Jumat, 27 Agustus 2010

Aku Takkan Lupakan Ilmu...


Oleh : Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc
akutaklupaMerupakan nikmat dan anugerah yang besar bagi seorang muslim dapat berjalan di atas kebenaran, mencari ridha Allah dan menggapai surgaNya kelak. Dalam perjalanan seorang muslim, tak jarang dirinya lupa sehingga perlu diingatkan, kadang juga ia lalai sehingga membutuhkan teguran, belum lagi apabila ia keliru sehingga ia mencari pelita yang dapat meluruskan langkah dan arahnya. Berikut ini penulis mengajak dirinya dan ikhwah sekalian untuk merenungi lagi ayat-ayat Allah, hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bimbingan pemahaman Salafus Shalih. Menyegarkan kembali ingatan kita bersama tentang kemuliaan ibadah melalui thalabul ilmi, agar semangat tak menjadi surut, terlebih di hadapan berbagai ujian dan cobaan kehidupan duniawi. Semoga dapat bermanfaat khususnya bagi diri penulis dan bagi seluruh pembaca, amin….

Saudaraku…, Islam menjelaskan kedudukan yang tinggi nan mulia tentang keutamaan ilmu, banyak ayat dan hadits serta perkataan dan kisah teladan para ulama salaf yang menunjukkan hal ini, diantaranya adalah :
  • Menggapai kemuliaan dengan ilmu syar`i
Allah berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” 1
Ath-Thabari berkata, "Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu di hadapan orang beriman yang tidak berilmu karena keutamaan ilmu mereka (jika mereka mengamalkan ilmu tersebut. pent).2
Asy-Syaukani berkata, "yaitu derajat yang tinggi dengan kemuliaan di dunia dan pahala di akherat"3
Suatu hari Nafi` bin Abdul Harits mendatangi Amirul Mukminin (Umar bin Khattab) di daerah `Usfan (saat itu Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Mekah kepada Nafi`); Umar bertanya, "Siapa yang engkau jadikan penggantimu -sementara waktu- bagi penduduk Mekah?", Nafi` menjawab "Ibnu Abza", Umar bertanya, "Siapa Ibnu Abza?", Nafi` menjawab, "Seorang budak", Umar, "Engkau telah memberikan kepercayaan kepada seorang budak?!", Nafi`, "Sesungguhnya ia hafizh Al-Qur`an dan berilmu tentang faraidh (yakni hukum-hukum islam)". Kemudian Umar berkata, "Sungguh Nabi kalian telah berkata: "Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur`an dan merendahkan sebagian yang lain karenanya."”4
Ibrahim Al-Harbi berkata "Seseorang bernama `Atha bin Abi Rabah adalah budak berkulit hitam milik seorang wanita penduduk Mekah. Hidung `Atha pesek seperti kacang (sangat kecil). Suatu hari Sulaiman bin Abdul Malik sang Amirul Mukminin bersama kedua anaknya mendatangi `Atha yang sedang shalat, setelah selesai dari shalatnya ia menyambut mereka. Masih saja mereka asyik bertanya kepada `Atha tentang manasik haji kemudian Sulaiman berkata kepada kedua anaknya "wahai anak-anakku, jangan kalian lalai dari menuntut ilmu, sungguh aku tidak akan lupa telah berada di hadapan seorang budak hitam (yang berilmu ini)". Dalam kisah yang lain Ibrahim Al-Harbi berkata "Muhammad bin Abdurrahman Al-Auqash adalah seorang yang lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya sehingga kedua bahunya menonjol keluar. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang ibunya berpesan "wahai anakku, sungguh kelak setiap kali engkau berada di sebuah majelis engkau akan selalu ditertawakan dan direndahkan, maka hendaklah engkau menuntut ilmu karena ilmu akan mengangkat derajatmu". Ternyata (ia mematuhi pesan ibunya. pent) sehingga suatu saat dipercaya menjadi Hakim Agung di Mekah selama dua puluh tahun".5
Al-Muzani berkata, "Aku pernah mendengar Imam Syafi`i berkata: "Barangsiapa mempelajari Al-Qur`an maka akan mulia kehormatannya, barangsiapa mendalami ilmu fikih maka akan agung kedudukannya, barangsiapa mempelajari bahasa (arab) maka akan lembut tabiatnya, barangsiapa mempelajari ilmu berhitung maka akan tajam nalarnya dan banyak idenya, barangsiapa banyak menulis hadits maka akan kuat hujjahnya, barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka tidak akan bermanfaat ilmunya".6
  • Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa menempuh sebuah jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalannya menuju surga".7
Beliau juga bersabda "Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali".8
  • Dengan menuntut ilmu segala pintu kebaikan dan maghfirah serta pahala akan dilimpahkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan diberikan kepahaman tentang agama."9
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Apabila anak cucu Adam meninggal dunia maka terputus semua amalannya kecuali dari tiga hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shalih yang mendoakannnya"10
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda "…dan sesungguhnya para Malaikat akan merendahkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu sebagai tanda ridha terhadap yang dilakukannya, Sungguh seorang yang berilmu akan dimintakan ampun baginya oleh semua yang ada di langit dan bumi sampaipun ikan di lautan, keutamaan seorang yang berilmu atas seorang ahli ibadah bagaikan keistimewaan bulan di hadapan seluruh bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang dapat mengambilnya sungguh ia telah meraih bagian yang banyak"11
Ilmu ini adalah anugerah, mari kita bersama menjaganya dengan baik. Mengikhlaskan hati mensucikan niat agar Allah menambahnya serta melimpahkan berkah di dalamnya, وقل رب زدني علما "dan katakan, Wahai Rabb tambakanlah bagiku ilmu"12. Jangan sampai kemurniannya terkotori dengan bisikan ambisi materi atau buaian kemewahan duniawi. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kita dengan sebuah haditsnya "Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, namun ternyata ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan satu tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat".13
Para ulama salaf menjelaskan bahwa di antara kiat menjaga kenikmatan mulia ini adalah dengan :
  1. Selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan tidak merasa bosan; Imam Syafi`i berkata, "Tidaklah berhasil menuntut ilmu (dengan baik) bagi seorang yang mencarinya dengan cepat merasa bosan seakan tidak membutuhkannya, akan tetapi seorang akan berhasil menuntut ilmu jika melakukannya dengan perjuangan dan susah payah, penuh semangat dan hidup prihatin".14
Dalam Diwannya beliau juga membawakan syair

أخي لن تنال العلم إلا بستـتة # سأنبيك عن تفصيلها ببيان # ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة # وصحبة أستاذ وطول زمان

Wahai saudaraku…, engkau takan mendapatkan ilmu melainkan dengan (memperhatikan) enam hal…
Aku akan menyebutkannya dengan penjelasan… kecerdasan, semangat, kesungguh-sungguhan, biaya materi… petunjuk Ustadz, dan waktu yang panjang….
15
2. Mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan; Amr bin Qays berkata, "Jika sampai kepadamu suatu ilmu maka amalkanlah meskipun hanya sekali… "16, Imam Waki` berkata, "Jika engkau hendak menghafal satu ilmu (hadits) maka amalkanlah!"17, Imam Ahmad berkata, "Tidaklah aku menulis suatu hadits melainkan aku telah mengamalkannya, sehingga suatu ketika aku mendengar hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hijamah (bekam) dan memeberikan upah kepada ahli bekam (Abu Thaybah) satu dinar, maka aku melakukan hijamah dan memberikan kepada ahli bekam satu dinar pula"18
  • Senantiasa mengingat dan mengulang-ulang ilmu;
Ali bin Abi Thalib berkata, "Ingat-ingatlah (ilmu) hadits, sungguh jika kalian tidak melakukannya maka ilmu akan hilang."19, Ibnu Abas berkata "Mengulang-ulang ilmu di sebagian malam lebih aku cintai daripada menghidupkan malam (dengan ibadah)20 , Az-Zuhri berkata, "Gangguan ilmu adalah lupa dan sedikitnya muraja`ah (mengulang-ulang)."21

Saudaraku…, kita perlu mengingat kembali sebuah hadits yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan bagaimana Allah akan mencabut ilmu dari kehidupan dunia ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan merenggutnya dari para manusia, namun mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang alim maka manusia akan menjadikan para pembesar mereka dari kalangan orang-orang bodoh, yang ditanya (tentang agama) lantas orang-orang bodoh itu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan"
22.
Dalam hadits yang lain beliau bersabda, "Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan semakin banyak merebak, zina menjadi nampak (dimana-mana), khamr diminum, kaum pria menjadi sedikit dan kaum wanita menjadi lebih banyak…."23.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, "Sungguh keberadaan agama Islam dan keberlangsungan dunia ini adalah dengan keberadaan ilmu agama, dengan hilangnya ilmu akan rusaklah dunia dan agama. Maka kokohnya agama dan dunia hanyalah dengan kekokohan ilmu."24
Al-Auza`i berkata : Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan, "Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan, sementara ilmu diangkat dengan cepat. Kekokohan ilmu adalah keteguhan bagi agama dan dunia, hilangnya ilmu adalah kehancuran bagi itu semua."25

Saudaraku…., yakinlah bahwa di antara kunci kebahagiaan dunia dan akherat adalah dengan menuntut ilmu syar`i, itulah yang akan menumbuhkan khasyyah dan sikap takut kepada Allah, merasa diawasi sehingga waspada terhadap semua ancaman Allah. Semua itu tidaklah didapatkan kecuali dengan ilmu syar`i, Allah berfirman, "Sesungguhnya hanyalah para ulama yang memiliki khasyyah kepada Allah"
26
Ath-Thabari berkata "Sesungguhnya yang takut kepada Allah, menjaga diri dari adzab dengan menjalankan ketaatan kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu, mereka mengetahui bahwa Allah Maha Mampu melakukan segala sesuatu, maka mereka menghindar dari kemaksiatan yang akan menyebabkan murka dan adzab Allah…"27.
Abdullah bin Mas`ud dan Masruq berkata, "Cukuplah ilmu untuk dapat membuat takut kepada Allah, dan cukuplah kebodohan yang menyebabkan seorang lalai tentang Allah". Al-Baghawi menyebutkan bahwa seseorang memanggil dan berkata kepada Sya`bi, “wahai "alim" berfatwalah”, Sya`bi menjawab, "Sesungguhnya seorang "alim" adalah yang memiliki khasyyah kepada Allah"28.
Syaikh As-Sa`di berkata dalam tafsirnya (yaitu tafsir dari Surat Al-Faaathir ayat 28, ed), "Ayat ini adalah dalil keutamaan ilmu, karena ilmu akan menumbuhkan sikap khasyyah (takut) kepada Allah, orang yang takut kepada Allah adalah orang yang akan mendapatkan kemuliaan Allah sebagaimana firmanNya "Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah, itu hanya bagi orang-orang yang memiliki khasyyah kepadaNya"29.
Dengan ilmu kita dapat menumbuhkan sikap khasyyah kepada Allah dan itulah muraqabah yang akan membimbing langkah-langkah kita menuju ridha Allah. Sufyan berkata, "Barangsiapa yang berharap (kebahagiaan) dunia dan akherat hendaklah ia menuntut ilmu syar`i". An-Nadhr bin Syumail berkata, "Barangsiapa yang ingin dimuliakan di dunia dan akherat hendaklah ia menuntut ilmu syar`i, dan cukuplah menjadi kebahagiaan bagi dirinya jika ia dipercaya dalam perkara agama Allah, serta menjadi perantara antara seorang hamba dengan Allah"30.
Mu`adz bin Jabal berkata, "Pelajarilah ilmu syar`i karena mempelajarinya di jalan Allah adalah khasyyah, memperdalamnya adalah ibadah, mengulang-ulangnya adalah tasbih (memuji Allah), membahas (permasalahan-permasalahannya) adalah jihad, mengajarkannya kepada yang belum mengetahuinya adalah shadaqah, dengan ilmulah Allah diketahui dan disembah, dengannya Allah diesakan dalam tauhid, dan dengannya pula diketahui yang halal dan yang haram …"31.
Seorang penyair berkata :
Ilmu adalah harta dan tabungan yang tak akan habis… Sebaik-baik teman yang bersahabat adalah ilmu…
Terkadang seseorang mengumpulkan harta kemudian kehilangannya… Tidak seberapa namun meninggalkan kehinaan dan perseteruan… Adapun penuntut ilmu, ia selalu membuat iri (ghibthah) banyak orang…   namun dirinya tidak pernah merasa takut akan kehilangannya… Wahai para penuntut ilmu, betapa berharga hartamu itu… yang tak dapat dibandingkan dengan emas ataupun mutiara….
32.
Karenanya, Luqman berwasiat kepada putranya, "Wahai anakku, duduklah bersama para ulama, dekatilah mereka dengan kedua lututmu, sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan pelita "hikmah" sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang gersang dengan air hujan".33 Hikmah yang beliau maksud adalah yang Allah sebutkan dalam firmanNya (QS Al-Baqarah : 269) yang artinya, "Allah menganugerahkan "hikmah" kepada yang Allah kehendaki, barangsiapa telah diberikan hikmah maka ia telah diberikan banyak kebaikan…". Qutaibah dan Jumhur ulama berkata "hikmah adalah mengetahui yang haq34 dengan sebenarnya serta mengamalkannya, itulah ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih".35
Imam Ahmad berkata, "Manusia lebih membutuhkan ilmu dibandingkan makan dan minum, karena makanan dan minuman dibutuhkan manusia satu atau dua kali dalam satu hari, akan tetapi ilmu senantiasa dibutuhkan seorang manusia setiap saat (selama nafasnya berhembus)"36…

Saudaraku…., belum terlambat… dan tidak ada kata "malu"; `Aisyah berkata, "Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar, mereka tidak terhalangi oleh rasa malu untuk mempelajari semua perkara agama ini". Mujahid juga berkata, "Tidaklah dapat menuntut ilmu seorang pemalu atau yang sombong, yang ini terhalangi dari menuntut ilmu oleh rasa malunya, sementara yang itu terhalangi oleh kesombongannya"
37.
Mari bersama-sama kita membangkitkan semangat menuntut ilmu syar`i agar dengannya kita mendapatkan pelita nan bercahaya, menerangi setiap amalan hidup kita, membimbing setiap pola pikir dan langkah kita, memperbaiki setiap niat hati kita, membuat kita senantiasa takut karena merasa diawasi oleh Allah. Jika ilmu itu telah sampai maka jangan kita melupakannya dan mari kita berlomba untuk mengamalkannya, Ali bin Abi Thalib berkata, "Ilmu membisikkan pemiliknya untuk diamalkan, jika ia menjawab panggilan bisikan itu maka ilmu akan tetap ada, namun jika ia tidak menjawab panggilan itu maka ilmu akan pergi".38
Semoga Allah melimpahkan taufiqNya kepada kita untuk ikhlas dalam menuntut ilmu, beramal dan berdakwah di jalanNya. Ya Allah…., jadikanlah kami hamba-hambaMu yang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia serta akherat dengan ilmu, amin...
1. Qs Al-Mujadilah : 11 [back]
2. Tafsir Ath-Thabari ; Qs Al-Mujadilah : 11 [back]
3. Tafsir Asy-Syaukani ; Qs Al-Mujadilah : 11 [back]
4. Shahih Muslim: 817 [back]
5. Lihat Tarikh Baghdad 2 : 309, Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah 1 : 501-502 [back]
6. Diriwayatkan dari Imam Syafi`i dari beberapa jalan, lihat Miftah Daris Sa`adah 1 : 503 [back]
7. HR. Muslim no : 2699 dari Abi Hurairah [back]
8. HR Tirmidzi no : 2323, Ibnu Majah no : 4112 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no : 186 dari Anas [back]
9. HR Bukhari 1 : 150-151, 6 : 152, dan Muslim 1037 dari Mu`awiyah [back]
10. HR Muslim 1631 dari Abi Hurairah [back]
11. HR Abu Daud no : 3641-2, At-Tirmidzi no : 2683, Ibnu Majah no : 223, dishahihkan Ibnu Hibban no : 80 [back]
12. QS Thoha : ayat 114 [back]
13. HR Abu Daud no : 3664 dengan sanad yang shahih, Ibnu Majah no : 252, Ibnu Hibban no : 89, dll [back]
14. Hilayatul Auliya karya Abu Nu`aim; 9 : 119, Al-Madkhal karya Al-Baihaqi; no : 513, Tadribur Rawi karya As-Suyuthi; 2 : 584 [back]
15. Diwan Asy-Syafi`i hal : … [back]
16. Hilayatul Auliya karya Abu Nu`aim 5 : 102 [back]
17. Tadribur Rawi karya As-Suyuthi 2 : 588 [back]
18. Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam Manaqib Ahmad, hal : 232 [back]
19. Al-Muhadditsul Fashil karya Ar-Ramahurmuzi hal : 545 [back]
20. Sunan Ad-Darimi; 1 : 82 dan 149 [back]
21. Sunan Ad-Darimi; 1 : 150 [back]
22. HR Al-Bukhari : 1 : 174-175, Muslim no : 2673, At-Tirmidzi 2652 [back]
23. Shahih dengan beberapa jalannya, Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam Sahih : kitab "nikah" dari hadits Hafsh bin Umar dan kitab "ilmu", demikian pula halnya Muslim dalam shahihnya : 4 : 256, dan selain mereka. [back]
24. Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah : 1 : 500 [back]
25. Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud 817, dan Ibnu `Abdil Bar dalam Al-Jami` : 1018 [back]
26. QS. Fathir : 28 [back]
27. Lihat Tafsir Ath-Thabari QS Fathir ; ayat : 28 [back]
28. Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud hal : 15, dan Ahmad dalam Az-Zuhud hal : 858 dan Lihat Tafsir Al-Baghawi QS Fathir ; ayat : 28 [back]
29. Lihat Tafsir As-Sa`di QS Fathir ; ayat : 28 [back]
30. Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 503-504 [back]
31. Hilayatul Auliya karya Abu Nu`aim 1 : 239, Al-Ajmi` oleh Ibnu `Abdil Bar 1 : 65 [back]
32. Diterjemahkan dari Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 507 [back]
33. Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa` 2 : 1002 (Cet. Daarul Kutubil `Imiyyah) [back]
34. Syaikh Ali Hasan berkata "dan hikmah adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan tidaklah mungkin hal ini dilakukan melainkan dengan ilmu" (Lihat, Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 227) [back]
35. Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 227 [back]
36. Thabaqat Al-Hanabilah; 1 : 146 [back]
37. Al-Bukhari menyebutkannya secar mu`allaq dalam shahihnya 1 : 229 [back]
38. Iqtidhaul `ilmil amal karya Al-Khathib: hal 41 [back]

Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir?


Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. (Al Anbiyaa’: 1)
Siapa saja yang memperhatikan keadaan manusia sekarang ini, niscaya akan menemukan kesamaan keadaan mereka dengan ayat di atas. Anda akan melihat mereka lalai terhadap akhirat, lalai terhadap kewajiban agama, lalai terhadap fitrah mereka yang mana mereka diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka rela memeras otak dan tenaganya demi mendapatkan dunia dan perhiasannya, namun untuk agama terasa berat memerasnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka mau mengerjakan kewajiban agama bila ujung-ujungnya mereka mendapatkan dunia –‘iyaadzan billah-,
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan–Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (terjemah Huud: 15-16).Orang yang seperti ini kata Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ
“Celaka hamba dinar, hamba dirham dan hamba khamiishah (pakaian mewah), jika diberi ia senang, jika tidak ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah, kalau terkena duri semoga tidak tercabut.” (HR. Bukhari)
Semua aktifitas mereka didasari karena dunia, mereka cinta kepada seseorang karena dunia meskipun orang yang dicintainya adalah orang kafir, bencipun karena dunia meskذipun orang yang dibencinya adalah orang mukmin, bertengkar karena dunia, bahkan karena dunia mereka tinggalkan perintah Rabb mereka…
Lihat! Karena urusan dunia mereka rela meninggalkan shalat berjama’ah, karena pertandingan sepak bola mereka rela mengorbankan harta dan tenaga adapun untuk berinfak dan bersedekah berat rasanya, karena olahraga mereka rela meninggalkan shalat, karena pentas musik mereka rela bermaksiat, karena kenikmatan yang rendah inikah mereka rela meninggalkan perintah Rabb mereka yang telah mengaruniakan bermacam-macam nikmat?, Sampai kapankah kelalaian ini berakhir???
Untuk rapat ada waktu, untuk olahraga ada waktu, untuk bisnis ada waktu, untuk jalan-jalan ada waktu, untuk semuanya ada waktu namun untuk membaca Al Qur’an, menghadiri majlis ilmu syar’i, shalat berjama’ah, mengerjakan kewajiban agama dan mengerjakan amalan sunat ma’af “TIDAK ADA WAKTU”.Sampai kapan kelalaian ini berakhir???
Kita lihat di antara mereka amat pandai dan cerdas terhadap urusan dunia, namun tidak pandai menggunakan akalnya untuk mencari hal yang bermanfa’at buat akhiratnya,Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar Ruum: 7)Penyair mengatakan
,يَا مُتْعِبَ الْجِسْمِ كَمْ تَسْعَى لِرَاحَتـِهِأَقْبِلْ عَلَى الرُّوْحِ وَاْستَكْمِلْ فَضَائِلَهَاأَتْعَبْتَ جِسْمَكَ فِيْمَا فِيْهِ خُسْــرَانٌفَأَنْتَ بِالرُّوْحِ لَا بِالْجِسْمِ إِنْسَــانٌ
Hai kamu yang memeras tenaga, berapa banyak tenaga yang kamu keluarkan,Sudah, beralihlah memperbaiki rohani anda dan kejarlah keutamaan,Apakah kamu akan tetap terus memeras tenaga untuk hal yang ada kerugian di dalamnya,Karena kamu sebagai manusia karena ruh, bukan badan.
Alangkah semangatnya mereka mengejar harta dan dunia, namun alangkah beratnya mereka melangkahkan kakinya memenuhi panggilan Tuhannya. Waktunya berlalu begitu saja tanpa faedah, bahkan penuh terisi dengan maksiat dan meninggalkan perintah,
Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.–Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (Al Infithaar: 6-7)
Ia mengira perbuatannya itu mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan, padahal sebenarnya mendatangkan kesengsaraan sadar atau tidak sadar,
Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”(Thaha: 124)
Kepada mereka ditujukan perkataan penyair yang bijak
,نَهَارُكَ يَا مَغْرُوْرٌ سَهْوٌ وَغَفْـلَةٌوَشُغْلُكَ فِبْمَا سَوْفَ تَكْرَهُ غِبَّهُوَلَيْـلُكَ نَوْمٌ وَالرَّدَى لَكَ لاَزِمٌكَذَلِكَ فِي الدُّنْيَا تَعِيْشُ الْبَهَائِمُS
iangmu hai orang yang lalai adalah lupa dan tak sadar.Sibukmu hanya untuk hal-hal yang kelak kamu akan menyesali akibatnya,Malammu tidur, sudah layak kerugian menimpamu,Seperti itulah binatang hidup di dunia.
Dosa di matanya ibarat lalat menempel di hidung, ia lupa dan lalai kepada siapa sebenarnya ia berbuat maksiat.
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? (Nuh: 13)
Di pagi dan siang hari dosa-dosa dijalaninya dari mulai dosa kecil hingga dosa besar. Ghibah (gosip), namimah (adu domba), dusta, menuduh orang lain menjadi hal yang biasa. Khianat, mengambil harta orang lain tanpa kerelaannya, menyakiti tetangga, memutuskan tali silaturrahim, bermusuhan menjadi bagian hidupnya. Sombong, ‘ujub (bangga diri), hasad dan ghisy (menipu orang) menjadi akhlaknya. Mengumbar aurat bagi wanita dan memakai wewangian ketika keluar, mencukur habis janggut bagi laki-laki, memakai sutera dan perhiasan emas bagi laki-laki, memakai sarung atau celana isbal (melewati mata kaki) maupun lainnya sudah terbiasa. Dosa kecil dan besar dilaluinya seakan-akan tak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa kecil,

إِيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ فَإِنَّهُنَّ إِذَا يَجْتَمِعْنَ عَلىَ الرَّجُلِ حَتًَّى يُهْلِكَنَّهُ
“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa itu bila berkumpul pada seorang hamba maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ 2687)
juga tidak pernah didengarnya perkataan ulama
,لاَصَغِيْرَةَ مَعَ اْلِاسْتِمْرَارِ وَلاََ كَبِيْرَةَ مَعَ اْلاِسْتِغْفَارِ“
Tidak ada dosa kecil bila dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar bila diiringi dengan istighfar.
Dan tak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa besar bahwa ia (dosa besar) dapat membinasakan dunia-akhirat (muubiqaat) yang di antaranya,
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ
“Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan”, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja itu ?” Beliau menjawab, “Syirk kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh wanita mu’minah yang baik-baik yang sudah menikah berzina.” (HR. Bukhari)
Ia tidak lagi sempat bertanya kepada dirinya “Apa akibat dari tindakannya itu?” “Apa yang akan terjadi setelah puas mengerjakan perbuatan itu?”
Apakah mereka masih saja lalai terhadap kematian? Apakah mereka masih saja lalai terhadap hisab, apakah mereka masih saja lalai terhadap kubur? Apakah mereka masih saja lalai terhadap neraka dan apakah mereka masih saja lalai terhadap ‘adzab cepat atau lambat???
Relakah mereka menanggung ‘adzab yang pedih hanya karena ingin mendapatkan keseanangan yang sesaat???Sampai kapan kelalaian ini berakhir???
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka) (Al Hijr: 3).
Yakni biarkan saja mereka menikmati hidupnya seperti halnya binatang, yang diurusnya hanya makan, minum dan kesenangan semata, kelak mereka akan mengetahui dan menyesali perbuatannya.
Pernahkah terlintas di hatinya hakikat kehidupan di dunia ini dan pernahkah terlintas di benaknya tujuan ia diciptakan di dunia ini???
أَمـَا وَاللهِ لَوْ عَلِمَ اْلأَنَامُ   # لِمـَا خُلِقُوْا لَمَا غَفَلُوْا وَنَامُوْالَقَدْ خُلِقُوْا لِمَا لَوْ أَبْصَرْتَهُ # مَمَاتٌ ثُمَّ قَـبْرٌثُمَّ حَشْـٌرعُيُوْنُ
 قُلُوْبِهِمْ تاَهُوْا وَهَامُوْا  # وَتَوْبِيْخٌ وَأَهْـوَالٌ عِظَـامٌ
Demi Allah, kalau sekiranya orang tahuUntuk apa mereka diciptakan, tentu mereka tidak lalai dan lelap tidurKamu akan lihat di depannyaMaut, kubur dan padang mahsyar,Mereka bingung tak tahu arah,
Ada ancaman dan peristiwa yang menegangkan.Sebelum menjauh pembicaraan ini mari menengok kepada diri sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang lalai itu atau tidak, jalan mana yang kita tempuh, apakah jalan yang menghubungkan kepada keridhaan Allah ataukah jalan yang menghubungkan kepada kemurkaan Allah, perhatikanlah baik-baik hal ini, karena masalahnya serius, bukan main-main, jangan biarkan dirimu terjatuh, bangkit dan perbaikilah sekarang, lihatlah apakah sikapmu selama ini sejalan dengan perintah Allah atau sejalan denagan larangan-Nya.
Ketahuilah, agama ini tidak bisa dipisah-pisahkan, karena berpegang dengan sebagiannya dan meninggalkan yang lain masuk dalam kategori bermain-main dengan perintah Allah, dan ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (Al Baqarah: 85).
Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim antara di masjid dan di luar masjid tetap mempraktekkan ajaran Islam, bicaranya dibatasi dengan ajaran Islam dan sikapnyapun demikian, bicaranya tidak jauh dari kebaikan dan sikapnya tidak jauh dari nilai-nilai Islam.
Anda bisa memulai hal ini dari sekarang, tidak ada kata “Sudah terlanjur basah”, ini adalah putus asa, dan putus asa adalah akhlak orang-orang kafir.
Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.( Yusuf: 87)
Inginkah anda surga yang di dalamnya penuh kenikmatan, tidak ada kematian, tidak ada masa tua, tidak ada sakit dan tidak ada lagi penderitaan? Inginkah anda berkumpul bersama orang-orang yang mendapatkani kebaikan (para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih)? Maka ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, jauhilah segala larangan dan kerjakanlah perintah sesuai kemampuan,
Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi,
Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (An Nisaa’: 69)
Bandingkanlah dengan neraka yang di dalamnya penuh kesengsaraaan dan penderitaan, bila lapar diberi makan Zaqqum dan bila haus diberi nanah dan air mendidih,
Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai–Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas–Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya–Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman–Selain air yang mendidih dan nanah–Sebagai pambalasan yang setimpal–Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. (An Naba’: 21-28)
Semoga dengan ini anda semakin cinta untuk memperbaiki diri.Tempuhlah jalan ini dan jangan ragu!Hati-hatilah anda jangan sampai tertipu oleh dunia, betapapun terasa lama menikmati dan hidup di dunia ini, namun anda tetap akan pergi meninggalkannya dan maut akan mendatangi anda. Berapa banyak orang yang sebelumnya mengira akan hidup lama, namun ternyata besoknya atau lusanya telah pergi hanya tinggal namanya, orang-orang membawanya ke liang kubur yang akan menjadi nikmat atau ‘adzab baginya.Sungguh sangat rugi dan rugilah dia, bila maut datang sedangkan dirinya belum sempat bertaubat, sungguh sangat rugi dan rugilah dia bila ada seruan bertaubat namun ia tidak mau menanggapi.
Berpikirlah matang-matang, persiapkan amalan karena di depanmu ada maut bersama sekaratnya dan kubur bersama kegelapannya.
Ingat, Rabbmu akan bertanya kepadamu tentang amalanmu besar maupun kecil,Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua—tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (Al Hujr: 92-93)
Demi Allah, sungguh sangat tidak masuk akal bila ada seseaorang yang santai begitu saja, tidak beramal padahal di depannya ada peristiwa-peristiwa dahsyat, maut-kubur-kebangkitan dan pembalasan.
Sungguh, saat-saat sekarang ini adalah kesempatan bagi anda untuk beramal dan nanti tidak ada lagi saat beramal,كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا“Semua manusia berusaha, usahanya itu ada yang menyelamatkan dirinya (dari ‘adzab) dan ada juga yang malah yang menceburkan diri ke dalamnya.” (HR. Muslim)
Usaha yang menyelamatkan dirinya dari ‘adzab adalah iman dan amal shalih dan usaha yang menceburkan dirinya ke dalam’adzab adalah kufur dan kemaksiatan.
Lihat ke kanan dan ke kiri, berapa banyak orang yang dijemput kematian tanpa membawa amalan, lihat ke kanan dan ke kiri berapa banyak orang yang dijemput kematian dalam keadaan berbuat maksiat, ini semua akibat menunda-nunda taubat, thuulul amal (panjang angan-angan) dan menyangka masih jauh kematian.
Jangan sampai kamu seperti orang yang dijemput kematian baru menyadari akan kelalalaiannya, seraya mengatakan,
“Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)–Agar aku berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan” (Al Mu’minuun: 99-100)
akan tetapi,
Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (Al Munaafiqun: 11)

Abu Yahya Marwan Al Hadidi


Maraaji’: Al Ghaflah Al Muhlikah (Maktab ta’aawuni’y lid da’wah wal irsyaad), Uriid an atuub wa laakin (Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid) dll.

Tak Ada Gading yang Tak Retak


Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi
Setiap kita mempunyai kesalahan dan kekurangan. Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya. Yang harus dilakukan adalah introspeksi dan menghisab diri sendiri untuk sebuah perbaikan.
Umar bin Khaththab rahdiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang.”
Berikut ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang untuk introspeksi diri dan memperbaiki berbagai kekurangannya:
  1. Mengakui kekurangan dirinya. Ibnu Hazm berkata, “Seandainya orang yang kurang itu mengetahui kekurangan dirinya, niscaya ia menjadi sempurna.” Beliau melanjutkan, “Manusia itu tidak luput dari kekurangan, dan orang yang berbahagia adalah orang yang sedikit aibnya.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
  2. Menyadari kekurangan yang ada pada dirinya sebagai kekurangan. Ada beberapa orang yang mengetahui suatu kekurangan ada pada dirinya tapi dia tidak menganggap hal itu sebagai sebuah kekurangan. Pengetahuan terhadap kekurangan dirinya nyaris tidak mendatangkan manfaat apa-apa untuk perbaikan. Hal ini bisa disebabkan karena dia memandang dirinya dengan kacamata dirinya sendiri dan tidak memperhatikan kacamata orang lain dalam menilai dirinya. Disinilah perlunya kita membuka diri sendiri terhadap pandangan dan penilaian dari orang lain, terutama orang yang alim.
  3. Kita harus mengetahui dan mencari kekurangan diri kita. Sebab mengetahui penyakit itu dapat menolong seseorang untuk menentukan obatnya. Ibnu Al Muqaffa’ mengatakan, “Salah satu aib manusia terbesar ialah ia tidak mengetahui kekurangan dirinya. Karena orang yang tidak mengetahui aib dirinya, maka ia pun tidak mengetahui kebaikan orang selainnya. Barangsiapa yang tidak mengetahui aib dirinya dan kebaikan orang lain, maka ia tidak bisa menghilangkan aib yang dia sendiri tidak mengetahuinya dan tidak akan mendapatkan kebaikan-kebaikan orang lain yang tidak pernah ia lihat selamanya.” (Al Adab Ash Shaghir wa Al Adab Al Kabir). Mahmud Al Waraq mengatakan “Manusia yang paling sempurna ialah yang paling tahu kekurangan dirinya dan yang paling dapat mengalahkan syahwat dan keinginannya” (Aqwal Ma’tsurah wa Kalimat Jamilah, Dr Muhammad Ash Shabbagh)
  4. Tidak memandang orang lain dengan pandangan yang remeh sehingga dia bisa melihat kebaikan yang ada pada orang lain dan mendapat manfaat darinya.
  5. Tidak memandang diri sendiri dengan penuh kekaguman dan merasa dirinya yang paling baik. Rasa ujub ini seringkali disisipkan iblis ke dalam hati kita tanpa kita sadari sehingga akhirnya kita larut dan terbawa. Selain merupakan dosa, rasa ujub menghalangi seseorang untuk mencari kekurangan yang ada pada dirinya sendiri sehingga dia terhalang dari perbaikan dan terus berkubang pada kekurangan. Ibnu Hazm mengatakan, “Ketahuilah dengan penuh keyakinan bahwa manusia itu tidak bisa luput dari kekurangan, kecuali para nabi. Barangsiapa yang tidak mengetahui berbagai kekurangan dirinya, maka ia akan menjadi orang yang hina, lemah akal, dan sedikit pemahamannya, yang mana ia merasa bukan sebagai orang yang hina dan tidak merasa bahwa tempat berpijaknya adalah kehinaan. Karena itu, ia tidak sudi mencari kekurangan dirinya dan tidak sudi menyibukkan diri dengan hal itu bahkan dia merasa kagum dengan dirinya sendiri dan sibuk dengan aib orang lain yang tidak membahayakan dirinya baik di dunia maupun di akhirat.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
  6. Senantiasa berusaha menghilangkan kekurangan-kekurangan itu. Tidak cukup sekedar mengetahui kekurangan-kekurangan diri, tetapi harus pula berusaha menghilangkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya),” Beruntunglah orang yang membersihkan diri.” (Qs. Al A’la: 14). “
    Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya.” (Qs. Asy Syams:9). Ibnu Hazm berkata, “Orang yang berakal adalah orang yang dapat menentukan aib dirinya, lalu mengalahkannya dan berusaha menundukkannya. Sedangkan orang yang dungu adalah orang yang tidak mengetahui aib dirinya, baik karena kurang pengetahuan dan akalnya serta lemah pikirannya maupun karena ia menilai bahwa aibnya tersebut adalah perangainya. Dan ini adalah aib terbesar di muka bumi ini.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
  7. Berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi baik terhadap dirinnya. Ibnu Muqaffa’ mengatakan, “Hendaklah kamu berjanji terhadap dirimu sendiri untuk menjadi baik, sehingga dengan hal itu ia akan menjadi ahli kebajikan. Sebab jika anda melakukan demikian, maka kebajikan akan datang mencarimu sebagaimana air mengalir mencari tempat yang curam.” (Al Adab Ash Shaghir wa Al Adab Al Kabir). Ibnu Hazm berkata, “Mengabaikan sesaat dapat merusak setahun” (Al Akhlaq wa As Siyar).
  8. Kita tidak boleh menjadikan keburukan kemarin sebagai pembenaran untuk mengerjakan keburukan hari ini dan tidak pula menjadikan keburukan seseorang sebagai pembenaran untuk kita berbuat keburukan. Ibnu Hazm mengatakan, “Saya tidak melihat iblis lebih bodoh, lebih buruk dan lebih dungu daripada dua kalimat yang dilontarkan oleh propagandisnya: Pertama, alasan orang yang berbuat keburukan bahwa si fulan juga telah mengerjakan keburukan itu sebelumnya; kedua, seseorang menganggap remeh keburukannya hari ini karena ia telah berbuat keburukan itu kemarin, atau ia melakukan keburukan dalam suatu hal karena ia telah berbuat keburukan dalam hal lainnya. Akhirnya kedua kalimat tersebut menjadi alasan yang memudahkan untuk berbuat keburukan dan mengkategorikan keburukan tersebut dalam batas yang diakui, dianggap baik, dan tidak diingkari.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
  9. Menelaah sesuatu yang bermanfaat yang dapat membantu perbaikan diri terutama ilmu syar’i. Dengan ilmu syar’ilah seseorang dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan ilmu syar’i dia memiliki parameter yang tepat untuk menimbang segala sesuatu. Ini adalah poin yang sangat penting.
thank you