Senin, 07 Februari 2011

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang...”



“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang...” (QS. Al-‘Ankabuut: 5)

Tatkala Allah mengetahui besarnya kerinduan para wali-Nya untuk bertemu dengan-Nya, bahwasanya hati-hati mereka tidak mendapatkan petunjuk tanpa pertemuan dengan-Nya, maka Allah menetapkan janji dan waktu agar mereka dapat bertemu dengan-Nya, tidak lain supaya jiwa-jiwa mereka tenteram dengan perjumpaan itu.

Kehidupan yang paling baik dan bahagia secara mutlak adalah kehidupan orang-orang yang mencinta dan memendam rindu. Kehidupan mereka adalah sebenar-benar kehidupan yang damai. Tidak ada kehidupan hati yang lebih baik, lebih nikmat, dan lebih tenang daripadanya. Inilah kehidupan baik yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik...” (QS. An-Nahl: 97)

Ayat di atas tidak mengisyaratkan bahwa kehidupan orang kafir, durhaka, orang Mukmin, dan orang yang baik itu bersatu di dalamnya; berupa bagusnya makanan, pakaian, minuman, dan pernikahan. Sebab, bisa jadi musuh-musuh Allah berkali-kali lipat melebihi para wali-Nya dalam perkara-perkara duniawi tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala memberikan jaminan kepada setiap orang yang beramal shalih dengan menganugerahkan kehidupan yang baik. Sesungguhnya Allah senantiasa menepati dan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Maka, adakah kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan seeorang yang seluruh hasratnya terkumpul menjadi satu dalam naungan keridhaan Allah? Hatinya tidak bercabang, hanya dihadapkan kepada Allah. Keinginan dan pikirannya yang sebelumnya terbagi-bagi, yang pada setiap lembah terdapat cabangnya, kini bergabung kembali, yaitu dzikir kepada Dzat yang paling dicintai lagi Mahatinggi, mencintai-Nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan merasa tenteram dengan kedekatan-Nya, sebab Dia-lah yang berkuasa atasnya. Itulah yang menjadi poros hasratnya, kinginannya, tujuannya, bahkan lintasan hatinya. Jika ia diam, maka diamnya sejalan dengan perintah Allah. Jika dia bicara, maka bicaranya sejalan dengan perintah Allah. Jika dia mendengar, maka dia mendengar dengan kebersamaan Allah. Begitu juga ketika dia melihat, mengambil, berjalan, bergerak, diam, hidup, mati dan dibangkitkan; semua itu dilakukan karena Allah.

(Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Ad-Daa' wa Ad-Dawaa', hlm. 426-427)


Baginya cerita tentang kamu yang selalu ia kenang
menyibukkannya untuk minum dan melalaikannya untuk makan

Baginya cahaya wajahmu meneranginya
yang dengan ucapanmu ia berjalan di belakangnya

Jika ia mengeluhkan letihnya perjalanan, sungguh janji
pertemuan menghidupkannya kembali...

0 komentar:

Posting Komentar

thank you