Minggu, 23 Januari 2011

Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah


Oleh: Ummu Mariah Iman Zuhair
Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.
Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang perpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma’ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.
Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:
Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: “Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”
Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: “Mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam.” Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.
Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?
Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: “Sakit ringan di kakiku.” Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: “Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah.” Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.
Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.
Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata: “Alhamdulillah… alhamdulillah… alhamdulillah.” Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: “Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku.”
Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!
Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!
Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.
Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: “Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku.”
Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: “Apakah engkau seorang muslimah?” Dia menjawab: “Tidak.”
Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.
Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu sebagai gantinya.
Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: “Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna.” Temanku tersebut berkata: “Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati.”
Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!
Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.
Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu’ dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!
Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.
Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.
Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang.
Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: “Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat.” Kukatakan: “(Mimpi) yang baik Insya Allah.” Dia berkata: “Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi.”
Akupun bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut.” Dia menjawab: “Aku menyangka, bahwasannya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku.” Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.
Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: “Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: “Aku ingin mencium pipimu yang kedua.” Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: “Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah.”
Maka dia berkata: “Asyhadu alla ilaaha illallah.”
Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallaah.” Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” Dan keluarlah rohnya.
Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil ‘aalamin. (AR)*

~“Di Penghujung Setia Kan Kita Berjumpa" Catatan Akhir Pekan (part 4)~

"....kesetiaan adalah kata kerja bagi hati yang didominasi oleh keteguhannya, dan ragalah yang mengadegankan bukti dari kesetiaan itu...

Kesetiaan adalah simbol cinta, bukti kasih, dan nada-nada indah yang menyahduhkan hati. Sungguh indah hari-hari penuh setia..."

****

Secara perlahan daun mata kami terbuka. Pada saat yang sama, secara perlahan pula, rasa sadar mulai mendominasi alam pikiran. Ternyata jam di handphone kami menunjukkan pukul 02.29 WITA dini hari. Terasa sekali kepala memberat, bola mata  memerah, pula berkaca.


Sepertinya semua organ-organ tubuh kami sedang meronta karena sedang mengalami gangguan sehingga tidak berfungsi dengan baik. Kami rasakan gerakan jantung berdetak lebih cepat daripada kondisi normal, bibir mengering dan lidah terasa pahit. Jari-jari kaki sesekali  ciptakan gerakan, begitu pula jari tangan.


Benar-benar mencoba untuk menutupkan kembali daun mata. Tentu saja mudah. Tapi tak bisa terlelap. Pikiran bercabang tak memfokus. Menulis catatan ini, kami tidak sedang mengeluh. Kami begitu senang sambil mencoba tersenyum penuh kesahajaan.


Bukankah sakit penghapus dosa? Tak pelu bersedih, bukan?

Bukankah sakit merupakan salah satu ajang untuk melatih kesabaran? Ah, tentu saja kawan lebih paham tentang ini.


Ketika pikiran kami melalang buana, memori kami berhasil mengingat sebuah rekaman episode kehidupan seorang laki-laki. Berikut penggalannya.



>>Lelaki yang Menginspirasi Itu


Sore itu, dan sore-sore lainnya, terasa sejuk. Sinar mentari begitu mencerahkan. Angin berhembus kipaskan raga yang tadi siangnya tersengat mentari. Terlihat beberapa daun yang kuning menua berjatuhan.


Kawan, alihkanlah sejenak pandanganmu ke arah depan rumah kontrakan kami. Terlihat seorang lelaki yang merupakan tetangga dekat kami itu sedang berjalan. Engkau pasti bisa menebak bahwa ia begitu senang dan bahagia namun tidak riang layaknya anak-anak karena lelaki itu memang bukan anak-anak.


Kami, dan mungkin engkau pula, akan bisa menangkap bahwa di taman hatinya sedang bertandang musim semi yang menyemikan cinta, bukan cinta atau asmara picisan. Pada saat yang sama, sepertinya, bertandang pula musim gugur yang menggugurkan daun-daun kejenuhan dalam mengarungi derasnya arus kehidupan. Nampaknya, bertamu pula musim hujan, merintik-rintikan air yang menyuburkan rasa sayang.


Tak sendiri lelaki itu berjalan. Lihatlah sejenak kembali. Ia bersama seorang wanita. Ditemaninya wanita tua yang sedang duduk manis di atas kursi roda itu, seorang wanita yang duduk lumpuh melemas. Hanya bibir, lidah, mata dan bagian kepala secara umum yang mampu ciptakan gerakan.


Aduhai. Begitu kasihan wanita kita ini. Sedang ia jalani masa-masa di penghujung umurnya dengan penyakit lumpuh yang Allah takdirkan. Kami melihat tak ada keluh kesah. Namun begitu, kami bisa merasakan bahwa jauh dalam lubuh hatinya, ia membutuhkan perhatian dan sayang dari orang-orang tercinta. Ia butuhkan perhatian dari cucu-cucunya, do’a tulus dari anak-anaknya, dan tentu saja sejuta cinta dari kekasih hatinya.


Dan lelaki yang kami bicarakan tadi benar-benar telah menunjukkan kejantanannya sebagai laki-laki sejati. Dengan penuh kesungguhan jiwa dan raga, atas nama kesetiaan cinta, ia buktikan bahwa ia adalah sosok suami yang bisa dibanggakan.


Didorongnya kursi roda dengan penuh sayang sambil menuturkan kisah-kisah untuk menghibur wanita lumpuh itu. Dibawanya sang wanita menyusuri taman bunga sambil mengenang memori indah masa lalu. Dihadiahkannya senyum ikhlas teruntuk wanita yang merupakan nenek bagi cucu-cucunya.


Masya Allah, bahagianya sang wanita memiliki pangerannya.


Kami melihat bahwa ini adalah salah satu potret indah dari sebuah kesetiaan yang diperagakan anak adam. Ia begitu setia untuk selalu berbagi kasih dengan sang pujaan walau usia pernikahan telah lama terajut. Ada keengganan untuk berpaling cinta dan inilah salah satu kesetiaan sejati yang mengucurkan pahala.


>>Inilah Ungkapan Kami Tentang Kesetiaan


Tema kesetiaan inilah yang akan kami fokuskan pembicaraannya dalam catatan akhir pekan bagian keempat ini. Inilah sebuah tema yang harus direkam apik oleh setiap anak adam dalam ingatan mereka. Inilah sebuah  tema yang harus selalu diperagakan dalam setiap episode kehidupan.


Untuk menambah perbendaharaan makna dari sebuah kosakata, ijinkan kami memberikan definisi tersendiri tentang arti sebuah kesetiaan.


Menurut hemat kami, kesetiaan adalah keengganan hati, lisan dan raga untuk berpaling. Berpaling dari apa? Tergantung sebuah kata yang disematkan setelah kata “kesetiaan”.


Ketika kami sebutkan kata “Kesetian Cinta”, misalnya, maka kami sedang memberikan definisi bahwa dalam kata tersebut ada keengganan hati, lisan dan raga untuk memalingkan cinta.

Kami merasakan bahwa kesetiaan adalah kata kerja bagi hati yang didominasi oleh keteguhannya, dan ragalah yang mengadegankan bukti dari kesetiaan itu.


Dalam sejarah kehidupan anak adam tentu saja tersimpan sejuta contoh-contoh kesetiaan yang tersemburat dari jernihnya telaga iman. Kami pun menemukan contoh tersebut dalam sebuah literatur yang kami miliki.


>>Dua Bocah yang Mengagumkan


Adalah dua anak kecil begitu mencintai seorang laki-laki. Ketika keduanya mendengar kabar kepastian bahwa lelaki yang mereka cintai itu dicela maka keduanya bertekad membunuh si pencela. Iya kawan, membunuh si pencela.
Anak kecil pertama berkata dengan penuh ketegasan dan jiwa kesatria:


”. . .demi Allah jika aku bertemu dengannya (si pencela), niscaya aku dan dia (si pencela) tidak akan berpisah sampai salah satu diantara kami terbunuh.”[1] 


Anak kedua pun berkata demikian.


Keluarlah dua anak kecil itu dengan semangat yang berkobar. Keduanya benar-benar mencari si pencela untuk segera membunuhnya. Mereka bertanya kepada seorang yang mereka jumpai:


“Di mana lelaki (pencela) itu”

“Itu dia disana” 


Dan Allah pun mentakdirkan keduanya berjumpa dengan si pencela.


Allahu akbar, Allahu akbar.


Segeralah pedang-pedang terhunus dan ketiganya larut dalam pertarungan, merekapun berhasil membunuh si pencela.


Subhanallah, alangkah berkualitasnya kesetiaan cinta yang tertancap dalam sanubari kedua anak itu. Kesetiaan cintanya mampu menghunus tajamnya pedang hingga mengalirkan darah di kancah peperangan.



>>Meneguk Manisnya Madu


Marilah meneguk manisnya madu yang tersarikan dari dua buah fragmen kisah yang kami sebutkan.

Begitu indahnya kesetiaan yang  dicontohkan sang lelaki tua. Tentu saja ada kebahagian di hatinya, pula di hati sang istri. Dalam kisah pertama yang menginspirasi itu, keteguhan hati untuk tidak memalingkan diri dari sang kekasih inilah kami namakan sebagai sebuah kesetiaan. Dan raganya terhentak untuk membuktikan kesetiaan itu dengan ekspresi spesial yang ia pilih.


Kesetian adalah simbol sebuah cinta, bukti sebuah kasih, dan merupakan nada-nada indah yang menyahdukan hati. Begitu indah hari-hari penuh kesetiaan.


Dan kesetiaan inilah yang telah menjadi bukti cinta dua anak kecil dari kaum Anshar tadi. Keduanya bertaruh nyawa untuk membunuh Abu Jahl yang telah mencaci kekasih mereka yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Gelombang-gelombang cinta keduanya berkecamuk hebat setelah mendengar cacian dan makian itu. Kesetiaan cinta di hati keduanya kemudian mengirim sinyal-sinyal yang mampu menggerakkan mereka menuju medan laga.

Allahu akbar..


Allahu akbar..


Allahu akbar…


Keluarlah pedang dari sarungnya, seolah-olah tajamnya itu sedang haus darah. Benarlah kawan, terperciklah darah di medan peperangan. Dan, terenggutlah nyawa Abu Jahl saat itu. Begitu bergelora kesetiaan cinta yang mereka adegankan. Alangkah dahsyat kesetiaan cinta dua bocah itu. Pena kami pun bergetar menulisnya. Hati kami pun bergemuruh lalu mengkacakan hitam bola mata walaupun tak menderaskan tetesannya.


Keduanya telah mengabarkan kami dan anda bahwa kesetiaan cinta kepada Allah menjadikan pelakunya harus menyetiakan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan celaan kepada Allah, dan bahwasanya cinta, benci dan marah hanyalah karena Allah bukan karena makhluk.



>>Kesetiaan Tertinggi


Kami mendapati bahwa kesetiaan tertinggi yang diperagakan anak  adam adalah pengabdian mereka kepada agama Allah. Kesetiaan pada level ini merupakan pengabdian yang begitu agung. Apa yang kami sebutkan ini bukanlah sebuah pekerjaan biasa dan dan bukan pula sebagai kewajiban biasa.


Kami melihat bahwa kesetiaan yang terpolesi oleh rasa pengabdian terhadap agama  tersebut merupakan tiang penting yang merupakan penyangga tegaknya agama Allah di bumi pertiwi. Inilah sebuah kesetian yang tidak boleh ditinggalkan.
Dan pemahaman seperti inilah yang tertanam dan tertancap kuat dalam sanubari pendahulu umat islam, As-Salaf As-Shalih, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari akidah mereka.



>>Kesetiaan yang Teruji


Tak hanya sekedar simbol sebuah cinta, kami melihat bahwa kesetiaan pula merupakan bukti sebuah cinta yang berkualitas. Kami tidak memasukkan kesetian cinta asmara picisan yang dilakoni muda-mudi pada bagian ini. Tentu engkau bisa mengetahui bahwa apa yang mereka lakoni itu menunjukkan rendahnya level cinta yang mereka dengungkan.



Kepadamu sahabat yang kami hormati.


Kesetiaan kepada agama Allah tak hanya rasa yang berinang di hati, ucapan-ucapan lisan atau terlakoni oleh raga namun membutuhkan uji kualitas sehingga benar-benar diketahui kadar sebuah kesetiaan itu.

Dengan uji kualitas kesetiaan tersebut, orang-orang besar mengukir sejarahnya, orang-orang shalih mendapat bagian pahala yang bercucuran, dan orang-orang mukmin mendapati kesalahannya terhapus.


“…senantiasa cobaan dan ujian menyertai seorang mukmin sampai-sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa satupun kesalahan.”[2]


Demikian potongan kabar langit yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan terekam apik dalam kitab Shahih Bukhari.


Adalah para nabi dan Rasul yang begitu setia terhadap titah Rabb-Nya mendapat uji kesetiaan yang paling berat diantara makhluk Allah di muka bumi.


Lihatlah kesetiaan beberapa nabi yang leher dan badan mereka digergaji oleh kaumnya.

Lihatlah kesetian sang Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam yang menjadikannya terlempar dalam api.

Lihatlah kesetiaan Ismail ‘alaihissalam yang rela dibaringkan untuk disembelih sang ayah.

Lihatlah kesetiaan Ayyub ‘alaihissalam yang mempesona saat ditimpa penyakit bertahun-tahun.

Lihatlah kesetiaan Yusuf ‘alaihissalam yang melewati episode-episode penuh ujian.


Dengarlah olehmu do’a indah yang menunjukkan kesetiaan Abu Bakar ash-Shiddiq terhadap agama Allah sebelum nyawanya dicabut,  

“matikanlah aku dalam keadaan muslim dan susulkanlah aku dengan orang-prang shalih.”[3]


Lihatlah tetesan darah yang terpercik di lembaran Al-qur’an sekaligus menjadi saksi kesetiaan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu saat terbunuh di rumahnya.

Ciumlah anyir darah para penghafal Al-qur’an yang gugur di medan perang.

Lihatlah kesetiaan para sahabat yang darahnya tumpah dan mengalir demi kesetiaan mereka membela agama Allah, pun leher mereka terpenggal karena sayatan pedang berkilau.

Lihatlah tubuh Imam Abu Hanifah yang nyawanya terenggut dalam penjara.

Tengoklah tubuh Imam Malik yang diikat lalu didera dan disiksa pedih. Saksikanlah tubuh Imam Syafi’i yang diikat dan dirantai.

Lihatlah tubuh Imam Ahmad yang amat keras dicambuk dan mengalirkan darah. Kesetiaan mereka benar-benar teruji dan nyawa-nyawa mereka pun menjadi taruhannya.


Sungguh benarlah jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat ditanya oleh Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu tentang siapa manusia yang terberat uji kualitas kesetiaannya.


Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:


Para nabi, lalu orang-orang shalih, kemudian orang-orang setelah mereka dan demikian seterusnya. Seseorang akan mendapat cobaan sesuai dengan kadar agamanya. Sekiranya agamanya begitu teguh, cobaannya akan ditambah. Namun jika agamanya lemah, cobaannya akan dikurangi…”[4]


Benarlah pula apa yang Allah abadikan dalam Al-qur’an bahwa uji kualitas kesetiaan merupakan tiket ke surga.


Apakah anda mengira bahwa anda akan masuk Surga padahal belum datang kepada anda (cobaan) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum anda?...”[5]


Masih pada ayat yang sama, Allah mengabarkan pula tentang mereka yang lebih dahulu diuji kualitas kesetiaannya yaitu diantara Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya.


“…mereka ditimpa malapetakka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)…”[6]



>>Hadiah Istimewa di Penghujung Setia


Kepadamu saudara dan saudari kami

Letih memang menghadapi ujian dunia dan isinya. Fitnah selalu menghantam karang keimanan. Kesetiaan kepada agama Allah selalu diuji maka kata sabar selalu menjadi kasur empuk untuk merebahkan jiwa.


Akan tiba masanya orang-orang yang menyetiakan  diri di jalan keimanan mendapat hadiah yang tiada tara, sebuah hadiah istimewa yang merupakan puncak segala kenikmatan.


Berbahagialah engkau wahai saudara kami yang shalih nan bertauhid dan berakidah yang benar. . .

Berbahagialah engkau wahai saudari kami yang shalihah nan bertauhid dan berakidah yang benar. . .


Kita akan berjumpa dengan wajah Allah yang agung kelak di Surga. Itulah perjumpaan yang hakiki dan benar-benar merupakan puncak segala kenikmatan. Itulah perjumpaan yang membuat jiwa berdecak kagum karena begitu terpesona. Itu semuanya akan dihadiahkan bagi semua penduduk Surga yang dahulunya setia di jalan keimanan.


Kelak di Surga, wajah orang-orang yang beriman akan berseri-seri melihat Tuhan mereka.


Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”[7]


Sebagai penutup, kami kutip sebuah hadits yang merekam keadaan penduduk Surga saat merasakan nikmat dan sedapnya memandang wajah Allah. .


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

jika penduduk Surga sudah masuk Surga dan penduduk Neraka sudah masuk Neraka, maka sang penyeru memanggil:

 ‘Wahai penduduk Surga! Sesungguhnya Allah mempunyai janji kepada kalian  yang sekarang hendak Dia penuhi’.


Para penghuni Surga menjawab:

 ‘Apakah itu?

Bukankah Dia sudah memberatkan timbangan amal kami?

Memberi sinar putih pada wajah kami?

Memasukkan kami dalam Surga dan mengeluarkan kami dari Neraka’.”


Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 


“Maka hijab disingkap, mereka pun memandang-Nya. Demi Allah! Tidaklah Allah memberikan sesuatu kepada mereka yang paling mereka sukai dan paling menyedapkan pandangan mata mereka daripada memandang-Nya.”[8]


*****


Sahabat, mata kami sudah melelah. Raga begitu letih. Sepertinya sudah bisa terlelap. Semoga saja terhadiahkan pijitan bidadari kelak di Surga.

Sampai berjumpa di esok hari yang cerah.
Wallahu a’lam. Subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu alla ila ha illa  anta astaghfiruka wa atubu ilaika.

Penulis: Fachrian Cansa Akiera As-samawiy


Editor: Al-akh Al-fadhil Johan Saputra Halim


Selesai ditulis saat malam terpolesi kemuning purnama di pertengahan Safar 1432 H (Januari 2011 M). Mataram, Lombok, Pulau Seribu Masjid.


________
Endnotes:

[1] Lihat kisah ini dalam kitab Shuwarun min Hayatisy Syabaab fii Shadril Islam karya Dr. Sulaiman bin Qasim Al-‘ied

[2] HR. Bukhari. Kami kutip dari kitab al-Khutuwatu ilas Sa’adah karya Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim

[3] Do’a kutipan dari kitab Al-khulafa’ur Rasul karya Amru Khalid pada bab kisah Abu Bakar Ash-shiddiq radiyallahu ‘anhu.

[4] HR Bukhari. Kami kutip dari kitab al-Khutuwatu ilas Sa’adah karya Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim

[5] QS Al-Baqarah: 214

[6] QS Al-Baqarah: 214

[7] QS. al-Qiyamah: 22-23

[8] HR an-Nasa’I no. 11234. At-Thahawi menegaskan bahwa memandang Allah adalah haq (benar adanya) bagi para penduduk Surga. Lihat keterangan ini dalam kitab Jinaan Al-Khuld Na ‘Iimuha Wa Qushuuruha Wa Huuruha karya Syaikh Mahir Ahmad
thank you