Jumat, 08 Oktober 2010

Kubingkis Mutiara Cinta untuk (Calon) Anakku




Untukmu anandaku sayang, kutulis surat ini saat ananda belum terlahir, bahkan ketika aku belum memiliki seorang wanita yang rahimnya akan menjadi pintu bagimu untuk masuki bumi Allah. Tertulis surat ini, pula, sebagai salah satu ungkapan cinta dari seorang laki-laki yang ingin menjauhkan diri dan keluarganya kelak dari dahsyatnya kobaran api neraka yang hitam pekat menyembur.


***

PENULIS : Fachrian Almer Akiera (Yani Fachriansyah Muhammad As-samawiey, Jurusan Matematika Universitas Mataram)



MURAJA’AH :



1. Ustadz Jamaluddin, Lc.

Beliau adalah penerjemah kitab-kitab berbahasa arab dan pernah menjadi tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Dirasah Islamiah Imam Syafi'i di Jember selama 2 tahun. Beliau pula alumni Lipia Jakarta.



2. Ustadz Abu Bakr Lalu al-Atsary.

Beliau adalah penulis buku dan telah diterbitkan oleh penerbit Majelis Ilmu Surabaya.



***



>>Ananda dalam Kandungan



Anandaku tercinta, seperti proses penciptaan manusia pada umumnya, ananda akan tercipta dari sari pati tanah. Allah jadikan ananda sebagai nutfah dalam rahim. Ananda pun menjelma menjadi segumpal darah. Selanjutnya menjadi segumpal daging. Allah membalut tulang-tulang ananda dengan daging. Terbentuklah ananda dalam wujud berbeda. Tibalah saatnya malaikat (atas kehendak dan perintah Allah) meniupkan ruh bagi raga ananda agar menjadi manusia seutuhnya.[1]





>>Menatap Indahnya Dunia. . .



Anandaku tersayang. Akan tiba saatnya ananda terlahir dari rahim seorang wanita yang penuh cinta. Dialah yang kemudian ananda panggil dengan sapaan “Bunda” secara naluri. Dialah yang akan menjadi seorang permaisuri yang akan membantuku mengarahkan bahtera kita menuju surga Allah. Untuk itu anandaku, aku berjanji, wanita yang penuh pesona takwa nan berilmu syar’i lah yang akan kujemput menjadi kekasih hati.



Kelak, ananda tercinta, kau akan ramaikan bumi ini atas kehendak Allah. Berbahagia dan begitu bersyukurnya kami kepada Allah sekiranya Allah benar-benar titipkan ananda untuk kami. Lihatlah disana, ananda, Allah terkadang menakdirkan orang tua tak miliki anak, padahal mereka begitu mendambakan kehadiran kalian sebagai permata hati. Mereka begitu sedih menunggu kedatangan kalian untuk curahkan kasih sayang.



Allah berfirman,



“Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang Dia kehendaki, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”[2]







>>>Permata Hati (Sejukkan Mata dan Jiwa). . .



Ananda yang kusayang. Adalah cinta dari Allah ‘azzawajalla akan memperkenalkan kita di bumi nusantara. Adalah cinta dari Allah akan mempertemukan kita di ufuk rumah. Adalah cinta dari Allah akan mempercintakan kita di atas agama tauhid ini. Adalah cinta dari Allah akan menjadikan ananda permata hati yang istimewa. Adalah cinta dari Allah akan menggelorakan letupan-letupan cinta kami pada kalian dan cinta kalian pada kami. Dengan cinta-Nya pula, ananda akan memekarkan kuncup-kuncup bahagia di beranda rumah.



Allah berfirman: 



“..Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia.”[3]



“..Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”[4]





Akan ada sejuta kebanggaan yang menyemburat dalam jiwa ketika kalian bercanda dan bermain bersama kami. Ada tawa pengikis lelah setelah kami berterik mentari di arena kehidupan. Ada senyum merona yang tersungging di bibir kami setelah bergelut dan berkutat dengan pekerjaan rumah.



>>Senarai Harapan Cinta. .



Anandaku terkasih, kelak kan kubisikkan padamu dengan penuh kelembutan kasih bahwa ananda hadir di bumi Allah ini adalah untuk menerbitkan kejayaan islam. Oleh karena itu, wahai pahlawanku, berhias dan berbekallah dengan ilmu syari’i.



Ketahuilah bahwa setiap muslim dan muslimah diperintahkan untuk menuntut ilmu, ilmu tentang agama islam yang mulia sehingga mereka akan memahami islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tak lah bisa seseorang melaksanakan agama ini dengan benar kecuali setelah belajar islam yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman salafushshalih. Agama kita adalah agama ilmu dan amal karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dengan membawa ilmu dan amal shalih.



Menuntut ilmu syar’I, seperti yang dituturkan para ulama, adalah jalan yang lurus untuk dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil, tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, yang ma’ruf dan munkar. dengan ilmu, kan terbedakan antara sesuatu yang bermanfaat atau tidak. Pula, akan menambah hidayah serta kebahagiaan dunia dan akherat.



Maukah ananda sekiranya Allah mudahkan surga untuk ananda? Maukah ananda sekiranya malaikat membuka sayapnya lalu mengepakkannya untuk ananda karena ridho dengan ananda? Maukah ananda sekiranya seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi hingga ikan di dasar air mendo’akan ananda ampunan? Tak inginkah ananda berada di salah satu taman-taman surga? Tak inginkah ananda sekiranya Allah menyanjung ananda diantara para malaikat? Maukah ananda mendapat keutamaan bagai keutamaan bulan diantara seluruh bintang? Jawabannya adalah dengan menorehkan tinta di majelis ilmu….



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:



"Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak. "[5]





>>Kisah Mereka Telah Berlalu



Ananda, kudapati seorang anak kecil berumur 10 tahun dengan penuh harapan dan semangat yang membara berucap kepada ibunya, ”apakah aku boleh pergi guna memburu ilmu? Insya Allah setelah sholat subuh nanti aku mau pergi untuk keluar menuntut ilmu (syar’i).” Alangkah bahagianya sang ibu mendengar permintaan sang buah hati. Sang ibu pun berkata, kemarilah anakku, pakailah pakaian ilmu.”



Lalu sang ibu menggantikan pakaian putranya dengan pakaian indah berwarna kecoklat-coklatan, memasang dan mengikatkan surban di kepalanya dengan penuh sentuhan keimanan, menaburkan parfum yang harum semerbak dengan harapan kelak sang anak akan menebarkan wewangian ilmu yang diperolehnya. Lalu dengan penuh sedih sang ibu berkata, ”pergilah anakku dan burulah ilmu.” Lalu sang anak belia itupun keluar demi mencari kebenaran dengan semangat yang tak pernah padam dan menemui 900 ulama di masanya. Subhanallah. Itulah jiwa yang selalu haus ilmu.



Tahukah engkau siapakah si kecil belia? Dialah imam Malik bin Anas bin Malik bin Amir[6], salah seorang imam madzhab penyusun kitab hadits al-Muwaththa’ yang beredar luas di kalangan penuntut ilmu dan disusun selama 40 tahun. Sang imam menapaki ilmu di waktu kecil dengan menggantikan kemalasan dengan kesungguhan, mengisi waktu dengan bercanda bersama ilmu lalu meneguk saripatinya.



Dan kepadamu wahai anandaku, pahlawanku, kesatriaku, jadilah engkau seperti mereka. Jadilah engkau seperti mereka. ..



Wallahu a’lam,

subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.



Catatan penulis:



Atikel ini adalah naskah lomba dalam penulisan antolog i sebuah buku yang bertemakan surat untuk calon anak baik dari seorang ayah/ibu maupun mereka yang belum menikah. Sebenarnya, begitu banyak yang ingin kami tuangkan namun karena keterbatasan halaman artikel yang dipersyaratkan panitia, yaitu maksimal 3 halaman, maka kami cukupkan disini dengan tema yang berhubungan dengan ilmu syar'i. Dan semoga kami pribadi bisa membahas hal ini dalam naskah buku kami pribadi di lain waktu.



Bagi anda yang ingin mengetahui tentang lomba, silahkan klik:http://azkamadihah.wordpress.com/2010/09/06/lomba-surat-untukmu-nak-dari-calon-ibumuayahmu/



Salam hangat untuk anda semua.



Mataram, 26 Syawal 1431 H (5 Juli 2010)


Endnotes:



[1] Proses dalam kandungan ini berdasarkan QS. Al-mukminun ayat 14 beserta hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud. Lihat kitab Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli (edisi terjemahan) oleh Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid. Penerbit al-I’tishom hal. 30.



[2] QS. As-syura: 49-50



[3] QS. Al-kahfi: 46



[4] QS. Al-furqan: 74



[5] HR. Abu Dawud no.3641, at-Tirmidzi no.2683, dan isnadnya hasan, Lihat Jaami'ul Ushuul 8/6. Sumber : Buletin Al Wala' wal Bara' 15 April 2005 / 06 Rabi'ul Awwal 1426.



[6] Lihat Kaifa Tashna’ Thiflan Mubdi’an (edisi terjemahan) oleh Syaikh Abdullah Muhammad Abdul Mu’thi, penerbit eLBA, hal. 285-290


Taman Orang-orang Jatuh Cinta (Raudhoh al Muhibbin)

0 komentar:

Posting Komentar

thank you