Kamis, 17 Maret 2011

Maasya Allaah ..KuTemui Dirinya Dalam Keshalihan Di Dalam Penjara...!!

"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allaah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya." Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad,Bukhari dan Muslim.


Sahabat kita takkan mampu menghitung nikmat nikmat Allaah,namun terkadang kita sering mendurhakai-Nya.Betapa sering kita tertipu oleh dunia dengan segala hiasannya yang melenakan.


Banyak hal-hal yang tidak pernah kita duga ada dihadapan kita. Suka duka, sedih dan gembira adalah warna-warni kehidupan. Dunia tidak pernah menjanjikan kenikmatannya yang abadi kepada siapapun. 


Sebuah perjalanan singkat yang ingin kubagi Ibrahnya untuk diri ini khususnya dan semoga bermanfaat untuk semua.


Siang itu ana ingin menjumpai seorang teman disebuah rumah tahanan, Qaddarallaah ujian keimanan menghampiri dirinya,disaat ia sedang menata hati untuk menggapai bahagia yang hakiki yaitu ampunan Rabbnya.
Dengan maraknya kasus Bom beberapa hari ini memang agak menyulitkan ana untuk masuk kesana.


Lima Tahun yang lalu sebelum ana mengenal Manhaj Salaf, ana sering berkunjung ketempat ini, dan amat sangat mudah berada ditengah tengah para tahanan wanita. Namun untuk kali ini harapan itu tipis sekali dengan kondisi ana sekarang ini. Alhamdulillaah setelah hampir saja kembali untuk pulang karena tidak bisa masuk, Allaah mendatangkan pertolonganNya.Setelah ana bercerita bahwa dahulu lima tahun yang lalu ana pernah mengajar Iqro disana,dengan idzin Allaah ana bisa masuk.


Dengan perasaan rindu menjumpai mereka....Maasya Allaah kerinduan ini seperti semakin menjadi, ana dikejutkan dengan sambutan wanita wanita shalihah..


Tahukah Sahabat....


Kutemui wanita wanita shalihah itu dirumah tahanan dengan hijab syar'i,seperti burung gagak hitam..Maasya Allaah indahnya pemandangan ini...pemandangan yang belum pernah ana temui sebelumnya lima tahun lalu...


Seperti telah menganal lama..kami saling berpelukan bagai tak jumpa bertahun tahun. ya.....Kerinduan dan kecintaan karena Allaah sebabnya...


Sambil berbagi cerita tentang kehidupan disana dan awal mereka mendapatkan hidayah diatas Manhja salaf ini.


Badan mereka dipenjara,namun hati mereka bebas dalam mentaati Rabbnya. Jadi teringat Syaikh Ibnul Qayyim al Jauziyah, dan Imam Asy Syafi'i dalam sebuah sya'irnya.














Ilmuku senantiasa bersamaku
Dimanapun aku berada selalu memberi manfaat
Hatiku adalah tempatnya, bukan dalam lemariku
Bila aku berada di rumah, pasti ilmuku disana bersamaku
Ketika aku berada di pasar, diapun ada di pasar


(Imam Asy Syafi'i)


Sahabat badan kita tidak terpenjara...namun kadang kita tidak menyadari atau bahkan terlena ketika kita tahu hati kita terpenjara karena kelalaian .


tahukah sahabat...


Mereka tidak seberuntung kita karena hidup mereka dibatasi dinding tinggi,tapi tahukah sahabat...,mereka sungguh bahagia karena ..


dengan idzin Allaah..


Dinding tinggi itu menjadikan mereka lebih dekat dengan Rabbnya, 


Dinding tinggi itu membuat mereka lebih pandai memanfaatkan waktu untuk ketaatan.


Dinding tinggi itu membuat mereka disibukan untuk belajar dan belajar,menghafal dan menghafal....


Dinding tinggi itu selalu mengingatkan mereka tentang kekhilafan yang dilakukannya dan membuat mereka takut untuk kembali pada kemaksiatan..(bagi mereka yang Allaah beri hidayah dan berusaha keras menjemput hidayah)


Yaa Allaah Pemilik Arsy ....ampunilah kami yang lalai..
Yaa Allaah Yang Maha Pengasih tak pilih Kasih...Jagalah mereka agar hidayah itu tak lepas setelah mereka bebas..


Inilah bukti Indah dan lemah lembutnya Dakwah Tauhid, dakwah Salaf..


Untuk Sahabat sahabatku disana..


Semoga Allaah Memuliakanmu dengan Ilmu..


Mengangkat Derajatmu karena Ilmu ..


Menjadikanmu Hamba yang Rabbaniy...






Uhibbukunna fillaah...






Pondok Bambu.Kamis 12 Rabi'ul Akhir 1432 H


Sahabatmu Kiky Umaymah Farras...

Minggu, 13 Maret 2011

Kalimat-Kalimat Hikmah



“Jika engkau ingin memahami hakikat wanita, maka lihatlah dia dengan menutup kedua matamu.”
Imam Syafi’i berkata:
“Barangsiapa menasehati saudaranya secara diam-diam maka dia telah menasehatinya dan barangsiapa menasehati saudarnya secara terang-terangan [di hadapan manusia-ed], maka dia telah mempermalukannya”
Hasan Al-Bashri berkata:
“Bangunlah wahai orang yang tertipu dari kelalalainmu
Dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu
Jika Al-Khalil Ibrahim takut
Dan Musa takut
Begitu pula Al-Masih takut
Dan Nabi shallallahu’alayhiwasallam takut
Maka bagaimana aku tidak takut dan mengangis?!”
————————————————
Disalin dari Majalah Qiblati Vol.2/No.1

Selasa, 08 Maret 2011

36 Keutamaan Dzikr

keutamaan_dzikirSegala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Moga semakin memotivasi untuk tidak lalai dari dzikir, apalagi dzikir yang banyak disebut kalam Allah yaitu majelis ilmu yang mengkaji Al Kitab dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pertama, mengusir setan.
Kedua, mendatangkan ridho Ar Rahman.
Ketiga, menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.
Keempat, hati menjadi gembira dan lapang.
Kelima, menguatkan hati dan badan.
Keenam, menerangi hati dan wajah.
Ketujuh, mendatangkan rizki.
Kedelapan, orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.
Kesembilan, mendatangkan cinta Ar Rahman yang merupakan ruh Islam.
Kesepuluh, mendekatkan diri pada Allah sehingga memasukkannya pada golongan orang yang berbuat ihsan yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya.
Kesebelas, mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah ‘azza wa jalla. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.
Keduabelas, seseorang akan semakin dekat  pada Allah sesuai dengan kadar dzikrnya pada Alalh ‘azza wa jalla. Semakin ia lalai dari dzikir, ia pun akan semakin jauh dari-Nya.
Ketigabelas, semakin bertambah ma’rifah (mengenal Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah.
Keempatbelas, mendatangkan rasa takut pada Rabb ‘azza wa jalla dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir, akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah.
Kelimabelas, meraih apa yang Allah sebut dalam ayat,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.
Keenambelas, hati akan semakin hidup. Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟
“Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”
Ketujuhbelas, hati dan ruh semakin kuat. Jika seseorang melupakan dzikir maka kondisinya sebagaimana badan yang hilang kekuatan. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.
Kedelapanbelas, dzikir menjadikan hati semakin kilap yang sebelumnya berkarat. Karatnya hati adalah disebabkan karena lalai dari dzikir pada Allah. Sedangkan kilapnya hati adalah dzikir, taubat dan istighfar.
Kesembilanbelas, menghapus dosa karena dzikir adalah kebaikan terbesar dan kebaikan akan menghapus kejelekan.
Keduapuluh, menghilangkan kerisauan. Kerisauan ini dapat dihilangkan dengan dzikir pada Allah.
Keduapuluh satu, ketika seorang hamba rajin mengingat Allah, maka Allah akan mengingat dirinya di saat ia butuh.
Keduapuluh dua, jika seseorang mengenal Allah dalam  keadaa lapang, Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit.
Keduapuluh tiga, menyelematkan seseorang dari adzab neraka.
Keduapuluh empat, dzikir menyebabkan turunnya sakinah (ketenangan), naungan rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat.
Keduapuluh lima, dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.
Keduapuluh enam, majelis dzikir adalah majelis para malaikat dan majelis orang yang lalai dari dzikir adalah majelis setan.
Keduapuluh tujuh, orang yang berzikir begitu bahagia, begitu pula ia akan membahagiakan orang-orang di sekitarnya.
Keduapuluh delapan, dzikir akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di hari kiamat.
Keduapuluh sembilan, karena tangisan orang yang berdzikir, maka Allah akan memberikan naungan ‘Arsy padanya di hari kiamat yang amat panas.
Ketigapuluh, sibuknya seseorang pada dzikir adalah sebab Allah memberi untuknya lebih dari yang diberikan pada peminta-minta.
Ketigapuluh satu,  dzikir adalah ibadah yang paling ringan, namun ibadah tersebut amat mulia.
Ketigapuluh dua, dzikir adalah tanaman surga.
Ketigapuluh tiga, pemberian dan keutamaan yang diberikan pada orang yang berdzikir, tidak diberikan pada amalan lainnya.
Ketigapuluh empat, senantiasa berdzikir pada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 19)
Ketigapuluh lima, dzikir mudah menggerakkan hamba.
Ketigapuluh enam, dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan hari berbangkit.

Faedah dzikir lainnya insya Allah akan kami lanjutkan pada kesempatan lainnya. Allahumma yassir wa a’in.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Sumber: Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, 94-114

Riyadh-KSA, 26 Rabi’ul Awwal 1432 H (28/02/2011)
thank you