Jumat, 27 Agustus 2010

Empat Racun Hati


hati
Pentingnya hati yang bersih

Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam), keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat. Amma ba'du.

Allåh subhanahu wa ta'ala berfirman,

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya."(Al-Isra': 36)

Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia ialah hatinya. Peran hati terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Pada kemudian hari nanti, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

"Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati" (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah rådhiyallåhu 'anhu berkata,

"Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya."

Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar, jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Pada kemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.
Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula, dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya, merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Perumpamaan hati, ialah seperti sebuah benteng. Sedangkan syetan merupakan musuh yang hendak masuk ke dalam benteng tersebut, hendak menguasai dan merebutnya. Benteng tidak akan terlindungi, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu, tidak akan bisa menjaganya.

Jadi, seseorang tidak bisa mengusir syetan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuk yang dilewati syetan. Pintu-pintu masuk itu adalah sifat-sifat manusia yang jumlahnya sangat banyak. Dan kami akan menyebutkan empat pintu masuk syetan yang paling banyak tersebar dan berbahaya.

Ketahuilah, hati dapat rusak sebagaimana halnya badan. Dan setiap kemaksiatan adalah racun hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan dari kebaikan dan menambah parah penyakitnya.

Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Dialah yang tahu tentang Allah, dan jalan menuju kepadaNya. Dan anggota tubuh ini tidak lain hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya.
Para salaf memperoleh kemenangan yang besar dan sangat unggul. Tidak lain karena kualitas mereka dalam ibadah-ibadah hati. Keistimewaan mereka dalam hal ini tidak ada tandingannya.
Abdullah bin Mubarak råhimahullåh bersyair,

"Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati, Membinasakannya mengakibatkan kehinaan
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati, Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi anda."

Allåh subhanahu wa ta'ala berfirman,

(yaitu) pada hari harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (Asy Syu'ara: 88 - 89)

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.

Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggrogotinya.

Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.
Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:

1 Banyak bicara
2 Banyak memandang
3 Banyak makan dan minum
4 Banyak bergaul dengan sembarang orang

Keempat racun ini merupakan sumber yang paling banyak tersebar, dan paling berbahaya bagi kehidupan hati.

Hati yang sehat adalah hati yang selamat, yaitu hati yang terbebas dari setiap racun-racun yang membahayakannya. Siapa saja yang menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu, emudian menjaganya. Apa saja racun-racun itu?
1. Banyak Bicara

Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keimanan dan kekafiran bisa tampak melalui lihad (syahadat). Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka syetanpun akan memperdayanya dari segala penjuru, sehingga menggiringnya menuju tepian jurang, kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.

Dari Mu'adz rådhiyallåhu 'anhu, dari Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya." (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, shahih)

Banyak ayat Al Qur'an dan sabda Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) serta ucapan salafush shalih yang memperingatkan kita dari bahaya dan kerusakan lidah.

Diantaranya firman Allah, yang artinya:

"Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qaf: 18).

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi rådhiyallåhu 'anhu berkata,

"Aku bertanya, "Ya Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam), apakah yang paling anda takutkan terhadap diri saya?" Beliau (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Ini." sambil memegang lidahnya." (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ad Darimi, shahih)

Dari Uqbah bin Amir rådhiyallåhu 'anhu berkata,

"Ya Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam), apakah keselamatan itu?" Beliau (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Peliharalah lidahmu"." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Mubarak, shahih)

Beliau (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda pula,

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah rådhiyallåhu 'anhu , bahwasanya ia mendengar Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Sesungguhnya, seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang jelas (ia anggap biasa); ternyata hal itu membuat ia tergelincir ke dalam api neraka lebih jauh dari pada jarak timur dan barat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Mas'ud rådhiyallåhu 'anhumaa, ia berkata,

"Demi Allah, tiada tuhan yang pantas disembah selain Dia. Tiada sesuatu pun yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama, (kecuali) dari lidahku."

Beliau rådhiyallåhu 'anhumaa juga berkata,

"Wahai lidah, berkatalah yang baik, kamu akan beruntung. Dan Diamlah dari yang buruk, (maka) kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal."

Dari Abu Darda' rådhiyallåhu 'anhu berkata,

"Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah. Dijadikan untuk anda dua telinga dan satu lidah, supaya anda lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bencana lidah yang paling ringan yaitu berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah."

Simak racun hati berikutnya di antara empat racun hati yang sangat berbahaya yaitu banyak memandang. Bagaimana definisi "banyak memandang"? Bagaimana dalil-dalil serta peringatan dari Allah dan Rasul-Nya mengenai hal ini? Bagaimana penjelasan para 'dokter' penyakit hati?
2. Banyak Memandang

Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu 
melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya"; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat"

Katakanlah kepada wanita yang beriman, "

(1.) Hendaklah mereka menahan pandangan mereka,
(2.) dan memelihara kemaluan mereka,
(3.) dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.
(4.) dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada mereka,
(5.) dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada:

- suami mereka,
- atau ayah mereka,
- atau ayah suami mereka,
- atau putera-putera mereka,
- atau putera-putera suami mereka,
- atau saudara-saudara mereka,
- (atau) putera-putera saudara laki-laki mereka,
- atau putera-putera saudara perempuan mereka,
- atau wanita-wanita Islam,
- atau budak-budak yang mereka miliki
- atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)
- atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

(6.) Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.

(QS An-Nur: 30 - 31)

Dari Abu Hurairah rådhiyallåhu 'anhu , dari Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda, (yang artinya)

Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan, zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah. Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu, adalah kemaluan." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Dari Jarir rådhiyallåhu 'anhu berkata, Aku bertanya kepada Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) tentang pandangan (haram) yang tiba-tiba (tidak sengaja). Beliau menjawab, (yang artinya), "Alihkan pandanganmu." (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Ahmad)

Berlebihan memandang dengan mata, menimbulkan anggapan indah terhadap apa yang dipandang dan mempertautkan hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya, terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya, diantaranya:
Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis
Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.
Pandangan merupakan pintu masuk syetan

Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati.

Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.

Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya. Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakui hawa nafsunya.

Allåh subhanahu wa ta'ala berfirman,

Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya kacau-balau. (QS. Al-Kahfi: 28)

Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini.

Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada Allah dan dosa, sebagaimana firmanNya pada Al-Qur'an surat An-Nur ayat 30 dan 31 yang telah disebutkan.

Allåh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya:

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al-Mukmin: 19)

Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya.

Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.

Seorang yang shalih berkata,

"Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan meleset."

Mari kita lanjutkan ulasan selanjutnya mengenai empat racun hati yang sangat berbahaya bagi kehidupan hati kita. Dia adalah banyak makan dan minum. Hal ini telah menjadi perhatian Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) dan para ulama'. Banyak para ulama' yang mengulas masalah ini dan memasukkannya ke dalam buku-buku mereka mengenai tazkiyatun nufus. Bagaimana hadits Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) dan penjelasan para sahabat dan para ulama'?
3. Banyak Makan dan Minum

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. 
Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya.

Allåh subhanahu wa ta'ala berfirman,

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS Al-A'raf: 31)

Dari Miqdam bin Ma'di Karib rådhiyallåhu 'anhu berkata, Aku mendengar Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda, (yang artinya):

"Janganlah manusia memenuhi sebuah tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapa (tiga sampai sembilan), untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, shahih)

Ibnu Abbas rådhiyallåhu 'anhumaa berkata,

"Allah (subhanahu wa ta'ala) menghalalkan makan dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan tidak ada unsur kesombongan."

Berlebihan dalam makan, dapat mengakibatkan banyak hal buruk. Ia menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan maksiat, serta menjadikannya merasa berat untuk taat dan ibadah. Cukuplah dua hal ini sebagai suatu keburukan.

Dari Utsman bin Za'idah råhimahullåh berkata,

"Sufyan Ats-Tsauri (råhimahullåh) berkirim surat kepadaku: 'Apabila engkau ingin badanmu sehat dan ringan tidurmu, maka sedikitkanlah makanmu'."

Sebagian salaf berujar,

Sebagian pemuda Bani Israil berta'abud (berpuasa sambil berkhalwat). Bila telah datang masa berbuka, salah seorang dari mereka berkata, "Jangan makan banyak-banyak, sehingga minum kalianpun banyak. Lalu tidur kalian juga banyak, akhirnya kalian banyak merugi."

'Aisyah meriwayatkan, sejak masuk Madinah, keluarga Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) belum pernah merasa kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Amir bin Qais berkata,

"Berhati-hatilah engkau dari banyak makan. Karena hal itu menyebabkan kerasnya hati."

Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, "Kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar."

Al-Harits bin Kaladah -salah seorang pakar kedokteran Arab pada masa lalu berkata,

"Menjaga diri dari makanan (melebihi yang diperlukan), merupakan pangkal penyakit.

Al-Harits berkata pula,

Yang membunuh manusia dan membinasakan binatang-binatang buas di dunia ini, ialah memasukkan makanan di atas makanan sebelum selesai pencernaan.

Ibrahim bin Adham berkata,

"Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah diennya (agamanya). Dan barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji. Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang kenyang."
4. Banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang

Ini merupakan penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dahsyat, serta mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.
Dalam bergaul, hendaknya kita mengklasifikasikan (membagi) manusia menjadi dua kelompok, yang baik dan buruk. Ketidakmampuan kita membedakan dua kelompok ini, dapat membawa bencana. 

Allåh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya,

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an, ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 27 - 29)

Allåh subhanahu wa ta'ala berfirman pula, yang artinya:

Teman-teman akrab para hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zukhruf: 67)

Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda,

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api (pandai besi), adakalanya memberi anda (minyak wangi), atau anda membeli darinya, atau anda mendapat bau wangi darinya. Adapun peniup api (pandai besi), adakalanya membakar pakaian anda, atau anda mendapatkan bau yang kuran gsedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Maka, hendaklah kalian memperhatikan siapa sahabat kalian. (Hadits hasan, diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)

Råsulullåh (shållallåhu 'alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

Janganlah anda berteman melainkan dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu, kecuali orang bertaqwa. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

Berkata Umar bin Khathab rådhiyallåhu 'anhu,

"Janganlah anda berjalan bersama orang fajir (yang bergelimangan dalam dosa), karena dia akan mengajarkan kepada anda perbuatan dosanya."

Berkata Muhammad bin Wasi',

"Tiadalah tersisa dari kenikmatan dunia, selain shalat berjama'ah dan berjumpa dengan teman (yang shalih)."

Berkata Bilal bin Sa'ad,

"Saudaramu yang selalu mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah lebih baik bagimu, daripada saudaramu yang selalu memberimu dinar (harta benda)."

Berkata sebagian salaf,

"Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman (yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang -yang apabila telah mendapatkan teman (yang baik)- ia menyiakannya."

Alangkah bahagianya, apabila kita diberi rezki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Semoga Allah senantiasa menyelamatkan hati kita dari segala racun dan kotorannya, sehingga kita selalu bersih dan bersinah sampai berjumpa denganNya. Amin, ya rabbal 'alamin.
Maraji'
1. Al-Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibn Katsir, Jama'ah Minal Ulama', Isyraf Asy-Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakafuri, Daar As-Salam, Riyadh.

2. Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid, Edisi revisi hanya memuat hadits-hadits shahih. Cetakan tahun 1419H / 1998M, Daar Al-Aqidah Litturats, Iskandariyah.
3. Tazkiyah An-Nafs, Syaikh Ahmad Farid, Edisi lama (belum direvisi), terjemahan Indonesia. Penterjemah Imtihan Asy-Syafi'i, Pustaka Arafah.
4. Jami' Al-Ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab, tahqiq Syu'aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis, Muassasah Ar-Risalah, Beirut.
5. Al-Mukhtar Lil Hadits Fi Syahri Ramadhan, Majmu'ah Thalabatil Ilmi, Rabithah Alam Islami.
Penulis: Al-Ustadz Abdullåh Al-Hadråmi
Dikutip dari majalah As-Sunnah 09/VII/1421H

Sisi Lain Malam Lailatul Qadar


alqadr
Al-Qadr

Penulis: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr
Sesungguhnya dalam setahun terdapat hari-hari yang utama dan waktu-waku yang berharga. (yaitu) Waktu-waktu yang kalau berdoa padanya lebih afdhol dan lebih kuat untuk terkabul dan lebih diharap sangat untuk terijabahi. Dan Allah memiliki hikmah yang mendalam :

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya (dari ciptaan-ciptaan-Nya)". (Al Qoshoh : 68)

Maka karena kesempurnaan hikmah-Nya, Qudrah-Nya dan kesempuranaan ilmu-Nya dan peliputan-Nya, maka Dia memilih dari sebahagian mahluqnya apa yang Dia kehendaki berupa waktu, tempat, dan orang tertentu. Maka Alloh khususkan mereka dengan keutamaan yang lebih, perhatian-Nya yang banyak serta anugerah-Nya yang melimpah nan luar biasa. Yang demikian termasuk sebesar-besar tanda rububiyahnya Allah dan seagung-agung bukti wahdaniyahNya dan Maha esa-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan. Dan segala urusan adalah milik Alloh sebelum dan sesudahnya. Maka Alloh menetapkan qadha'-Nya dan memutuskan untuk mahluknya apa yang Dia kehendaki dan Dia inginkan.

"Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. Dan bagi- Nyalah keagungan di langit dan bumi, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Al Jatsiyah : 36-37)

Sesungguhnya termasuk perkara yang dikhususkan oleh Alloh dari waktu-waktu dengan keutamaan yang lebih dan kemuliaan yang melimpah adalah bulan Romadhon, dimana Alloh mengutamakannya melibihi seluruh bulan-bulan yang ada. Juga sepuluh malam terakhir dimana Alloh mengutamakannya melebihi seluruh malam-malam yang lain. Dan malam qodar dimana Alloh menjadikan keutamaannya yang lebih disisi-Nya dan kedudukan yang agung yang lebih baik dari seribu bulan. Alloh jadikan besar nilainya dan Alloh tinggikan dan naikkan kedudukannya disisi Alloh. Maka Alloh turunkan di malam tersebut wahyu-Nya yang terang lagi jelas dan firman- Nya yang mulia lagi bijaksana sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa dan pembeda, sinar, cahaya, dan rahmah bagi orang-orang yang beriman.
Alloh berfirman :
"Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul, Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui, Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak- bapakmu yang terdahulu."

Juga berfirman :

"Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (Al Qadar : 1-5)

Duhai betapa agungnya malam ini, betapa banyak kebaikannya betapa melimpah barokahnya, satu malam lebih baik dari seribu bulan yaitu lebih dari 83 tahun seumur orang yang panjang usia. Yaitu umur yang panjang yang kalau seorang muslim mengisi keseluruhannya dalam ketaatan kepada Alloh maka malam lailatul qodar yang satu malam itu ternyata masih lebih baik dari itu semua. Hal ini tentunya diperuntukkan bagi orang yang mendapatkan keutamaanya dan menggapai barokahnya.

Berkata Mujahid rahimahulloh : Lailatul qodar lebih baik dari seribu bulan yang tidak terdapat lailatul qodarnya. Demikian juga dikatakan oleh Qotadah, Asy syafi'i dan yang lainnya.

Dimalam yang penuh barakah tersebut banyak turun malaikat dikarenakan banyaknya barakah malam itu, karena para malaikat turun seiring turunnya barokah yaitu keselamatan (kesejateraan) hingga terbitnya fajar. Bahwa malam tersebut adalah malam yang baik secara keseluruhannya yang tidak ada kejelekannya hingga terbitnya fajar. Dimalam tersebut segala urusan dijelaskan penuh hikmah yaitu ditentukan taqdir apa yang akan terjadi dalam setahun dengan ijin Alloh yang Maha perkasa lagi bijaksana. Dan yang dimaksudkan dengan taqdir disini adalah taqdir tahunan adapun taqdir secara umum telah ada di lauh mahfudz mendahului dari penciptaan langit dan bumi semenjak lima puluh ribu tahun sebelumnya sebagaimana yang telah shohih disebutkan dalam hadist Rasululloh .

Sesungguhnya malam yang kedudukannya sedemikian itu maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bersemangat mencarinya agar dia beruntung dengan mendapat pahala dan memperoleh kebaikannya, menggapai ganjarannya dan barokahnya. Orang yang terhalang (dari kebaikan) adalah yang diharamkan mendapat pahala, yang dia melewati musim panen kebaikan dan hari-hari barokah sementara dia terus dalam perbuatan dosanya, berlangsung terus penyimpanganya, terlena dalam kemaksiatannya, dan dia binasa dengan penyimpangannya. Maka betapa besar kerugiannya dan betapa sangat rasa sesalnya. Barang siapa yang tidak bersemangat untuk memperoleh keberuntungan dimalam yang penuh barokah tersebut maka kapan lagi dia mau bersemangat. Barang siapa tidak kembali menghadap Alloh diwaktu yang mulia tersebut maka kapan lagi dia mau kembali menghadap. Barang siapa yang terus menerus terlena diri dari kebaikan maka kapan lagi dia mau beramal. (Allahul Musta'an. Pent)

Sesungguhnya semangat serta antusias untuk mendapatkan malam tersebut, serta mengisinya dengan ketaatan, bersungguh-sungguh dalam berdoa adalah ciri-ciri dan alamat orang-orang pilihan dan hebat, bahkan mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Alloh diwaktu itu untuk ditetapkan mendapat ampunan dan dimaafkan kesalahan-kesalahannya, karena saat itu adalah malam yang ditetapkan padanya apa yang akan terjadi pada manusia dalam setahun secara penuh maka di malam ini mereka berdoa dan memohon, dan disetahun penuhnya mereka akan jalani dengan semangat dan kesungguhan sehingga kepada Allah mereka meminta pertolongan serta memohon taufikNya. Subhanallah. (pent). (lihat berikutnya artikel dengan judul: Doa di malam Lailatul qadar)


(dikutip dari kitab Fiqhul Ad'iyyah wal adzkar karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr. Hal 265 – 269. Alih Bahasa : Al Ustadz M.Rifai. Artikel: darussalaf.or.id)

Jalan Berliku Menuju Kebenaran Yang Dirindu


Ditulis oleh muslim ahmadi arramadhaniy di/pada Juli 18th, 2007
Diceritakan oleh: Ibnu Abdi Robbihi
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du.
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda kekusaaan Allah bagi orang-orang yang yakin, bahkan dalam dirimu sendiri terdapat tanda-tanda itu apakah engkau tidak memperhatikannya.” (Adz Dzariyaat: 20-21)
Saudaraku, sejenak aku akan bercerita kepadamu sekilas perjalanan hidupku, semoga engkau bisa mengambil pelajaran darinya.
Masa Kecil
Dahulu aku adalah seorang anak kecil yang memiliki hobi menggambar, mendengarkan musik dan menyaksikan film kartun. Aku memang bukan anak gaul yang suka main bersama teman-teman yang lain pergi kesana dan kemari.
Ketika menginjak usia SD, orangtuaku memasukkan aku di sekolah Muhammadiyah di sebuah dusun di dekat rumah kakekku. Menjelang usia SMP aku telah dididik oleh kakakku untuk membenci Amerika, yah tepatnya ketika itu terjadi perang teluk. Saat itu ketertarikanku kepada dunia politik mulai tumbuh, berita-berita radio BBC pun ikut terserap di telingaku. Memang ayahku adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara, namun ayahku adalah orang yang kritis kepada perilaku pejabat pemerintahan. Secara tidak langsung hal itupun mendorongku untuk bersikap kritis pula terhadap pemerintahan. Walaupun begitu, bukan berarti dunia militer tidak menarik bagiku. Di usia SMP itu aku berkeinginan untuk menjadi tentara yang berjuang membela tanah air. Sehingga akupun turut serta mendaftarkan diri dalam seleksi calon siswa SMA Taruna. Dengan taqdir Alloh, alhamdulillah aku tidak diterima di sana. Setelah itu harapan untuk menjadi tentara menjadi sirna.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang maha tahu sedangkan kalian tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216)
Masa Remaja
Lulus SMP aku menuruti saran ayahku untuk memilih sebuah sekolah unggulan di kota kami, dan alhamdulillah aku lolos seleksi dan bisa diterima di situ mengikuti jejak kakakku. Ternyata di sana pun aku termasuk siswa yang dipilih untuk masuk dalam tim peleton inti yang hobinya baris-berbaris, maklumlah SMA kami adalah sekolah yang sudah berulang kali menggaet juara baris-berbaris.
Sampai di sini aku masih menyenangi isu-isu politik apalagi yang berbau Islam, sehingga ketertarikanku untuk ikut berdakwah pun muncul melalui pekerjaan yang aku sukai yaitu membuat dekorasi. Nah, di lingkungan rohis (kerohanian Islam) SMA inilah aku mulai berkenalan dengan teman-temanku yang begitu bersemangat mengaji, mereka sangat aktif mengikuti kajian salaf yang diadakan di sebuah masjid di dekat SMA kami. Aku salut dengan komitmen mereka yang tinggi untuk menegakkan sunnah Nabi, dengan memelihara jenggot walaupun cuma beberapa helai, dengan mengenakan celana panjang yang tidak melampaui mata kaki walaupun masih dilipat, dan dengan semangat berapi-api menghalangi terjadinya pacaran dan kholwat di lingkungan sekolah kami.
Dan di situ pulalah aku mulai mengenal bahwa menggambar makhluk bernyawa itu dilarang, musik itu haram dan demokrasi itu buruk. Dengan taqdir Alloh, di kelas 2 SMA, aku mendapat bagian sebagai salah seorang pengurus harian OSIS di sekolah kami. Walaupun jika dilihat dari latar belakangnya sebenarnya pengalaman organisasiku tidak banyak.
Problematika Dakwah di SMA
Menjelang akhir kepengurusan aku mulai menghadapi masalah yang cukup pelik, yaitu timbulnya perselisihan antara teman-teman kami dari kubu Rohis yang anti musik dengan sebagian aktifis OSIS yang pro musik. Hal itu semakin memuncak dengan adanya penyelenggaraan acara malam tutup buka tahun yang untuk menyambut siswa baru dan perpisahan kelas tiga yang sudah lulus, tentu saja acaranya sarat dengan musik, sehingga konflik ini pun terangkat ke forum guru bahkan kepala sekolah. Sementara aku berada di pihak yang serba salah, karena ketika itu aku adalah seorang sekretaris bidang I (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang membawahi Rohis sekaligus sebagai salah seorang Steering Committee dari acara malam tutup buka tahun itu, konflik pun memanas, terjadilah aksi pembakaran dan perobekan tiket, bahkan hampir terjadi bentrok fisik di antara sesama siswa muslim, bahkan sampai terjadi ketegangan antara kubu Rohis dengan guru.
Disitulah aku merasakan betapa susahnya mengatasi permasalahan semacam ini. Bisakah anda bayangkan, musik yang sudah seolah-olah mendarah daging di sebagian besar kaum muslimin di negeri ini terutama di kalangan para pemuda harus berhadapan dengan fatwa haram yang disampaikan oleh para remaja yang masih baru mengaji ini, apalagi sikap mereka sangat keras dalam menolak acara semacam ini. Aku yang sangat miskin ilmu tentu bingung mencari solusi permasalahan ini. Sampai-sampai teman-teman yang anti musik itu seolah-olah menjadi musuh kami. Sehingga di ruang guru aku sempat sampaikan usul kepada pembina OSIS agar mendatangkan Ustadz yang mengajari anak-anak yang ‘ekstrim’ itu. Tapi usulku seperti angin lalu, akupun tidak habis pikir, bagaimana masalah ini selesai kalau akar permasalahannya tidak dipecahkan yaitu apakah musik itu benar-benar haram. Itulah pertanyaan besar yang tersisa di benakku, dan akhirnya dengan pertolongan Alloh membawaku bergabung dengan sahabat-sahabatku sesama pembenci musik.
Hidupku berubah, aku yang dulunya suka menggambar, suka musik dan menyenangi isu-isu demokrasi setelah masa-masa itu meninggalkan gambar, musik dan demokrasi.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Tidaklah pantas bagi orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam urusan mereka, dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sunguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)
Saudaraku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik.”
Beliau juga bersabda, “Kelak akan benar-benar ada beberapa kelompok manusia dari kalangan umatku yang berusaha menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr dan al ma’aazif (alat-alat musik).” (HR. Bukhori)
Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya termasuk orang yang paling pedih adzabnya di hari kiamat nanti adalah para perupa/tukang gambar.” (HR. Bukhori)
Imam Ahmad mengatakan, “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kebinasaan.”
Saudaraku, Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang memutuskan hukum tidak dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Ma’idah: 44)
Tentu hadits-hadits dan ayat-ayat ini akan terasa sangat berat diterima oleh orang yang sudah bertahun-tahun dididik untuk menyukai musik, menggambar dan asyik dengan demokrasi. Tapi ketahuilah, kalau akidah anda masih bersih niscaya firman Allah dan sabda Rasul-Nya itulah yang justeru anda pilih dan anda pegang, bukan pendapat akal kebanyakan manusia.
Bukankah Allah Yang mahatahu telah berfirman, “Sungguh jika engkau mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al An’aam: 116)
Oleh karena itu daripada sibuk ngobrol atau nge-game mengapa anda tidak memilih untuk menghadiri majelis-majelis ilmu syar’i yang membimbing anda menuju kebahagiaan yang sejati dan bukan sementara, kenikmatan abadi di surga nanti?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Imam Ahmad mengatakan, “Manusia itu lebih membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhannya terhadap makan dan minum, karena makan dan minum paling sekali atau dua kali saja dalam sehari, akan tetapi ilmu selalu dibutuhkan sepanjang tarikan nafas.”
Ingatlah saudaraku, waktu adalah pahala, kalau waktumu bisa kau habiskan berjam-jam untuk perkara dunia padahal dunia itu cuma sementara, kemudian untuk akhirat engkau sangat bakhil (kikir), sehingga sholatmu pun kilat laksana petir menyambar, mushaf Al Qur’an pun berdebu di atas rak jarang dibuka apalagi dibaca dan dipahami maknanya, majelis ilmu pun kau sia-siakan, sholat jama’ah pun kau tinggalkan, waktu pagi dan sore pun berlalu tanpa dzikir di lisan.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka bersegeralah kembali menuju ketaatan kepada Allah.” (Adz Dzariyat: 50)
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang sudah dipersiapkannya untuk menghadapi hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui semua yang kamu kerjakan.” (Al Hasyr: 18)
Tahun Terakhir di Bangku SMA
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kau sampai mereka mau merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid) mereka membaca kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka kecuali pasti akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi kasih sayang, malaikat pun mengelilingi mereka dan Allah pun menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
Setelah sekian lama aktif di baris berbaris, mendekorasi, mengurusi OSIS maka di tahun terakhir bangku SMA, Allah membukakan hatiku untuk menekuni kajian-kajian salaf yang ada di sekitar SMA kami, alhamdulillah sejak itulah ketenteraman dan kesejukan majelis ilmu mulai mewarnai kehidupanku, kesejukan yang belum pernah aku temukan sebelumnya, begitu indahnya mendengarkan untaian firman Allah dan sabda Rasul-Nya disertai nasehat dan bimbingan dari para ulama’, aku duduk di sebuah majelis dimana ustadz yang mengajarnya adalah Ustadz yang membina teman-temanku yang kebablasan tadi, akhirnya ustadz yang dulunya menjadi orang yang tidak aku senangi gara-gara musik itu kini menjadi orang yang kucintai karena Alloh -semoga Allah menjaga beliau- karena jasanya yang sangat besar membina dakwah salaf di sekolah kami walaupun itu dilakukannya dari luar pagar sekolah.
Setelah kejadian itu pula sahabat-sahabat kami pun meyadari kesalahan mereka yang terlalu keras dalam menyikapi persoalan musik ini, sehingga memunculkan konflik yang berkepanjangan di sekolah kami. Inilah akibat sikap yang tidak hikmah dalam mengingkari kemungkaran, dampak negatif yang kembali menyerang dakwah itu sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) agar kembali kepada jalan Rabbmu dengan penuh hikmah serta nasehat yang baik, dan (bila perlu) berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (An Nahl: 125)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali pasti menghancurkannya.” (HR. Muslim)
Berpetualang Mencari Kebenaran
Disamping itu perlu aku sebutkan pula bahwa sebelumnya aku pernah pula tertarik mendengarkan pengajian padang bulan cak Nun dan acara kajian ala filsafat Damardjati, aku juga sempat menjadi pengagum Amien Rais yang menggerakkan reformasi dan bahkan bergabung dalam demonstrasi besar-besaran yang digalakkannya sehari sebelum lengsernya Pak Harto dari kursi Presiden.
Masih tersimpan dalam ingatanku, sebuah nyanyian sadis yang selalu menghiasi mulut para demonstran di sekitarku ketika itu, “Gantung, gantung Soeharto…” (semoga Allah mengampuni kesalahan beliau dan menjaganya). Wallohul musta’an, bukankah ucapan itu modelnya kaum takfiri (yang suka mengkafirkan orang karena dosa besar). Hari itu demo besar-besaran terjadi dimana-mana, demokrasi yang menuhankan pendapat mayoritas rakyat seolah-olah menjadi raja.
Allah berfirman, “Sungguh jika engkau mengikuti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al An’aam: 116)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga alasan; Seorang yang sudah beristeri berzina, seorang muslim yang membunuh saudaranya, atau seorang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jama’ah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu aku juga pernah beberapakali merekam pengajian Aa’ Gym yang disetel di radio karena sangat tertarik dengan metode penyampaiannya yang menyentuh hati. Itu terjadi sebelum nama Aa’ Gym mencuat besar-besaran di televisi dan media masa lainnya. Semoga Allah mengembalikannya ke jalan yang lurus. Selain itu dunia sufi pernah mewarnai kehidupanku ketika para pemuda dari kampung kami diajak untuk ikut dzikiran dan pengajian di sebuah kampung santri Mlangi, yang di sekeliling mesjidnya full dengan kuburan yang diziarahi oleh para pengunjung dari berbagai daerah yang jauh. Sesudah itu pula aku pernah menggalakkan dzikir model sufi ini di masjid kampung kami dengan alasan untuk menghidupkan aktivitas agama bagi pemuda di mesjid, sehingga akhirnya akupun menyesal atas tindakanku yang hanya berdasar semangat saja dan miskin ilmu syar’i ini.
Memang hati adalah bagian terpenting dari amal lahiriyah kita, kalau hati baik maka seluruh amalan pun menjadi baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah di dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh anggota badan tapi jika dia rusak maka rusak pulalalah seluruh anggota badan ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Muslim). Akan tetapi cara memanajemen hati agar baik bukanlah hasil rekaan sendiri, sebab Nabi juga diutus untuk mengajari ummatnya tentang bagaimana mensucikan hati.
Allah Ta’ala berfirman, “Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, dan mensucikan (jiwa) kalian serta mengajarkan kepada kalian Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah) dan mengajarkan segala sesuatu yang dulu tidak kalian ketahui.” (Al Baqoroh: 151)
Imam Ibnu Katsir mengatakan mengenai firman Allah, “Dan mensucikan kalian” yaitu membersihkan kalian dari akhlaq yang rendah, jiwa yang kotor dan perbuatan-perbuatan jahiliyah…” (Tafsir Ibnu Katsir jilid 1). Syaikh As Sa’di mengatakan dalam tafsirnya terhadap firman Allah “Dan mensucikan kalian” yaitu membersihkan akhlak dan jiwa kalian dengan membimbingnya dengan akhlak yang indah dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang rendah, hal itu dilakukan dengan membersihkan mereka dari kotoran syirik menuju tauhid, membersihkan diri dari riya’ menuju ikhlash, dari dusta menjadi jujur, dari khianat menjadi amanat, dari sombong menjadi tawadhu’, dari akhlak yang jelek menjadi berakhlak baik…” (Taisir Karim Ar Rahman).
Kita tidak boleh mensucikan jiwa dengan cara-cara bid’ah yang dibenci oleh agama. Rasul bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim)
Tidakkah kita ingat kisah Abdullah bin Mas’ud rodhiallahu’anhu yang menjumpai sekumpulan orang yang berdzikir dengan berjama’ah, salah seorang memimpin dan yang lainnya mengikutinya, karena mereka mengerjakan sesuatu yang baru dalam agama maka Abdullah bin Mas’ud pun menegur mereka dengan keras. Tapi mereka mengelak dengan alasan “Wahai Abu Abdirrahman, tidaklah kami bermaksud kecuali kebaikan” Maka Ibnu Mas’ud pun menjawab, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja manusia paling mulia yang pernah ada di muka bumi ini melarang kuburannya dijadikan sebagai tempat perayaan yang dikunjungi atau sebagai tempat beribadah, apalagi kuburan orang selain beliau!
Nabi berdo’a, “Ya Allah, janganlah jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah, sungguh besar murka Allah kepada kaum yang menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat beribadah.” (HR. Malik dan lain-lain)
Pemikiran Hizbut Tahrir juga sempat menarik perhatianku, sehingga aku sempat membaca sebuah buku karya Abdul Qodim Zallum yang berjudul Demokrasi Sistem Kufur yang dipinjamkan seorang teman kepadaku ketika mengikuti acara pembekalan menjelang UMPTN di sebuah Masjid terkenal di Kotabaru, memang semangat mendirikan khilafah adalah sesuatu yang paling menarik bagiku dari gerakan ini, namun itu tidak mengendap lama karena keyakinanku tentang kebenaran manhaj ahlus sunnah sudah mulai kuat. Bagaimana mungkin negara Islam tegak jika kaum muslimin saja masih berpecah belah cara hidupnya, bahkan jauh dari nilai-nilai agama.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d: 11). Di dalam ayat ini Allah tidak mengatakan “…sampai mereka merubah apa yang ada pada diri para pemimpin pemerintahan mereka…” tentu saja Allah lebih tahu dan lebih bijaksana.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian berjualbeli dengan cara ‘inah (salah satu jenis riba), dan kalian pegang ekor-ekor sapi, kalian senang dengan tanaman-tanaman kalian, lantas kalian pun meninggalkan jihad, maka Allah pasti akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, Silsilah Ash Shohihah karya Syaikh Al Albani hadits no 11)
Bersentuhan Dengan Lingkungan Kampus
Begitulah hari demi hari kulalui dengan pencarian terhadap nilai-nilai kebenaran yang hakiki, sampai UMPTN pun berlalu dan aku sudah duduk di bangku kuliah.
Di lingkungan baru ini aku berusaha mencari tempat-tempat kajian yang bisa aku ikuti, pengajian yang diadakan orang-orang Ikhwanul Muslimin (IM) pun pernah aku datangi, tapi sayang ilmu syar’i sangat minim kudapatkan di sana, karena yang ada adalah semangat pergerakan yang sarat dengan muatan politis dan kekuasaan. Tidak berhenti di situ, Risalah Pergerakan Hasan Al Banna pun sempat aku baca dan aku kaji, walaupun sedikit banyak aku sudah tahu penyimpangan yang ada pada beliau. Demikian pula buku Yusuf Al Qaradhawi yang ada di perpustakaan fakultas kami aku baca dan aku bandingkan dengan kritikan ulama Ahlu Sunnah yang diarahkan kepada beliau, dan memang ternyata Syaikh Yusuf Al Qaradhawi memiliki pendapat-pendapat yang amat menyimpang dalam bukunya Ash Shohwah Al Islamiyah bainal Ikhtilaf al Masyru’ wa Tafarruq al Madzmum (yang diterjemahkan oleh Robbani Press dengan Prinsip-Prinsip Gerakan Islam) terutama yang berkaitan dengan masalah hadits perpecahan ummat. Suatu saat seorang aktifis IM ketika berdialog dengan seorang ikhwan pernah ditanyakan mengenai pembelaannya terhadap Yusuf Qaradhawi, apakah dia pernah membaca bukunya Yusuf Qaradhawi yang itu, maka dia menjawab belum pernah?? Allohu akbar (dalam hati saya saya bertanya-tanya lalu darimana dia bisa membela pemikiran Yusuf Al Qaradhawi sementara bukunya saja belum pernah baca). Memang perdebatan dengan orang-orang yang keras kepala adalah perbuatan membuang-buang energi.
Saudaraku, ketahuilah jalan kebenaran cuma satu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya, itulah yang diwasiatkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (Al An’aam: 153)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama ini akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan satu di surga yaitu al jama’ah.” (HR. Abu Dawud), dalam riwayat lain beliau ditanya siapakah yang selamat itu? maka beliau menjawab, “yaitu yang beragama sebagaimana aku dan para sahabatku pada hari ini.” Inilah manhaj salaf (cara beragamanya kaum salaf), manhajnya para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para imam yang empat.
Imam Malik mengatakan, “Tidak ada yang mampu memperbaiki keadaan generasi akhir dari umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.”
Dakwah Salafiyah Versus Dakwah Hizbiyyah
Sekarang alhamdulillah, perkembangan dakwah salaf di lingkungan kampus kami cukup bagus walaupun bila dilihat dari kuantitas mungkin masih relatif kecil. Dakwah Ikhwanul Muslimin pun (yang sekarang lebih ngetrend dengan nama Tarbiyah) sebenarnya sudah tidak diminati kecuali oleh orang-orang yang hobinya berpolitik dan demonstrasi, serta kalangan akhwat yang terlalu mengedepankan perasaan. Orang yang bijak pasti bisa menilai bahwa dakwah salafiyah merupakan dakwah terbaik, dan satu-satunya jalan keselamatan dari perpecahan di dunia dan kebinasaan di akhirat. Kami tidak perlu repot-repot membawakan bukti karena masih ada saksi hidup tokoh-tokoh mantan aktifis yang pernah berkecimpung dalam pergerakan yang kini sudah insaf dan menemukan jalan kembali, yaitu manhaj salaf yang mulia ini.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk jelas baginya, dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang yang beriman Kami akan biarkan dia leluasa dalam kessatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisaa’: 115)
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya, Allah telah memepersiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya di akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah dengan sunnah (jalan hidup)ku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang bertpetunjuk gigitlah sunnah itu dengn gigi geraham, serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dansetiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan lain-lain)
Biarlah mereka yang tidak percaya dengan kenyataan ini merasakan betapa susahnya menempuh kejayaan yang mereka cita-citakan dengan terjun di parlemen, dengan gerakan rahasia menghasut massa, memompa semangat para pemuda untuk menggulingkan penguasa dengan cara mereka atau menyibukkan mereka dengan dzikir-dzikir bid’ah dan pemikiran-pemikiran liberal, atau yang menyibukkan para pemuda yang tidak becus berpakaian dengan politik internasional, karena cepat atau lambat mereka akan merasakan pahitnya buah kesesatannya sendiri, sebagaimana yang dikatakan oleh Ar Razi setelah menyadari kekeliruannya yang sekian lama bergelut dengan ilmu kalam, “Barangsiapa menempuh cara sebagaimana apa yang pernah aku tempuh niscaya merasakan apa yang sudah aku rasakan.”
Namun kami akan mengingatkan disini, bahwa kematian pasti datang dan anda tidak tahu kapan malaikat maut datang, seandainya Allah masih memberikan umur bagi anda untuk bertaubat dari manhaj yang menyimpang maka bersyukurlah, tapi jika ternyata malaikat maut menjemput sementara anda belum bisa menikmati indahnya manhaj salaf, maka janganlah mencela kecuali diri anda sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yangberiman, beramal shalih, saling mewasiatkan dalam kebenaran dan saling mewasiatkan dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya, Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh dia telah menang, dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali hanya sekedar kesenangan yang menipu.” (Ali Imran: 185)

thank you