Senin, 11 Oktober 2010

BERHIASLAH DENGAN MURU'AH (KEHORMATAN)


Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah mengatakan: "Di antara adab seorang penuntut ilmu syar'i terhadap dirinya sendiri adalah: "Berhias denga MURU-AH(kehormatan)."


Hendaklah setiap penuntut ilmu syar'i senantiasa berhias dengan muru-ah dan segala yang bisa membawamu kepada muru-ah dengan selalu:

1. Berakhlak mulia.
2. Berwajah manis saat bertemu seseorang.
3. Menyebarkan salam.
4. Menolong orang lain.
5. Tegas tanpa sombong.
6. Gagah berani tanpa kediktatoran.
7. Bersikap ksatria tanpa harus fanatik golongan.
8. Punya semangat yang menggelora tanpa harus seperti orang-orang jahiliyyah.

Apakah Sifat Muru-ah Itu?

Para fuqaha (ahli fiqih) memberikan definisi dalam pembahasan mereka mengenai masalah persaksian bahwa muru-ah adalah melakukan segala perbuatan yang bisa membuatnya terhormat serta menjauhi segala yang bisa merendahkan martabatnya.

Apakah yang dimaksud dengan akhlak yang mulia?

Akhlak yang mulia adalah manakala seseorang mampu bersikap toleran sekaligus bisa tegas pada saatnya yang tepat.

Juga termasuk akhlak yang mulia adalah bermuka manis saat bertemu seseorang. Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:

"Janganlah engkau meremehkan kebaikan, meskipun cuma sekedar bermuka manis saat bertemu saudaramu." [HR. Muslim (2626)]

Namun, apakah ini berarti saya harus bermuka manis pada setiap orang meskipun pada gembong penjahat? Atau harus lihat situasi dan kondisi?

Jawabnya: "Sesuai situasi dan kondisi."

Saya bermuka manis hanya kepada enam orang, padahal jumlah mereka ada sembilan orang. Apa maknanya? Yakni, saya bermuka manis terhadap dua pertiga dari kelompok tersebut, adapun terhadap sepertiga yang lainnya? Biarkan saja mereka karena keadaan mereka yang mengharuskan untuk disikapi demikian.

Hendaknya engkau selalu bermanis muka, inilah sikap yang paling baik yang bisa membuat orang lain senang kepadamu. Mereka akan berani mengungkapkan sesuatu yang menjadi rahasia mereka kepadamu. Jika engkau senantiasa berwajah CEMBERUTdan bermuka masam, niscaya mereka akan takut dan tidak berani berbicara denganmu.

Namun, JIKA KEADAAN MENGHARUSKANMU untuk TIDAK bermanis muka pada mereka, lakukanlah. Dari sini ketahuilah bahwa sikap bermuka masam tidak selamanya tercela, juga orang yang senantiasa bermuka manis tidak selamanya terpuji.

Perkataan Syaikh selanjutnya: Menyebarkan salam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;

"Kalian tidak akan masuk Surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian amalkan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." [HR. Muslim ((54)]

Apakah itu berarti harus menyampaikannya dan mengucapkannya kepada setiap orang?

Tidak, akan tetapi cuma diucapkan kepada orang-orang yang berhak menerima salam, yaitu orang Muslim walaupun dia ahli maksiat, ataupun pezina, pencuri, pemakan riba, peminum khamr (arak), ataupun dia seorang yang fasik, (maka) ucapkanlah salam kepada mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari, ketika keduanya bertemu mereka saling memalingkan muka. Dan yang paling baik di antara keduanya adalah YANG LEBIH DULU mengucapkan salam." [HR. Bukhari (5883)]

Namun, jika ada seorang Mukmin yang melakukan suatu hal yang munkar, lebih-lebih kemunkaran yang sangat besar yang bisa menghancurkan masyarakat Islam, saat itu wajib menjauhinya (hajr) KALAU ADA MANFAATNYA.

Pada dasarnya, menyebarkan salam adalah untuk setiap orang Muslim, terkecuali orang yang TERANG-TERANGAN berbuat maksiat. Maka dia didiamkan (hajr), JIKA MEMANG DENGAN MENDIAMKANNYA DIA AKAN MENJADI SADAR.

Adapun terhadap non Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Janganlah memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani." [HR. Muslim (2167)]

Kita diharamkan untuk mendahului salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani. Demikian juga terhadap orang kafir lainnya yang lebih jelek dari mereka. Namun, jika mereka yang lebih dulu mengucapkan salam maka kita boleh menjawabnya, berdasarkan firman Allah Ta'ala;

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)." (An-Nisaa': 86)

Jika mereka mengucapkan "assalamu'alaikum", maka dengan tegas kita jawab "wa'alaikumussalam". Karena, itulah makna tekstual firman Allah "maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)."

Nabi manakala mengajarkan kepada kita untuk menjawab dengan "wa'alaikum", karena orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sesungguhnya mengucapkan "as-saamu'alaikum" (kecelakaan bagimu) sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadits dari ABdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya orang-orang Yahudi atau Ahli Kitab itu mengucapkan (as-saamu'alaikum), maka jika mereka mengucapkan salam (tersebut) kepadamu, jawablah dengan wa'alaikum (dan juga bagi kalian." [HR. Bukhari (5902) dan Muslim (2164)]

Ada juga sebagian orang yang tidak mau mengucapkan salam terhadap orang lain yang berbeda manhaj walaupun sebenarnya sat tujuan. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah mereka saling berdebat dengan lisan-lisan mereka, saling mencaci dan saling menjauhi.

Sebenarnya, kelompok-kelompok tersebut wajib saling mengucapkan salam, saling menasihati, serta saling MEMBERIKAN PENJELASAN kepada sudaranya seiman tentang kesalahannya sehingga kesalahan itu bisa segera dibenahi, yang dengannya hati kita akan saling bertautan.

Maka hindarilah hal-hal yang dapat merusak kehormatan, baik dalam watak (perangai), perkataan, perbuatan, sikap yang rendah dan jelek lainnya seperti ujub (berbangga diri), riya', sombong, takabbur, meremehkan orang lain, serta mengunjungi tempat-tempat kotor yang penuh syubhat.

Perkataan Syaikh: "Mengunjungi tempat-tempat kotor yang penuh syubhat."

Maksudnya adalah tempat-tempat yang akan membuat orang meragukan dirinya, kehormatan, serta akhlaknya, maka seharusnya DIHINDARI. Semoga Allah merahmati orang yang bisa membuat orang lain tidak menggunjingnya. Amin.

(Dikutip dari buku Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Jakarta, dengan diringkas)

Bagi saudaraku fillah yang senang bercanda-ria dengan lawan jenis yang bukan mahram, hendaklah senantiasa mengingat hadits berikut:

"Sesungguhnya sesuatu yang dikenal oleh orang dari ucapan para nabi sejak awal adalah JIKA ENGKAU TIDAK MALU, berbuatlah sesukamu." [HR. Bukhari (6/380). Mukhtashar Syu'abil Iman, Al-Imam Abul Ma'aly al-Qazwiini]

Malu adalah akhlak yang tumbuh untuk meninggalkan hal-hal yang jelek, mencegah dari berlebih-lebihan dari mengambil haknya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyempurnakan makna malu ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi secara marfu. Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Malulah kalian KEPADA ALLAH dengan sebenar-benarnya malu." Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami malu, Ya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Beliau berkata, 'Bukan demikian, tetapi orang yang benar-benar malu pada Allah adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa-apa yang memenuhinya, dan menjaga perutnya dan apa-apa yang memenuhinya, serta mengingat kematian dan hal-hal yang akan binasa. Barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah MENINGGALKAN PERHIASAN DUNIA. Barangsiapa yang melakukan semua ini maka ia TELAH BENAR-BENAR MALU kepada Allah."

Para ulama berbeda pendapat tentang kuat dan lemahnya malu berdasarkan hidup dan matinya hati. Jika hati hidup, maka sempurnalah malunya, begitu pun sebaliknya.

Hadits Salim bin Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dalam Shahihain, dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya ia mendengar seorang lelaki memberi nasihat kepada saudaranya tentang malu, ia berkata:

"Bersikap malulah kamu, karena sesungguhnya malu itu bagian dari keimanan." [HR. Bukhari (1/69) dan Muslim (36)]

Hadits Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu dalam keduanya:

"Sesungguhnya malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan." [HR. Bukhari (10/433), Muslim (37) dan Abu Dawud (4796)]

Adapun ucapan "berbuatlah sesukamu" sebagaimana dalam hadits di atas, adalah merupakan ANCAMAN, yaitu maksudnya adalah, sesungguhnya orang yang tidak merasa malu maka ia akan berbuat sekehendaknya, sehingga (rasa) malu-lah yang (akan) MENCEGAH seseorang untuk melakukan sebuah perbuatan yang (dapat) menjatuhkan kemuliaan dan harga dirinya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah KESENANGAN YANG MENIPU.” (Al-Hadid: 20)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya. Kecuali dzikir kepada Allah, apa-apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, orang yang mengajarkan ilmu, atau orang yang belajar ilmu."

[Hadits shahih; diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman (no. 1708), dan Ibnu Abi ‘Aashim dalam Az-Zuhd (no. 57). Dari jalur ‘Abdurrahman bin Tsaabit, ia berkata: "Aku mendengar ‘Atha’ bin Qurrah berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Hamzah berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: (lalu ia menyebutkan hadits tersebut)." Syaikh Saliim bin 'Ied Al-Hilaliy berkata: Sanadnya hasan."]

(dikutip dengan sedikit diringkas dari kitab Mukhtashar Syu'abil Iman, karya Al-Imam Abul Ma'aly al-Qazwiini, yang merupakan ringkasan dari kitab Syu'abil Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi)

0 komentar:

Posting Komentar

thank you