Rabu, 22 Desember 2010

Apa gayamu dalam BERHIJAB (BERJILBAB)?




1. Apakah engkau “KADANG-KADANG BERHIJAB (BERJILBAB)”?


 
  • Apakah engkau berhijab hanya ketika menghadiri pengajian atau membaca Al Qur’an?
  • Apakah engkau berhijab saat berada di Arab Saudi dan engkau lupa bahwa engkau adalah seorang muslimah begitu pesawatmu mendarat di negara lain?
  • Apakah engkau berhijab ketika keluar rumah, tetapi memajang foto-fotomu di FB agar dapat dilihat orang lain? (Saudariku yang kucintai dalam Islam, sekali pun engkau membatasi orang-orang yang melihat fotomu dan hanya teman-teman di FB-mu yang bisa melihatnya, WASPADALAH, siapa saja bisa menyimpan foto kita dan melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan engkau tidak akan pernah tahu untuk tujuan apa fotomu dimanfaatkan. Belum lagi fakta bahwa teman-temanmu bersama orang lain saat mereka melihat foto-fotomu, yang merupakan non-mahrommu!! Allohul musta’aan)

2. Apakah engkau “SETENGAH-SETENGAH DALAM BERHIJAB (BERJILBAB)”?
  • Apakah adakalanya engkau mengerudungi kepalamu saja, tetapi tetap mengenakan celana jeans ketat atau pakaian lainnya yang ketat dan membentuk lekuk tubuhmu? (Faktanya banyak muslimah yang melakukannya, dan ini merupakan suatu bentuk penghinaan terhadap hijab!)
  • Apakah engkau mengerudungi kepalamu tetapi menampakkan sebagian dari rambutmu, baik di depan atau di belakang, agar engkau terlihat lebih cantik?
  • Apakah engkau menutup tubuhmu dengan sempurna, tetapi abaya atau gamis yang engkau kenakan tampak menarik, warna-warni, berenda, berbordir dan berpayet sehingga manarik perhatian orang lain dan sejatinya membutuhkan abaya atau gamis lain untuk menutupi semua perhiasan itu?

Apa sebenarnya maksud di balik semua ini??? Apa lagi kalau bukan untukMENARIK PERHATIAN lawan jenis? Apakah engkau akan berhias sedemikian rupa jika tidak ada lawan jenis di sekitarmu?




Untuk yang belum mengetahuinya, Hijab harus dikenakan di hadapan non-mahrom kita (sebagian besar lawan jenis) dan Alhamdulillah, kita diizinkan untuk berhias jika berada di hadapan mahrom kita (suami, ayah, saudara laki-laki, paman dari pihak ayah dan ibu, kakek, anak laki-laki, ayah mertua, anak laki-laki dari saudara laki-laki, anak laki-laki dari saudara perempuan, menantu laki-laki dan anak laki-laki yang belum aqil baliq) dan dalam pertemuan yang hanya dihadiri oleh muslimah.

Camkan hadits berikut ini:
Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Saudariku yang kucintai karena Allah, pernahkah engkau berpikir tentang tujuan dari Hijab???

Mengapa kita harus mengenakan Hijab? 
  • Karena tidak ada pilihan lain kecuali mengenakannya saat berada di Saudi Arabia?
  • Karena orangtuamu memerintahkan engkau melakukannya?
  • Karena orang-orang di sekitarmu mengenakannya?

ATAU ADA ALASAN LAIN YANG LEBIH PENTING UNTUK MELAKUKANNYA?
Apakah engkau merasa tertindas saat mengenakannya??? Jujurlah pada dirimu sendiri.

Perhatikan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang hal ini.
Alasan mengapa Dia memerintahkan Hijab bagi wanita disebutkan dalam Qur’an pada ayat berikut di surat Al-Ahzab:

Allah berfirman (yang artinya):

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 33 : 59)

Qur’an menyebutkan bahwa Hijab telah diperintahkan kepada kaum wanita sehingga mereka dikenali sebagai wanita yang tidak menonjolkan diridan dengan demikian mereka akan terhindar dari gangguan.

Mari sekarang kita analisis: Mengapa Muslimah mengenakan Hijab? 

1. Karena ini adalah perintah Allah. Allah memerintahkan kita dan kita menta’atinya, sederhana bukan? Agar Allah ridho terhadap kita, maka kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena Dia-lah yang menciptakan kita dan segala hal di sekitar kita, dan Dia menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya. Itulah alasan mengapa kita sekarang ada di dunia dan kita akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita semasa hidup. Allah berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS 51:56).

2. Kita ini berharga. Nasihat juara dunia tinju Muhammad Ali kepada anak perempuannya: “Hana, segala sesuatu ciptaan Allah yang berharga di muka bumi ini senantiasa tertutup dan sulit untuk didapatkan. Di manakah engkau menemukan berlian? Jauh di dalam tanah, tertutup dan terlindungi. Di manakah engkau menemukan mutiara? Jauh di dasar samudera, tertutup dan terlindungi dalam sebuah cangkang yang keras. Di manakah engkau menemukan emas? Jauh di dalam tanah yang ditambah, tertutup oleh banyak lapisan batuan... Engkau harus bekerja keras untuk mendapatkannya.” Ia memandang dengan tatapan mata yang serius. “Demikian pula tubuhmu. Jauh lebih berharga dari pada berlian dan mutiara, maka engkau juga harus mengenakan hijab agar tertutup.”

3. Ini adalah hak kita. Ketika seorang wanita berhijab, maka pria tidak dapat menilai melalui penampilannya, melainkan melalui kepribadian, karakter dan moralnya. Hijab adalah suatu tanggung jawab DITAMBAH hak yang diberikan oleh Allah kepada kita, Allahu a’lam. Inilah keutamaan bagi kita, lantas apa yang menghalangi engkau dari mengenakannya? Mengapa kita harus memperlihatkan kecantikan kita kepada semua orang? Apakah itu hakikat menjadi seorang wanita? Apakah tubuh kita demikian murah? Mengapa kita ingin menjadikan diri kita objek yang tidak berharga? Tidaklah mengherankan bila tingkat pelecehan seksual meningkat, jika kita menyediakan bahan untuk kejahatan tersebut. Camkan!

Saya memperingatkan diri SAYA sendiri terlebih dahulu dan selanjutnya saudari-saudariku yang kucintai karena Allah, SIAPA TAHU ENGKAU LUPA!
Semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus kepada kita!

Saudarimu dalam Islam.

Diterjemahkan oleh: Dewinta Bintu Najm

Tidak perlu izin untuk menyebarkan tulisan ini, selama mencantumkan tautan versi tulisan asli di atas.

Selasa, 21 Desember 2010

Ketika Masuk Ke Majelis Ilmu


Imam An Nawawi rahimahullah berkata:
ويدخل  على الشيخ كامل الخصال متصفا بما ذكرناه في المعلم متطهرا مستعملا للسواك فارغ القلب من الأمور الشاغلة وأن لا يدخل بغير استئذان إذا كان الشيخ في مكان يحتاج فيه إلى استئذان وأن يسلم على الحاضرين إذا دخل ويخصه دونهم بالتحية وأن يسلم عليه وعليهم إذا انصرف كما جاء في الحديث فليست الأولى أحق من الثانية ولا يتخطى رقاب الناس بل يجلس حيث ينتهي به المجلس إلا أن يأذن له الشيخ في التقدم أو يعلم من حالهم إيثار ذلك ولا يقيم أحدا في موضعه فإن آثره غيره لم يقبل اقتداء بابن عمر رضي الله عنهما إلا أن يكون في تقديمه مصلحة للحاضرين أو أمره الشيخ بذلك ولا يجلس في وسط الحلقة إلا لضرورة ولا يجلس بين صاحبين بغير إذنهما وإن فسحا له قعد وضم نفسه
Dianjurkan ketika masuk ke majelis ilmu:
  • Beradab dengan adab yang terbaik, sama seperti yang kami paparkan tentang adab seorang guru agama.
  • Dalam keadaan bersih,
  • Sudah bersiwak,
  • Membersihkan hati dari hal-hal yang menyibukkan.
  • Jangan masuk ke dalam majelis tanpa izin, jika sang guru ngaji berada di tempat yang disyaratkan izin untuk memasukinya.
  • Masuk ke majelis sambil memberi salam kepada pada hadirin, serta mengkhususkan salam untuk sang guru. Demikian juga memberi salam ketika hendak keluar dari majelis, sebagaimana dalam hadits: ”Tidaklah salam yang pertama itu lebih berhak dari salam yang kedua”
  • Janganlah melangkahi pundak-pundak orang lain, namun duduklah di baris yang paling belakang. Kecuali jika memang diizinkan oleh sang guru, atau dari kondisi majelis saat itu memang dibutuhkan untuk menyempil ke depan, asalkan tidak membuat seseorang berdiri dari tempatnya. Jika menyempil ke depan dapat mengganggu orang lain, maka tidak boleh. Hal ini dicontohkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma. Intinya, tidak boleh menyempil, kecuali ada maslahah atau sang guru memerintahkan hal tersebut.
  • Janganlah duduk di tengah lingkaran kecuali karena darurat
  • Jangan duduk diantara dua orang yang sedang duduk berdua tanpa izin mereka berdua. Jika mereka mengizinkan barulah boleh untuk duduk diantara mereka.
Sumber: At Tibyan Fii Adaabi Hamalatil Qur’an, hal 38-39, cetakan Dar Al Haramain.


http://kangaswad.wordpress.com/2010/11/01/ketika-masuk-ke-majelis-ilmu/

Minggu, 19 Desember 2010

Kenali Agamamu Sebelum Mencela Saudaramu

Bisik-bisik yang berlangsung tidak jauh dariku menarik perhatianku. Mengikuti pandangan dua orang gadis muda pelayan toko swalayan tersebut, kulihat sepasang suami isteri sedang berbelanja. Tidak ada yang salah dari pasangan itu, kecuali bahwa sang isteri memakai pakaian lebar bercadar dengan warna hitam, sedangkan sang suami dengan celana yang tidak isbal (baca: cingkrang) dan berjanggut. Entah karena merasa jengah menark perhatian beberapa orang, atau memang karena sedang terburu-buru dan kebutuhannya telah didapatkan , keduanya pun keluar tidak lama kemudian.

Sikap seperti itu berjangkit hampir di mana-mana. Hanya karena tidak biasa menurut pandangan orang awam, karena ketidaktahuannya akan agama, menyebabkan begitu mudah menilai orang lain, ketika mereka berbeda dengan kebiasaan sebagian besar masyarakat. Padahal kebenaran tidak bergantung pada banyaknya orang yang melakukannya, dan sebaliknya, mereka yang sedikit tidak berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang sesat.

Agama Islam saat ini cenderung asing bagi penganutnya sendiri. Satu contoh kecil di atas. Sepasang suami isteri yang mencoba untuk istiqamah melaksanakan sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan penampilan luar pakaian keseharian, mendapatkan penilaian miring, pandangan aneh penuh kecurigaan, atau bahkan mengundang ejekan, objek untuk ditertawakan. Seandainya kedua gadis itu tahu ajaran Islam yang sebenar-benarnya, tentu mereka akan merasa malu, memperbincangkan orang lain yang bersungguh-sungguh menjalankan agama bahkan sampai pada penampilan, tegar di tengah pandangan miring dan melecehkan masyarakat, sedangkan mereka sendiri sama sekali tidak memenuhi kewajibannya menutup aurat!

Itu baru contoh kecil. Belum lagi dalam masalah ibadah. Ketika seseorang shalat dengan telunjuk digerakkan saat tahiyat, atau ketika meletakkan sutrah ketika sedang shalat sendirian, dianggap sesuatu yang aneh, dan sebagian yang melihatnya lalu bertanya-tanya pada diri sendiri, “Ini dari aliran mana lagi...?” Jika saja kita merenungkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam berikut, mungkin kita akan lebih berhati-hati memberikan cap untuk sesuatu yang kita tidakmemiliki pengetahuan tentangnya:


فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku” (HR Bukhari Muslim)


Jika kita bukan termasuk golongan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu akan berada di mana kita? Padahal tidak satu pun golongan yang selamat kecuali orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya.

Kiranya akan lebih baik sebelum menunjukkan sikap apapun, kita bersikap lebih arif, mengoreksi diri kita. Seberapa jauh kita mengenali dan melaksanakan tuntunan agama, sebelum menjatuhkan penilaian kepada orang lain. Dan saya yakin bahwa kedua gadis remaja dengan pakaian khas penjaga toko yang sedikit ketat itu benar-benar tidak mengetahui, bahwa pakaian sepasang suami isteri itu adalah syar’i, sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Sekali lagi, fenomena yang terjadi di tengah masyarakat menunjukkan betapa agama Islam asing bagi sebagian penganutnya. Sebuah upaya memurnikan agama dari segala bentuk kesyirikan, bid’ah dan kurafat dianggap sebagai fanatik, keras, terbelakang, bahkan sesat. Pada masyarakat, budaya - yang diturunkan dari nenek moyang, justru dipegang teguh, menggantikan kedudukan agama. Ketika seseorang misalnya, menghindari peringatan kematian ke tujuh, empat puluh, dan seterusnya yang bukan bagian dari agama Islam, dianggap tidak bermasyarakat, tidak perduli, egois, dan sekali lagi yang lebih buruk.. sesat! Padahal Allah telah menegaskan di dalam kitabnya:


وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ /div>

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS Al-Baqarah : 170).


Alangkah lebih baik untuk segala sesuatu yang berkenaan dengan perkara agama, amal ibadah, kita mulai membiasakan diri untuk bertanya, apakah amalan ini memiliki landasan di dalam agama, yang sumbernya adalah Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan di dalam firman-Nya:


فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl : 43)


Ya, bertanyalah, karena agama ini telah sempurna, dan tidak ada sesuatu yang tidak di atur di dalamnya. Bertanyalah, untuk lebih mengenali agama sebelum memberikan celaan kepada orang lain yang berusaha dengan sungguh-sungguh menjalankan syariat yang agung ini karena ketidaktahuan kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah: “Ilmu itu memiliki tujuh tingkatan. Tingkatan yang pertama adalah bertanya dengan adab yang baik.”
Bertanyalah dan mulailah menginstrospeksi diri. Jika kita belum dapat bersikap seperti mereka, orang-orang yang teguh di atas agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, setidaknya kita berusaha ke arah itu, dan menjaga sikap untuk tidak melontarkan hinaan, cemoohan, meski hanya dengan isyarat mata sekalipun, agar kita tidak termasuk orang yang membenci sunnah Rasulullah. Karena sesungguhnya Rasulullah shallalahu alaihi wasallam sendiri telah mengancam kita:


فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku” (HR Bukhari Muslim).


Wallahu a’lam.

Undangan Ke Surga

Judul : UNDANGAN KE SURGA
Oleh : Syaikh ‘Ied Al ‘Anazy
Alih bahasa : Zezen Zainal Mursalin, Lc.
Sumber: ICM Kendari
  • Apakah anda ingin merasa dekat kepada Allah Azza wa Jlla ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Keadaan terdekat yang dimiliki seorang hamba terhadap Rabbnya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah didalamnya do’a”. [HR. Muslim]
  • Apakah anda ingin mendapatkan pahala ibadah Haji bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Umrah di bulan Ramadhan setimpal (pahalanya) Haji atau Haji bersamaku”. [HR. Bukhari Muslim/Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin sebuah Rumah di Surga ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : ”Barangsiapa yang membangun Masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisalnya di Surga”. [HR. Muslim]
  • Apakah anda ingin mendapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Sesungguhnya Allah akan ridha terhadap seorang hamba yang makan sebuah makanan kemudian ia memuji-Nya atas makanan tersebut dan meminum minuman kemudian ia memuji-Nya karena minuman tersebut”. [HR. Muslim]
  • Apakah anda ingin dikabulkan do’anya
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Do’a yang tidak akan ditolak adalah do’a diantara Adzan dan Iqomah”. [HR. Abu Daud]
  • Apakah anda ingin mendapatkan pahala Shaum (puasa) sepanjang tahun ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Shaum 3 (tiga) hari dari setiap bulan (penanggalan Hijriah), (pahalanya) seperti Shaum sepanjang tahun”. [HR. Bukhari Muslim/Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin memiliki kebaikan seperti Gunung ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang menyaksikan Jenazah sehingga ia menshalatkannya maka baginya satu pundi pahala. Dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga dikuburkannya maka baginya dua pundi pahala”. Dikatakan, “seperti apa dua pundi itu ?”. Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab : “Seperti dua Gunung besar”. [HR. Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin bersama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Surga ?
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Aku dan orang yang menyantuni anak Yatim seperti ini di Surga”. Beliau shallallahu alaihi wasallam mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. [HR. Bukhari]
  • Apakah anda ingin mendapatkan pahala seorang Mujahid atau pahala orang Shaum atau Tahajjud ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Orang yang menyantuni janda yang ditinggalkan oleh suaminya dan orang yang menyantuni orang miskin seperti Mujahid fi Sabilillah”. Dan aku mengira Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seperti orang yang tidak henti melakukan Tahajjud dan seperti orang yang Shaum tidak berbuka (sepanjang tahun). [HR. Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin mendapatkan jaminan pribadi dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk masuk Surga ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua jenggotnya (mulut/lidahnya) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin Surga baginya” [Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin agar amalan anda tidak terputus walaupun setelah anda wafat ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara ; Sadaqah Jariyah, ‘ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang senantiasa mendoakannya” [HR. Muslim]
  • Apakah anda ingin memiliki harta simpanan di Surga ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Laa Hawla walaa quwwata illah billah” (Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas izin Allah), adalah salah satu perbendaharaan dari perbendaharaan Surga”. [Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin mendapatkan pahala Qiyamullail (shalat malam) sepanjang malam ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang shalat ‘isya secara berjama’ah, maka seakan-akan ia telah Tahajjud setengah malam dan barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh secara berjama’ah, maka seakan-akan ia telah Tahajjud sepanjang malam”. [HR. Muslim]
  • Apakah anda ingin membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu menit ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Qul Huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlash) setimpal dengan sepertiga Al-Qur’an”. [HR. Muslim]
  • Apakah anda ingin timbangan kebaikan anda bertambah berat ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Dua kalimat yang dicintai oleh Yang Maha Pemurah, ringan diucapkan, namun berat timbangannya di Sisi Allah, yakni ‘Subhanallahi wa bihamdihi dan subhanallail ‘adziim”. [HR. Bukhari]
  • Apakah anda ingin dimudahkan rezki dan dipanjangkan usia anda ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezkinya atau dipanjangkan usianya, maka hendaknya ia menyambung tali persaudaraan”. [HR. Bukhari]
  • Apakah anda ingin Allah senang berjumpa anda ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang merindukan berjumpa dengan Allah, maka Allah merindukan pula berjumpa dengannya”. [HR. Bukhari]
  • Apakah anda ingin dilindungi oleh Allah ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh, maka ia ada dalam perlindungan Allah”. [HR. Muslim]
  • Apakah anda ingin agar dosa perbuatan anda diampuni oleh Allah ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang mengatakan ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ dalam satu hari seratus kali, maka akan dihapuskan dosanya walaupun seperti buih di lautan”. [Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin dijauhkan dari Neraka sejauh tujuh puluh tahun ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Barangsiapa yang melaksanakan Shaum (Puasa) di Jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari Api Neraka , sejauh tujuh puluh musim gugur”. [HR. Bukhari]
  • Apakah anda ingin Allah Azza wa jalla bershalawat (memberikan rahmat) kepada hamba-Nya ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku dengan satu shalawat, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali ? [Muttafaqun ‘alaihi]
  • Apakah anda ingin diangkat derajat anda oleh Allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya : “Tidak merendahkan diri seseorang karena Allah, kecuali Allah subhanahu wa ta'ala akan mengangkat derajatnya”. [HR. Muslim]

----------------------------------
Begitu banyak jalan untuk memenuhi undangan Allah. Sayangnya kita masih lebih bersegera memenuhi undangan makan siang, atau makan malam dari kolega, undangan pesta ini dan itu yang di dalamnya banyak terdapat kemungkaran, daripada bersegera memenuhi undangan Allah dan Rasul-Nya. Wallahu musta'an!


thank you