Minggu, 12 Desember 2010

Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu 03

‘Ikrimah rahimahullah termasuk pembesar ulama tabi’in berkata: “Ibnu ‘Abbas mengikat kakiku dan mengajariku Al-Qur’an dan fara’idh (ilmu waris)”. Maka ‘Ikrimah mengantongi segudang manfaat dari semangat gurunya -Ibnu ‘Abbas- ini, maka jadilah dia seorang ‘alim dari sekian ulama umat pada zamannya dan zaman tabi’in. Demikian pula para ulama kita dari genersi tabi’in dan yang setelah mereka, mereka menyadari betapa berharganya ilmu sehingga mereka mendermakan umur mereka yang berharga dan harta yang melimpah lalu mereka memanfaatkan waktunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan meraih ilmu yang bermanfaat.
Kesungguhan yang besar, pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan ulama pendahulu kita. Mereka tidak kenal dengan hidup malas dan curi-curi kesempatan untuk lari dari menuntut ilmu. Akan tetapi waktu mereka siang dan malam terisi dengan usaha menghasilkan ilmu yang bermanfaat.
Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata: “Aku membaca di hadapan bapakku di saat dia menulis, di saat dia jalan, di saat berkendara, di saat dia di rumah, di saat dia di kamar mandi”. Ibnu Abi Hatim adalah syikhul islam dan anak dari seorang syaikhul islam. Ibnu Abi Hatim merupakan pembesar penghafal islam, dan bapaknya juga (Abu Hatim) merupakan pembesar penghafal islam.
Majduddin Ibnu Taimiyah penulis Al-Muntaqa (kakek Syaikhul Islam) jika dia masuk ke kamar mandi dia memberikan pada anaknya sebuah kitab lalu berkata: “Bacalah kitab ini dan angkat suaramu!”. Bacalah kitab ini dan angkat suaramu sedangkan dia dalam kamar mandi. Adapun kita, kita memiliki kamar mandi, tapi tempat apa? Ketika kita di dalam tempat itu adalah tempat kita berpikir, membuka rencan proyek, masuk kamar mandi sembari mengerjakan proyek, berpikir apa yang harus dikerjakan, apa yang akan dibutuhkan pada hari ini dan koreksi apa yang telah lewat.
Mereka (para ulama) menyangka bahwa waktu akan terbuang sia-sia ketika di kamar mandi. Jika masuk kamar mandi dia memberi anaknya kitab dan menyuruhnya membaca dan “Angkat suaramu!”.
Al-Khathib Al-Baghdady rahimahullah tidaklah berjalan di suatu jalan kecuali di tangannya ada permsalahan yang sedang dia bahas. Demikian juga An-Nawawy rahimahullah. Al-Imam Tsa’lab seorang imam ahli nahwu dan adab jika diundang seseorang ke suatu walimah mensyaratkan bagi tuan rumah agar dia diberi tempat yang lapang untuk kitabnya yang dia akan baca. “Saya akan hadir tapi beri aku tempat yang lapang”. Dan adalah sebab kematiannya bahwa dia keluar di hari jum’at setelah ‘Ashr dari masjid, dan di tangannya ada kitab yang dia baca. Tiba-tiba datanglah kuda menabraknya maka dia terjatuh dalam jurang, lalu beliau dikeluarkan mengaduh sakit dan berteriak lalu meninggal di hari yang kedua.
Tidaklah mereka (para ulama) menyia-nyiakan waktu merekaa, bersungguh-sungguh siang dan sore.
Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata: “Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan belum pernah merasakan kuah daging. Siang kami gunakan untuk keliling ke majelis para ulama, dan malam untuk pertemuan dan mencatat. Kami datang ke seorang ulama kami dikabari bahwa dia sakit, maka kami kembali dan kami temukan di jalan ada ikan dijual maka kami membelinya. Dan kami bertiga, sampailah kami ke rumah lalu tibalah jadwal majelis berikutnya maka kami pergi. Demikian berlangsung tiga hari sehingga kami tidak sempat memberikan ikan ini kepada yang bisa membakarnya, kemudian kami memakan ikan tersebut setelah tiga hari dalam keadaan sudah tidak baik kondisinya. Kemudian apa yang dia katakan????
Dia berkata: “Tidak akan diraih ilmu ini dengan berleha-leha.” Tidaklah dia ingin dipuji dengan hal ini, namun dia ingin menjamkan cita-cita. Dan akhir hayat mereka menjadi bukti akan kejujuran dan keikhlasan mereka. Mereka wafat di atas sunnah, dan di atas kebaikan, Allah menjadikan ilmunya bermanfaat bagi negara dan umat.
Al-Bukhary rahimahullah, salah seorang mereka berkata: “Aku melihatnya di suatu malam, dia berdiri sekitar 15 sampai 20 kali menyalakan lentera, menulis faedah (saduran ilmu) yang terbetik pada dirinya kemudian mematikan lentera itu dan kembali.” Dalam satu malam 15-20 kali menyalakan lentera demi menulis saduran ilmu.
Seorang dari mereka berkata: “Aku bertetangga dengan Al-Mundziry 12 tahun, rumahku di atas rumahnya. Tidaklah aku bangun di suatu malam kecuali terlihat ada cahaya lentera dan dia sibuk dengan ilmu.”
Mereka bersungguh-sungguh sehingga sampai kepada derajat yang tinggi dalam ilmu yang bermanfaat yang ditinggalkan untuk umat ini.
Ibnu Abi Dawud salah seorang lautan ilmu berkata: “Aku masuk Kufah dan hanya memiliki satu dirham lalu aku membeli 30 mud baqlah (kacang-kacangan). Maka aku memakan baqlah dan aku menulis riwayat dari Abu Sai’d Al-Asyad. Tidaklah habis kacang itu sampai aku bisa menulis 30 ribu hadits yang maqthu’ dan mursal.”
Mereka sangat pelit terkait dengan waktu yang mana waktu adalah kebutuhan darurat manusia. Waktu makan, waktu buang hajat. Sebagian mereka mengurangi makan, dan sebagian mereka memilih menu yang tidak butuh waktu banyak untuk memakannya.
Al-Farahidy berkata: “Waktu yang paling berat bagiku adalah waktu makan.” Demikian pula An-Nawawy rahimahullah tidaklah makan dalam sehari kecuali satu kali di waktu sahur, dan tidak minum kecuali satu kali menjauhi berbagi macam buah, karena dia akan membasahi tubuhnya sehingga menjadikan aku banyak tidur.
Sebagian mereka menyedikitkan makan di saat makan sehingga tidak butuh banyak minum, sehingga banyk masuk kamar mandi sehingga terbuat sedikit waktunya.
Ibnu Aqil berkata (yang maknanya): “Aku memilih kue lalu siram dengan air dibanding roti karena adanya perbedaan jenis.” Dia mengambil kue lalu menjadikannya seperti tepung lalu menelannya satu kali telan bersama dengan air, dan tidak memilih roti (terlalu lama makannya). Ii tidaklah berlebih-lebihan, Ibnu Aqil mampu dengan semangat ini mengarang kitab judulnya “Al-Funun” yang terdiri dari 800 jilid.
Adz-Dazhaby berkata: “Tidak diketahui dalam islam karya yang lebih besar dari kitab ini dalam 800 jild.” Beliau mengumpulkan padanya permasalahan aqidah, fiqih, bahasa, ushul, tafsir, sya’ir-sya’ir, wejangan, hasil pemikiran dan sebagainya. Maka cepat dalam makan, dalam berjalan, dalam menulis sesuatu yang dikenal dari ulama kita. As-Suyuthy berkata: berkata guru kami Al-Kinany dari bapaknya (penulis Al-Khithabah”: “Kecepatan temannya ilmu dalam tiga perkaraa: Dalam makan, berjalan dan menulis.”
Ibnu Sahnun ahli fiqih dari Malikiyah, dia memiliki budak wanita bernama Ummu Mudan. Suatu malan dia tersibukkan dengan menulis suatu kitab sampai larut, dan Ummu Mudan telah menyiapkan makan malam. Ummu Mudan berkata: “Tuanku makan malaan sudah siap.” Dia berkata: “Aku sedang sibuk”. Ummu Mudan ingin tidur kaena telh banyak begadang, namun dia beranjak menyuapi kepada Ibnu Sahnun dan dia tidak merasa. Ketika telah adzan fajr dia berkata: “Maafkan aku Ummu Mudan, malam ini sangat tersibukkan, datngkanlah makanannya!” Ummu Mudan berkata: “Demi Allah, aku telah suapkan kepadamu tuanku.” Dia berkata: “Demi Allah, aku tidak menyadarinya.”
Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabary disebutkan padanya sbuah faedah ilmiyah ketika dia menjelang kematiannya, maka dia meminta diberi tinta dan kertas. Ada yang berkata: “Sekarang di saat yang begini ahai imam?” Dia menjawab: “Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk meninggalkan menyalin ilmu sampai dia mati.”
Ibnul Qayyim berkata Syaikhul Islam guru kami mengabarkan bahwa dia tertimpa suatu penyakit dan dokter berkata padanya: “Engkau membaca dan menelaah itu akan menambah sakitmu”. Dia berkata: “Aku tidak bisa”. Dia diminta untuk libur dan istirahat beberapa hari. Dia berkata: “Aku tidak bisa”.
Sebuah semangat.
Kita mendorong dan menghibur diri kita dengan hikayat-hikayat dan kisah ini, semoga Allah menolong kita untuk menanamkannya pada diri kita.
Bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku, mari kita menanggung ujian dan lelah demi ilmu, demikian wahai saudaraku untuk kita bisa berusaha semampu mungkin meraih ilmu yang bermanfaat, terlebih lagi sarana untuk kita mencari ilmu sangat mudah di zaman ini. Maka kita harus memanfaatkan kesempatan dan kemudahan ini. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta salam semoga tercurah untuk nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya.
Sekian sampai di sini dengan sedikit peringkasan.
Diterjemahkan oleh:
‘Umar Al-Indunisy
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

Semangat Salaf Dalam Menuntut Ilmu 02

Dan sebagaimana diketahui pula bahwa agama Allah Ta’ala ini sampai kepada kita dengan begitu mudah dan gampang seakan-akan kita berhadapan dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan taufiq, pertolongan dan keutamaan Allah Ta’ala. Yaitu dengan Allah Ta’ala menyediakan bagi kita sebab-sebab dengan adanya perjuangan yang besar yang dilakukan oleh ulama salaf ini. Para pendahulu kita yang shalih dari kalangan shahabat dan tabi’in serta yang datang setelah mereka dari kalangan imam pembawa petunjuk dan penghilang kegelapan telah melakukan perjuangan dan pengorbanan.
Para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum- sangat besar semangatnya untuk meraih ilmu yang bermanfaat ini, dalam keadaan mereka itu sangat fakir dan tidak berkecukupan. Diantara mereka ada yang jika tersibukkan dia tetap berusaha mencari pengganti untuk hadir ke hadapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu- bersama tetangganya seorang anshar. ‘Umar hadir di suatu hari lalu kembali dan menyampaikan kepada tentangganya apa yang dia dengar, dan sang anshary hadir di suatu hari lalu kembali dan menyampaikan kepada ‘Umar apa yang dia dengar berupa wahyu, hikmah dan sunnah. Dan ini adalah satu dari sekian banyak contoh (dari kalangan para shahabat).
(Diantaranya) apa yang terukir dari perawi umat islam dan penghafalnya shahabat yaitu Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-. Dia telah meriwayatkan bagi umat ini jumlah yang besar dan kumpulan yang banyak dari hadits-hadits Rasulillah – shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Yang mana jumlah yang besar dari hadits ini telah membuat murka musuh-musuh islam dari kalangan orang zindiq, atheis, zionis dan pengekor mereka. Maka mereka mencela kejujurannya dan mereka menciptakan keraguan terhadapa riwayat-riwayat ini sembari mengatakan “kenapa dia bersendiri dengan jumlah yang besar ini dari para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lain. Dan mereka tidak tahu bahwa perbendaharaan yang besar ini yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- untuk umat ini terjadi setelah adanya taufiq dari Allah Ta’ala sebagai buah dari kesungguhan, kegigihannya, pengorbanannya dan kesabarannya menahan lapar, kesabarannya menahan sakit yang dilakukan oleh Abu Hurairah. Kemudian dia –dengan keutamaan dari Allah Ta’ala- mampu meriwayatkan jumlah yang besar ini untuk umat ini. Dalam Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

يَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ وَيَقُولُونَ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يُحَدِّثُونَ مِثْلَ أَحَادِيثِهِ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَحْضُرُ حِينَ يَغِيبُونَ وَأَعِي حِينَ يَنْسَوْنَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا لَنْ يَبْسُطَ أَحَدٌ مِنْكُمْ ثَوْبَهُ حَتَّى أَقْضِيَ مَقَالَتِي هَذِهِ ثُمَّ يَجْمَعَهُ إِلَى صَدْرِهِ فَيَنْسَى مِنْ مَقَالَتِي شَيْئًا أَبَدًا فَبَسَطْتُ نَمِرَةً لَيْسَ عَلَيَّ ثَوْبٌ غَيْرُهَا حَتَّى قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَالَتَهُ ثُمَّ جَمَعْتُهَا إِلَى صَدْرِي فَوَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ مَا نَسِيتُ مِنْ مَقَالَتِهِ تِلْكَ إِلَى يَوْمِي هَذَا وَاللَّهِ لَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُكُمْ شَيْئًا أَبَدًا

“Mereka berkata: “Sesungguhnya Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits, dan di sisi Allah ada janji.” Mereka berkata: “Kenapa muhajirun dan anshar tidak menyampaikan hadits seperti hadits-haditsnya.” Sesungguhnya para saudaraku yang muhajirin tersibukkan dengan kesepakatan dagang di pasar-pasar, dan saudaraku yang anshar tersibukkan dengan pekerjaan harta (pertanian, peternakan) mereka. Dan adalaah orang yang miskin, aku terus mendamingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan tenang dengan kondisi perutku, maka aku hadir di saat orang-orang pada absen, aku menghafal di saat mereka terlupa. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari: “Tidak seorangpun dari kalian yang menghamparkan pakaiannya sampai aku menyelesaikan ucapanku ini kemudian dia melipatnya ke dadanya terlupa akan ucapanku selamanya meski sedikit.” Maka aku menghamparkan pakaianku yang bergari dan tidak ada yang melekat padaku kecuali itu sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan sabdanya, kemudian aku melipatnya ke dadaku. Maka demi Dzat yang mengutus beliau dengan al-haq tidaklah aku lupa akan sabda beliau itu sampai hari ini. Demi Allah kalau bukan karena dua ayat dalam kitabullah tidaklah akau menyampaikan hadits kepada kalian meski sedikit selamanya.”

إِنّ الّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآ أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيّنَاتِ وَالْهُدَىَ مِن بَعْدِ مَا بَيّنّاهُ لِلنّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـَئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاّعِنُونَ إِلاّ الّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيّنُواْ فَأُوْلَـئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التّوّابُ الرّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami terangkan kepada manusia dalam Al-Kitab mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah, dan mereka dilaknat oleh para pelaknat. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menjelaskan, maka mereka itulah yang Aku terima taubat mereka dan adalah Aku Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 159-160)
Kesungguhan, kegigihan, semangat dan pengorbanan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, semangat menuntut ilmu itu –wahai saudaraku di jalan Allah Ta’ala-, akan mengantarkan kita kepada hasil yang besar yang kita harapkan.
Dalam Ash-Shahih diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar dari engkau hadits yang banyak namun aku melupakannya”. Beliau bersabda: “Hamparkan selendangmu!” Maka aku menghamparkannya. Lalu beliau menciduk dengan kedua tangan beliau kemudian bersabda: “Genggamlah!” Maka aku menggenggamnya maka tidaklah aku lupa sesuatu setelahnya.”
Semangat yang kita butuhkan mengisyaratkan pada penuntut ilmu agar kita memilki kemauan, semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat, selalu dan terus-menerus maka akan datang hasilnya.
Abu Hurairah tidak sebatas hanya memiliki keterusan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterusan bersama guru itu bisa jadi terjadi selama puluhan atau ratusan kali, namun jika bisa terkumpul antara keterusan bersama guru, kesabaran dan semangat seorang penuntut ilmu akan meraih kebaikan yang banyak bi idznillah.
Dan Abu Hurairah berkumpul padanya dua pekara keterusan dan bersabar bersama guru dan semangat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi akan semangatnya mencari ilmu. Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling bahagia dengan syafa’at engkau pada hari kiamat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah menyangka wahai Abu Hurairah, tiada seorangpun yang bertanya akan hadits ini sebelum engkau, karena apa yang aku lihat akan semaangatmu mendapatkan hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat orang yang berkata: “Tiada ilah yang benar kecuali Allah” secar ikhlas dari kalbunya atau dari dirinya.”
Demikian terjadi pada banyak shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum. Bersungguh-sungguh, semangat dan berkorban.
Berikut terjemah Al-Qur’an dan tinta dari tinta-tinta umat ini yaitu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah dalamkanlah pemahamannya dalam agama ini dan ajarkan padanya tafsir.”
Yaitu dengan Allah Ta’ala menambahkan kepadanya ilmu dan hikmah, dan dia tidaklah hanya bersandar kepada do’a nabawy ini lalu duduk di rumahnya. Bahkan dia semangat dan bersungguh-sungguh dan begadang (demi ilmu) sampai dia menjadi ulama besar islam, mendalam dalam fiqih, tafsir, aqidah, bahasa dan ilmu nasab, serta tentang hari-hari arab dan selan itu.
Dari mana Ibnu ‘Abbas mendapatkan ilmu yang luas ini? Terwujud padanya do’a nabawiyah, Allah mengabulkan do’a nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Ibnu ‘Abbas juga Allah menolongnya untuk mengejar ilmu dan semangat meraihnya, memanfaatkan waktu dan kesempatan sedang dia berada di zaman yang penuh menuntut ilmu yaitu zaman pembesar shahabat. Ada Abu Bakar orang terbaik umat ini setelah nabinya, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay, Mu’adz dan mereka-mereka para ulama besar.
Dan hal itu tidak memalingkan Ibnu ‘Abbas dari menuntut ilmu sebagaimana terkadang terjadi pada sebagian kita. Ketike melihat adanya ulama besar dan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan manfaat dengan mereka pada umat, negara dan masyarakat, lalu dia minder dan meremehkan dirinya -dan pantas baginya untuk meremehkan dirinya- namun peremehan dirinya ini bukn pada tempatnya. Dia meremehkan dirinya kemudian menyebabkan dirinya tidak berusaha meraih ilmu dan berkata: Alhamdulillah.
Wahai saudaraku, ulama boleh jadi sekarang hidup, namun bisa jadi besok meninggal, dan harus ada orang yang menggantikan mereka pada umat ini dalam ilmunya. Jika penghamba dunia semangat untuk mengadakan orang yang mengganti posisi mereka dalam semua bidang, dalam ketentaraan, penerbangan, kedokteran, dan teknologi sampai tingkatan sihir sekalipun diperhatikan, sebagaimana dalam hadits yang shahih dalam kisah anak dengan penyihir dan raja.
Lalu bagaimana dengan ilmu syari’at, jika tidak ada perhatian dari umat, maka ia akan hilang dan habis tidak akan tersisa lagi silsilah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas di dalam hadits yang masyhur di sisi kalian tidaklah bersandar dan menyerah, namun dia melihat dengan pandangan yang jauh ke depan. Ad-Darimy meriwayatkan, dan Ahmad dalam Al-Fadha’il, dan Ibnu Sa’d dan selain mereka dari hadits Ibnu ‘Abbas dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat aku berkata kepada seorang pemuda anshar: “Marilah wahai fulan, kita menuntut ilmu. Sesungguhnya para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup”. Dia menjawab: “Sungguh aneh engkau wahai Ibnu ‘Abbas, engkau lihat manusia butuh kepadamu sementara di antara mereka ada shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Maka aku tinggalkan dia dan aku mengejar menuntut ilmu, jika ada hadits yang sampai kepadaku dari seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia telah mendegarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku datangi dia dan aku duduk di depan pintu rumahnya lalu angin menrepa wajahku. Lalu shahabat tersebut berkata kepadaku: “Wahai anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang membuatmu datang kemari? Apa kebutuhanmu?” Aku katakan: “Suatu hadits sampai kepadaku yang engkau riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka dia berkata: “Tidakkah engkau utus seseorang kepadaku?” Maka aku katakan: “Aku yang lebih pantas untuk mendatangimu.” Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata: “Maka orang anshar tadi masih dlam kondisinya sehingga manusia berkumpul kepadaku, makaa dia berkata: “Pemuda ini lebih berakal dari pada aku.”
Kenapa demikian? Karena para pembesar dari shahabat (yang anshary tadi beralasan dengan keberadaan mereka), mereka itu meninggal.

{ إِنّكَ مَيّتٌ وَإِنّهُمْ مّيّتُونَ }

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mengalami kematian dan mereka juga akan mati.” (Az-Zumar: 30)
Kematian mesti datang kepada setiap jiwa, berapapun umur seseorang, mesti dia akan sampai pada kematian. Kesungguhan ini pada diri Ibnu ‘Abbas pada dirinya bersama para muridnya. Demikian pula yang kita contoh dari ulama dan masyayikh kita, mereka bersungguh-sungguh pada diri mereka dan mereka semangat untuk mendorong murid-murid mereka. Demikian pula Ahlus sunnah di setiap tempat berada dalam koridor nasehat ini untuk diri mereka, saudara mereka dan murid mereka.

Semangat Salaf Dalam Thalabul Ilmi


إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران –  الآية: 102
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا }سورة: النساء – الآية: 1.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} سورة: الأحزاب- الآية: 70, 71.
أما بعد ، فان اصدق الحديث كتاب الله تعالى ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
Wahai saudaraku di jalan Allah Ta’ala,
Pertama kita hendaknya memuji Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memudahkan kita untuk berkunjung kepada saudara kami –hafizhahumullah- dari para masyayikh, penuntut ilmu dan ikhwah secara umum di ma’had yang penuh barakah ini. Dan kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kita dan ikhwah semuanya termasuk orang saling mengunjungi saudaranya karena Allah Ta’ala, berhubungan karenaNya dan saling mencintai karenaNya Ta’ala. Maka ini merupaka nikmat yang sangat besar dan agung yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada umat islam dan kepada ahlus sunnah, bahwa tidaklah mereka saling berhubungan dan saling mencintai kecuali karena Allah Ta’ala. Dan Nabi Shallallahu ‘alihi wa salam bersabda sebagaimana diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Ya’la dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-;

إن من عباد الله عباداً يغبطهم الأنبياء والشهداء ، ليسوا بأنبياء ولا شهداء ، قالوا صفهم لنا يا رسول الله لعلنا نحبهم ، قال: هم قوم تحابوا من غير أرحام ولا انساب ، وجوههم من نور على منابر من نور لا يخافون يوم يخاف الناس ولا يحزنون يوم يحزن الناس ، ثم تلى النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قول الله عز وجل: { أَلآ إِنّ أَوْلِيَآءَ اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتّقُونَ }سورة: يونس – الآية :62 , 63

“Sesungguhnya dari hamba Allah ada hamba-hamba yang ingin keadaan mereka seperti para nabi dan syuhada’, dan mereka bukan para nabi dan syuhada’. Mereka berkata: “Sebutkan cirri-cirinya kepada kami wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai bukan karena hubungan rahim bukan pula nasab, wajah-wajah mereka dari cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut pada hari yang manusia merasa takut, mereka tidak sedih pada hari yang manusia merasa sedih”. Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih, mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa.”
Kemudian kita juga berterima kasih kepada Fadhilah Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad Al-Imam –hafizhahullah ta’ala- semoga Allah Ta’ala memberikan barakah pada beliau, pada ilmunya, perjuangannya, keluarganya dan anak-anaknya. Dan kita memohon kepada Allah –tabaraka wa ta’ala- agar menjadikan kita dan sekalian ikhwah kita termasuk penolong al-haq dan penyeru kepada petunjuk. Dan kita berterima kasih kepada beliau akan kunjungan beliau saudara beliau dan anak didik beliau. Maka kita memohon kepada Allah Ta’ala agar membalas beliau dengan sebaik-baik balasan.
Wahai sekalian ikhwah fillah,
Pada kesempatan ini kami mengingatkan diri-diri kami dan segenap ikhwah dengan besarnya nikmat Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita, yang mana Allah telah menunjuki kita kepada agamaNya dan memberikat kita taufiq kepada sunnah Rasulillah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Maka ini merupakan seutama-utama nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kepada hamba-hambaNya yang muslim, yaitu menunjuki mereka agamaNya dan menjadikan mereka termasuk pengikut RasulNya Muhammad Shallalllahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala menutup nikmat ini dari sekian banyak orang dan dari jutaan manusia, mereka tidak mendapatkan taufiq untuk merengkuhnya dan tidak menunjuki mereka untuk meniti jalannya, kemudia Allah Ta’ala memilihmu dan mengutamakanmu sehingga engkau menjadi hambaNya yang shalih. Dan Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam kitabNya Al-Karim dengan kebaikan dan keutamaan ini, Allah Ta’ala berfirman;

{ وَاذْكُرُوَاْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مّسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطّفَكُمُ النّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مّنَ الطّيّبَاتِ لَعَلّكُمْ تَشْكُرُونَ}

“Dan ingatlah disaat kalian berjumlah sedikit lagi lemah di muka bumi, kalian takut akan disambar oleh manusia lalu Allah melindungi kalian dan mengkokohkan kalian dengan pertolonganNya dan Allah merizkikan kepada kalian perkara-perkara yang baik agar kalian bersyukur.” Al-Anfal: 26
Qatadah -rahimahullah- berkata: “Dahulu masyarakat Arab ini merupakan masyarakat yang paling hina, paling sulit kehidupannya, paling lapar perutnya, paling telanjang kulitnya dan paling jelaas kesesatannya, siapa yang hidup dari mereka hidup dalam kekerasan, siapa yang mati dari mereka dihempaskan dalam neraka sampai Allah mendatangkan islam, maka Allah Ta’ala mengokohkan mereka dengannya di semua negeri, meluaskan rizki bagi mereka dengannya, dan Allah Ta’ala menjadikan mereka penguasa di atas sekalian manusia”.
Kita harus memuji Allah Ta’ala atas semua itu, umat ini tidak memiliki nilai dan harga di tengah-tengah umat yang lain. Maka ketika Allah Ta’ala menginginkan untuk meninggikan kalimatnya dan mengangkat kepalanya Allah Ta’ala mengutus kepadanya rasul yang membawa petunjuk yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam.

{لَقَدْ مَنّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مّنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكّيهِمْ وَيُعَلّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مّبِينٍ }

“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kaum mukminin ketika Allah mengutus pada mereka seorang rasul dari diri mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Meskipun mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali-’Imran: 164
“Kesesatan yang nyata” berupa kesesatan kesyirikan, khurafat dan kebid’ahan. Maka Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dengan nabiNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala menyatukan mereka dengannya setelah terjadi perpecahan memuliakan mereka dengannya setelah kehinaan, mengkayakan mereka setelah kemiskinan dan menunjuki mereka dengannya setelah tersungkur dalam kesesatan, kekufuran dan penyimpangan.
Maka ini adalah nikmat yang besar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Tidaklah berlangsung kecuali beberapa saat dan sedikit tahun tiba-tiba dibukakan bagi umat ini negeri-negeri di bagian timur dan barat. Jadilah ia sebaik-baik umat dan umat terkuat dan termulia yang sebelumnya mereka hanyalah penggembala onta, sapid an domba. Tidaklah ia kecuali saat yang sebentar jadilah mereka seperti yang kalian dengar. Apa sebabnya?
Sebabnya adalah agama ini (islam), agama yang agung ini, agama yang penuh keutamaan dan kebaikan. Agama yang di saat salaf shalih berpegang teguh dengannya Allah Ta’ala memuliakan mereka dan mengangkat derajat dan kemuliannya. Demikian pula umat yang sekarang jika mereka kembali kepada agama mereka dan berpegang teguh dengan kitab Rabbnya dan sunnah nabinya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam niscaya akan terwujud bagi mereka apa yang Rabb mereka janjikan dalam kitabNya dan lisan nabiNya. Allah Ta’ala mengabarkan dalam kitabNya bahwa masa depan adalah bagi agama ini dan kesudahan yang baik adalah bagi hambaNya yang bertakwa sebagaimana Allah Ta’ala firmankan;

{هُوَ الّذِيَ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىَ وَدِينِ الْحَقّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدّينِ كُلّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ }

“Dialah yang mengutus rasulNya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Dia menampakan agama ini atas sekalian agama, meskipun orang-orang musyrik itu tidak suka.” At-Taubah: 33
Demikian juga Allah Ta’ala berfirman;

{ وَعَدَ اللّهُ الّذِينَ آمَنُواْ مِنْكُمْ وَعَمِلُواْ الصّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكّنَنّ لَهُمْ دِينَهُمُ الّذِي ارْتَضَىَ لَهُمْ وَلَيُبَدّلَنّهُمْ مّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

“Allah telah menjajikan bagi orang-orang yang beriman dari kalian dan beramal shalih bahwa Allah akan benar-benar menguasakan mereka di muka bumi sebagaimana Allah telah menguasakan umat sebelum mereka, dan Allah akan benar-benar mengkokohkan agama mereka yang Dia telah ridhai bagi mereka, dan Allah benar-benar akan menggantikan bagi mereka ketakukan menjadi rasa aman, (jika) mereka beribadah kepadaku dan tidak menyekutukan aku dengan sesuatupun. Dan siapa yang kufur setelah itu maka mereka itulah orang yang fasiq.” An-Nur: 55
Dan Allah Ta’ala berfirman;

{وَلَيَنصُرَنّ اللّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنّ اللّهَ لَقَوِيّ عَزِيزٌ }

“Dan Allah benar-benar akan menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” Al-Haj: 40
Dan Allah Ta’ala berfirman;

{يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تَنصُرُواْ اللّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبّتْ أَقْدَامَكُمْ}

“Wahai oang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah maka Allah akan menolong kalian dan mengkokohkan kaki-kai kalian.” Muhammad: 7
Demikian pula janji yang ada dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah mengumpulkan bagiku bumi ini maka aku bias melihat bagian timur dan baratnya, dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya pada apa yang dikumpulkan bagiku darinya.”
Kalau begitu, agama ini akan sampai kepada setiap tempat, memasuki setiap rumah sebagaimana dalam hadits Tamim Ad-Dary yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam;

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلا وَبَرٍ إِلا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الإِسْلَامَ وَذُلا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ

“Benar-benar perkara ini akan sampai pada apa yang malam dan siang sampai padanya. Dan Allah tidak akan meninggalkan rumah perkotaan dan tidak pula pedesaan kecuali Allah memasukkan padanya agama ini dengan membawa kemuliaan bagi orang mulia dan membawa kehinaan bagi orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran.”
Allah Ta’ala tidaklah meninggalkan sebuah rumahpun, sama saja dari tanah liat, atau dari batu, atau dari kayu, atau dari bulu onta kecuali Allah Ta’ala memasukkan padanya agama ini. Akan tetapi sebagaimana diketahui bahwa janji ini tidak akan terwujud kecuali jika umat ini kembali kepada agamanya, pemimpinnya, rakyatnya, masyarakatnya, keluarganya dan individunya. Allah Ta’ala tidaklah menghadiahkan pertolongan ini kecuali pada orang yang berhak menerimanya. Dan orang yang berhak atsanya adalah orang yang istiqamah di atas agamaNya dan syari’atNya, dan mereka berpegang teguh dengan kitabNya dan sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa salam dalam seluruh perkara kehidupannya. Dalam perkara keyakinan, ibadah, mu’amalah, adab, akhlak, cara hidup, jalan hidup, dakawah dan juga dalam perkara pendidikan. Mereka itulah orang yang dicalonkan dan pantas mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala.
Dan ini sebagaimana juga diketahui, tidak mungkin terwujud kecuali jika ditemukan pada umat ini ukuran yang cukup dari kalangan ulama yang rabbany, ulama yang dalam ilmunya pemilik pandangan yang lurus, pemilik sifat wara’, zuhud dan pengalaman, yang mampu membedakan antara kemaslahatan dan kerusakan, membedakan antara manfaat dan madharat. Jika ada orang seperti mereka itu yang membimbing umat berdasarkan al-kitab dan as-sunnah dan mengembalikan umat kepada agama yang agung ini dan bias membawa umat untuk berpegang teguh dengan sunnah nabi pilihan Shallallahu ‘alaihi wa salam, maka diharapkan setelah itu akan terwujud pada mereka pertolongan Allah Ta’ala yang Allah ta’ala janjikan bagi mereka dalam kitabNya dan lisan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa salam.
Dan ini sebagaimana diketahui juga menuntut dari umat ini adanya perhatian dan semangat, penyempatan dan pengorbanan dalam meraih ilmu yang bermanfaat ini, juga dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat ini ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin. Memenuhi kesempatan manusia dan pikira mereka. Yang mana dengannyaa umat akan membedakan mana petunjuk dan mana kesesatan, membedakan antara kesyirikan dan tauhid, antara sunnah dan bid’ah, antara manfaat dan madharat, antara penyimpangan dan petunjuk. Maka harus ada kadar ulama yang seperti ini, dan ini tidaklah akan terwujud kecuali dengan adanya perjuangan, pengorbanan dan penerimaan secara menyeluruh dari generasi umat ini akan ilmu yang bermanfaat ini yang mana ia adalah warisan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Sebab-sebab Jin Dan Syaithan Mengganggu Manusia

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam حفظه الله berkata dalam kitab “Al-Inqadz”

Sebab-sebab Yang Dengannya Syaithan Dari Bangsa Jin Mempengaruhi Kaum Muslimin

Sebab-sebab yang melaluinya jin dan syaithan mengganggu kaum muslimin sangatlah banyak, dan cukup bagi kita menyebutkan sebagiannya saja, diantaranya:

Sebab Pertama: Jin bisa melihat kita dan secara umum kita tidak bisa melihat mereka.
Allah تعالى berfirman tentang Iblis dan anak turunnya,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Yang dipandang oleh para pakar tafsir adalah bahwa kata ganti pada firman-Nya“Sesungguhnya dia” itu kembali kepada Iblis, dan kata “para pengikutnya” maksudnya adalah keturunan dan anak-anaknya. Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya sebagaimana daam “Majmu’ Al-Fatawa” (15/7) tentang firman Allah تعالى,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Apakah hal itu umum, tidak ada seorangpun yang melihat mereka, ataukah ada sebagian yang melihat mereka dan sebagian tidak?
Maka Syaikhul Islam رحمه الله menjawab dengan berkata: “Yang ada dalam Al-Qur’an adalah bahwa mereka (jin) melihat manusia dimana manusia tidak melihat mereka, dan ini benar, mengharuskan bahwa mereka melihat manusia pada saat manusia tidak melihat mereka. Dan bukan maksudnya bahwa tiada seorangpun dari manusia yang melihat mereka, bahkan terkadang orang-orang shalih dan yang tidak shalih bisa melihat mereka, hanya saja mereka tidak melihat mereka pada setiap saat.”.
Maka dengan sebab bisanya mereka melihat kita dan kita tidak melihat mereka, mereka lancang untuk mengganggu kita dan mudah bagi mereka. Dan orang yang terjaga dari gaangguan mereka adalaah orang yang dijaga oleh Allah.

Sebab Kedua: Banyak syubhat (kerancuan) dan syahwat (hawa nafsu).
Jika makin banyak syubhat dan syahwat pada diri kaum muslimin maka makan banyak pula mereka mengkuti waswas syaithan, dan menerima tipu daya syaithan pada mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: “Sesungguhnya banyaknya waswas itu sesuai dengan banyaknya syubhat dan syahwat, dan penggantungan kalbu kepada yang dicintai yang kalbu bermaksud untuk mengejarnya, serta kepada yang dibenci yang kalbu bermaksud untuk menolaknya”. Maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk berbekal dengan pemahaman terhadap agama ini, sehingga akalnya mendapatkan cahaya, jiwanya tersucikan, dadanya telapangkan kepada kebenaran, dan kalbunya tertenangkan. Kalau tidak maka apakah engkau menyangka akan selamat dari banyaknya syubhat dan syahwat yang merupakan tempat gembalaan yang subur bagi syaithan.

Sebab Ketiga: Lalainya kalbu dari berdzikir kepada Allah تعالى.
Allah تعالى berfirman,

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ** وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan barangsiapa berpaling dari ajaran Rabb Yang Maha Pemurah, Kami adakan syaithan (yang menyesatkan), maka syaithan itu menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaithan-syaithan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Az-Zukhruf: 36-37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata sebagaimana dalam “Majmu’ Al-Fatawa” (4/34): “Dan syaithan itu memberikan bisikan dan menghindar. Jika seorang hamba mengingat Rabbnya maka syaithan itu mundur, dan jika ia lalai dari mengingat-Nya maka syaithan menggodanya. Oleh karenanya meninggalkan mengingat Allah تعالى menjadi sebab dan permulaan akan munculnya keyakinan yang bathil dan keinginnan yang rusak dalam kalbu. Dan termasuk mengingat Allah U adalah membaca Al-Qur’an dan memahaminya.”
Dan beliau juga berkata dalam sumber yang sama (10/399): “Sesungguhnya yang mencegah syaithan untuk masuk ke dalam kalbu anak Adam عليه السلام adalah karena padanya ada dzikir kepada Allah تعالى yang Allah تعالى mengutus para rasul-Nya dengan dzikir tersebut. Jika kalbu itu kosong dari dzikir kepada Allah maka syaithan akan menguasainya.”

Sebab Keempat: Gangguan manusia terhadap jin dan menyakiti mereka, entah secara sengaja atau tanpa sengaja.
Termasuk yang menyebabkan kelancangan jin mengganggu kaum muslimin adalah adanya gangguan kaum muslimin terhadap mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265) dimana beliau berbicara tentang sebab masuknya jin ke dalam diri manusia: “Dan terkadang manusia itu menyakiti mereka jika dia kencing dan mengenai mereka, atau menyiramkan air panas pada mereka atau manusia membunuh sebagian jin atau selain itu semua yang merupakan bentuk-bentuk gangguan. Ini merupakan jenis kerasukan yang paling keras dan betapa banyak orang yang kerasukan ini mereka bunuh.”
Dan betapa banyak kaum jin itu yeng memulai menzhalimi kaum muslimin dalam hal ini. Karena mereka menyamar dalm bentuk yang bisa dilihat oleh manusia seperti menjadi ular, ular besar, anjing, kucing dan sebagainya sehingga seorang muslim takut darinya, dan menyangkanya ia adalah makhluk yang ia kenal lalu ia bersegera untuk memukulnya atau membunuhnya sesuai dengan apa yang ia lihat, bukan karena ia ingin menyakiti jin. Dan syari’at islam telah mengijinkan untuk membunuh makhluk yang mengganggu dari sekian makhluk yang disebutkan dan makhluk yang memiliki hukum yang sama dengannya tanpa harus memberi peringatan terlebih dahulu, kecuali ular yang berada dalam rumah maka harus dingatkan dahulu tiga kali atau tiga hari.
Dan juga sebagian jin itu tinggal di tempat sampah dan belakang rumah dan manusia tidak melihatnya, lalu mereka melemparkan segala sesuatu yang lalu mengenai jin sehingga jin melakukan balas dendam.
Intinya: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk sengaja mengganggu dan menyakiti jin. Dan hendaknya ia meminta tolong kepada Allah untuk mengatasi mereka jika mereka mengganggunya.

Sebab Kelima: Terjadi dari jalan jatuh cintanya jin laki-laki atau wanita terhadap manusia.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “An-Nubuwat” (399): “Jin itu terkadang jatuh cinta pada manusia sebagaimana manusia jatuh cinta pada manusia, dan sebagaimana seorang pria mencintai wanita, dan wanita mencintai pria. Maka ia merasa cemburu padanya dan ia mendukung cemburunya itu dengan segala sesuatu. Dan jika yang dia cintai bersama yang lain maka terkadang dia menghukumnya dengan membunuhnya dan selainnya. Dan semua ini nyata terjadi.”
Dan beliau juga berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265): “Demikian juga wanita kaum jin. Di antara mereka ada yang menginginkan dari manusia yang ia bantu sesuatu yang diinginkan wanita kaum manusia dari para lelaki. Dan ini banyak terjadi pada lelaki dan wanitanya kaum jin. Banyak lelaki kaum in mendapatkan dari wanita kaum manusia perkara yang didapatkan manusia, dan terkadang perkara itu dilakukan pada kaum lelakinya.”
Maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk selalu berusaha menekuni dzikir syar’i, terkhusu yang terkait dengan dzikir masuk kamar mandi dan dzikir ketika berhubungan badan. Karena bertelanjang tanpa diawali dengan dzikir kepada Allah merupakan sebab jatuh cintanya jin kepada manusia.

Sebab Keenam: Terjadi sebagai bentuk mempermainkan manusia.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265) dimana beliau berbicara tentang kelakuan jin mempermainkan manusia: “Dan terkadang pengaruh gangguan jin itu terjadi sebagai bentuk memperamainkan manusia sebagaimana orang-orang bodohnya manusia mempermainkan (orang asing) yang sedang menempuh perjalanan.” Semoga Allah mencukupi par hamba-Nya dari kejelekan orang-orang bodoh tersebut dengan mengembalikan mereka pada jalan-Nya, berdoanya mereka kepada-Nya dan ibadah mereka kepada-Nya.

Sebab Ketujuh: Sebagian jin mengganggu manusia untuk memberi pelajaran pada mereka akibat mereka melakukan maksiat dan kebid’ahan.
Terjadi bahwa sebagian jin yang menyamar jadi manusia yang muslim mengabarkan bahwa sebabnya dia merasuki seorang muslim adalah karena muslim ini pelaku maksiat dan kebid’ahan. Dan makna dari hal ini adalah bahwa kaum jin itu terdorong rasa cemburu mereka terhadap islam maka mereka melakukan gangguan terhadap pelaku maksiat dan bid’ah dari kaum muslimin.
Dan sebenarnya hal ini tidaklah dibenarkan dari dua sisi:
  • Dari sisi bahwa masuknya jin ke tubuh seorang muslim itu haram.
  • Dari sisi bahwa para jin itu memperlakukan para pelaku maksiat dan kebid’ahan bukan dengan perlakuan
Maka tidak boleh bagi mereka memukul pelaku maksiat dan kebid’ahan tidak pula mengganggu mereka dengan jenis apapun, bahkan tidaklah jin berhak untuk menasehati kaum muslimin, karena nasehat mereka kepada kaum muslimin bisa membuat mereka ketakutan.
Secara garis besar: kebanyakannya terjadinya perlakuan ini terhadap kaum muslimin adalah berasal dari kaum jin yang bodoh meskipun mereka itu muslim.

Sebab Kedelapan: Terjadi sebagai bentuk ujian dan cobaan.
Allah memiliki hikmah dalam perkara yang Dia takdirkan dan tentukan atas seorang hamba yang shalih berupa pengaruh jin padanya, sebagaimana pengaruh syaithan kepada nabi Allah Ayyub عليه السلام.
Diterjemahkan oleh
‘Umar Al-Indunisy
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman
thank you