Jumat, 24 Desember 2010

Mengusir Rasa Gundah dan Resah Kala Usia Senja Tiba


Oleh :Ustadz Zaenal Abidin, LC

( al-Mawaddah Edisi 12 Tahun 1 )
Bersyukur atas Karunia Umur

Alloh telah mencurahkan kenikmatan yang banyak dan karunia yang tidak terkira kepada manusia, maka menjadi suatu kewajiban bagi hamba Alloh untuk bersyukur, sementara syukurnya manusia merupakan tujuan akhir dari penciptaannya, sebagaimana firman Alloh :
Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. { QS. an-Nahl [16]: 78 }
Hidup manusia di alam fana tidak terlepas dari nikmat dan rohmat Alloh . Nikmat yang dikaruniakan Alloh kepada manusia tidak terhitung jumlahnya, sebagaimana firman Alloh :

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. an Nahl [16]: 18 )
Kalau kita perhatikan dengan saksama anggota badan kita seperti kaki, tangan, perut, mulut, telinga, hidung dan mata, sudah cukup bagi kita untuk membuat kesimpulan betapa kuasa, agung dan murahnya Alloh . Anggota badan manusia ini dijadikan Alloh dengan rapi dan lengkap, sehingga dapat bergerak dan berfungsi serentak pada waktu yang sama. Sambil melihat, kita dapat bercakap-cakap, mendengar dan berjalan. Sungguh luar biasa karunia-Nya.
Tiada kenikmatan apapun wujudnya yang dirasakan manusia melainkan datang dari Alloh . Atas dasar itulah Alloh mengajak manusia agar senantiasa bersyukur kepada-Nya. Karena dengan terus mengingat dan mengakui bahwa kenikmatan tersebut datang dari Alloh kemudian diwujudkan dengan ucapan hamdalah dan disempurnakan dengan amal sholih sembari menafkahkan sebagian kekayaan di jalan yang diridhoi Alloh , maka karunia dan nikmat Alloh akan makin bertambah.
Alloh berfirman:
Dan (ingatlah juga) tatkala Robb-mu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”. (QS. Ibrohim [14]: 7)
Syaikh Shiddiq Hasan Khan berkata (mengomentari makna firman Alloh di atas -red): “Jika kalian bersyukur terhadap nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian, seperti yang dituturkan di atas, termasuk nikmat keselamatan dan yang lainnya, dengan cara beriman secara baik dan beramal sholih maka Aku akan menambah kenikmatan di atas kenikmatan sebagai karunia dari-Ku“.(1)
_________________________________(1)“Lihat Tafsir Fathul Bayan karya Shiddiq Hasan Khan (3/528)“
Manfaat dan Faedah Bersyukur
Manfaat bersyukur tidak akan bisa dirasakan kecuali oleh pelakunya sendiri. Dengan bersyukur ia berhak mendapat kesempurnaan nikmat yang telah diraihnya, dan nikmat tersebut akan kekal dan bertambah. Sebagaimana syukur juga berfungsi untuk mengikat kenikmatan yang telah ia dapat seraya menggapai kenikmatan yang belum tercapai.
Para nabi pun senantiasa memerintahkan kaumnya agar selalu bersyukur. Nabi Ibrohim berkata kepada kaumnya:
Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan.(QS. al-Ankabut [29]: 17)
Do’a yang paling utama ialah memohon pertolongan kepada Alloh dalam mencari keridhoan-Nya; yaitu dengan mensyukuri nikmat-nikmatnya sembari rajin beribadah kepada-Nya.
Semua kenikmatan apabila tidak bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Alloh , maka ia sesungguhnya adalah Bala’. Karena itu wajib atas kita semua untuk senantiasa bersyukur atas segala kenikmatan-Nya, sebab nikmat yang tercabut dari suatu kaum amat jarang kembali lagi kepada mereka. Jika anda melihat Alloh terus-menerus mencurahkan kenikmatan-Nya kepada anda padahal anda bermaksiat kepada-Nya maka waspadalah!!
Ketika Manusia Mengalami Masa Lansia (Usia Senja)
Setiap manusia pasti mengalami sunnah perubahan dalam hidup sangat dinamis, ada yang saat belum dilahirkan sudah meninggal, ada pula yang begitu dilahirkan meninggal, dan ada pula yang tumbuh menjadi anak yang lucu, sampai dewasa dan bahkan ada yang sampai lanjut usia sebagaimana firman Alloh :
Alloh menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. an-Nahl [16]: 70)
Ibnu Katsir berkata: “Alloh mengabarkan tentang perlakuan-Nya kepada hamba-Nya. Dialah yang menciptakan manusia dari tidak ada kemudian setelah itu diwafatkan, namun di antara mereka ada yang diberi umur hingga lanjut usia yaitu kondisi lemah dalam bentuk ciptaan.”(2)
_________________________________(2)  Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/409)
Perubahan ini bukan suatu yang aneh, tetapi merupakan sunnatulloh yang harus diterima. Ketika manusia berubah menjadi tua, berarti mereka akan mengalami perubahan fisik dari kuat menjadi lemah dan dari gagah menjadi loyo lagi tak berdaya. Dan perubahan itu akan makin membawa problem tersendiri ketika mereka tidak mampu memelihara dan menanganinya dengan baik. Maka bagi seorang muslim, persoalannya bukan panjang atau pendeknya umur, namun keberkahan hidup yang diraih dalam mengarungi bahtera hidup semasa menghabiskan umurnya.
Indahnya Hidup Di kala Usia Senja
Alloh menciptakan alam semesta dalam kondisi yang teratur, pergantian siang dan malam selalu membuahkan cerita romantika baru. Jenis manusia laki dan wanita menjadi pelengkap indahnya hidup, matahari yang memberikan sumber energi bagi kehidupan dunia terus bertasbih mengelilingi bumi. Dihamparkan ladang yang lengkap dengan berbagai tanaman dan pepohonan untuk menjadi sumber rezeki manusia, dan beragam binatang, makanan dan minuman diciptakan agar dapat dikonsumsi oleh manusia. Alam beserta isinya diciptakan Alloh agar manusia mampu mengolah dan memanfaatkannya demi meraih kebahagiaan dan mensyukurinya. Maka Alloh berfirman:
Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rohmat Tuhan-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. az-Zukhruf [43]: 32)
Kebahagiaan di usia senja merupakan harapan semua manusia, apalagi di zaman sekarang, zaman yang penuh fitnah, lemah aqidah, rendah peradaban, rusak moral dan maraknya kemaksiatan.
Namun sungguh sangat disayangkan karena banyak manusia telah salah memahami makna bahagia. Mereka memaknai bahagia hanya sebatas kehidupan dunia belaka yaitu bila kepuasaannya terpenuhi, keinginannya tergapai dan cita-citanya tercapai. Sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk meraih manisnya materi, bahkan mereka rela menerjang syari’at untuk bisa bahagia.
Terbayang di pelupuk mata kita, bahagia di usia senja adalah saat seseorang melewati masa tuanya dengan penuh kecukupan materi, anak-anaknya pun sudah mapan kehidupan materinya, dan tidak ada problem dalam kehidupannya. Sehingga orang yang tidak mendapatkannya dianggap orang yang paling menderita.
Manusia yang paling bahagia ialah mereka yang mampu mempergunakan nikmat Alloh sebagai washilah (perantara) untuk meraih keridhoan Alloh dan kesuksesan akhiratnya serta memiliki suasana batin yang tenang, mental terkontrol, emosi terkendali serta lapang dada dan qona’ah (berpikir positif) dalam menghadapi setiap problem hidup. Dan semuanya akan tercapai setelah merealisasikan aqidah yang bersih dan akhlaq yang mulia.
Sementara orang yang paling menderita dan celaka ialah mereka yang menjadikan kenikmatan tersebut sebagai pemuas hawa nafsunya belaka.
Alloh berfirman:
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezholiman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-An’am [6]: 82)
Ibnu Katsir berkata: “Mereka yang meng-ikhlas-kan ibadah karena Alloh saja, tiada sekutu bagi-Nya dan mereka tidak berbuat syirik sekecil apapun, maka mereka aman pada hari Kiamat dan mendapat hidayah di dunia dan akhirat.” (3)
_________________________________(3)  Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/409)
Panjang Umur dengan Silaturrahmi
Seorang muslim yang telah lanjut usia harus menghiasi hidupnya dengan silaturrahmi, baik dengan kerabat maupun sesama kaum muslimin dalam rangka mencari ridho Alloh . Dengan bersilaturrahmi, keberkahan umur dan rezeki akan diraih, dan derajat mulia akan tercapai di sisi Alloh .
Alloh berfirman:
Orang-orang yang merusak janji Alloh setelah diikrarkan dengan teguh, dan memutuskan apa-apa yang Alloh perintahkan supaya disambung, dan mengadakan kerusakan di bumi. Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan, dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (QS. ar-Ra’d [13]: 25)
Dari Anas bin Malik bahwa Rosululloh bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan ditambah umurnya maka hendaklah melakukan silaturrahmi.” (4)
Silaturrahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik terhadap orang-orang yang telah berbuat baik terhadap kita, namun silaturrahmi yang sejati adalah menyambung hubungan dengan orang-orang yang telah memutuskan tali silaturrahmi dengan kita.
Dari Abdulloh bin Amr dari Nabi bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung silaturrahmi adalah orang yang membalas kebaikan, namun orang yang menyambung silaturrahmi adalah orang yang menyambung hubungan dengan orang yang telah memutuskan silaturrahmi.”(5)
_______________________________________________________________(3)  Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/212)
(4)   Lihat Shohih Abu Dawud: 1486, Shohih Adabul Mufrod: 56, Shohih Muslim Bab al-Birru was Silah, Hadits ke-20
(5)  Lihat Shohih Adabul Mufrod: 68 Bab Laisal Wasil bil Mukafi’
Di antara amal sholih yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup, dan ibadah yang berpahala besar adalah menyambung tali silaturrahim. Ini merupakan upaya menjalin hubungan baik dengan setiap orang yang terkait hubungan nasab dengan kita.
Yang dimaksud dengan ditunda ajalnya ialah umurnya diberkahi, diberi taufik untuk beramal sholih, dan tidak mengisi waktunya dengan berbagai amalan yang tidak berguna. Atau menjadikan namanya harum dan senantiasa dikenang manusia, atau benar-benar umurnya ditambah oleh Alloh .
Rosululloh bersabda: “Barang siapa menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Alloh maka penyeru akan menyerukan,’Anda mempunyai perilaku yang baik, dan anda telah menyiapkan suatu tempat di Surga.’” (HR. Tirmidzi: 2002)
Bersikap Seimbang dalam Mencari Ilmu dan Harta
Memang benar, hidup yang berkecukupan maka menuntut ilmu menjadi mudah, beribadah menjadi lancar, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul makin indah, berdakwah makin sukses, berumah tangga makin stabil dan beramal sholih makin tangguh. Oleh karena itu, harta di tangan seorang mu’min tidak akan berubah menjadi sarana perusak kehidupan dan tatanan sosial serta penghancur kebahagiaan keluarga dan pilar-pilar rumah tangga. Sebaliknya, harta di tangan seorang muslim bisa berfungsi sebagai sarana penyeimbang dalam beribadah dan perekat hubungan dengan makhluk.
Menurut pandangan Ahli-Sunnah wal Jama’ah, tidak ada dikotomi (pertentangan) antara mencari ilmu dengan mencari nafkah, bahkan harus saling menopang dan harus ada kerja sama secara produktif dan simultan (bersamaan). Oleh sebab itu, tidak benar bila ada wacana bahwa orang yang mencari ilmu tidak perlu memikirkan urusan ma’isyah (nafkah), dan sebaliknya orang yang mencari nafkah tidak perlu mengganggu profesinya dengan menuntut ilmu agar tidak merusak kariernya. Hal itu sebuah paradigma (pemikiran) yang keliru dan anggapan yang menyesatkan sebab Alloh berfirman:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Alloh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. al-Qoshosh [28]: 77)
Ayat mulia di atas memiliki makna sebagai berikut : Pergunakanlah harta kekayaanmu dan kenikmatan melimpah yang telah diberikan kepadamu sebagai bentuk pemberian dan karunia Alloh untuk menunaikan ketaatan dan kebaikan yang bisa mendekatkan dirimu kepada-Nya. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan hubungan biologis, karena Tuhanmu memiliki hak atasmu dan dirimu memiliki hak atasmu, keluargamu punya hak atasmu dan kekuatan tubuhmu juga memiliki hak atasmu maka berikanlah masing-masing hak sesuai dengan porsinya. (6)
Maka hal itu bisa diperoleh dengan ilmu yang dimiliki dan juga usaha yang optimal dalam memenuhi nafkah hidup dengan tetap beribadah kepada Alloh . Satu hal lagi yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim adalah etos kerja yang benar dalam bekerja.
Bertaubat Kepada Alloh
Tiada suatu bekal yang paling bagus untuk menuju ke kampung akhirat melainkan persiapan menyambut kematian dengan memperbanyak bertaubat kepada Alloh , menguatkan keimanan dan ketaqwaan dan mendekatkan diri kepada Alloh dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sebagaimana perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rezeki dari pelakunya, maka sebaliknya taubat dan istighfar merupakan salah satu faktor yang dapat mendatangkan rezeki dan keberkahan baginya. Alloh menceritakan tentang Nabi Hud berkata:
Dan (dia berkata): “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”.(QS. Hud [11]: 52)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Seorang hamba senantiasa berada di atas kenikmatan dari Alloh yang perlu disyukuri dan dosa yang butuh permohonan ampun, maka semua itu adalah perkara yang harus senantiasa dimiliki oleh setiap hamba. Karena dia selalu bergelimang dengan nikmat Alloh dan karunia-Nya setiap saat yang belum sepenuhnya disyukuri, sehingga selalu butuh kepada taubat dan istighfar.” (7)
_______________________________________________________________(6)   Lihat Tafsir ath-Thobari juz 20/71, Tafsir al-Baghowi juz, 6/221 dan 71, Tafsir Ibnu Katsir juz 5/129
(7) Lihat Tuhfatul Iraqiyah karya Ibnu Taimiyyah, hal.457
Oleh karena kebahagiaan yang sejati adalah kesuksesan seseorang meraih surga dan selamat dari api neraka, bukan bergelimang harta di kala usia senja, maka Alloh berfirman:
Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya adalah Surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (QS. Hud [11]: 108)

Persiapan Menuju Kampung Akhirat
Pandangan yang benar terhadap dunia adalah pandangan yang menganggap bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta, kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana menuju akhirat. Karena itu pada hakikatnya dunia tidak tercela karena dirinya, tetapi pujian atau celaan tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia merupakan jembatan penyeberangan menuju kampung akhirat.
Selayaknya kita bersiap diri meninggalkan kampung dunia menuju kampung akhirat dengan selalu menambah simpanan amal kebaikan dan bersegera memenuhi panggilan Alloh . Ali bin Abi Tholib berkata:  “Sesungguhnya dunia telah habis berlalu dan akhirat makin mendekat, dan di antara keduanya masing-masing mempunyai anak keturunan. Dan jadilah kalian anak keturunan akhirat dan jangan menjadi anak keturunan dunia karena sekarang kesempatan beramal tanpa ada hisab dan besok di akhirat kesempatan hisab dan tidak ada kesempatan beramal.
Perkataan Ali yang juga menjelaskan tentang dunia adalah : “Halalnya adalah perhitungan dan haramnya adalah neraka.”
Wahai saudaraku kaum muslimin, ingatlah akan 4 hal:
  1. Aku tahu bahwa rezeki-ku tidak akan dimakan orang lain, maka tenteramlah jiwaku.
  2. Aku tahu bahwa amalku tidak akan dilakukan orang lain, maka akupun disibukkannya.
  3. Aku tahu bahwa kematian akan datang tiba-tiba, maka aku segera menyiapkannya.
  4. Aku tahu bahwa diriku tidak akan lepas dari pantauan Alloh , maka aku akan merasa malu kepada-Nya.
Orang yang mengosongkan hatinya dari keinginan dunia akan merasa ringan tanpa beban. Dia akan menyongsong Alloh dan mempersiapkan diri untuk datangnya perjalanan. Mengosongkan hati untuk dunia yang fana bukan berarti meninggalkan dunia kerja, enggan mencari kehidupan dunia dan tidak mencoba berusaha. Islam sendiri memerintahkan untuk bekerja dan menganggapnya sebagai satu jenis jihad, bila dengan niat yang tulus dan memenuhi syarat amanah dan ikhlas serta tidak melanggar syari’at.

Rabu, 22 Desember 2010

Permata Umat

WAHAI SAUDARIKU MUSLIMAH
SELAMATKAN DIRIMU DARI SIKSAAN NERAKA
Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ
” Aku pernah berdiri di pintu sorga , maka keumuman orang yang memasukinya adalah orang-orang yang miskin , dan orang-orang yang berharta tertahan ( untuk di hisab ) kecuali yang menjadi penduduk neraka , mereka diperintahkan memasuki neraka , dan aku pernah berdiri di pintu neraka , ternyata keumuman orang yang memasukinya adalah kaum wanita ” . (1)
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
” Aku pernah memperhatikan surga , maka aku lihat kebanyakan penduduknya adalah kaum fakir , dan aku pernah memperhatikan neraka , maka aku lihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita ” . (2)
كَانَ لِمُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ امْرَأَتَانِ فَجَاءَ مِنْ عِنْدِ إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ الْأُخْرَى جِئْتَ مِنْ عِنْدِ فُلَانَةَ فَقَالَ جِئْتُ مِنْ عِنْدِ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ فَحَدَّثَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَقَلَّ سَاكِنِي الْجَنَّةِ النِّسَاءُ
Bahwasanya Mutharrif bin Abdullah memiliki dua istri , ketika dia datang dari sisi salah satu dari keduanya , maka istri yang lain berkata ; engkau datang dari sisi Fulanah , maka dia berkata ; saya datang dari sisi Imron bin Husain , dia telah mengabarkan kepada kami bahwasanya rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda ; ” Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah kaum wanita ” .(3)
Kaum wanita menjadi mayoritas penduduk neraka hanyalah disebabkan perbuatan-perbuatan mereka .
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
Artinya : ” Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (QS Al Kahfi : 49)
Al Imam Al Qurthubi berkata : ” Sesungguhnya kaum wanita sebagai minoritas penduduk surga karena dikuasai oleh hawa nafsu , cenderung kepada perhiasan dunia yang sementara , dan berpaling dari akhirat dikarenakan kurangnya akal mereka serta cepat tertipu ” .
Beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ , فَقُلْنَ : وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ , وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ , مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ , قُلْنَ : وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ ؟ قُلْنَ : بَلَى . قَالَ : فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا. أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ ؟ قُلْنَ : بَلَى . قَالَ : فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا.
” Wahai kaum wanita bersedekahlah kalian , sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku bahwa kalian sebagai mayoritas penduduk neraka . Maka mereka ( kaum wanita ) berkata : Disebabkan apa wahai rasulullah ? Beliau berkata : Kalian banyak melaknat , mengingkari kebaikan keluarga ( suami ) , aku tidaklah melihat kaum yang kurang akal dan agamanya, yang dapat menghilangkan akal seorang laki-laki yang kokoh hatinya, selain salah seorang dari kalian . Mereka berkata : apa yang dimaksud dengan kurang agama dan akalnya wahai rasulullah ? Beliau berkata : Bukankah persaksian seorang wanita seperti setengah persaksian seorang laki-laki ? Mereka berkata : benar , maka beliau katakan ; Demikianlah yang menunjukkan kekurangan akalnya . Bukankah jika dia haidh tidak sholat dan tidak puasa ? Mereka berkata ; benar . Beliau berkata : Demikianlah yang menunjukkan kekurangan agamanya “. (4)
Di dalam hadis ini beliau shalallahu alaihi wasallam memberitakan kepada kita tentang beberapa perbuatan kaum wanita yang menyebabkan mereka menjadi mayoritas penduduk neraka , yaitu :
- Banyak berkata dengan perkataan yang jelek seperti melaknat dan mencela , dan ini tergolong perbuatan dosa besar .
- Mengingkari kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh suami kepadanya yang berarti dia telah kufur nikmat, dan mengkufuri nikmat adalah diharamkan .
- Menjadikan hilangnya akal seorang laki-laki sehingga dia berkata dan berbuat yang tidak pantas untuk menyenangkannya, maka wanita tersebut ikut mendapatkan dosanya .
Beberapa perbuatan dosa yang lain yang dilakukan banyak kaum wanita di masa kini , diantaranya :
- Menyerupai kaum laki-laki dalam berpakaian dan berhias , dan ini adalah perbuatan dosa besar karena rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah melaknat kaum wanita yang menyerupai kaum laki-laki dan sebaliknya ;
Beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan wanita yang menyerupai kaum laki-laki (5)
- Memakai parfum , kemudian melewati majlis kaum laki-laki , sehingga membangkitkan syahwat kaum laki-laki untuk menzina-inya ;
Beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً
” Setiap mata itu berzina , seorang perempuan yang memakai parfum lalu dia melewati majlis ( laki-laki ) maka dia demikian dan demikian yaitu wanita yang berzina ” .(6)
- Sombong karena fisiknya terlihat indah dan cantik ketika memakai pakaian yang mewah ;
Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
” Tidaklah masuk sorga seseorang yang di dalam hatinya ada sifat kesombongan sebesar biji sawi ” .
- Suka menggibahi saudaranya yang lain , ini termasuk perbuatan dosa besar , sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan :
-
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
” Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang ” . (QS Al Hujurat : 12)
- Talawwun ( bermuka dua ) yaitu mendatangi satu kelompok manusia dengan menunjukkan bahwa dirinya bersama mereka dan menyelisihi lawan mereka , dengan maksud membuat kerusakan di antara mereka dan meraih kuntungan untuk dirinya sendiri; lalu mendatangi kelompok yang lain dan menunjukan bahwa dirinya bersama mereka dengan maksud yang sama.
Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ
” Sesungguhnya manusia yang paling jahat adalah seseorang yang memiliki dua muka , yaitu yang mendatangi mereka dengan satu muka dan mendatangi yang lain dengan muka ( yang lain ) ” .(7)
- Bepergian ( safar ) tanpa mahrom , dengan safar demikian ini dirinya tidak aman dari fitnah .
Beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
لَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ , وَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ , فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ , فَقَالَ : اخْرُجْ مَعَهَا.
” Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahromnya , maka ada seorang laki-laki berkata : Wahai rasulullah sesungguhnya saya ingin keluar bergabung dengan tentara ini dan itu , sedangkan istri saya hendak menunaikan haji , maka beliau katakan : ” Keluarlah kamu bersamanya (istri)” .
- Sering masuk ke pasar-pasar padahal tidak ada keperluan ( hajat ) yang mendesak , lalu dia banyak bicara dengan para penjual dan selainnya dari kaum laki-laki sehingga terjadilah fitnah ;
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
” Wanita adalah aurat , maka jika dia keluar ( dari rumahnya ) syetan menampakkannya indah ( di hadapan laki-laki ) ” . (8)
- Berbaur dengan laki-laki yang bukan mahromnya ( ikhtilath ) dalam suatu ruangan , demikian ini mendatangkan fitnah dan kebinasaan dalam agamanya .
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ
” Hati-hatilah kalian dari memasuki kaum wanita , ada seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata ; Wahai rasulullah bagaimana pendapat anda tentang ipar . Maka beliau berabda : ” Ipar adalah membinasakan ” .
Masih banyak kemungkaran yang lain yang dilakukan oleh kebanyakan kaum wanita yang menyebabkan mereka terjerumus ke dalam neraka. Maka kaum wanita yang menghendaki keselamatan dari adzab Allah Ta’ala, hendaklah menyerahkan diri mereka kepada syariat-Nya , janganlah ikut melakukan kebodohan meskipun banyak wanita yang melakukannya , janganlah ikut melakukan kemaksiatan meskipun banyak kaum wanita berbuat maksiat , janganlah tertipu dengan kebanyakan kaum wanita yang melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Artinya :” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) ” . (QS Al An’am : 116).
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ (103)
Artinya :” Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya- ” (QS Yusuf : 103 )
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Artinya :” Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”.(QS Saba : 13) .
Jika engkau ( wahai wanita muslimah ) menginginkan kemuliaan di dunia dan di akhirat , yakni keberuntungan dengan meraih surga dan jauh dari adzab neraka , maka laksanakanlah perintah-perintah Allah , jauhilah larangan-larangannya , dan pegangilah Al Kitab dan As Sunnah di atas pemahaman salaf ( pendahulu kita ) yang shalih .
Dia, Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya :” Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ” . (QS Ali Imron : 101 .)
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (52)
Artinya : ” Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan ” . (QS An Nur : 52)
وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ (170)
Artinya :” Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab ( Al Qur’an ) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan ” . (QS Al A’raf : 170 )
Allah Ta’ala berfirman :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya :”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih ” . (QS An Nur : 63 )
Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
” Setiap umatku akan masuk sorga kecuali yang enggan memasukinya. Mereka ( para sahabat ) berkata : Wahai rasulullah siapa yang enggan memasukinya ? Beliau berkata : Siapa yang mentaatiku maka dia masuk sorga , dan siapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia enggan memasukinya ” .(9)
مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي
” Perumpamaan aku dan kalian seperti seseorang yang menyalakan api , lalu belalang-belalang akan jatuh di dalamnya dan dia berupaya menolaknya dari api ( agar tidak terjatuh ke dalamnya ) . Sementara aku memegangi pinggang kalian dari api neraka ( agar tidak terjatuh ke dalamnya ) , sedangkan kalian terlepas dari pegangan tanganku ” .(10)
وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ
“Saya tinggalkan dua perkara yang berat(11) kepada kalian, yang pertama dari keduanya adalah Kitab Allah yang mengandung petunjuk dan cahaya, maka ambillah kitab Allah dan pegangilah ia…”(12)
وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ
“Ingat dan sesungguhnya saya meninggalkan kepada kalian dua perkara yang berat, yang salah satunya adalah Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mana ia adalah tali Allah, barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia di atas kesesatan”.
Saya memohon kepada Allah agar nasihat ini berguna bagi setiap yang membacanya , sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia .
Shalawat dan salam yang banyak semoga tetap tercurah atas nabi kita Muhamad , atas keluarganya dan sahabatnya .
سبحانك اللهم وبحمدك , لا إله إلا أنت , أستغفرك و أتوب إليك .
Footnote :
1 Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim di dalam ” Shahih Keduanya ” dari sahabat Utsamah bin Zaid .
2 Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim di dalam ” Shahih Keduanya ” dari sahabat Ibnu Abbas .
3 Dikeluarkan oleh Muslim di dalam ” Shohihnya “
4 Dikeluarkan oleh Bukhori di dalam ” Shohihnya ” dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallahu anhu , dan Muslim di dalam ” Shohihnya ” dari sahabat Abdullah bin Umar .
5Dikeluarkan oleh Bukhori di dalam ” Shohihnya ” dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhuma .
6 Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad , Tirmidzi , Nasai dan Abu Dawud dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari , dan Tirmidzi mengatakan hadis hasan sohih dan disohihkan juga oleh Al Imam Ibnu Hibban dan Hakim .
7 Dkeluarkan oleh Bukhori dan Muslim di dalam ” Shohih Keduanya ” dari sahabat Abu Hurhairoh radhiyallahu anhu.
8 Diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam ” Sunannya ” , dan dia mengatakan hadis hasan yang asing , dan dishohihkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah , dan di dalam lafadz keduanya terdapat tambahan pada akhirnya ; ” Dan dirinya sangat dekat dengan Wajah Tuhannya ketika di dalam rumahnya ” .
9 Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim di dalam ” Shohih Keduanya ” dari sahabat Abu Hurhairoh rhadhiyallahu anhu dengan lafadz yang sedikit berbeda .
10Dikeluarkan oleh Muslim di dalam ” Shahihnya ” , dan Al Imam Ahmad di dalam ” Musnadnya ” dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma .
1 Kedua perkara ini dinamakan sesuatu yang berat karena agung dan besarnya perkara keduanya atau karena beratnya pengamalan keduanya, Syarah Shohih Muslim An Nawawi.
2 Dikeluarkan oleh Muslim di dalam ” Shahihnya ” dari sahabat Zaid bin Arqam rodhiyallahu anhu .
REFERENSI :
1- Al Qur’an Al Karim
2- Shohih Bukhori dengan syarahnya Fathul Bari
3- Shohih Muslim dengan syarahnya An Nawawi
4- Sunan Tirmidzi dengan syarahnya Tuhfatul Ahfadzi
5- Sunan Abu Dawud dengan syarahnya Aunul Ma’bud
6- Sunan Nasai
7- Musnad Al Imam Ahmad
8- Shohih Ibnu Hibban
9- Shohih Ibnu Huzaimah
10- Nasihati Linnisa karya Umu Abdillah Al Wadi’iyyah
11- Sab’un Mukholafatan Taqa’u fihan Nisa.
Sumber Buletin Al Hikmah, Semarang No. 12/I/1428H
Dikirim via email darussalaf@yahoo.co.id oleh Al Akh Abu Zubair Eko Ardi,
http://darussalaf.or.id/stories.php?id=720

Apa gayamu dalam BERHIJAB (BERJILBAB)?




1. Apakah engkau “KADANG-KADANG BERHIJAB (BERJILBAB)”?


 
  • Apakah engkau berhijab hanya ketika menghadiri pengajian atau membaca Al Qur’an?
  • Apakah engkau berhijab saat berada di Arab Saudi dan engkau lupa bahwa engkau adalah seorang muslimah begitu pesawatmu mendarat di negara lain?
  • Apakah engkau berhijab ketika keluar rumah, tetapi memajang foto-fotomu di FB agar dapat dilihat orang lain? (Saudariku yang kucintai dalam Islam, sekali pun engkau membatasi orang-orang yang melihat fotomu dan hanya teman-teman di FB-mu yang bisa melihatnya, WASPADALAH, siapa saja bisa menyimpan foto kita dan melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan engkau tidak akan pernah tahu untuk tujuan apa fotomu dimanfaatkan. Belum lagi fakta bahwa teman-temanmu bersama orang lain saat mereka melihat foto-fotomu, yang merupakan non-mahrommu!! Allohul musta’aan)

2. Apakah engkau “SETENGAH-SETENGAH DALAM BERHIJAB (BERJILBAB)”?
  • Apakah adakalanya engkau mengerudungi kepalamu saja, tetapi tetap mengenakan celana jeans ketat atau pakaian lainnya yang ketat dan membentuk lekuk tubuhmu? (Faktanya banyak muslimah yang melakukannya, dan ini merupakan suatu bentuk penghinaan terhadap hijab!)
  • Apakah engkau mengerudungi kepalamu tetapi menampakkan sebagian dari rambutmu, baik di depan atau di belakang, agar engkau terlihat lebih cantik?
  • Apakah engkau menutup tubuhmu dengan sempurna, tetapi abaya atau gamis yang engkau kenakan tampak menarik, warna-warni, berenda, berbordir dan berpayet sehingga manarik perhatian orang lain dan sejatinya membutuhkan abaya atau gamis lain untuk menutupi semua perhiasan itu?

Apa sebenarnya maksud di balik semua ini??? Apa lagi kalau bukan untukMENARIK PERHATIAN lawan jenis? Apakah engkau akan berhias sedemikian rupa jika tidak ada lawan jenis di sekitarmu?




Untuk yang belum mengetahuinya, Hijab harus dikenakan di hadapan non-mahrom kita (sebagian besar lawan jenis) dan Alhamdulillah, kita diizinkan untuk berhias jika berada di hadapan mahrom kita (suami, ayah, saudara laki-laki, paman dari pihak ayah dan ibu, kakek, anak laki-laki, ayah mertua, anak laki-laki dari saudara laki-laki, anak laki-laki dari saudara perempuan, menantu laki-laki dan anak laki-laki yang belum aqil baliq) dan dalam pertemuan yang hanya dihadiri oleh muslimah.

Camkan hadits berikut ini:
Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Saudariku yang kucintai karena Allah, pernahkah engkau berpikir tentang tujuan dari Hijab???

Mengapa kita harus mengenakan Hijab? 
  • Karena tidak ada pilihan lain kecuali mengenakannya saat berada di Saudi Arabia?
  • Karena orangtuamu memerintahkan engkau melakukannya?
  • Karena orang-orang di sekitarmu mengenakannya?

ATAU ADA ALASAN LAIN YANG LEBIH PENTING UNTUK MELAKUKANNYA?
Apakah engkau merasa tertindas saat mengenakannya??? Jujurlah pada dirimu sendiri.

Perhatikan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang hal ini.
Alasan mengapa Dia memerintahkan Hijab bagi wanita disebutkan dalam Qur’an pada ayat berikut di surat Al-Ahzab:

Allah berfirman (yang artinya):

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 33 : 59)

Qur’an menyebutkan bahwa Hijab telah diperintahkan kepada kaum wanita sehingga mereka dikenali sebagai wanita yang tidak menonjolkan diridan dengan demikian mereka akan terhindar dari gangguan.

Mari sekarang kita analisis: Mengapa Muslimah mengenakan Hijab? 

1. Karena ini adalah perintah Allah. Allah memerintahkan kita dan kita menta’atinya, sederhana bukan? Agar Allah ridho terhadap kita, maka kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena Dia-lah yang menciptakan kita dan segala hal di sekitar kita, dan Dia menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya. Itulah alasan mengapa kita sekarang ada di dunia dan kita akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita semasa hidup. Allah berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS 51:56).

2. Kita ini berharga. Nasihat juara dunia tinju Muhammad Ali kepada anak perempuannya: “Hana, segala sesuatu ciptaan Allah yang berharga di muka bumi ini senantiasa tertutup dan sulit untuk didapatkan. Di manakah engkau menemukan berlian? Jauh di dalam tanah, tertutup dan terlindungi. Di manakah engkau menemukan mutiara? Jauh di dasar samudera, tertutup dan terlindungi dalam sebuah cangkang yang keras. Di manakah engkau menemukan emas? Jauh di dalam tanah yang ditambah, tertutup oleh banyak lapisan batuan... Engkau harus bekerja keras untuk mendapatkannya.” Ia memandang dengan tatapan mata yang serius. “Demikian pula tubuhmu. Jauh lebih berharga dari pada berlian dan mutiara, maka engkau juga harus mengenakan hijab agar tertutup.”

3. Ini adalah hak kita. Ketika seorang wanita berhijab, maka pria tidak dapat menilai melalui penampilannya, melainkan melalui kepribadian, karakter dan moralnya. Hijab adalah suatu tanggung jawab DITAMBAH hak yang diberikan oleh Allah kepada kita, Allahu a’lam. Inilah keutamaan bagi kita, lantas apa yang menghalangi engkau dari mengenakannya? Mengapa kita harus memperlihatkan kecantikan kita kepada semua orang? Apakah itu hakikat menjadi seorang wanita? Apakah tubuh kita demikian murah? Mengapa kita ingin menjadikan diri kita objek yang tidak berharga? Tidaklah mengherankan bila tingkat pelecehan seksual meningkat, jika kita menyediakan bahan untuk kejahatan tersebut. Camkan!

Saya memperingatkan diri SAYA sendiri terlebih dahulu dan selanjutnya saudari-saudariku yang kucintai karena Allah, SIAPA TAHU ENGKAU LUPA!
Semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus kepada kita!

Saudarimu dalam Islam.

Diterjemahkan oleh: Dewinta Bintu Najm

Tidak perlu izin untuk menyebarkan tulisan ini, selama mencantumkan tautan versi tulisan asli di atas.

Selasa, 21 Desember 2010

Ketika Masuk Ke Majelis Ilmu


Imam An Nawawi rahimahullah berkata:
ويدخل  على الشيخ كامل الخصال متصفا بما ذكرناه في المعلم متطهرا مستعملا للسواك فارغ القلب من الأمور الشاغلة وأن لا يدخل بغير استئذان إذا كان الشيخ في مكان يحتاج فيه إلى استئذان وأن يسلم على الحاضرين إذا دخل ويخصه دونهم بالتحية وأن يسلم عليه وعليهم إذا انصرف كما جاء في الحديث فليست الأولى أحق من الثانية ولا يتخطى رقاب الناس بل يجلس حيث ينتهي به المجلس إلا أن يأذن له الشيخ في التقدم أو يعلم من حالهم إيثار ذلك ولا يقيم أحدا في موضعه فإن آثره غيره لم يقبل اقتداء بابن عمر رضي الله عنهما إلا أن يكون في تقديمه مصلحة للحاضرين أو أمره الشيخ بذلك ولا يجلس في وسط الحلقة إلا لضرورة ولا يجلس بين صاحبين بغير إذنهما وإن فسحا له قعد وضم نفسه
Dianjurkan ketika masuk ke majelis ilmu:
  • Beradab dengan adab yang terbaik, sama seperti yang kami paparkan tentang adab seorang guru agama.
  • Dalam keadaan bersih,
  • Sudah bersiwak,
  • Membersihkan hati dari hal-hal yang menyibukkan.
  • Jangan masuk ke dalam majelis tanpa izin, jika sang guru ngaji berada di tempat yang disyaratkan izin untuk memasukinya.
  • Masuk ke majelis sambil memberi salam kepada pada hadirin, serta mengkhususkan salam untuk sang guru. Demikian juga memberi salam ketika hendak keluar dari majelis, sebagaimana dalam hadits: ”Tidaklah salam yang pertama itu lebih berhak dari salam yang kedua”
  • Janganlah melangkahi pundak-pundak orang lain, namun duduklah di baris yang paling belakang. Kecuali jika memang diizinkan oleh sang guru, atau dari kondisi majelis saat itu memang dibutuhkan untuk menyempil ke depan, asalkan tidak membuat seseorang berdiri dari tempatnya. Jika menyempil ke depan dapat mengganggu orang lain, maka tidak boleh. Hal ini dicontohkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma. Intinya, tidak boleh menyempil, kecuali ada maslahah atau sang guru memerintahkan hal tersebut.
  • Janganlah duduk di tengah lingkaran kecuali karena darurat
  • Jangan duduk diantara dua orang yang sedang duduk berdua tanpa izin mereka berdua. Jika mereka mengizinkan barulah boleh untuk duduk diantara mereka.
Sumber: At Tibyan Fii Adaabi Hamalatil Qur’an, hal 38-39, cetakan Dar Al Haramain.


http://kangaswad.wordpress.com/2010/11/01/ketika-masuk-ke-majelis-ilmu/
thank you