Minggu, 03 April 2011

DENGAN APAKAH KITA MENGISI WAKTU..??

Q Umaymah FarrasDengan apakah engkau mengisi waktumu ketika engkau berbaring? dengan apakah engkau mengisi waktumu ketika engkau duduk? dengan apakah engkau mengisi waktumu ketika engkau berdiri? dengan apakah engkau mengisi waktumu ketika engkau berjalan?


Daripada berbaring/duduk/berdiri/berjalan sambil bengong/menghayal, alangkah baiknya engkau berdzikir kepadaNya dengan hatimu, dengan lisanmu atau dengan keduanya.


Berdzikir dalam setiap kesempatan adalah CIRI-CIRI ORANG BERAKAL


Allah berfirman, tentang ORANG-ORANG BERAKAL:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah; sambil berdiri atau duduk ata…u dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(3:191)


Allah berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.
(Al-Jumu’a: 10)


Allah berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring
(An-Nisaa: 103)


Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya, seperti orang yang hidup dan yang mati.”
(HR. Bukhariy)


dalam riwayat lain:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan rumah yang di dalamnya selalu disebut nama Allah Ta’ala dengan rumah yang di dalamnya tidak pernah disebut nama Allah adalah sebagaimana orang hidup dan orang mati.”
(HR. Muslim)


Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, setelah membaca ayat tentang ORANG-ORANG MUNAFIQ:
وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
(An-Nisaa: 142)
berkata: “Barangsiapa yang banyak berdzikir maka ia akan terbebas dari sifat munafik.”


Tata Cara berdzikir

Ketahuilah, macam-macam dzikir:

- Dzikir dengan hati
Seperti engkau mengingat-ngingat nikmatNya, memikirkan penciptaanNya yang sempurna, menyadari akan kehadiranNya yang menyaksikan segala perbuatan kita, menyadari akan ilmuNya Yang Maha Mengetahui apa isi hati kita, menyadari akan PenglihatanNya yang Maha Melihat apa yang kita perbuat, menyadari akan PendengaranNya yang Maha Mendengar ucapan lisan kita, bertawakkal kepadaNya, dst. ini semua dzikir hati.


- Dzikir dengan lisan
Yang dinamakan dzikir dengan LISAN, adalah engkau menggerakkan LIDAHmu, kemudian mengeluarkan suara, yang volumenya tersebut dapat terjangkau telingamu dalam keadaan sepi. berarti jika lisan bergerak, tapi tidak mengeluarkan suara, maka ini bukan dzikir lisan.

Maka dari itu engkau TIDAK DISEBUT MEMBACA AL QUR-AAN jika engkau tidak mengeluarkan suara (dengan batas minimal tadi). baca: http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/bolehkah-membaca-al-quran-tanpa-suara/
Seperti engkau memujiNya dan mengagungkanNya dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifatNya yang Maha Agung lagi Maha Sempurna (seperti ucapan tasbih, takbir, tahmid, tahlil, membaca al qur-aan, dsb)

Seperti engkau menyebut-nyebut perbuatanNya (misal: Sesungguhnya Allah Maha Mendengar seluruh suara makhlukNya dan Maha Melihat gerak-gerik mereka).

Termasuk dalam dzikir lisan, engkau menyebut-nyebut nikmatNya, seperti: “segala puji bagi Allah yang telah mengkaruniakanku nikmat berada diatas islam, berada diatas iman, berada diatas iman, berada diatas sunnah, serta nikmat kehidupan, kesehatan, harta yang tercukupi serta keamanan.”
termasuk pula dalam hal ini, engkau berdakwah kepada keluargamu, kerabatmu, teman-temanmu, dsb.


- Dzikir dengan penggabungan hati dan lisan
yaitu penggabungan keduanya, disaat engkau berdzikir dengan lisanmu, diwaktu itu pula engkau menghadirkan hatimu. dan inilah sebaik-baiknya dzikir.


- Dzikir dengan anggota badan
yaitu seperti engkau shalat, haji, jihad dsb.


- Dzikir dengan hati, lisan dan anggota badan
semua ini terkumpul dalam shalat. maka dari itu Allah berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dalam shalat) adalah lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Ankaboot: 45)


Berkata Syaikhul Islam
“Penafsiran yang benar (tentang ayat ini), shalat memiliki DUA TUJUAN UTAMA, yang satu lebih besar dari yang lain.
Sesungguhnya Shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. tapi Dzikrullah (mengingat Allah) yang terkandung didalam shalat itu LEBIH BESAR NILAI dan MANFAATnya daripada mencegah perbuatan keji dan mungkar.”


Bagaimana Rasulullah mengisi waktunya ketika beliau duduk?

dari Ibnu ‘Umar, ia berkata; Dalam satu kali duduk Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam, sebelum beliau berdiri (meninggalkan tempat duduknya), terhitung seratus kali beliau mengucapkan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ
“RABBIGHFIRLII WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUL GHAFUUR”
(Wahai Rabbku, ampunilah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi taubat dan Maha Pengampun).
(HR. at Tirmidziy; beliau berkata; Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib; hadits ini dishahiihkan oleh Syaikh al Albaaniy)


Dalam riwayat Ahmad, Ibnu Maajah, Abu Dawud, dan selainnya disebutkan:
“Apabila kami menghitung ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam duduknya:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Rabbighfirli watub ‘alayya innaka anta tawwabur rahim
(Ya Rabbku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha penerima taubat dan maha penyayang)
(maka kami mendapati bahwa) beliau mengucapkannya sebanyak seratus kali.”
(HR. Ahmad, Ibnu Maajah, Abu Dawud, dll; dishahiihkan oleh Syaikh al Albaaniy)


benarlah firman Allah tentang beliau:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia BANYAK BERDZIKIR kepada Allah.
(Al-Ahzaab: 21)


Maka hendaknya, kita tidak membuang waktu kita dengan sia-sia, seperti kita duduk di mobil, atau duduk di ruang tunggu; tidak kita isi, melainkan dengan sesuatu yang bermanfaat, yang lebih baik lagi kita mengisinya dengan beristighfar, karena Rasulullah bersabda:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.”
(Shahiih, HR. Ibnu Maajah; dishahiihkan syaikh al albaaniy dalam shahiih ibnu maajah)


Semoga bermanfaat


thank you