Kamis, 24 Maret 2011

PENYEJUK HATI

WAHAI DIRIKU...

النفس تبكي على الدنيا وقد علمت...أن السلامة فيها ترك ما فيها
(Sungguh aneh) jika jiwa menangis karena perkara dunia (yang terluput) padahal jiwa tersebut mengetahui bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkan dunia


لا دار للمرء بعد الموت يسكنها...إلا التي كان قبل الموت يبنيها
Tidak ada rumah bagi seseorang untuk ditempati setelah kematian, kecuali rumah yang ia bangun sebelum matinya


فإن بناها بخير طاب مسكنه...وإن بناها بشر خاب بانيها
Jika ia membangun rumahnya (tatkala masih hidup) dengan amalan kebaikan maka rumah yang akan ditempatinya setelah matipun akan baik pula

أموالنا لذوي الميراث نجمعها...ودورنا لخراب الدهر نبنيها
Harta kita yang kita kumpulkan adalah milik ahli waris kita, dan rumah-rumah (batu) yang kita bangun akan rusak dimakan waktu

كم من مدائن في الآفاق قد بنيت...أمست خرابا وأفنى الموت أهليها
Betapa banyak kota (megah) dipenjuru dunia telah dibangun, namun akhirnya rusak dan runtuh, dan kematian telah menyirnakan para penghuninya

أين الملوك التي كانت مسلطنة...حتى سقاها بكأس الموت ساقيها
Dimanakah para raja dan pimpinan yang dahulu berkuasa? Agar mereka bisa meneguk cangkir kematian

لا تركنن إلى الدنيا فالموت...لا شك يفنينا ويفنيها
Janganlah engkau condong kepada dunia, karena tidak diragukan lagi bahwa kematian pasti akan membuat dunia sirna dan mebuat kitapun fana

واعمل لدار غدا رضوان خازنها...والجار أحمد والرحمن بانيها
Hendaknya engkau beramal untuk rumah masa depan yang isinya adalah keridoan Allah, dan tetanggamu adalah Nabi Muhammad serta yang membangunnya adalah Ar-Rohman (Allah yang maha penyayang)

قصورها ذهب والمسك طينتها...والزعفران حشيش نابت فيها
Bangunannya terbuat dari emas, dan tanahnya menghembuskan harumnya misik serta za'faron adalah rerumputan yang tumbuh di tanah tersebut

أنهارها لبن مصفى ومن عسل...والخمر يجري رحيقا في مجاريها
Sungai-sungainya adalah air susu yang murni jernih, madu dan khomr, yang mengalir dengan bau yang semerbak

والطير تشدو على الأغصان عاكفة...تسبح الله جهرا فى مغانيها
Burung-burung berkicau di atas ranting dan dahan di atas pohon-pohon yang ada di surga Mereka bertasbih memuji Allah dalam kicauan mereka

فمن يشتري الدار في الفردوس يعمرها...بركعة في ظلام الليل يحييها
Siapa yang hendak membangun surga firdaus maka hendaknya ia memenuhinya dengan sholat di dalam kegelapan malam

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ
Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…
Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ
Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…
Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي
Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari
Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ
Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…
Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…
Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar


HARUSKAH MEMBALAS BUDI?

(Oleh: Ustadz Riyal Yuliar, Lc)

Pendahuluan
‘Abdullâh bin ‘Abbâs radhiyallâhu'anhu bercerita,
“Suatu ketika, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam masuk ke kamar kecil (untuk membuang hajat). Maka aku menyediakan air bersih untuk Beliau pakai berwudhu. Ketika Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam selesai dari hajatnya, Beliau bertanya, “Siapakah yang telah meletakkan (air wudhu) ini?” Kemudian Beliau diberitahu, bahwa akulah yang telah melakukannya. Maka Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam (membalas kebaikanku dengan) berdoa: “Ya Allâh… berikanlah dia (Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu'anhu) pemahaman dalam agama”.[1]
Dalam kisah yang lain, suatu saat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengunjungi sebagian Sahabat dan menyantap hidangan makanan yang disajikan kepadanya di rumah mereka. Ketika Beliau telah selesai dan hendak berpamitan, bergegas tuan rumah berkata, “Rasûlullâh, tolong doakanlah bagi kami kebaikan...”. Maka Rasûlullâh membaca, “Ya Allâh… berkahilah bagi mereka semua rizki yang telah Engkau limpahkan kepada mereka. Ampuni dan sayangilah mereka”.[2]
Melalui dua kisah di atas, dapat dipetik sebuah pelajaran berharga, bahwa di antara tuntunan mulia Islam dalam bermu'amalah dengan sesama adalah berbudi luhur dan tidak lupa membalas budi baik orang lain dengan kebaikan pula.
Silahkan simak pembahasan tersebut dalam tulisan yang sederhana ini. Semoga bermanfaat.

Mari Berbudi Luhur
Allâh Ta'ala telah menjadikan Islam sebagai risalah yang sempurna dalam setiap tuntunannya. Syariat Islam mudah dan semua ajarannya indah. Islam mengajak setiap pemeluknya untuk berakhlak mulia terhadap sesama. Berbudi pekerti yang luhur adalah cerminan seorang Muslim di setiap ucapan dan sikap perbuatannya. Demikian itu, agar segenap hamba Allâh Ta'ala yang beriman dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan baik dan penuh kedamaian.
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:



Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian, dan yang paling dekat majelisnya denganku di hari Kiamat adalah yang paling mulia akhlaknya di antara kalian.[3]
Dalam kesempatan lain, Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Aku menjamin sebuah rumah di bagian tepi surga bagi seorang
yang meninggalkan debat kusir sekalipun dirinya adalah pihak yang benar.
Aku menjamin sebuah rumah di bagian tengah surga bagi
yang meninggalkan dusta sekalipun dia tengah bercanda.
Dan aku menjamin sebuah rumah di bagian paling atas surga
bagi seorang yang mulia akhlaknya." [4]

Membalas Kebaikan adalah Kewajiban
Allâh Ta'ala berfirman:


…dan janganlah kalian melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian …
(Qs. al-Baqarah/ 2:237)
Mengenai penafsiran ayat di atas, adh-Dhahhâk rahimahullâh berkata, “Keutamaan yang dimaksud adalah budi baik”. Sa`id rahimahullâh berkata, “Jangan kalian melupakan kebaikan”. Demikian pula, Qatâdah, Abu Wâ’il, as-Suddi dan lainnya menjelaskan bahwa pengertiannya adalah janganlah kalian meremehkan (melupakan) kebaikan di antara kalian…[5]
Setiap manusia adalah makhluk sosial. Dia tidak bisa lepas dari berinteraksi dengan sesama. Tidak jarang, dia harus membutuhkan orang lain dan demikian pula sebaliknya. Atas dasar ini, kaum Muslimin diperintahkan untuk saling menghormati, saling memahami kondisi dan perasaan dan saling mengasihi terhadap yang memerlukan.
Rambu-rambu dalam pergaulan telah dipaparkan oleh Rasûlullâh dalam hadits berikut:





Barang siapa mendambakan untuk
dijauhkan dari (adzab) api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, 
hendaklah (ketika) kematiannya datang menjemput,
ia (dalam keadaan) beriman kepada Allâh dan hari Akhir. 
Dan hendaklah memperlakukan manusia dengan cara
yang ia sukai untuk diperlakukan dengannya. [6]
Subhânallâh… Ini adalah bagian dari tuntunan indah agama Islam dalam bermu'amalah dengan manusia.
Secara garis besar, Islam mengajarkan kita untuk dapat berlaku baik terhadap manusia. Allâh Ta'ala mencintai bahkan memerintahkan kebaikan dalam setiap perkara. Allâh Ta'ala berfirman:


Sesungguhnya Allâh memerintahkan perbuatan adil dan kebaikan
(Qs an-Nahl/14:90)
Maka janganlah seseorang di antara kita mudah melupakan budi baik orang lain. Sungguh, seseorang yang melupakan budi baik orang lain adalah seseorang yang tidak pandai berterima kasih. Padahal berterima kasih kepada manusia atas kebaikan mereka adalah bagian dari makna bersyukur kepada Allâh Ta'ala. Sebagaimana yang disabdakan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :

Tidaklah seseorang bersyukur kepada Allâh   
seseorang yang
tidak berterima kasih kepada manusia (atas kebaikan mereka, pen) [7]
Dalam lafazh yang lain,

Barang siapa tidak berterimakasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allâh [8]
Ibnu al-Atsîr rahimahullâh berkata,
"Maknanya adalah:
  1. Allâh Ta'ala tidak menerima syukur seorang hamba kepada-Nya atas nikmat yang telah dilimpahkan, tatkala dia tidak pandai berterima kasih atas kebaikan manusia kepadanya. Yang demikian karena (kuatnya) hubungan kedua hal tersebut satu dengan yang lain.
  2. Makna lain dari hadits di atas adalah barangsiapa memiliki kebiasaan tabiat mengingkari budi baik manusia dan tidak bersyukur (berterima kasih) atas kebaikan mereka, maka niscaya dia memiliki tabiat kebiasaan mengkufuri nikmat Allâh Ta'ala dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
  3. Ada pula makna lain yang terkandung dalam hadits di atas, bahwa barang siapa tidak mensyukuri (kebaikan) manusia, maka dia layaknya orang yang tidak mensyukuri Allâh Ta'ala. Semua makna ini terpetik melalui penyebutan nama Allâh Ta'ala Yang mulia (dalam hadits di atas. pen)”.[9]
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan yang mulia telah mencontohkan bagaimana menyikapi orang yang telah menyodorkan satu kebaikan kepada beliau. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallâhu'anha pernah berkata “Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pernah menerima hadiah. Dan Beliau membalas hadiah itu dengan kebaikan”. [10]
...
Bagaimanakah Cara Membalas Budi? Apakah Kita Bisa Membalas Budi dan Jasa Baik Orang Tua? Silahkan simak pada rubrik Baituna, Majalah As-Sunnah Edisi 02/Thn. XIV/Jumadil Awwal 1431H/Mei 2010M


[1] HR. al-Bukhâri no.134 dan Muslim no. 6318
[2] HR. Muslim no.5296
[3] HR. al-Bukhâri no.3759
[4] Shahîh Sunan Abu Dâwud no. 4800 dengan sanad hasan
[5] Lihat Tafsir at-Thabari atsar no. 5379 dan 5380, Tafsir Ibnu Katsîr 1/648-649
[6] HR. Muslim no. 4753
[7] Shahîh Sunan Abi Dâwud no. 4811

[8] Shahîh Sunan at-Tirmidzi no. 1954

[9] An-Nihâyah fi Gharîbil Hadîts hlm . 488
[10] HR. al-Bukhâri no: 2585


Kamis, 17 Maret 2011

Maasya Allaah ..KuTemui Dirinya Dalam Keshalihan Di Dalam Penjara...!!

"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allaah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya." Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad,Bukhari dan Muslim.


Sahabat kita takkan mampu menghitung nikmat nikmat Allaah,namun terkadang kita sering mendurhakai-Nya.Betapa sering kita tertipu oleh dunia dengan segala hiasannya yang melenakan.


Banyak hal-hal yang tidak pernah kita duga ada dihadapan kita. Suka duka, sedih dan gembira adalah warna-warni kehidupan. Dunia tidak pernah menjanjikan kenikmatannya yang abadi kepada siapapun. 


Sebuah perjalanan singkat yang ingin kubagi Ibrahnya untuk diri ini khususnya dan semoga bermanfaat untuk semua.


Siang itu ana ingin menjumpai seorang teman disebuah rumah tahanan, Qaddarallaah ujian keimanan menghampiri dirinya,disaat ia sedang menata hati untuk menggapai bahagia yang hakiki yaitu ampunan Rabbnya.
Dengan maraknya kasus Bom beberapa hari ini memang agak menyulitkan ana untuk masuk kesana.


Lima Tahun yang lalu sebelum ana mengenal Manhaj Salaf, ana sering berkunjung ketempat ini, dan amat sangat mudah berada ditengah tengah para tahanan wanita. Namun untuk kali ini harapan itu tipis sekali dengan kondisi ana sekarang ini. Alhamdulillaah setelah hampir saja kembali untuk pulang karena tidak bisa masuk, Allaah mendatangkan pertolonganNya.Setelah ana bercerita bahwa dahulu lima tahun yang lalu ana pernah mengajar Iqro disana,dengan idzin Allaah ana bisa masuk.


Dengan perasaan rindu menjumpai mereka....Maasya Allaah kerinduan ini seperti semakin menjadi, ana dikejutkan dengan sambutan wanita wanita shalihah..


Tahukah Sahabat....


Kutemui wanita wanita shalihah itu dirumah tahanan dengan hijab syar'i,seperti burung gagak hitam..Maasya Allaah indahnya pemandangan ini...pemandangan yang belum pernah ana temui sebelumnya lima tahun lalu...


Seperti telah menganal lama..kami saling berpelukan bagai tak jumpa bertahun tahun. ya.....Kerinduan dan kecintaan karena Allaah sebabnya...


Sambil berbagi cerita tentang kehidupan disana dan awal mereka mendapatkan hidayah diatas Manhja salaf ini.


Badan mereka dipenjara,namun hati mereka bebas dalam mentaati Rabbnya. Jadi teringat Syaikh Ibnul Qayyim al Jauziyah, dan Imam Asy Syafi'i dalam sebuah sya'irnya.














Ilmuku senantiasa bersamaku
Dimanapun aku berada selalu memberi manfaat
Hatiku adalah tempatnya, bukan dalam lemariku
Bila aku berada di rumah, pasti ilmuku disana bersamaku
Ketika aku berada di pasar, diapun ada di pasar


(Imam Asy Syafi'i)


Sahabat badan kita tidak terpenjara...namun kadang kita tidak menyadari atau bahkan terlena ketika kita tahu hati kita terpenjara karena kelalaian .


tahukah sahabat...


Mereka tidak seberuntung kita karena hidup mereka dibatasi dinding tinggi,tapi tahukah sahabat...,mereka sungguh bahagia karena ..


dengan idzin Allaah..


Dinding tinggi itu menjadikan mereka lebih dekat dengan Rabbnya, 


Dinding tinggi itu membuat mereka lebih pandai memanfaatkan waktu untuk ketaatan.


Dinding tinggi itu membuat mereka disibukan untuk belajar dan belajar,menghafal dan menghafal....


Dinding tinggi itu selalu mengingatkan mereka tentang kekhilafan yang dilakukannya dan membuat mereka takut untuk kembali pada kemaksiatan..(bagi mereka yang Allaah beri hidayah dan berusaha keras menjemput hidayah)


Yaa Allaah Pemilik Arsy ....ampunilah kami yang lalai..
Yaa Allaah Yang Maha Pengasih tak pilih Kasih...Jagalah mereka agar hidayah itu tak lepas setelah mereka bebas..


Inilah bukti Indah dan lemah lembutnya Dakwah Tauhid, dakwah Salaf..


Untuk Sahabat sahabatku disana..


Semoga Allaah Memuliakanmu dengan Ilmu..


Mengangkat Derajatmu karena Ilmu ..


Menjadikanmu Hamba yang Rabbaniy...






Uhibbukunna fillaah...






Pondok Bambu.Kamis 12 Rabi'ul Akhir 1432 H


Sahabatmu Kiky Umaymah Farras...

Minggu, 13 Maret 2011

Kalimat-Kalimat Hikmah



“Jika engkau ingin memahami hakikat wanita, maka lihatlah dia dengan menutup kedua matamu.”
Imam Syafi’i berkata:
“Barangsiapa menasehati saudaranya secara diam-diam maka dia telah menasehatinya dan barangsiapa menasehati saudarnya secara terang-terangan [di hadapan manusia-ed], maka dia telah mempermalukannya”
Hasan Al-Bashri berkata:
“Bangunlah wahai orang yang tertipu dari kelalalainmu
Dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu
Jika Al-Khalil Ibrahim takut
Dan Musa takut
Begitu pula Al-Masih takut
Dan Nabi shallallahu’alayhiwasallam takut
Maka bagaimana aku tidak takut dan mengangis?!”
————————————————
Disalin dari Majalah Qiblati Vol.2/No.1
thank you