Sabtu, 12 Februari 2011

! Pergi Tanpa Kembali !


Pergi tanpa Kembali

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له من يضلل فلا هاديله، وأشهد أن لا إلـه إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.
Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah.

يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته، ولاتموتن إلاوأنتم مسلمون۝

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102)

يأيهاالناس اتقواربكم الذى خلقكم من نفس وحدة وخلق منهازوجها وبث منهمارجالاكثيرا ونساءۚ واتقوا الله الذى تساءلون به والأرحامۚ إن الله كان عليكم رقيبا۝

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) NamaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silahturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ :1)

يأيهاالذين ءامنوا اتقوا الله وقولوقولاسديدا۝ يصلح لكم أعملكم ويغفرلكم ذنوبكمۗ ومن يطع الله ورسوله، فقدفازفوزاعظيما۝

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu sosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab : 70-71)
Amma ba’du :

فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشرالأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فيالنار

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu ditempatnya di Neraka.” (1). Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Sahabatnya. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam . Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097, 2118), an-Nasa-I (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214, VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini shahih.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Agama itu nasehat! Kami bertanya : “Bagi siapa? Rasul menjawab : Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi segenap kaum muslimin. (HR. Muslim (II/37 an-Nawawi) dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu)

Allah Ta’ala berfirman :

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-‘Ashr : 1-3)

Mengapa harus pergi tanpa kembali ? Bukannya ketika kita telah pergi, maka ada waktu dimana kita akan kembali ? Namun tidak pada tulisan kali ini. Tahukah apa yang disebut pergi tanpa kembali ? KEMATIAN ! Itulah makna dari pergi tanpa kembali. Ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai ataukah keluarga yang kita miliki, maka hati mana yang tidak terasa sakit dikala ditinggal untuk selamanya. Air mata mana yang tidak berlinang hingga hari-hari terasa sepi tanpa suara. Namun sebagai seorang muslim hendaklah kita tetap bertakwa kepada Allaah akan apa yang kita alami. Tetap pula beriman akan adanya kematian. Apakah hanya fulan bin fulan yang merasakan kematian ? Ataukah hanya diri kita sendiri yang akan mengalami kematian ? Sesungguhnya tidak ! Perhatikan firman Allaah berikut ini :

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Qs. Al Anbiya : 35)


Apakah kita akan merasa aman dari kematian walau kita yang ditinggal ? Ataukah kita akan mencari tempat yang paling aman agar kematian itu tidak menemui kita ? Sesungguhnya tidak wahai saudariku. Allaah berfirman :

“Dimana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (Qs. An Nisa' : 78)

Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang :

“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (Qs. Ar Rahman 26)


Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat sahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” (HR. At Tirmidzi no. 2307, An Nasa'i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy Syaikh Al Albani rahimahullah berkata tentang hadist ini, “Hasan shahih.”)

Sungguh, hanya orang-orang yang cerdas cendikianlah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Sahabat yang mulia, putra dari sahabat yang mulia, Abdullah bin 'Umar radhiallahu 'anhu mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam, lalu berkata, “Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama ?' Beliau menjawab, 'Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.' Mukmin manakah yang paling cerdas ?, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab :

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibn Majah no. 4259, dihasankan Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 1384)


“Aku tahu aku akan mati namun aku tak takut”
“Hatiku keras bak sebongkah batu”
“Aku mencari dunia seakan-akan hidupku kekal”.
“Seakan lupa kematian mengintai di belakang”
“Padahal, ketika kematian telah datang, tak ada seorangpun yang dapat mengelak dan menundanya”

Sanggupkah kita mengundurkan waktu kematian kita ? Ataukah kita bisa menangguhkan sesuai hari yang kita mau ? Sesungguhnya tidak ada daya upaya yang bisa menghentikan kedatangan kematian bagi kita. Allaah berfirman :

“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (Qs. An Nahl 61)

“Dan Allaah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Qs. Al Munafiqun : 11)

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allaah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. Al Jumu'ah : 8)

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allaah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (Qs. Ali Imran : 145)

“Setiap orang mempunyai ajal. Ketika datang ajal, tak dapat di akhirkan atau dimajukan.” (Qs. Al A'raf : 34)

Begitulah kematian, tak pernah memilah, tua atau muda, kata atau miskin. Tak pernah peduli terhadap raja atau budak, menteri atau penguasa sebuah negeri. Kematian melenyapkan kemegahan. Ia datang untuk mengeluarkan manusia dari rotasi kehidupan yang selama ini dijalani. Mengeluarkan seseorang dari istananya, untuk kemudian membenamkannya dalam sempitnya liang lahat. Semua itu dilakukan tanpa meminta ijin terlebih dahulu.

Vue 6 Infinite pre-release

Rasa kehilangan itu sungguh menyakitkan hati. Terasa sesak di dada. Hanya air mata yang terus terurai membasahi pipi. Duka cita mengisi hari-hari kita dan heningnya malam semakin terasa bahwa kehilangan itu mulai merasuk. Hari-hari dimana terbiasa bersama dan saling berbagi telah hilang entah kemana. Semuanya telah pergi tanpa kembali. Bahkan sedikit jejak pun tak ada. Akankah tergantikan dengan yang lebih baik ataukah akan menjadi buruk semuanya. Hidup adalah ketentuan yang telah menjadi ketetapan Allaah Azza wa Jalla. Dia yang mengatur semua alur hidup ini. Mengambil apa yang menjadi miliknya. Memisahkan apa yang telah bersatu. Dan memberikan nikmat bagi hambaNya yang Dia pilih. Allaah berfirman :

“Dan ketentuan Allaah adalah takdir yang pasti terjadi.” (Qs. Al Ahzab : 38)

Maha suci Allaah yang nikmatNya tak dapat dihitung oleh seluruh hambaNya. Bahkan seringkali nikmatNya di dalam musibah yang menyedihkan itu lebih banyak daripada nikmat di dalam karunia yang menggembirakan. Sebagaimana pernah ada yang mengatakan :

“Kalau Ia timpakan kemudahan, maka menyeluruhlah kegembiraannya”
“Dan kalau Ia timpakan kesulitan, maka ada gamjaran pahala di baliknya”
“Di dalam kemudahan dan kesulitan itu pasti terkandung nikmatNya”
“Pikiran, daratan dan lautan manapun begitu sempit untuk mencakupinya”

Karena seorang mukmin memiliki dua negeri, yaitu negeri yang akan ia tinggalkan dan negeri yang ia tuju untuk menetap di sana. Allaah lalu memerintahkannya untuk pindah dari negeri tempatnya bermukim. Agar ia membangun negeri tempatnya bermukim itu, dengan menggunakan sebagian dari apa yang telah Allaah berikan kepadanya di negeri yang akan ditinggalkannya ini.

Dan boleh jadi Allaah mengambil sesuatu yang ada padanya secara paksa, demi memakmurkan, memperbaiki dan menyempurnakan pembangunan negeri tempatnya bermukim. Dan Allaah mencabut apa yang hambaNya sukai berupa keluarga, harta dan anak, kemudian Allaah haturkan semua itu kembali kepadanya di negeri akhirat. Keluarga, harta dan anak tersebut mendahuluinya sampai ke negeri akhirat agar ia mendapatkan yang lebih baik dari apa yang hilang darinya di dunia. Walaupun orang mukmin itu sendiri tidak menyadari hal tersebut.


Maka Allaah tidaklah memisahkan, melainkan untuk mengumpulkan. Ia tidaklah mengambil, melainkan untuk mengembalikan. Tidak merampas, melainkan untuk memberi. Juga tidak meminta apa yang dipinjamkan olehNya, melainkan untuk memberikannya kembali sebagai milik penuh yang tidak akan diambil lagi selamanya.

Maha suci Allaah yang telah mengaruniakan nikmat kepada hamba-hambaNya berupa harta dan keturunan yang Ia berikan kepada mereka. Kemudian Ia mengambil kembali sebagian dari nikmat tersebut dari mereka secara paksa. Namun Ia memberi mereka ganti berupa shalawat, rahmat dan hidayah. Dan ganti tersebut lebih utama dari apa yang telah Ia ambil sebagaimana dikatakan bahwa :

“Kalau Ia memberikan kesenangan, itu adalah karuniaNya”
“Dan kalau Ia mengambil pemberian itu, Ia memberikan ganjaran pahala”
“Maka manakah dari dua nikmat itu yang lebih berharga”
“Dan lebih terpuji akibat dan kesudahannya”
“Apakah rahmatNya yang juga datang dengan kesulitan”
“Ataukah musibah yang akan membawa ganjaran pahala”
“Bahkan musibah itu sekalipun membawa penderitaan”
“Lebih besar kebaikannya bagi yang bersabar dan mengharap ganjaran”

Wahai saudariku, sesungguhnya hanyalah orang yang beriman yang dapat memahami hikmah atas setiap kejadian dalam hidup kita. Bahwasannya Ahlus Sunnah beriman kepada Allaah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan dibangkitkannya manusia setelah mati, serta iman kepada qadar yang baik maupun buruk.

Di dalam surat al Baqarah, Allaah berfirman :

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allaah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi...” (Qs. Al Baqarah : 177)

Di antara ayat di atas, banyak sekali hadits shahih yang menegaskan hal serupa. Di antara sejumlah hadits tersebut terdapat sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits 'Umar bin al Khaththab radhiallaahu 'anhu, bahwasanya Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam menjawab :

“Iman itu adalah engkau (1) beriman kepada Allaah, (2) Malaikat-malaikatNya, (3) Kitab-kitabNya, (4) Rasul-rasulNya, dan (5) hari Akhir serta (6) beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim (no. 8), Abu Dawud (no. 4695), at-Tirmidzi (no. 2610), an-Nasa'i (VIII/97), Ibnu Majah (no. 63). Hadits ini shahih.

Mungkin ada dari kita yang bertanya apakah kita boleh menangis di saat ada orang yang kita cintai atau keluarga kita meninggal dunia ? Jawabannya iya tentu saja boleh namun perlu diketahui bahwa saat menangis pun ada aturannya. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam pun pernah menangis dikala puteranya yang bernama Ibrahim dalam keadaan menjelang kematian, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam berlinang air mata dan berkata :

“Mata ini menangis dan hati ini bersedih. Namun kita tidak mengucapkan apa-apa selain yang diridhai Allaah. Demi Allaah, wahai Ibrahim, sesungguhnya kami sedih dengan kematianmu.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 2315 dari hadits Anas bin Malik radhiallaahu 'anhu)


Sekalipun air mata kita terus menetes karena kematian melanda keluarga kita ataukah orang-orang yang kita cintai, namun hendaklah kita tetap dalam koridor syari'at. Tidak melakukan hal-hal yang akan membuat Allaah murka kepada kita.

Seperti kita ketahui bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam melarang kita agar tidak meratap atau
niyaahah, yaitu perbuatan yang menggambarkan kesedihan seseorang atas musibah yang menimpanya dengan berteriak menangis, merobek-robek baju, menampar-nampar pipi, menyakiti diri, dan sejenisnya. Dalam perspektif Ahlus-Sunnah, sudah menjadi satu kesepakatan bahwa perbuatan ini adalah terlarang. Terlarang menurut nash dan akal sehat.

Allah ta’ala berfirman :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” [QS. Al-Baqarah : 155-157].

Dari Abu Umaamah : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang merusak wajahnya, mengoyak-ngoyak bajunya, dan meraung-raung sambil mengutuk dan mencela diri” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1585, Ibnu Hibbaan no. 3156, Ibnu Abi Syaibah 3/290, dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 759 & 775; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Ibni Maajah 2/40].

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan Jahiliyyah (meratap)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1294 & 1297 & 1298 & 3519, Muslim no. 103, At-Tirmidziy no. 999, An-Nasaa’iy no. 1860, Ibnu Maajah no. 1584, Ibnul-Jaaruud no. 516, Ahmad 1/432 & 456 & 465, Ibnu Hibbaan no. 3149, Al-Baihaqiy 4/63, dan Al-Baghawiy no. 1534].

Maka sebagai saudarimu, aku hanya bisa menasehatkan kepada diriku sendiri dan juga kepadamu agar kita bersabar dari apa-apa yang ditimpakan oleh kita berupa ujian dan musibah yang menyesakkan dada dan menguras air mata kita. Sebuah hadits qudsi dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam, yang bersabda :

“Allaah berfirman, 'Tidaklah ada hamba-Ku yang bersabar ketika Aku ambil (nyawa) orang yang dicintainya, kecuali kusediakan surga baginya.” (HR. Bukhari vol. 8, book 76 no. 432)


Dan hanya do'a yang bisa kita berikan pada saudara kita yang telah mendahului kita dalam kematian, karena setiap do’a kaum muslimin bagi setiap muslim akan bermanfaat bagi si mayit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".” (QS. Al Hasyr: 10). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a karena ayat ini mencakup umum, yaitu orang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.

Begitu pula sebagai dalil dalam hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”.(HR. Muslim no. 2733, dari Ummu Ad Darda’).


Do’a kepada saudara kita yang sudah meninggal dunia adalah di antara do’a kepada orang yang di kala ia tidak mengetahuinya.
Semoga Allaah mengampuni dosa-dosa para pendahulu kita dalam kematian. Melapangkan kuburnya dan meringankan adzab kuburnya. Aamiin.

“Laa ilaha illallaahul 'adhiimul haliimu, laa ilaha illallaahu robbussamaa waati wal'ardhi wa robbul'arsyil 'adhiimi”


'Atikah Ummu 'Abdillah
       Semarang
    -luloah allamees-

Maraaji' :
  • Al Qur'an al Kariim wa As sunnah ala fahmi salaf
  • Syarh 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
  • Majalah Akhwat Shalihah vol. 7
  • Majalah Asy Syariah IV/No. 37
  • Catatan Kajian bab “Mengingat mati akan memutus nikmat”
  • My ^Hujrotul 'ilmi^

thank you