakukan adalah membersihkan tauhidnya dari segala macam syirik. Misalnya tidak datang untuk meminta sesuatu kepada dukun atau orang ‘pintar’, tidak meminta-minta kepada kuburan orang shaleh dan tidak ngalap berkah ditempat-tempat keramat atau kuburan-kuburan yang diagungkan.
2- Wudhu’
Wudhu’ juga merupakan proses penyucian jiwa, di samping membersihkan fisik dari kotoran yang melekat pada anggauta fisik tertentu. Imam Nawawi rahimahullah, dalam Riyadhus Shalihin,[4]membawakan satu ayat tentang keutamaan wudhu’ ini, yang artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! , Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu, dan basuhlah kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang suci; usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’matNya bagimu, agar kamu bersyukur. (Al-Ma’idah/5 : 6)
Beliau juga membawakan hadits-hadits yang menjelaskan bahwa barangsiapa berwudhu’ dengan benar dan baik, maka kotoran-kotoran jiwanya, berupa dosa dan kesalahan-kesalahannya akan lenyap. Di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ، خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ. رواه مسلم
Siapa yang berwudhu’, dan ia memperbagus wudhu’nya, maka akan keluar kesalahan-kesalahan dirinya dari jasadnya hingga keluar pula melalui bawah kuku-kukunya. HR. Muslim.[5]
Jadi, kegiatan ibadah wudhu’pun sebenarnya merupakan pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran dosa.
Demikian pula tayamum serta mandi besar, baik mandi junub, mandi jum’at maupun mandi hari raya. Tentu dengan syarat ikhlas dan diniatkan sebagai peribadatan sesuai dengan tuntunan Nabishallallahu ‘alaihi wasallam.
3- Shalat
Shalat juga merupakan pembersihan serta penyucian jiwa. Karena shalat itu dapat menyingkirkan kotoran-kotoran yang berupa perbuatan keji dan munkar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ العنكبوت: ٤٥
Sesungguhnya, shalat akan mencegah perbuatan keji dan munkar. (QS. Al-’Ankabuut/29 : 45)
Sesungguhnya di dalam shalat terkandung tiga unsur penting: ikhlas, takut kepada Allah, dan zikir serta mengingat Allah.
Unsur ikhlas akan mengendalikan pelakunya untuk berbuat kebaikan. Sedangkan unsur takut kepada Allah akan menghalangi pelakunya dari perbuatan munkar. Adapun unsur zikir serta mengingat Allah akan menjadikannya selalu waspada untuk tidak terjerumus ke dalam kejahatan.
Shalat juga merupakan hubungan antara seorang hamba dengan Allah. Pelakunya akan merasa malu ketika menghadap Allah sedangkan ia membawa dosa-dosa besar serta perilaku-perilaku keji.[6]
Maka untuk menyucikan jiwa, cukuplah seseorang melaksanakan shalat dengan ikhlas, benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
4- Zakat
Zakat yang merupakan salah satu rukun Islam, juga ibadah yang membersihkan jiwa. Zakat ini akan dapat membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil, serta membersihkan diri dari dosa-dosa.[7]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  التوبة: ١٠٣
Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan (jiwa) mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah/9: 103)
Zakat fitri, shadaqah-shadaqah lain serta infak, baik wajib maupun sunat, semuanya juga merupakan ibadah yang membersihkan jiwa dan harta dari kotoran-kotaran dosa.
5-     Demikian pula ibadah puasa, haji serta menyembelih hewan korbanpun adalah amaliah ibadah yang membersihkan jiwa.
Bahkan seluruh syi’ar yang disyari’atkan dalam Islam adalah amal ibadah yang berfungsi membersihkan jiwa menuju kebaikan, ketakwaan serta peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.
Penutup
Berdasarkan pemaparan singkat di atas, dapat difahami bahwa pembersihan jiwa hanya dapat terwujud dengan memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara benar, mulai yang paling pokok hingga menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.
Barangsiapa yang menjalankan ketetapan-ketetapan Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia selalu membersihkan jiwanya. Dan barangsiapa yang enggan mengamalkan ajaran Islam atau mengamalkannya tetapi tidak berpedoman pada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia adalah orang yang mengotori jiwanya. Bahkan barangsiapa yang berusaha membersihkan dan menyucikan jiwa serta qalbunya, tetapi tidak berdasarkan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia justeru sedang mengotori jiwanya. Sebab syari’at Islam adalah syari’at yang sudah sempurna dan lengkap, tidak memerlukan penambahan, apalagi pengurangan.
Maka “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya“.(Asy-Syams: 9-10).
Ya Allah, bimbinglah kami menjadi orang-orang yang bersih jiwanya dan jadikanlah sebagai  orang-orang yang beruntung. Wallahu Waliyyu at-Taufiq.
Penulis: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
Catatan kaki:

[1] Al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus. Op.Cit. h.59 dst.
[2] Lihat Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Syaikh, Syarh Tsalatsah al-Ushul, I’dad: Fahd bin Nashir as-sulaiman, Riyadh, Daar ats-Tsurayya, cet. III, 1417 H/1997 M, hal. 39
[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz II, dan Tafsir Fathu al-Qadir juz II, QS. At-Taubah: 28
[4] Lihat Riyadhus-Shalihin, Daar Ihya’ at-Turats al-’Arabi & Maktabah al-Ghazali, Beirut, tanpa tahun, bab: Fadhlu al-Wudhu’, hal. 411 dst.
[5] An-Nawawi, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi. Op.Cit. III/127, no. hadits: 577.
[6] Lihat al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus. Op.Cit. h. 63-64.
[7] Al-Hilali, Salim bin ‘Id, Syaikh, Bahjatu an-Nazhirin Syarh Riyadh ash-Shalihin, KSA, Daar Ibni al-Jauzi, cet. V, J. Ula, 1421, juz II, hal. 346.
http://ustadzfaiz.com

Menyucikan Jiwa, Membersihkan Qalbu (1)




Pendahuluan
Penyucian jiwa dan qalbu yang merupakan pangkal bagi lahirnya akhlak mulia, adalah unsur penting bagi berlangsungnya kekuatan serta kewibawaan suatu bangsa.[1] Dan itu merupakan salah satu tugas utama yang karenanya Allah ‘Azza wa Jalla mengutus nabiNya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.[2] Allah ‘Azza wa Jallaberfirman, di antaranya:
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ . آل عمران: ١٦٤
Sesungguhnya Allah telah member karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri; yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran/3 : 164)
Ayat ini menjelaskan, di antara tugas utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membersihkan jiwa manusia serta mengajarkan al-Qur’an dan hikmah. Yang dimaksud hikmah di sini adalah Sunnah Beliau sendiri n dan maksud-maksud serta rahasia-rahasia yang terkandung di balik syari’at.[3] Jadi isi al-Qur’an al-Karim, seluruhnya sudah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik lafaz, ma’na, kandungan serta rahasia-rahasianya.  Begitu pula wahyu-wahyu Allah lainnya yang berupa Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, orang dikemudian hari tidak perlu mencari sendiri ma’na-ma’na rahasia di balik ayat al-Qur’an tersebut berdasarkan perasaan, logika atau gagasan pribadi. Yang perlu dilakukan adalah mencari ma’na-ma’nanya melalui riwayat-riwayat yang shahih dari Nabi atau dari para Sahabat Nabi, melalui penjelasan para ulama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَفِى رِوَايَةٍ : صَالِحَ) اْلأَخْلاَقِ. أخرجه البخاري فى الأدب المفرد والحاكم وغيرهما
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat lain :yang shaleh). Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam al-Hakim dll.[4]
Tujuan Pembersihan Jiwa
Tujuan pembersihan jiwa adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya, takwa hanya dapat terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa.  Sementara, kebersihan jiwa juga tidak dapat terjadi tanpa takwa. Jadi keduanya saling terkait dan saling membutuhkan. Itulah mengapa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَاسَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا الشمس: ٧ – ١٠
Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams/91 : 7-10)
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa seseorang dapat membersihkan jiwanya melalui ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلاَ تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى النجم: ٣٢
Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa.(QS. An-Najm/53: 32)
Serta firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَسَيُجَنَّبُهَا اْلأَتْقَى . الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى الليل: ١٧ – ١٨
Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya. (QS. Al-Lail/92: 17-18)
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa pembersihan jiwa pada hakikatnya adalah ketakwaan kepada Allah.[5] Dan memang tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah.
Di sini perlu juga difahami dengan baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:
اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا. رواه مسلم
Ya Allah! Anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkan jiwa. Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya. HR. Muslim.[6]
Dengan qalbu serta jiwa yang bersih dan bertakwa, akan tercapailah maksud diciptakannya manusia. Yaitu hanya beribadah dan menyembah kepada Allah saja.
Allah berfirman:
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ الذاريات: ٥٦
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu saja. (QS. Adz-Dzaariyaat/51 : 56)
-bersambung insya Allah-
Penulis: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
Catatan kaki:

[1] Al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus, KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal. 15
[2] Ibid. h. 21
[3] As-Sa’di, Abdur rahman bin Nashir, Syaikh, Taisir al-Karim ar-Rahman, QS. Ali Imran: 164.
[4] Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dll, lihat Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, bi takhrijat wa ta’liqat : Syaikh al-Albani, Daar ash-Shiddiq, Jubail, KSA, cet. II, 1421 H/2000 M, hal. 100-101, no. 273. Lihat pula Silsilah Shahihah, no. 45.
[5] Al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus. Op.Cit. h. 19-20
[6] An-Nawawi, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, 

http://ustadzfaiz.com

Jika Istri Selingkuh...!!??

KITAB LI’AN [1]
Bab: Jika seorang suami mendapati istrinya (selingkuh) dengan orang lain
(865) Sahl bin Sa’d as-Sa’idy mengabarkan: bahwa Uwaimir al-Ajlany datang dan bertanya kepada Ashim bin Adiy al-Anshory, “Apa pendapatmu wahai Ashim, jika seorang suami mendapati istrinya selingkuh dengan orang lain? Apa ia membunuh orang tersebut dan mereka akan balas membunuhnya (di qishos)? Atau apa yang seharusnya ia lakukan? Tolonglah wahai Ashim, tanyakan hal ini kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-!
Kemudian Ashim menanyakannya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, tetapi beliau tidak senang dengan masalah-masalah itu dan mencelanya, sehingga apa yang didengarnya dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-membuat resah hatinya. Ketika Ashim pulang ke rumahnya, datanglah Uwaimir bertanya: “Wahai Ashim! Apa jawaban Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-? Ia menjawab: “Pertanyaanmu itu tidak mendatangkan kebaikan bagiku, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak senang dengan masalah yang kau tanyakan”. Uwaimir berkata: “Demi Alloh, aku tidak akan berhenti, aku akan tanyakan langsung kepada beliau!”.
Kemudian Uwaimir beranjak menemui Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- di tengah kerumunan orang, ia berkata: “Wahai Rosululloh! Apa yang harus dilakukan seorang suami, yang mendapati istrinya berselingkuh dengan orang lain? Apa ia membunuh orang tersebut dan mereka akan balas membunuhnya (di qishos)? Atau apa yang seharusnya ia lakukan? Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Alloh telah menurunkan ayat tentang kamu dan istrimu, maka datangkanlah dia”
Sahl mengatakan: Kemudian keduanya mengucapkan sumpah li’an, saat itu aku dan orang-orang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Ketika keduanya selesai, Uwaimir mengatakan: “Wahai Rosululloh! Sungguh aku telah berdusta kepadanya, jika aku mempertahankannya (sebagai istriku)! Lalu ia mentalaknya sebanyak tiga kali, sebelum Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-memerintahkan hal itu kepadanya. Ibnu Syihab mengatakan: maka itu menjadi tuntunan bagi orang yang melakukan sumpah li’an.
(866) Abu Huroiroh berkata: Sa’ad bin Ubadah bertanya: “Wahai Rosululloh! Jika aku memergoki istriku selingkuh dengan orang lain, apa aku tidak boleh menyentuhnya sampai aku datangkan empat saksi?! Rosululloh menjawab: “benar”, Sa’ad menimpali: “tidak mungkin, sungguh demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tentu akan segera membunuhnya, sebelum (kudatangkan empat saksi) itu!”.  Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- kemudian bersabda: “Dengarkanlah apa yang dikatakan pimpinan kalian!, sungguh dia sangat pencemburu, tetapi aku lebih pencemburu darinya, dan Alloh lebih pencemburu dari aku.”
(867) Sa’id bin Jubair mengisahkan: “aku pernah ditanya tentang dua orang yang saling sumpah li’an pada istrinya Mush’ab (bin Zubair), apa keduanya harus dipisahkan?” Said mengatakan: “Aku tidak tahu harus jawab apa, lalu aku pergi ke rumah Ibnu Umar di Makkah. (Sesampainya di sana) aku berkata ke budaknya: “Mintakan ijin untukku!”, ia menjawab: ia sedang tidur siang. Tetapi ternyata Ibnu Umar mendengar suaraku, ia menanyakan: “Ibnu Jubair?!” aku menjawab: “Ya”. Ia mengatakan: “Silahkan masuk! Demi Alloh, kamu tidak akan datang saat ini kecuali karena ada kepentingan”.
Kemudian aku masuk, aku dapati ia bertikar alas pelana, dengan bantal yang berisi sabut pohon kurma. Aku menanyakan: “wahai Abu Abdirrohman! Suami istri yang melakukan sumpah li’an apa harus dipisahkan?” jawabnya: “subhanalloh… ya benar, sesungguhnya orang pertama yang menanyakan hal ini adalah fulan bin fulan, ia bertanya: “wahai Rosululloh! Apa pendapatmu, jika salah seorang diantara kami memergoki istrinya selingkuh, apa yang harus dilakukannya? jika ia membeberkannya, ia akan membeberkan masalah besar, dan jika ia mendiamkannya, berarti ia mendiamkan masalah yang besar pula”. Ibnu Umar meneruskan: “Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- diam tidak menjawabnya, selang beberapa waktu ia datang lagi, dan mengatakan kepada beliau: sesungguhnya masalah yang aku tanyakan (waktu lalu), sekarang sedang menimpaku. Maka Alloh U menurunkan ayat-ayat dari surat An-nur (yang artinya): “dan orang-orang yang menuduh istrinya berzina…” Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- membacakan ayat-ayat tersebut kepadanya, beliau menasehati, mengingatkan dan mengabarkan bahwa sesungguhnya siksa dunia lebih ringan dibanding siksa akhirat. Ia mengatakan: “tidak, sungguh demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak berdusta kepadanya” kemudian beliau memanggil istrinya, menasehatinya dan mengingatkan bahwa siksa dunia lebih ringan dibanding siksa akhirat. Istrinya itu balik mengatakan: “tidak, sungguh demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya suamiku berdusta”.
Lalu beliau memulai dengan si suami, ia bersumpah dengan empat sumpah: “demi Alloh ia termasuk orang yang jujur”, dan yang kelima ia berikrar bersedia mendapat laknat Alloh jika berdusta.
Berikutnya beliau berpindah kepada si istri, maka ia bersumpah dengan empat sumpah: “demi Alloh si suami termasuk orang yang berdusta”, dan yang kelima ia berikrar bersedia mendapat laknat Alloh jika suaminya ternyata jujur adanya. Kemudian beliau memisahkan keduanya.
(868) Ibnu Umar berkata: Kepada dua orang yang saling sumpah li’an, Rosululloh-shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Perhitungan kalian berdua adalah terserah Alloh, (Ia maha tahu) mana diantara kalian yang berdusta, dan tidak ada jalan bagimu (wahai suami) untuk bersamanya lagi. Si suami bertanya: “wahai Rosululloh! (bagaimana dengan) maharku?” beliau menjawab: “kamu tidak berhak lagi atas maharmu! karena jika kamu jujur adanya, maka mahar itu telah menjadi penghalal kehormatannya, terlebih lagi jika kamu telah berdusta, maka semakin jauh hakmu (tak akan kembali)”.
(869) Dari Ibnu Umar: Di zaman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- ada seorang suami me-li’an istrinya, maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-memisahkan keduanya dan mengikutkan anaknya kepada uminya.
(870) Muhammad bin Sirin berkata: “aku bertanya kepada Anas bin Malik, (karena) aku anggap ia punya ilmu dalam hal ini, maka ia menjawab: sesungguhnya Hilal bin Umayyah telah menuduh isterinya berselingkuh dengan Syarik bin Samha’, yang masih saudara seibu Baro’ bin Malik. Dialah pelaku pertama sumpah li’an dalam (sejarah) Islam.
Anas melanjutkan: Maka ia me-li’an istrinya, kemudian Rosululloh bersabda: “lihatlah istrinya! jika anak yang lahir putih, rambutnya lurus dan ada kelainan pada matanya (seperti berair atau merah atau yang lainnya), maka itu milik si Hilal bin Umayyah. Tetapi jika anak yang lahir matanya bercelak alami, keriting, dengan betis yang kecil, maka itu milik si Syarik bin Samha”. Anas mengatakan: setelah itu, aku dapat kabar anaknya lahir dengan mata bercelak alami, keriting dan betis yang kecil.
Bab: Mengingkari anak dan kemiripannya dengan nenek moyangnya
(871) dari Abu Huroiroh: Ada seorang arab dari pelosok desa datang dan bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- : “wahai Rosululloh! Istriku melahirkan putra berkulit hitam, dan sungguh aku mengingkarinya!” maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- balik bertanya: “apa kamu punya (gembalaan) onta?” ia menjawab: “ya” beliau bertanya lagi: “apa warnanya” ia menjawab: “merah” beliau bertanya lagi: “bukankah ada yang agak kehitam-hitaman?” ia menjawab: “ya” Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bertanya lagi: “dari mana (warna) dia itu?” ia menjawab: “wahai Rosululloh! Mungkin dari nenek moyangnya?” maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menimpalinya: “begitu pula dengan anakmu, mungkin dia mirip nenek moyangnya”
Bab: (Nasab) Anak ikut pemilik ranjang
(872) Aisyah berkata: Sa’ad bin Abi Waqqosh pernah bersengketa dengan Abd bin Zam’ah tentang budak laki-laki. Sa’ad mengatakan: “wahai Rosululloh! Ini adalah putra dari saudaraku Utbah bin Abi Waqqosh, ia telah mengamanatkan kepadaku bahwa itu anaknya, lihatlah kemiripannya!” Sedang Abd bin Zam’ah mengatakan: “wahai Rosululloh! Ini adalah saudaraku, ia dilahirkan dari ibunya di atas ranjang bapakku”.
Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- melihat kemiripannya, dan ternyata ia sangat mirip dengan Utbah. Beliau kemudian bersabda: “wahai Abd! dia adalah milikmu, (karena nasab) anak itu ikut pemilik ranjang, dan merugilah orang yang berzina! (sedang kamu) wahai Saudah binti Zam’ah, berhijablah darinya!” Aisyah mengatakan: “setelah kejadian itu, anak tersebut tidak pernah melihat Saudah sama sekali”.
Bab: Diterimanya ucapan Qoif (orang yang ahli dalam mengenali jejak)
(873) Aisyah mengatakan: Suatu hari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-menemuiku dengan hati gembira, beliau mengatakan: wahai Aisyah kamu tahu Mujazziz al-Mudlijiy? Ketika ia masuk ke (rumah)ku, dan melihat Usamah dan Zaid, yang kepala keduanya tertutup selimut dan hanya terlihat kakinya, ia mengatakan: sesungguhnya sebagian kaki-kaki ini berasal dari sebagian yang lain.

[1] Li’an adalah Sumpah seorang suami dengan tuduhan bahwa istrinya berzina, sebaliknya istrinya juga bersumpah bahwa suaminya bohong (masing-masing mengucapkannya empat kali, sedangkan yang kelima mereka berikrar bersedia mendapat laknat Alloh jika berdusta) sehingga suami istri itu bercerai dan haram menikah kembali seumur hidup.
thank you