Rabu, 13 April 2011

Ya Allah, Sungguh Aku telah Banyak Menzhalimi Diri

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penutup para rasul, kepada para keluarga dan sahabat beliau.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhuma, dia mengatakan,

أن أبا بكر الصديق رضي الله عنه قال للنبي صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله علمني دعاء أدعو به في صلاتي قال: «قل اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي من عندك مغفرة إنك أنت الغفور الرحيم

“Abu Bakr radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai rasulullah, ajarilah aku sebuah do’a yang bisa kupanjatkan dalam shalatku.” Nabi menjawab, “Katakanlah, Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsira wa laa yaghfirudz dzunuba illa anta faghfirli min ‘indika maghfiratan innaka antal ghafurur rahim (Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan maha penyayang.”[1]

Saudaraku, sidang pembaca yang dimuliakan Allah. Cobalah Anda memerhatikan dan merenungkan hadits yang agung ini. Bagaimana Ash Shiddiqul Akbar, Abu Bakr radhiallahu ‘anhu meminta kepada nabi agar mengajarkan sebuah do’a untuk dipanjatkan dalam shalatnya, dan nabi pun memerintahkan beliau untuk mengucapkan do’a di atas. Padahal kita semua tahu kedudukan Abu Bakr. Menurut anda, bagaimana dengan diri kita, yang senantiasa melampaui batas terhadap dirinya sendiri, apa yang layak kita ucapkan?!
Mengenai keutamaan Abu Bakr disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengatakan, rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada sahabatnya,

«من أصبح منكم اليوم صائما؟ قال أبو بكر: أنا، قال: فمن تبع منكم اليوم جنازة؟ قال أبو بكر: أنا، قال: فمن أطعم منكم اليوم مسكينا؟ قال أبو بكر: أنا، قال فمن عاد منكم اليوم مريضا؟ قال أبو بكر: أنا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ((ما اجتمعن في امرئ إلا دخل الجنة))

Siapakah diantara kalian yang memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa di hari ini? Abu Bakr menjawab, “Saya.” Rasulullah balik bertanya, “Siapakah diantara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” “Saya”, jawab Abu Bakr. “Rasulullah bertanya, “Siapakah diantara kalian yang member makan kepada orang miskin pada hari ini?” Abu Bakr kembali menjawab, “Saya.” Rasulullah kembali bertanya, “Siapakah diantara kalian yang membesuk orang sakit pada hari ini?” Abu Bakr menjawab, “Saya.” Maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seserang melainkan dia akan masuk surga.”[2]
Benar, dialah Abu Bakr, wahai saudaraku, pribadi terbaik umat ini setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai kesepakatan ahli sunnah, tanpa ada khilaf. Barangsiapa yang mengingkari status sahabat beliau, sungguh dia telah mendustakan firman Allah ta’ala,

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (At Taubah: 40).
Dan barangsiapa yang mendustakan Allah, sungguh dia telah terjerumus ke dalam kekafiran!
Abu Bakr radhiallahu ‘anhu adalah sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sahabat yang paling utama dan telah dipastikan akan masuk surga, meski demikian nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntun beliau untuk senantiasa mengucapkan,”Wahai Allah sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri.”
Saudaraku, bukankah diri kitalah yang lebih pantas mengucapkan do’a di atas? Bukankah kita senantiasa berbuat dosa sepanjang siang dan malam? Apabila memasuki waktu pagi, kita tidak sadar akan dosa dan kesalahan yang telah diperbuat kecuali hanya sedikit saja, kita sangat jarang mengetahui betapa minimnya usaha kita dalam menjalankan berbagai kewajiban? Bukankah kita senantiasa merasa bahwa tidak ada seorang pun yang lebih baik dari diri kita, bukankah kita senantiasa memandang kitalah yang paling baik dalam beragama? Demi Allah, wahai saudaraku, sesungguhnya seluruh hal tersebut adalah penyakit yang akut.

فإن كنت تدري فتلك مصيبة * وإن كنت لا تدري فالمصيبة أعظم

Apabila engkau tahu, maka itulah musibah
Dan jika ternyata engkau tidak tahu, maka musibahnya lebih besar
Oleh karena itu, saya mengajak diri saya dan Anda sekalian untuk rehat dan mengoreksi diri di setiap saat. Mari kita memperbanyak istighfar dan taubat serta senantiasa kembali kepada-Nya.
Ketahuilah saudaraku, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepadaku dan dirimu, mengakui dosa merupakan jalan menuju taubat dan sebab turunnya maghfirah. Anda tentu tahu hadits Sayyidul Istighfar yang masyhur, bukankah di  dalam hadits tersebut tercantum lafadz do’a berikut,

وأبوء بذنبي فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

Saya mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang kuasa mengampuni melainkan Engkau semata.[3]
Perhatikan, wahai Saudaraku, mengakui dosa merupakan awal perjalanan taubat.
Oleh karenanya, marilah kita menyesali segala dosa dan tindakan melampaui batas yang telah diperbuat, begitu pula berbagai kewajiban yang telah dikerjakan dengan penuh kekurangan. Dengan demikian, wahai saudaraku, seorang yang berakal, jika melihat orang yang lebih tua akan berujar di dalam hati, “Beliau telah terlebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku”; jika melihat orang yang lebih muda, dia berujar, “Saya telah mendahuluinya dalam hal dosa”; jika melihat da’i-da’i pemberi petunjuk, dia mencintai dan berusaha meneladani mereka; dan apabila melihat mereka yang tersesat dan tenggelam dalam kubangan kemaksiatan, dirinya memuji Allah ta’ala dan tidak mencela mereka. Bahkan dia memanjatkan pujian kepada-Nya karena telah melindungi dari kesesatan yang menimpa mereka, dia memuji Allah karena telah mengutamakan dirinya dengan petunjuk-Nya dari sekian banyak makhluk-Nya.
Seandainya Allah ingin, tentulah dia akan semisal dengan mereka. Dengan demikian, dia tidak akan merasa tinggi hati, bahkan kepada pelaku maksiat dan mereka yang tersesat. Dia justru merasa kasihan dan merasa sayang serta berusaha untuk memperbaiki mereka, di samping dia berkewajiban untuk membenci tindakan mereka yang telah menyelisihi perintah Allah dan rasul-Nya. Perkara inilah yang patut diteliti dan diperhatikan.
Akhir kata, saya memohon kepada Allah agar memberi ampunan dari sisi-Nya dan mencurahkan rahmat-Nya kepada kita dan segenap kaum muslimin. Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.
Diterjemahkan dari artikel Dr. Salim ath Thawil yang berjudul “Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsira“.
Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh www.remajaislam.com

[1] HR. Bukhari : 6839.
[2] HR. Muslim: 6333.
[3] HR. Bukhari: 6306.

Karena Jiwa Selalu Memendam Rindu


Abdullah Akiera Van As-samawiey

“Beningan air mata kadang tak sengaja menyusuri pipi yang menandakan qalbu berada di puncak syahdu. Sepertinya inilah air mata rindu, mengharapkan sebuah pertemuan yang membuat jiwa berdecak kagum, hingga tak ada lagi tabir penghalang antara diri ini dengan wajah-Nya yang abadi.”

***

Surga itu indah dan keberadaannya adalah sebuah kepastian absolut. Untuknya, jiwa-jiwa yang hanif memendam rindu, rindu yang menunas, menyubur di hati hingga terhempaslah kenikmatan semu duniawi.

Surga,

Surga,

Surga,

Begitu banyak lisan yang kerapkali membicarakannya. Wajarlah memang karena negeri itu adalah puncak sebuah angan dan cita-cita. Di dalamnya tak ada tangisan, tak ada kesedihan, semuanya adalah bahagia, semuanya berada dalam keriangan. Mereka merayakan perjuangan selama di dunia.

Ada decak kagum yang meluap ketika gambaran tentang Surga terpaparkan secara jelas, ada rindu yang menggebu, ada kesejukan yang menyirami taman jiwa. Rasanya tak perlu lagi mendengarkan pembicaraan lain. Kenikmatan semu dunia benar-benar jauh di hati.

>>Menatap Wajah Rabb Alam Semesta

Akan tiba masanya orang-orang yang beriman dan bertakwa sepenuh hati mendapat sebuah hadiah istimewa yang merupakan puncak segala kenikmatan.

Berbahagialah engkau wahai saudara kami yang shalih nan bertauhid dan berakidah yang benar. Berbahagialah engkau wahai saudari kami yang shalihah nan bertauhid dan berakidah yang benar.

Di Surga, kita akan berjumpa dengan wajah Allah yang agung kelak di Surga. Itulah perjumpaan yang hakiki dan benar-benar merupakan puncak segala kenikmatan. Itulah perjumpaan yang membuat jiwa berdecak kagum karena begitu terpesona. Itu semuanya akan dihadiahkan bagi semua penduduk Surga yang dahulunya setia di jalan keimanan.

Kelak di hari itu, wajah orang-orang yang beriman akan berseri-seri melihat Tuhan mereka.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”[1]

Ada sebuah hadits yang merekam keadaan penduduk Surga saat merasakan nikmat dan sedapnya memandang wajah Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“jika penduduk Surga sudah masuk Surga dan penduduk Neraka sudah masuk Neraka, maka sang penyeru memanggil:

‘Wahai penduduk Surga! Sesungguhnya Allah mempunyai janji kepada kalian yang sekarang hendak Dia penuhi’.

Para penghuni Surga menjawab:

‘Apakah itu?

Bukankah Dia sudah memberatkan timbangan amal kami?
Memberi sinar putih pada wajah kami?
Memasukkan kami dalam Surga dan mengeluarkan kami dari Neraka’.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Maka hijab disingkap, mereka pun memandang-Nya. Demi Allah! Tidaklah Allah memberikan sesuatu kepada mereka yang paling mereka sukai dan paling menyedapkan pandangan mata mereka daripada memandang-Nya.”[2]



>>Menyuburkan Rindu

Siapakah diantara kita yang tidak merindu wajah Allah tabaraka wa ta’ala? Bukankah Dia adalah Rabb yang menciptakan langit tanpa tiang penyangga? Dialah Allah yang menjadikan malam bertabur gemerlapnya bintang dan memoles langit malam dengan kemuning rembulan.

Dialah Allah yang menerbitkan mentari di ufuk timur lalu disambut kicauan burung-burung. Beberapa waktu kemudian datanglah hangatnya waktu dhuha seiring keringnya embun di dedaunan. Dialah Allah yang membenamkan mentari dengan warna mewah memerah. Telah tiba saatnya hewan-hewan kembali ke sarangya. Telah tiba saatnya adzan berkumandang.

Dialah Allah yang mentakdirkan kemarau datang bertandang. Setelah itu datang lah musim hujan. Allah lah yang menyiramkan air ke bagian permukaan bumi yang Dia kehendaki. Basah lah bumi itu. Dialah Allah yang menguncupkan dedaunan muda dan menghijau sejuk dipandang.

Dialah Allah yang menghembuskan udara yang mengalir diantara langit dan bumi. Sementara burung-burung mengepakkan sayapnya sambil berpurtar-putar di udara. Dialah Allah yang menggerakkan awan menyusuri langit biru.
Dialah Allah yang mengabulkan seluruh do’a hamba-Nya. Dia anugerahkan dan membagikan rizki.

Dialah Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang melebihi kasih sayang seorang ibu yang bercucur mata karena begitu cinta kepada sang anak.

Dialah yang menjadikan Surga dan kenikmatannya teruntuk orang-orang yang bertauhid dengan benar. Pula Dia sediakan Neraka dan adzabnya bagi kaum yang ingkar lagi kufur.

Allah lah pula yang menurunkkan agama yang mulia melalui malaikat yang mulia dengan kitab yang paling mulia kepada seorang manusia yang paling mulia. Dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat cinta kepada umatnya. Amat menginginkan kita masuk Surga dan terhindar dari adzab Neraka. Dialah lelaki yang selalu mencintai dan selalu dicintai.

Maka dari itu, Allah dan Rasul-Nya lah menjadi muaranya rindu…

>>Membuktikan Rindu

Sudah seharusnya hati terketuk untuk membuktikan rindu yang menyurga. Kenikmatan Surga yang indah nan abadi itu, itu kita mengetahuinya dengan baik. Hanya saja fitnah-fitnah akhir zaman menjadikan kita tenggelam dan larut dengan begitu asyik. Jadilah kerinduan terhadap Surga menipis tipis.

Rindu adalah kata kerja bagi hati, lisan pun ikut untuk memproklamasikan rindu itu. Sekiranya raga tak membuktikannya dengan apa yang diperintahkan Sang Empunya Surga maka hakikatnya kita hanya sedang berkhayal.

***

“ya Allah, jalan menuju surga-Mu begitu terjal nan berliku sedang jalan menuju Neraka-Mu penuh dengan segala hal yang dicintai nafsu kami dalam kaca mata dunia.

Ya Rabbi, ijinkan kami berjalan dalam naungan ridha dan kasih sayang-Mu yang tak bertepi yang walaupun kami sadar bahwa tak semudah itu kami kesana. Janganlah Engkau biarkan kami dalam kesesatan sehingga dengan mudahnya kami menukar abadinya kehidupan akhirat dan surga indah-Mu yang tak terbayangkan dengan kehidupan dunia yang begitu hina dina.

Ya Allah, sungguh betapa hati kami memendam rindu untuk berjumpa dengan-Mu. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang selalu setia membuktikan rindu kami kepada-Mu hingga kami menjadi bagian dari mereka yang berbahagia memandang Wajah-Mu yang abadi.”

Wallahu a’lam. Subhanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ila ha illa anta asytaghfiruka wa atuubu ilaika

***
Kontributor: Iwan Permana Naufal, Djamil Grooth, Raden Suronotojoyo Joe, Maya 'Echo' Azzahra, Umi Trisetyarizki, Demi Faizani, Faiza Alhusna, Nurfitriyah Hidayah, Janna Cayank, Rezita Aprilia, Mariyamah Amah dan Risma Dewi Zain An-Najm.

Penyusun Ulang: Abdullah Akiera Van As-samawiy

_________
End Notes:

[1] QS. al-Qiyamah: 22-23

[2] HR an-Nasa’I no. 11234. At-Thahawi menegaskan bahwa memandang Allah adalah haq (benar adanya) bagi para penduduk Surga. Lihat keterangan ini dalam kitab Jinaan Al-Khuld Na ‘Iimuha Wa Qushuuruha Wa Huuruha karya Syaikh Mahir Ahmad

http://www.facebook.com/notes/abdullah-akiera-van-as-samawiey/karena-jiwa-selalu-memendam-rindu/192333560809991
thank you