Minggu, 13 Februari 2011

Menghafal Al-Qur`an Pentingkah Itu?

Oleh: Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri
Soal :
Sebagian para da`i mengatakan, “Sesungguhnya menghafal Al-Qur`an bukan perkara yang penting, karena yang penting adalah memahami, merenungkan dan mengamalkan yang apa menjadi tuntutan Al-Qur`an,” dan dia berdalil dalam pendapatnya itu dengan perbuatan Ibnu Umar radhiyallahu `Anhu bahwasanya beliau menghafal Surat Al-Baqarah selama 9 tahun karena beliau sibuk dengan tafsirnya, makna-maknanya dan mengamalkan kandungan surat tersebut. Maka benarkah pendapat ini dan shohihkah atsar Ibnu Umar tersebut? Jazakumullahu Khairan.

Jawab :
Pertama, perkataan dia, “Bukan perkara penting” adalah tidak benar Allah Ta`ala berfirman :
﴿بلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ﴾ [العنكبوت:49]
“Bahkan sesungguhnya Al-Qur`an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (Al-Ankabut:49)
Maka benar, Allah telah memuji para Ulama karena sesungguhnya mereka menghafal ayat-ayat yang nyata. Dan demikian pula para qurro` ketika mereka terbunuh, bukankah para shahabat Nabi merasa khawatir akan sirnanya Al-Qur’an sehingga mereka diperintahkan untuk mengumpulkan mushaf.
Dan Umar berkata “Saya mendapatkan pembunuhan telah menimpa para qurro`”( ) (Hadist Anas radhiyallahu `anhu Al-Bukhari (4987) dan ucapan tersebut dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu`anhu).
Mereka yang dibunuh adalah 70 orang dari para qurro`. Para shabat merasa khawatir dan merasakan hilangnya ilmu. Ketika itu Umar bin Khattob radhiyallahu `anhu memerintahkan orang untuk mengumpulkan lembaran-lembaran yang ada dijadikan dalam satu mushaf setelah beliau meninggal dunia mushaf tersebut ditangan Hafsoh Radliyallahu ‘anha (beliau mengisyaratkan kepada hadist Zaid bin Tsabit dalam Al-Bukahri (4986)).
Kemudian setelah itu Ustman bin Affan radhiyallahu `anhu memerintahkan untuk mengumpulkan lembaran-lembaran tersebut dari Hafsoh radhiyallahu `anha dari seluruh tempat dan beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit dan sebagian shahabat untuk mengumpulkan mushaf. Ini semua adalah termasuk perkara yang menunjukkan pentingya menghafal Al-Quran dan sesungguhnya ini adalah ilmu, maka hendaknya bersungguh-sungguh untuk meraihnya dan tidaklah akan meninggalkan kebaikan ini bagi mereka yang diberi taufiq
Salah satu dalil yang menunjukkan pentingya hafalan adalah hadist dalam shohihain dari Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash, “Sesungguhnya Nabi shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu ini sekaligus dengan mencabutnya dari dada-dada manusia” (Al-Bukhari 100 dan Muslim 2673) Maksudnya apabila ilmu tercabut dari dada penghafal dan hilang perkara ini (hafalan) maka hilanglah ilmu.
Ar Rahabi rahimahullah berkata :
واعـــلم بأن الإرث نوعان هـما
فالفـــرض في نص الكتاب سـته
نصف وربع ثم نصف الــــربع
والثلثان وهـمـــا التمـــام فــرض وتعصيب عــلى ما قُسمَا
لا فـــرض في الإرث سواها البته
والثلث والسدس بنص الشــــرع
فاحـفظ فـكل حـافظ إمـــام
Dan ketahuilah bahwa warisan ada dua
Furudh dan ta’shib sesuai dengan bagiannya
Adapun furudh di nash kitab ada enam
Tidak ada furudh dalam warisan selainnya
Setengah dan seperempat kemudian setengahnya seperempat
Sepertiga dan seperenam dengan nash syariat
Dua pertiga dan keduanya penyempurna
Maka hafalkanlah karena setiap penghafal adalah Imam
Maka Allah menjaga agama ini dengan pengahafal-penghafal kitab Allah. Dan termasuk perkara pertama yang hendaknya dihafal adalah Kitab Allah Ta`ala, Allah berfirman:
﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾ [ص:29]
“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah” (Shaad:29)
﴿ أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ ﴾ [العنكبوت:51]
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami telah menurunkan kepadamu Alkitab sedang dia dibacakan kepada mereka.” (Al-Ankabut:51)
Kamu bisa berhujjah (argumen) dengan Al-Qur’an pada setiap apa yang kamu kehendaki dari ilmu syariat ini jika Allah memahamkanmu dalam Al-Qur’an dan apabila Allah memahamkanmu terhadap agama-Nya. Dan lihatlah buku-buku Syaihkhul Islam dan buku-buku murid beliau Ibnul Qayyim dan yang semisalnya dari Ahlu Sunnah bagaimana kamu lihat, mereka memperhatikan Al-Qur`an dari sisi pengambilan dalil, menghafal, membaca, memikirkan dari sisi tajwid dan lain sebagainya.
(Al As’ilah Al Indonisiah, 26 Jumadist Tsaniyah 1424 H)
Sumber: Fatwa-fatwa Syaikh Yahya Al Hajuri atas pertanyaan manca negara

Hukum Mengajarkan Perkara Agama kepada Para Wanita

Oleh: Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
Pertanyaan:
Apa hukumnya laki-laki mengajar atau memberi nasehat kepada wanita tentang agama mereka di tempat terbuka yang bentuknya mingguan dalam keadaan perempuan itu berhijab atau memakai niqob, ataukah harus dari belakang tirai atau tabir?
Kemudian juga apa hukumnya jika mereka membawa anak-anak mereka yang jumlahnya lumayan banyak, yang mana terkadang wanita itu sangat membutuhkan terhadap ilmu ini, dari ilmu-ilmu yang harus di ketahui oleh setiap wanita?
Jawab:
Seorang laki-laki memberi nasehat kepada wanita dengan tanpa hijab (tirai pembatas ) jika dia aman dari fitnahnya ataupun sebaliknya. Maka yang demikian itu tidak mengapa dengan catatan mereka aman dari fitnah.sebagaimana yang di lakukan oleh Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam:
ان النبى صلى الله عليه و سلم كان يخطب الرجال فى يوم العيد ثم بعد ان ينتهى من الرجال يذهب الى النساء فيعظن فيقول يا معشر النساء تصدقن فانى رايتكن اكثر اهل النار قيل و مما ذاك يا رسول الله قال يكفرن العشير لو أحسنت الى أحدهن الدهر ثم رأت منك سوءا قالت ما رأيت منك خيرا قط
ثم قال لهن ما منكن امرأة تقدم ثلاث من الولد الا كانوا لها حجابا من النار ثم و اثنين يا رسول الله قال واثنين وكان النسوة يرسلن الى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلن يا رسول الله او قالت مندبتهن له يا رسول الله ذهب بك الرجال فاجعل لنا من نفسك يوما و كان يصحب النبى صلى الله عليه و سلم بلال و صحبه ذا مرة جابر بن عبدالله قال فجعل النساء يلقين القروط والخروص يلقينهافي حجر بلال وهو يقول فدا لكن أبى
“Sesungguhnya Nabi Sholallahu alaihi wassallam berkhutbah pada hari ied di depan para laki-laki. Kemudian setelah selesai, beliau pergi ke tempat wanita dan memberi nasehat kepada mereka. Beliau Sholallahu alaihi wassallam bersabda, ‘Wahai para wanita, bersedekahlah. Sesungguhnya aku telah melihat kebanyakan dari penghuni neraka adalah para wanita.’ Dikatakan kepada Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam, “Mengapa demikian ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Kalian banyak mendustakan nikmat, apabila ada yang berbuat baik kepada kalian, kemudian suatu hari kalian melihat ada satu kejelekan padanya maka kalian berkata, aku tidak pernah melihat kebaikanmu sekali pun.’
Kemudian Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam berkata, ‘Jika salah satu dari antara kalian tiga anaknya meninggal, mereka akan menjadi hijab (baginya) dari api neraka’, Dikatakan kepada Rasullullah Sholallahu alaihi wassallam, ‘Bagaimana apabila dua wahai Rasulullah?’ Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam menjawab ‘Dua juga.’
Dan para wanita mengutus kepada Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam dan berkata salah seorang dari mereka, ‘Ya Rasulullah, orang –orang telah pergi meninggalkanmu, sisihkan waktumu untuk kami sebentar.’ Dan yang menemani Nabi Sholallahu alaihi wassallam ketika itu adalah Bilal radhiyallahu ‘anhu dan mulailah para wanita melemparkan kalung dan perhiasan mereka ke tempat bilal radhiyallahu ‘anhu. “ (Al-Hadits)
Ini menunjukan apabila seandainya aman dari fitnah maka tidak mengapa. Iman itu bertambah dan berkurang, terkadang seseorang mempunyai semangat yang tinggi untuk agama akan tetapi terkadang tidak berfikir kemaksiatan yang terjadi dan di sisi lain syaitan selalu membisikinya sampai dia telah merasa menjadi pengkritik berbagai macam kejelekan-kejelekan .
Adapun masalah hadirnya seorang wanita yang mempunyai anak-anak di perkumpulan seperti ini, maka di takutkan akan terlalaikan dari anak-anaknya. Telah meriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim di shohihnya dari hadist ibnu umar Radiyallahu’anhuma, bahwa Nabi Sholallahu alaihi wassallam bersabda:
كلكم راع و كلكم مسئول عن راعيته
Artinya : “Kalian semua adalah pemimpin dan akan di mintai tanggung jawab atas yang di pimpin” (Al-Hadits)
Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS-At-Tahrim :6)
Dan juga dalam shohihain juga di sebutkan :
عن معقل بن يساررضي الله عنه ان النبى صلى الله عليه و سلم فال: ما من راع استرعه الله راعية ثم لم يحطه بنصيحة الا لم يجد رائحة الجنة اخرجه الصحيحين
artinya :Dari Ma’qil bin Yasar radiyallahu’anhu, bahwasanya nabi Sholallahu alaihi wassallam bersabda : “Seorang pemimpin yang diberi kepemimpinan oleh Allah kemudian tidak pernah memberi nasehat kepada yang di pimpin niscaya tidak akan mencium bau harumnya Surga” (Al-Hadits)
Kebanyakan dari para da’i-da’i kurang memiliki perhatian terhadap anak dan keluarganya, hal ini di sebabkan semangat dan sungguh-sungguhnya mereka terhadap dakwah, padahal seharusnya semua itu di beri haknya masing-masing Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda :
ان لنفسك عليك حقا و زوجك عليك حقا فاعط كل ذى حق حقه ان النبى صلى الله عليه و سلم قال لأبى ذار
Artinya : “Nabi Sholallahu alaihi wassallam berkata kepada Abi Dzar radiyallahu’ anhu, sesungguhnya dirimu itu punya hak dan juga istrimu punya hak atas dirimu, maka berilah setiap yang mempunyai hak itu haknya .”
Sebenarnya kalau kita mengatur waktu kita dengan baik, kita bisa membagi waktu untuk keluarga,berdakwah,mengajar serta belajar sebagaimana yang kita fahami dari hadist di atas dan yang menasehati Abu Dzar adalah Salman Radiyallahu’ anhuma, Nabi Sholallahu alaihi wassallam bersabda :
صدق سلمان ولا افراط ولا تفريط
Artinya : “Benar apa yang di katakan Salman, jangan belebih-lebihan dan jangan menyepelekan “
Dinukil Dari : Ijabatus Sa’il, Karya Syaikh Muqbil bin Hady
Diterjemahkan oleh : Abu Nua’im Fandy
Dicopy dari: http://my.opera.com/infodammaj/

Jangan Kau Buang Potensimu Wahai Penuntut Ilmu!

Oleh: Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim
Kita lihat di antara barisan para penuntut ilmu ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang agung, yang luar biasa, yang membuat mereka pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka, sehingga engkau dapati mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, mereka tidak suka membaca dan menelaah, mereka sering terlalaikan dari menuntut ilmu.
Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Tentu saja ini menyebabkan nikmat tersebut pergi, sebagaimana syukur nikmat adalah penyeru untuk penambahan nikmat tersebut.
Al-Farra’ rahimahullah berkata,
“Tidaklah aku merasa kasihan pada seseorang seperti rasa kasihanku kepada dua orang: Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, 1/103)
Ibnul Jauzi rahimahullah memberi keterangan perkataan Abith Thayyib Al-Mutanabbiy:
Aku tidak melihat aib-aib manusia sebagai aib
Seperti kekurangan orang-orang yang mampu untuk sempurna
Ibnul Jauzi berkata,
“Seharusnya seorang yang berakal berhenti pada puncak yang memungkinkan baginya. Apabila tergambar bagi anak Adam tingginya langit, sungguh aku memandang bahwa keridhaanya dengan bumi termasuk kekurangan yang paling buruk.
Kalau seandainya kenabian diperoleh dengan kesungguh-sungguhan, aku melihat orang yang merasa tidak butuh untuk memperolehnya berada dalam tempat yang rendah. Jalan hidup yang indah menurut ahli hikmah adalah keluarnya jiwa kepada puncak kesempurnaanya yang memungkinkan baginya dalam berilmu dan beramal.”
Beliau juga berkata,
“Secara global, dia tidak meninggalkan keutamaan yang mungkin ia peroleh kecuali dia berusaha memperolehnya. Sesungguhnya rasa puas adalah keadaan orang-orang rendahan.
Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya menghujam di bumi
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang Tsurayaa
Kalau memungkinkan bagimu untuk melampaui setiap ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Mereka itu laki-laki, engkau juga laki-laki. Dan tidaklah seseorang duduk kecuali karena rendahnya dan hinanya cita-citanya.
Ketahuilah bahwa kamu berada dalam ajang perlombaan, sedangkan waktu-waktu akan habis. Maka, janganlah engkau kekal menuju kemalasan. Tidaklah luput sesuatu kecuali dengan kemalasan. Dan tidaklah dicapai sesuatu kecuali dengan kesungguhan dan tekad.” (Shaidul Khatir hal. 159-161.)
Wahai orang yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, janganlah engkau mengharapkan satu pengganti dari ilmu. Janganlah engkau tersibukkan dengan selainnya selamanya. Jika engkau enggan, maka semoga Allah memberikan kemuliaan pada dirimu, dan memperbesar pahala muslimin padamu. Betapa sangat kerugianmu dan betapa besar musibahmu.
Tinggalkan darimu mengingat hawa nafsu dan para pencintanya
Bangkitlah ke tempat yang tinggi, di sana ada mutiara
Yang menghibur dengan tempat dakiannya dari setiap yang berharga
Dan dari nikmat dunia, yang hakikat jernihnya adalah keruh
Dan dari teman di sana yang melalaikan teman-teman duduknya
Dan dari taman yang diselubungi cahaya dan bunga-bunga
Bangkitlah menuju ilmu dengan kesungguhan tanpa rasa malas
Seperti bangkitnya seorang hamba kepada kebaikan dengan segera
Bersabarlah dalam memperolehnya dengan kesabaran kemuliaan baginya
Tak akan mencapainya orang yang tidak bersabar
(Qasidah Asy-Syaikh As-Sa’di, sebagaimana dalam Al-Fatawa, 647)
Dan sesungguhnya, termasuk perkara-perkara yang bermanfaat yang dapat membantu tingginya cita-cita yaitu melihat jalan hidup para salaf radhiyallahu ‘anhum. Sesungguhnya keadaan mereka adalah puncak kesempurnaan secara ilmu dan amal. Jika seorang penuntut ilmu melihatnya dan menganggap rendah diri dan sedikit ilmu, maka dia akan berusaha untuk mengejar mereka dan meniru mereka. Dan barangsiapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.
Ibnul Jauzi berkata,
“Demi Allah, ingatlah wajib atas kalian untuk memperhatikan jalan hidup salaf serta menelaah tulisan-tulisan mereka dan kabar-kabar mereka. Sungguh memperbanyak dalam menelaah kitab-kitab mereka adalah seperti melihat mereka.”
Beliau juga berkata,
“Hendaklah dia memperbanyak menelaah (kehidupan salaf –ed.), sungguh ia akan melihat ilmu-ilmu salaf, dan tingginya cita-cita mereka yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh.” (Shayyidul Khatir, 440)
(Sumber: Awaiqut Thalab karya Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim, halaman 46-48).
Silakan dicopy dengan menyertakan URL sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com

Mendahulukan Belajar Ilmu Syar’i

Oleh: Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

Tanya:
Apakah dalam belajar kita hanya mencukupkan diri dengan mempelajari ilmu syar’i (ilmu agama), tidak belajar ilmu dunia?
Jawab:
Asy-Syaikhul Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu menjawab:
“Ilmu yang wajib untuk kita pelajari dan kita dahulukan adalah ilmu syar’i. Ilmu inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan atas anda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”
Bila anda ingin mengerjakan shalat sebagaimana shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pelajari ilmunya sebelum anda mempelajari kimia, fisika, dan selainnya. Bila ingin berhaji, anda harus mengetahui bagaimana manasik haji yang ditunaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula dalam masalah akidah dan pembayaran zakat.
Bila ingin melakukan transaksi jual beli, semestinya anda pelajari hukum jual beli sebelum anda mempelajari kimia, fisika dan selainnya. Setelah anda pelajari perkara yang memberikan manfaat kepada anda dan anda mengenal akidah yang benar, tidak apa-apa bagi anda mempelajari ilmu yang mubah yang anda inginkan.
Akan tetapi bila anda diberi taufiq, dikokohkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijadikan anda cinta terhadap ilmu yang bermanfaat, ilmu Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka teruslah mempelajarinya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Allah faqihkan (pahamkan) dia dalam agama.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلاَّ الحْيَاَةَ الدُّنْيَا. ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ
“Berpalinglah engkau dari orang yang enggan berzikir kepada Kami dan ia tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Yang demikian itu merupakan kadar ilmu yang mereka capai.” (An-Najm: 29-30)
يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ اْلآخِرَةِ هُمْ غَافِلُوْنَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia sementara mereka lalai dari akhirat.” (Ar-Rum: 7)
Bila seseorang telah mempelajari ilmu yang wajib baginya, kemudian setelah itu ia ingin belajar kedokteran, teknik, atau ilmu lainnya maka tidak mengapa. Kita sedikitpun tidak mengharamkan atas manusia apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan untuk mereka. Akan tetapi sepantasnya ia mengetahui bahwa kaum muslimin lebih butuh kepada orang yang dapat mengajari mereka agama yang murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lebih butuh kepada orang yang alim tentang agama ini daripada kebutuhan mereka terhadap ahli teknik, dokter, pilot, dan sebagainya.
Dengan keberadaan ulama, kaum muslimin diajari tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang apa yang sepantasnya dilakukan oleh seorang dokter, dan seterusnya. Sebaliknya jika tidak ada yang mengajarkan kebenaran (agama) kepada kaum muslimin, mereka tidak dapat membedakan mana orang yang alim dan mana ahli nujum. Mereka tidak tahu apa yang sepantasnya dilakukan oleh ahli teknik. Mereka tidak dapat membedakan antara komunis dengan seorang muslim.
Dengan demikian, wahai saudaraku, rakyat yang bodoh ini butuh kepada ulama untuk menerangkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka dan mengajari mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 300-301)
Dicopy dari: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=457
thank you