Selasa, 15 Februari 2011

Selamatkan Jiwa dari Berburuk Sangka

Ustadz Abu Bakr al-Atsari
Sesungguhhnya Allah Ta’ala menciptakan hati dalam tubuh manusia bukan tampa maksud dan hikmah yang kosong. Dia menyuruhnya untuk beribadah dan berbakti kepada-Nya
Namun, sedikit sekali yang punya hati menyadarinya karena menyangka bahwa yang di pertanggung jawabkan kelak hanya anggota badannya. Bahkan, ada yang membiarkan hatinya terjangkit penyakit tampa ada usaha untuk mendiaknosa dan mengobatinya
Diantara penyakit hati yang banyak menggorogoti manusia adalah su’uzhzhon atau buruk sangka. RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memperingatkan akan bahaya penyakit ini:
“Hati-hatilah kalian dari berburuk sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta”[1]
PENGERTIAN SU’UZHZHON
Zhon bias berarti keraguan[2], tuduhan[3], perkiraan[4], dan keyakinan[5]. Sedangkan su’u bermakna jelek atau lawan dari baik[6] atau segala sesuatu yang menyusahkan[7]. Jadi, su’uzhzhon adalah membuat-buat kebohongan atau perkiraan terhadap orang lain sehingga membuatnya sedih tampa ada alas an yang dibenarkan[8]
Sebab-sebab su’uzhzhon adalah:
1.  Tidak Adanya Pijakan yang Benar Dalam Menghukumi Seseorang Atau Suatu Permasalahan
Pijakan yang dimaksud adalah:
  1. Memperhatikan fakta di lapangan dan menyerahkan rahasia batinnya kepada Allah Ta’ala. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang, kemudian pada pagi harinya kami meyerang Bani Huroqat dari Juhainah. Lalu saya menjumpai seseorang mengatakan: Laa ilaaha illallah, kemudian aku menikamnya sehingga jiwaku menjadi tidak tenang. Aku menceritakannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Apakah setelah ia mengatakan Laa ilaaha illallah kemudian kamu membunuhnya…?!”Aku berkata: Ia mengatakannya hanya karena takut senjata. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga mengetahui apakah hatinya mengucapkan atau tidak…?!”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulangi pertanyaanya kepadaku, sampai aku berangan-angan seandainya aku baru masuk islam pada hari itu’[9]
  1. Berpatokan pada dalil (bukti) atau argument yang kuat[10]
  2. Meneliti kebenaran dalil atau argument tersebut[11]. Demikian pula sebelum memutuskan suatu hokum harus didasari prinsip Tabayyun (mencari kejelasan) sehingga tidak menyesal dikemudian hari
  3. Tidak adanya pertentangan antara dalil atau argument yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, alasan orang-orang melakukan kesyirikan atau kemaksiatan dengan mengatakan: “Jika Allah Ta’ala menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak meyekutukan-Nya dan tidak (pula)kami mengharamkan barang sesuatu apapun” maka Allah Ta’ala membantahnya:
“Katakanlah: Apakah kamu mempunyai suatu pengetahuan sehingga kamu bias mengemukakannya kepada kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta” (QS. al-An’am [6]: 148)
2.  Mengikuti Hawa Nafsu
Terkadang seseorang karena hawa nafsunya cenderung memihak kepada seseorang sekalipun orang tersebut nyata-nyata bersalah. Sedangkan takkala ia memang dari awalnya tidak suka atau membenci seseorang, apakah karena iri, dengki, atau sebab yang lain, maka secara psikologis ia akan selalu menyalahkan dan berprasangka negatif kepadanya sekalipun orang itu diatas kebenaran. Allah Ta’ala mencela perilaku tersebut dengan firman-Nya:
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun” (QS. al-Qashas [28]: 50)
3.  Terpengaruh oleh Syubhat
Syubhat atau pemikiran-pemikiran menyimpang sangat besar peranannya menumbuhkan sikap berburuk sangka, baik dengan sengaja maupun tidak. Dengan syubhat, sahabat bisa menjadi musuh dan panutan bisa menjadi ejekan
Dari Ali bin Husain radhiyallahu ‘anhu bahwa Shofiyyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di mesjid bersama para istri beliau, kemudian mereka pulang petang hari. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Shofiyyah binti Huyai radhiyallahu ‘anha“Jangan terburu-buru, aku mau pulang bersamamu” ketika itu Shofiyyah radhiyallahu ‘anha tinggal dirumah Usama. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersamanya kemudian bertemu dengan dua orang laki-laki Anshor. Mereka berdua melihat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berlalu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memanggil keduanya: “Kesinilah, wanita ini adalah Shofiyyah” Mereka berdua berkata: ‘Subhanallah, wahai Rasulullah!’ Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya setan mengalir dalam peredaran darah manusia. Dan aku khawatir aka nada sesuatu (prasangka negatif) dalam diri kalian” [12]
4.  Tidak Menjaga Adab yang Benar Dalam Berbisik-bisik
Berbisik-bisik antara dua orang atau lebih dengan membiarkan orang ketiga, atau berbisik-bisik bukan dengan bahasa nasional dapat menyebabkan prasangka buruk bagi orang yang tidak memahaminya. Demikian pula berbisik-bisik dalam hal maksiat atau dalam perkara-perkara yang tidak penting.[13]
BAHAYA SU’ UZHZHON
  1. Su’uzhzhon akan melahirkan rangkaian dosa dan maksiat seperti ghibah, Namimah, Hasad, permusuhan, perselisihan bahkan dapat memutuskan silahturahmi
  2. Orang yang senang berburuk sangka, kehidupannya akan sempit dan hatinya selalu merana.[14]
  3. Pelakunya akan dijauhi oleh manusia dan itulah sejelek-jelek manusia. Sebagaimana sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang meninggalkannya atau memisahkan diri darinya karena takut kejelekannya”[15]
  4. Akan berujung kepada penyesalan[16]
  5. Menyia-nyiakan waktu, tenaga dan pikiran tampa ada manfaatnya
Namun terkadang Su’uzhzhon diperbolehkan, bahkan wajib hukumnya. Diperbolehkan su’uzhzhon kepada orang yang terang-terangan melakukan maksiat dan menampakkan kejahatanya karena adanya dalil yang kuat, sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas. Sedangkan kepada orang-orang kafir dan munafik yang memamerkan kekafirannya dan memusuhi kaum muslimin maka kita wajib su’uzhzhon kepada mereka. Wallahu a’lam
Disarikan dari Kitab: Afatut Thoriq Karya Syaikh Dr. as-Sayyid Muhammad Nuh hafidhahullah
Sumber: Majalah almawaddah, vol. 36 Edisi Khusus Dzulhijjah 1431 H-Muharram 1432 H, November 2010 –Januari 2011
Catatan Kaki:

[1] HR. Bukhari 4849
[2] QS. al-Hajj [22]: 15
[3] QS. al-Ahzab [33]: 10
[4] QS. al-Anbiya’ [21]: 78
[5] QS. al-Baqarah [2]: 45-46
[6] QS. al-Araf [7]: 95
[7] Bashoir Dzawi at-Tamyiz fi Lathoifil Kitabil ‘Aziz, Fairus Abadi 3/545-547, 288-289
[8] Afatut Thoriiq, DR. as-Sayyid Muhammad Nuh, juz 3
[9] HR. Bukhari 5/183, Muslim 96, 97
[10] Baca QS. al-Baqarah [2]: 111
[11] Baca QS. an-Nisaa’ [4]: 94
[12] HR. Bukhari 1933, Abu Dawud 2470
[13] Baca QS. al-Mujadilah [58]: 10
[14] Baca QS. Thaha: [20]: 124
[15] HR. Bukhari 5730
[16] Baca QS. al-Maidah [5]: 52

0 komentar:

Posting Komentar

thank you