Kamis, 16 Desember 2010

Ibnul Qayyim Mengingatkanmu Tentang Tiga Kata

Beliau rahimahullah berkata: Hendaknya setiap orang berhati-hati agar tidak menyombongkan diri dengan kata "أنا" (saya) "لى"(milikku) "عندى"(kepunyaanku).
Karena dengan ketiga kata diatas Allah Ta'ala menguji iblis, Fir'aun dan Qarun.
Adapun kata أنا terdapat pada perkataan Iblis:

أنَا خَيْرٌ مِنْهُ
"Aku lebih baik dari dirinya (Adam)"
Kata لى pada perkataan Fir'aun:

لِى مُلْكُ مِصْرَ
"Kerajaan Mesir adalah milikku."
Kata عندى pada perkataan Qarun:

إنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِى
"Aku diberi (kekayaan) semata-mata karena ilmu yang ada pada diriku."
Akan tetapi yang pantas bagi seorang hamba, hendaknya dia mengatakan
Kata أنا seperti dalam kalimat:

أنا العبدُ المذنب، المخطئ، المستغفر،المعترِف
"Aku adalah seorang hamba yang penuh dengan dosa, orang yang bersalah, orang yang selalu memohon ampun (atas dosa-dosanya), orang yang mengakui (kesalahannya)"
Adapun kata لى, seperti:

لى الذنب، ولى الجُرم، ولى المسكنةُ، ولى الفقرُ والذل
"Dosa-dosa itu adalah milikku, kesalahan itu adalah milikku, kemiskinan itu adalah milikku, faqir dan hina itu adalah milikku."
Adapun kata عندى seperti pada kalimat

اغْفِرْ لى جِدِّى، وَهَزْلِىوخَطَئِى، وَعَمْدِى، وَكُلُّ ذلِكَ عِنْدِى
Ya Allah berikanlah ampunan padaku atas ketergesa-gesaanku, kelemahanku, kesalahanku dan kesengajaanku dan semua itu ada pada diriku."
-Zaadul Ma’aad Juz ke 2-
Sumber: http://www.ibnalqayem.com/article/2-selected-articles/188-69.html
Ya Allah ampunilah kesalahan-kesalahanku, sesungguhnya Engkaulah Yang menerima taubat dan Maha Penyayang.
Al Faqirah ila Rabbiha,
Ummu Fathimah
***
Sumber: http://sudahtahukahanda.wordpress.com
Dipublikasi ulang oleh www.pengusahamuslim.com

Seuntai Kata, Seribu Makna


Bismillahirrahmanirrahim…
Ummu Misyma WardhaniInnal hamda lillah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu wa na’udzubillahi min syuruuri anfusina wa min sayyiaati a’malina, man yahdihillahu fa laa mudhilla lahu, wa man yudhlil fa laa haadiya lahu.
Wash-shalatu was salam ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa ash-habi wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumid-Diin. Amma ba’du :

Telah termaktub dalam Kalam-Nya yang Mulia,

Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-baner dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al Ashr : 1-3)

Wahai jiwa yang hanif…hisablah dirimu sebelum dirimu dihisab…

Berkata Maimun bin Mihran berkata, “sesungguhnya orang yang bertaqwa dia lebih keras menghisab dirinya dibandingkan penguasa yang jahat dan daripada sekutu syarikah yang benar-benar bakhil”.
Bahwasanya penguasa yang jahat itu meneliti setiap pembesarnya, penggawanya dan juga rakyat-rakyatnya, dan dua orang yang bersekutu itusangat ketat dalam memeriksa semua pengeluaran dll. Sehingga seorang yg bertaqwa hendaknya khawatir nafsu ini akan melarikan modal dan harta yang paling berharga dari dirinya.

Disebutkan oleh Imam Ahmad, Wahab bin Munabbih dia berkata tertulis di dalam hikmah keluarga nabi daud, merpakan perkara yang mesti dan wajib, tidak boleh ia lalai dari 4 waktu :
    • Suatu saat di mana dia bermunajat/berbisik/berbincang dengan Raabnya
    • Suatu saat di mana dia menghisab dari dirinya.
    • Suatu saat yang dia dan saudara-saudaranya di dalamnya, yang mereka  mengabarkan aib-aibnya dan mereka itu jujur terhadap dirinya.
    • Suatu saat yang di mana dia sendirian, pada waktu itu ada antara dia dengan kelezatan nafsunya, dalam perkara-perkara yang halal dan membuatnya menjadi bagus Dan di dlm waktu ini ada pendukung untuk memperoleh waktu-waktu yang tiga tadi, itu membuat membesarkan/menenangkan kepada hati.
      Dalam hal ini, meskipun ini adalah kisah israiliyyat, akan tetapi Hikmah adalah barang bercecer seorang mukmin, maka siapa yang menemukannya dialah yang berhak . Dan juga muslim dengan muslim lainnya itu seperti cermin, sehingga jika ia sedang bercermin dan tampak kekotoran, maka cermin itu akan memberitahukannya.

      Al  Akhnaf bin Qais mendatangi suatu lampu(yang tengahnya adaapinya) lalu ia letakkan jarinya di atasnya, lalu dia berkata, “ ya khunaif (utk menunjukkan kecilnya), apa yang mendorongmu untuk berbuat demikan di hari tersebut?  apa yang mendorongmu untuk berbuat demikan di hari tersebut?”. 
      Demikianlah digunakan oleh ulama untuk menghisab/memperingatkan/mengancam dirinya…..“kenapa kamu bermaksiat? Sedangkan api neraka itu lebih panas 70 kali ”… juga sebuah cerita, seorang wanita yang shalihah akan berpesan kepada suaminya ketika hendak keluar, “jangan engkau bawa barang-barang yang haram, kami bisa bertahan beberapa hari, namun kami tidak mampu zaqqum(kelaparan di hari kiamat)”
      Sesungguhnya semua akan berbicara kepada Allah, sedangkan kita kita tidak bisa memprotes atau membantahnya….tangan, kaki, kulit…hingga mungkin akan ada ucapan, “Kenapa kalian menjadi saksi yang memberatkanku”. Wa ‘iyadzubillah. Hendaknya, ada penyesalan, pencelaan terhadap diri kita, sebelum hati kita menjadi gelap dan menjadi seperti mangkuk yang terbalik sehingga tidak bisa menerima sesuatu apapun.

      ‘Umar bin Al Khathab menulis kepada sebagian pegawainya, “hisablah dirimu di dalam keadaan yang tenang sebelum (datangnya) hisab yang berat, maka sesungguhnyabarangsiapa yang menghisap dirinya dalam keadaan yang tenang maka urusannya akan kembali kepada keridhoan dan kesenangan, dan sedangkan orang yang dilalaikan oleh kehidupannya dan disibukkan oleh hawa nafsunya, niscaya urusannya akan kembali kepada penyesalan dan kerugian”.

      Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata, “seorang mukmin adalah pemimpin(Qawwam) atas dirinya, dia menghisab dirinya karena Allah, dan bahwasanya Ringannya hisab di hari kaiamat adalah atas orang-orang yang menghisab dirinya di dunia, dan bahwasanya  yang berat hisabnya adalah orang-orang yang mengambil perkara ini tanpa hisab. Sunguh, pada seorang mukmin itu ada apabila dikejutkan oleh sesuatu yang dia kagum terhadapnya, maka dia berkata ‘Demi Allah, sesungguhnya aku sangat suka kepadamu, dan sungguh engkau termasuk kebutuhanku, Akan tetapi, Demi Allah, tidak ada jalan menuju kepadamu,  sungguh jauh, sunguh jauh..terhalang antara aku dan engkau.
      Dan jika dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, dia kembali kepada jiwanya..sembari berucap, “Apa yang aku maukan dengan ini? Ada apa denganku dan dengan ini?”, Wallahi, aku tidak akan kembali kepada ini (mengulanginya) selama-lamanya.

      Dan, sesungguhnya kehidupan adalah sesaat…..bukankah setelah kehidupan ini ada kehidupan yang setelahnya, semoga petikan untaian kata ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
      ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

      Ighaatsatul Lahafan, hal 73, cet. Daarul ‘aqidah
      Bersama Al Ustadz Idral Harist Hafizhahullah

      Rabu, 15 Desember 2010

      Tips Menjadi Pribadi Yang Dicintai

      Menjadi Pribadi Yang Dicintai

      Remaja Muslim, di antara kita mungkin ada yang merasa kurang pandai bergaul, sehingga teman-teman kita terkesan menjauhi dan tidak mencintai kita. Sebenarnya, tidak sulit kok, untuk membuat teman-teman menyukai kita. Tapi, tentu saja butuh usaha untuk membuat orang disekeliling kita bahagia ketika berada di dekat kita.
      Nah, berikut ini beberapa tips, yang Insya Allah bisa membuat kalian dicintai banyak orang. Dipraktikkan iah??

      BERSIKAP POSITIF...
      Segala hal baik berawal dari sikap positif. Mulai dari ber-husnuzhon (berprasangka baik) kepada orang lain hingga selalu melihat berbagai hal dari sisi positifnya. Sikap positif membuat tidak gampang stres, tidak mudah su'uzhon, dan membuat orang lain tidak takut untuk mendekat kepadamu.

      TUNJUKKAN WAJAH CERIA...
      Berada di dekat orang yang ceria dan periang, bisa membuat kita enjoy dan melupakan sejenak beban masalah yang kita hadapi. Orang yang ceria dan selalu meyegarkan suasana, tentu akan selalu dinanti kehadirannya. Tersenyumlah! Karena ketika seseorang tersenyum, tubuh memproduksi hormon yang bisa membuat perasaan senang. Lagipula, bukankah Nabi kita melarang kita bermuka masam ketika berjumpa dengan teman kita? So, tunjukkan wajah ceriamu!

      BERSIKAPLAH RAMAH...
      Sikap ramah adalah lawannya jutek atau ketus. Karena ramahlah, orang tidak ragu untuk tersenyum dan menyapa. Sikap ramah bisa mendatangkan kesan positif, karena akan membuat orang yang berhadapan denganmu merasa diterima dan dihargai.

      JADIKAN DIRIMU RINGAN TANGAN...
      Teman sejati adalah yang mau menemani dalam suka dan duka. Yang mau membantu ketika temannya membutuhkan, atau dalam kesulitan. Bukan hanya mendekat, saat temannya mendapat nikmat. Jangan tunggu diminta untuk mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan bantuan. Bukankah kita pun akan senang, bila ada yang menawarkan bantuan saat kita dalam kesulitan??

      BERSIKAP RENDAH HATI, JANGAN SOMBONG...
      Jauhkan dirimu dari sikap sombong, yang sangat dibenci oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, serta manusia pada umumnya. Berbeda dengan rendah hati yang merupakan kelemahan, justru rendah hati mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanyalah yang bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi, makin menunduk.

      PERCAYA DIRILAH!...
      Orang yang punya percaya diri biasanya selalu merasa nyaman dan tak pernah merasa terancam dengan situasi atau orang-orang disekitarnya. Ia akan selalu tampak tenang di mana saja. Dengannya, menimbulkan kewibawaan yang membuat orang lain lebih hormat.

      JADILAH PEMAAF...
      Dendam dan iri hati adalah salah satu ciri penyakit hati yang paling sering datang menyerang. Selain mencemari hubungan, penyakit ini juga bisa membuat perasaan tak nyaman. Karenanya seorang yang lapang hati akan selalu merasa bahagia. Mereka pun dicintai orang lain karena menularkan kebahagiaan tersebut ke sekelilingnya. Tapi...jangan hanya mengangguk ketika menerima permintaan maaf dari orang lain. Yang lebih penting, hapuslah atau lupakanlah kesalahan tersebut dari hatimu.

      JUJURLAH SELALU...
      Kata orang, harga kejujuran lebih mahal daripada emas. Coba bayangkan bila kamu punya teman hobi bohong. Selain bisa bikin salah paham, kebohongan juga bisa merugikan orang lain. Makanya, jangan heran bila orang jujur dicintai semua orang. Biasakanlah berkata dan berlaku jujur dalam berbagai kesempatan.

      JADILAH PEMBERANI...
      Orang pemberani adalah mereka yang tidak takut menyuarakan isi hatinya. Mereka juga tidak gentar mengambil posisi sebagai minoritas, asalkan hal itu sesuai dengan prinsipnya. Biasanya, mereka yang memiliki sifat seperti ini paling sering menjadi sumber inspirasi bagi orang lain untuk berani tampil beda. Jadi jangan pernah takut berbicara karena tak ingin menjadi berbeda.

      BERSIKAPLAH ADIL...
      Sikap adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya. Untuk bisa berlaku adil, belajarlah mengamati peristiwa dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu, penilaianmu tidak akan condong pada satu sisi saja. Dalam berteman, sikap adil juga bisa diartikan dengan tidak membeda-bedakan teman, misalnya antara si kaya dan si miskin, si rupawan dan si buruk rupa. Hanya saja, dalam berteman kamu memang harus tetap “pilih-pilih”. Jauhilah teman yang buruk akhlaknya dan tidak seakidah. Kecuali jika kamu biasa mendekati dan mendakwahinya, bukan kamu yang malah menjadi sepertinya.

      Jika hal tersebut sudah ada pada dirimu, Insya Allah kamu akan dicintai oleh teman-temanmu.
      Jadi, wahai Sobat Remaja Muslim, mari kita semua katakan:
      “TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK DICINTAI TEMAN-TEMAN!!!”



      Penyusun : rn, mahasiswa STDI Imam Syafi'i [www.stdi.imam-syafii.or.id]
      Sumber : majalah elfata -media muslim remaja- (edisi 11 – 2009) [www.majalah-elfata.com]

      Beberapa Faedah Seputar Waktu

      1. 1.       Ilmu Dibutuhkan Di Setiap Waktu
              Setiap langkah dan gerak manusia telah ditentukan tata caranya dalam syari'at, sehingga kebutuhan kita kepada ilmu jauh melebihi kebutuhan kepada makanan dan minuman.
              Imam Ahmad berkata: “Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Hal itu karena makanan dan minuman diperlukan dalam satu hari sekali atau dua kali, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu”. (Miftah Dar Sa'adah, Ibnul Qoyyim, I/301-tahqiq Syaikh Ali Hasan)


      1. 2.        Lebih Bakhil Dengan Waktu Daripada Harta
              Mengingat besarnya nilai waktu bagi kehidupan seorang muslim dalam ketaatan kepada Allah, maka sebagian salaf dahulu sangat pandai dalam memanfaatkan waktu yang dimilikinya.
              Al-Hasan berkata: “Aku telah bertemu dengan kaum yang mana salah seorang di antara mereka lebih bakhil dengan usianya daripada dengan dirham-dirham dan dinar-dinarnya”. (Al-Zuhd, Ibnu Mubarak, no.8)
      1. 3.         Thalabul 'Ilmi Di Waktu Muda
              Ketika seseorang masih kecil, dan dia menghafal sesuatu masalah ilmiah, maka ia akan lebih melekat dan lebih menghujam dalam dirinya. Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh al-Hasan: “(Menuntut) ilmu pada waktu kecil itu laksana mengukir di atas batu”. (Al-Madkhal Ila as Sunan al-Kubra, al-Baihaqi (no.640, hal.375), al-Faqih wa al-Mutafaqqih (II/91 tashhih Syaikh Muhammad Ismail al-Anshari)
              Di antara pengalaman yang telah dialami oleh 'Alqomah adalah sebagai berikut, beliau mengatakan: “Apa saja yang aku hafalkan ketika aku masih muda, seakan-akan aku sekarang membacanya dari sebuah buku catatan”. (Al-Madkhal Ila as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi no.642, hal.376)
      1. 4.         Pencuri Waktu, Mengobrolkan Perkara yang Tidak Perlu
             Salah satu sebab hilangnya waktu yang amat mulia bagi seorang muslim adalah dengan cara diajak mengobrol oleh orang yang banyak bicara, padahal obrolannya bukanlah tentang perkara yang banyak manfaatnya. Oleh karena itu ada yang mengatakan: “Barangsiapa yang banyak bicara kepadamu, maka ia mencuri waktumu dan menjadikan waktumu hilang dengan sia-sia”. (Ta'lim al-Muta'allim, hal.127)
      1. 5.       Tidak Menghabiskan Waktu, Dengan Membahas Tentang “si Fulan dan si Fulan.”
            Syaikh Ali menjelaskan bahwa Syaikh Ahmad an-Najmi telah ditanya sebagaiman dalam kitabnya al-Kawasyif al-Jaliyyah, (hal.27-28) tentang orang-orang yang menyibukkan diri-diri mereka dengan membicarakan tentang kaum hizbiyyin
      ag
       dan tentang perkataan mereka: “Bagaimana pendapat Anda tentang Fulan? Bagaimana pendapat Anda tentang Fulan?”
             Terhadap pertanyaan ini, Syaikh an-Najmi menjawab: “Sesungguhnya mubalaghah (berlebih-lebihan) dalam masalah-masalah ini akan mengeluarkan penuntut ilmu dari lingkaran kebenaran kepada jadal (perdebatan) dan menyia-nyiakan waktu dengan membicarakan yang tidak menghasilkan faedah, bahkan seseorang menjadi berada dalam halaqah yang kosong. Ini tidak sepantasnya.
             Bahkan yang wajib (dilakukan) oleh penuntut ilmu adalah menyibukkan waktunya dalam taat kepada Allah, meneliti masalah ilmiyyah dan menghadiri halaqah-halaqah.
             Tidak mengapa mendengar tahdzir (peringatan tentang bahaya kaum hizbiyyin) dari mereka -yaitu dari ulama ahlu sunnah- dan penjelasan tentang sifat-sifat mereka agar dapat berhati-hati dari mereka.
             Adapun sekiranya kita menjadikan semua waktu kita dalam membicarakan tentang mereka dan tidak menyibukkan dengan thalabul 'ilmi yang akan memberikan manfaat untuk kita, maka -tidak diragukan lagi- bahwa ini adalah kesalahan yang besar dan kekeliruan yang fatal”. (Manhaj as-Salaf ash-Shalih fi Ushul an-Naqd wa al-Jarh wa an-Nasha-ih, karya Syaikh Ali al-Halabi, ad-Dar al-Atsariyyah, hal.83-84)

      [Roni Abu Ahnaf]
      dikutip dari majalah adz-dzakiiroh..
      thank you